29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

I Putu Ardiyasa by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
in Tualang
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

Suasana Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah kota kecil di Jepang pada 18-24 September 2026. Namun ternyata saya salah. Saya tidak hanya menemukan panggung di sekitar kota itu. Tapi menemukan sebuah kota yang seperti sedang bermain teater.

Begitu mulai berjalan di sekitar Toyooka, kesan pertama yang muncul justru bukan gedung teater, melainkan tanda-tanda kecil bahwa sebuah peristiwa sedang berlangsung. Flyer, banner, poster, penunjuk arah, pengumuman program, dan berbagai materi promosi festival muncul di banyak sudut kota. Stasiun, ruang publik, jalan, tempat berkumpul, sampai ruang-ruang yang sehari-hari mungkin tidak pernah kita anggap sebagai bagian dari dunia pertunjukan, tiba-tiba terasa seperti memiliki hubungan dengan festival.

Seolah-olah Toyooka sedang berkata kepada siapa saja yang datang: “Festival sedang berlangsung. Silakan masuk.” Dan yang menarik, ajakan itu tidak selalu datang melalui kata-kata. Ia hadir melalui suasana. Melalui orang-orang yang kita temui. Melalui banner yang bergoyang diterpa angin. Melalui orang yang menunjukkan arah ketika kita terlihat kebingungan. Melalui seorang warga yang mungkin tidak pernah kita kenal sebelumnya, tetapi memberikan senyum dan membuat kita merasa bahwa kehadiran kita memang diharapkan.

Dalam catatan perjalanan saya, sambutan warga lokal menjadi salah satu hal yang paling membekas. Relawan dan staf festival berbaur dengan pengunjung, membantu menunjukkan lokasi, memberikan informasi, bahkan membantu ketika ada persoalan bahasa. Ada rasa hangat yang sederhana. Tidak dibuat-buat. Mungkin karena itu pula saya mulai merasa bahwa festival di Toyooka bukan sesuatu yang “datang” ke kota. Festival justru seperti tumbuh dari dalam kota. Warga lokal, terutama orang tua dengan sadar membeli tiket pertunjukan, menonton presentasi, ikut sesi workshop.

***

Ada satu hal yang kemudian semakin jelas setelah beberapa hari mengikuti program, yaitu bahwa Toyooka tidak memiliki satu pusat festival. Di sana festival bergerak. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari coffee shop ke kampus, dari kampus ke desa, dari desa ke panggung blackbox, ke pasar, ke stasiun, ke bank.

Hari pertama kami bisa berada di kampus. Kemudian menuju teater bersejarah di Izushi. Setelah itu bergerak ke desa Tanto untuk menyaksikan Tanto Sai Sai. Hari berikutnya kami naik kereta menuju Ebara untuk menonton pertunjukan di panggung blackbox dengan ligthing dan sound system yang keren. Ada pertunjukan di pasar malam, pertemuan internasional, kemudian kembali lagi dengan kereta.

Program hari berikutnya membawa kami ke ruang pertunjukan lain, teater jalanan, berkunjung  Kinosaki Internasional Art Center di tengah wilayah pariwisata yang dipenuhi turis yang menjadi kejutan. Hari berikutnya, sesi diskusi dengan Kelompok Teater Tajima Bank, kemudian workshop tari, naik bus untuk menonton pertunjukan di atas mobil pickup (side spesifik space)—yang mengingatkan saya dengan program populer masa kecil, yaitu Benteng Takeshi.

Jadwal resmi program memang dirancang dengan perpindahan antarwilayah seperti ini, lengkap dengan sesi refleksi di penghujung hari.  Di situ saya mulai berpikir, mungkin saja festival tidak tentang di mana pertunjukan berlangsung. Mungkin pemerintah kota sudah menyediakan kemungkinan bagi pertunjukan untuk terjadi.

Faktanya, kota kecil dipinggiran Jepang ini memiliki fasilitas kesenian yang berkualitas. Betapa tidak, saya masih tidak menduga, panggung blackbox ada banyak di sekitaran kota. Ada di mall, ada di dalam coffee shop, ada di kampus, ada di sekolah internasional yang dapat di akses dengan berjalan kaki, naik kereta, ataupun naik bus dengan waktu tempuh 10-20 menit.

Catatan saya bahkan menyebutnya sebagai “a festival without one centre.” Kotanya sepi, tapi ketika pertunjukan teater kontemporer di mulai, akan ada 50-100 orang dengan sadar membeli tiket, naik kereta atau bus ke panggung pertunjukan. Bahkan ketika pentas itu di saat jam kerja sekalipun.

Di titik itu saya mulai melihat sesuatu yang lebih besar. Di sana, komunitas tidak hanya menjadi penonton. Komunitas bisa menjadi pemilik pengetahuan. Bisa menjadi pemain. Bisa menjadi partner. Bisa menjadi pencipta. Dan mungkin justru di situlah kekuatan sebuah festival yang benar-benar berhubungan dengan tempat.

Dan ini menarik. Ketika sebuah industri masuk memberi dukungan—seperti Tajima Bank (salah satu bank lokal di Toyooka) atau Japan Railway (JR), misalnya—festival ini bisa menawarkan gagasan bahwa tempat industri itu bisa menjadi tempat pertunjukan, sehingga aktivitas perbankkan bisa menjadi pertunjukan teater, stasiun dan kereta api juga bisa mejadi panggung pertunjukan. Saya teringat Tajima Shinkin Bank Theatre Club. Para pegawai bank tampil di tempat mereka bekerja. Bank tetap merupakan bank, tetapi untuk beberapa waktu ia juga menjadi ruang pertunjukan.

Lihatlah masyarakat Desa Tanto yang menampilkan Tanto Sai Sai, sebuah pertunjukan yang berangkat dari tradisi lokal. Anak-anak dan warga ikut terlibat langsung, mengorganisir pertunjukan itu dengan profesional dan tiket terjual habis dengan voucher berhadiah. Warga lokal yang berjualan.

***

Ah, kota yang ramah terhadap pendatang—orang yang tidak dikenal.

Saya menyadari ada pengalaman yang sulit ditulis dalam laporan. Ia terlalu kecil untuk menjadi data, tetapi justru sering menjadi bagian yang paling lama tinggal dalam ingatan, seperti ketika berjalan mencari sebuah venue, kemudian melihat orang lokal yang tersenyum dan mencoba membantu. Atau ketika duduk di sebuah ruang publik dan melihat orang-orang dengan santai menunggu lampu lalu lintas khusus pejalan kaki dan mengizinkan ia berjalan, walaupun tidak ada mobil.  Atau ketika seseorang yang sebelumnya tidak kita kenal tiba-tiba mengajak berbicara karena tahu kita datang dari negara lain.

Hal-hal seperti itu tidak tercatat sebagai “program”. Tetapi justru membentuk pengalaman.

Program resmi Intersecting Peripheries memang dirancang bukan hanya sebagai kegiatan menonton pertunjukan, tetapi juga penelitian wilayah dan komunitas serta sesi percakapan.

Biasanya, di tempat lain, setelah pertunjukan kita akan pulang. Tetapi di sini selalu ada ruang untuk berhenti sebentar. Berbicara, mengingat apa yang baru saja dilihat. Bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sebenarnya saya lihat hari ini?

Yang saya suka, refleksi itu tidak terasa seperti ujian. Tidak ada keharusan menghasilkan kesimpulan yang hebat. Kadang seseorang berbicara panjang. Kadang hanya satu kalimat. Kadang muncul perbedaan pandangan. Kadang justru muncul pertanyaan baru. Dan itu cukup. Saya kira di situlah saya mulai memahami filosofi Intersecting Peripheries.

Program ini memang sejak awal membawa lima kata penting: Nature, Community, Embodied Knowledge, Periphery, dan Ritual. Ia mengajak peserta untuk melihat wilayah pinggiran bukan semata-mata sebagai lokasi geografis, tetapi sebagai ruang tempat pengetahuan dan praktik budaya masih hidup.

Tetapi pengalaman di lapangan membuat saya memikirkan ulang kata “periphery”. Dalam catatan saya, saya menulis hasil perjalanan sebagai refleksi bahwa periphery menjadi knowledge resources; rural menjadi engagement space; tradition menjadi knowledge of life; community menjadi partner; festival menjadi ecosystem. Ini tentu bukan definisi tunggal tentang periphery. Ini hanya refleksi personal saya setelah mengikuti program.

Tetapi justru karena ia personal, mungkin ia menjadi penting. Sebab saya pulang dari Toyooka bukan hanya membawa foto-foto pertunjukan. Saya membawa pertanyaan, “Bagaimana jika yang kita sebut ‘pinggiran’ justru menyimpan pengetahuan yang tidak dimiliki pusat? Bagaimana jika desa bukan ruang yang tertinggal, tetapi ruang yang menyimpan cara hidup? Bagaimana jika tradisi bukan benda lama yang harus disimpan, tetapi pengetahuan yang terus digunakan?” Ayo kita jawab bersama-sama.

***

Nah, saatnya dinner party di akhir program.

Setelah presentasi, setelah berbicara tentang apa yang kami pelajari dan kemungkinan kolaborasi, malam ditutup dengan makan malam bersama seluruh artis, official program, directur festival dan coordinator program.

Akhirnya kami punya waktu untuk tidak membicarakan program secara resmi di coffee shop kecil dengan suasana yang hangat, dengan alunan musik yang pas di telinga. Tidak ada panggung besar yang membuat semua orang harus menghadap ke satu arah. Tidak ada jarak di antara kami. Orang-orang makan, berbicara, tertawa, berpindah tempat, membicarakan karya, membicarakan kota masing-masing, membicarakan kesulitan produksi, membicarakan kemungkinan bertemu lagi. Dan terkadang percakapan yang paling menarik justru terjadi di antara percakapan yang tidak direncanakan.

Makan malam itu terasa  seperti epilog yang tidak benar-benar mengakhiri cerita. Sebab ketika orang masih duduk dan berbicara, sebenarnya program belum selesai. Pertukaran masih berlangsung. Jejaring masih tumbuh. Ide-ide baru mulai muncul. Dan mungkin beberapa kolaborasi masa depan justru lahir dari percakapan yang tidak masuk dalam agenda resmi..

Terakhir, dda kalimat yang terus saya ingat dari perjalanan ini: “I came to Toyooka to see a festival, but I discovered an ecosystem where art, community, place, and local knowledge meet.” Ya, saya datang untuk melihat festival, saya pulang membawa ekosistem.

Dan ketika seluruh kota sudah menjadi panggung, mungkin yang paling menarik bukan lagi pertunjukan yang berada di atasnya, melainkan orang-orang yang kita temui di sepanjang perjalanan itu.[T]

Penulis: I Putu Ardiyasa
Editor: Jaswanto

Tags: Intersecting PeripheriesJepangToyooka Theater Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

Next Post

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

I Putu Ardiyasa

I Putu Ardiyasa

Dalang, Dosen STAHN Mpu Kuturan

Related Posts

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails
Next Post
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co