—Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026
*
Pameran “Jaga Raga Bara Jiwa” dibuka Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana. Pembukaan itu menjadi penanda bahwa ruang Venue Art, Batu & Studio di Batubulan, Gianyar, malam itu tidak sekadar menjadi galeri, tetapi menjadi ruang temu antara seni, mitologi, sekaligus kegelisahan seniman pada kelindan zaman.
Batu & Studio sendiri merupakan ruang seni milik perupa I Putu Bonuz Sudiana, seniman ”gebuh” yang selama ini dikenal konsisten membuka tempatnya untuk dialog seni kontemporer dan tradisi.
Di ruang itulah Agus Kama Loedin, perupa yang doyan nomaden ini, dan menyebut dirinya arkeolog “gagal”, menghadirkan puluhan karya tunggalnya. Kali ini Agus, demikian ia kerap disapa, seperti menyeruak dunia purba mitologi dalam peradaban Jawa dan Bali. Kawat, serbuk perak, dan tinta adalah media paling lazim dipakai untuk mendaraskan dunia rupa.
Lelaki kelahiran 11 Oktober 1962 ini tidak memberi kita pergulatan rumit sebagaimana ilmuwan modern, atau seniman avant garde. Dia mengebor, mengeksplorasi kanal dirinya guna melahirkan rupa naga dalam berbagai ekspresi dan medium. Ini memerlukan ketekunan, ketelatenan, selain pergulatan batin tentu. Semua yang dia wujudkan ke dalam rupa berkat keberaniannya memasuki dunia gelap mitologi. Ke dunia purba mistis itu dia berdialog, merenung, lalu dalam pergulatan intuitif itu; naga-naga menyembul dari renungan kreatifnya.

Entah dia berdialog dengan dirinya sendiri, atau bercakap dengan makhluk-makhluk yang telah menjadi dunia asing di dunia nyata. Namun Agus Kama Loedin menuntun naga-naga itu ke ruang-ruang lebih kontemplatif maupun ke ruang kerumunan bernama pameran. Di lekukan kawat-kawat itu, atau di tatahan kulit kerbau dan sapi, pria kelahiran Surabaya ini seperti menekuk-nekuk kerinduan intuitif, lantas mendialogkan kerinduan itu pada para penikmat seni.
Bisa jadi semua yang hadir, termasuk sang kreator memiliki ruang simak tersendiri, karena di titik ini, seni menyangkut hal-hal yang tidak selesai di titik definisi — ruang jelajah yang selalu terbuka, tidak pernah purna di ruang perdebatan. Pun tidak pernah selesai di garis perburuan. Bagi Agus, naga-naga itu adalah perburuan di gua mitologi gelap, lalu mencari nyala dalam dialog-dialog eksegesis, sekaligus devosi kreatif sang seniman.
Agus seolah menembakkan kegelisahan semesta, manakala bumi senantiasa bersabar dalam penderitaan. Pencemaran, polusi, serta ancaman pestisida adalah teror langsung – saat mana manusia hendak melibatgandakan produk, merebut sebanyak-banyaknya yang bisa manusia kuasai.
Dan di titik ini hidup pun jadi sejenis perlombaan. Lalu puluhan anyaman naga dari kawat dan kulit keluar dari tubuh rohani Kama Loedin. Entah ini sebagai rintihan bumi, lingkungan yang rusak, atau ia tengah merintih kesakitan menyaksikan vandalisme yang menimpa alam, menunjukkan tak cuma kerakusan manusia. Namun juga menunjukkan kemaruk kapitalisme. Dari sinilah naga-naga simbol penjaga bumi keluar dari intuisi Agus Kama Loedin. Dan naga-naga itu menghardik dingin.

Menatap bayangan-bayangan naga, baik yang terbuat dari kulit maupun dari anyaman kawat, terkesan betapa jauhnya jarak itu. Agus seperti membangun jarak imajiner. Betapa dari kegelisahan itu mesti dipahami, manusia disusui alam, lalu dengan akalnya yang cerdik, dengan keangkuhan rasio, manusia memporada ibu bumi dengan segala upaya tehnik. Tentu ini adalah tindakan yang memunggungi kearifan hidup dan juga memberangus kesinambangun ekosistem.
Di pojok di lain, di ruang Batu Studio, kita menyaksikan bayangan naga terbang, dianyam dan dirajut dari kulit. Bayangan-bayangan naga itu, menyerupai bayangan naga langit, dari mitologi Cina. Walau di Nusantara sendiri, dalam tradisi kuna, sebagaimana digambarkan kitab Adiparwa, kita juga membaca naga terbang bernama Taksaka.
Agus seakan-akan menampilkan dua tipologi naga. Baik naga bumi maupun naga langit. Naga bumi memanggil manusia bagaimana merawat bumi, supaya bumi selalu menjadi sumber hidup bersama. Naga langit, selain bersifat mitologis, dia adalah gambaran dari kekuasaan naga, kekuasaan yang pelan-pelan dipreteli manusia dalam kerakusannya menguasai bumi. Inilah sekaligus memotret kegelisahan intuitif Agus Kama Loedin, dan dalam pameran itu menunjukkan ia adalah seniman yang selalu mencari jalan, memburu bayang-bayang naga mitologis.
Ada satu naga kecil berwarna hijau lumut, tengah memeluk batu hitam, kepala naga memakai mahkota emas, sementara ekornya juga memakai perhiasan emas. Kita teringat narasi “tutur tiga” dari kakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular. Saat seekor naga hendak memangsa Sutasoma, tiba-tiba sang naga mendapat penyadaran ilahi, sang naga lalu memohon menjadi murid Sutasoma, yang telah purna dalam kesempurnaan jiwa — membalik keangkeran menjadi welas asih, membalik api menjadi air, menuntaskan kemarahan menjadi keteduhan perawat jiwa. Boleh jadi seperti itulah harapan sang kreator, berniat menyadarkan supaya kerakusan berpulang menjadi energi yang merawat, membalik kemarahan menjadi tutur penyejuk.

Saya berdiri cukup lama di depan naga kecil itu. Hijau lumutnya tenang, tapi mahkota emasnya seperti menahan sesuatu yang berat. Di titik itu saya merasa ditegur. Bahwa welas asih bukan kelemahan, melainkan keberanian puncak melawan kerakusan, eksploitasi tanpa kendali. Nafas Buddha tergenang dalam ikon naga kecil itu.
Dengan naga-naga ini, Agus sesunggunya tengah menggelar kisah seribu naga dari dataran Asia — daratan yang nyaris dipengaruhi peradaban dan literasi India. Satu drama kolosal yang menggeber dunia mitologi ke panggung seni penyadaran, dunia di mana Agus Kama Loedin memburu makna, mengejar keseimbangan mikro dan makro kosmos diri.
Dalam tradisi Bali, mahluk mitologis ini menjadi bagian penting. Bagaimana mahluk-mahluk ini dirawat dalam literasi, menghias bangunan tempat suci, menjadi dasar dari bangunan Padmasana. Ukiran-ukiran naga yang menghias tempat-tempat suci di Bali bukan semata hiasan. Namun merupakan doa sepanjang hayat, devosi rupa tanpa gema.
Di Pura Besakih misalnya, kita mengenal mahluk mistis Naga Basuki, atau Ananta Boga dalam tradisi Jawa Kuna. Naga Basuki misalnya, sebagai arketif tua, merupakan doa arstistik. Bagaimana orang Bali melakukan devosi, berharap Naga Basuki, bumi ini tetap memberi kemakmuran dan keselamatan. Bukankah Basuki juga berati selamat.
Di dalam kisah lain, dalam kisah Manik Angkeran kita juga membaca tragedi naga. Suatu hari, Mpu Sidhimantra, hendak memberi sahabatnya semangkuk susu, sesosok Naga Basuki penguasa kawasan Besakih di Kaki Gunung Agung. Sayang saat itu, Mpu Sidhimantra tengah tak enak badan. Maka diutuslah putranya, Manik Angkeran ke kaki Gunung Agung, membawa serta semangkuk susu. Dan untuk memanggil sang naga, Manik Angkeran serta-merta membawa genta.

Cerita singkatnya, Manik Angkeran sampai di depan gua di kaki Besakih. Dengan membunyikan genta, Naga Basuki keluar. Manik Angkeran menyerahkan titipan sang ayah. Basuki menerima dengan suka cita. Sampailah adegan di mana Manik Angkeran mau dikasi upah, apa saja yang diminta akan dipenuhi Naga Basuki. Namun ia menolak. Naga Basuki kembali ke gua. Begitu Naga Basuki berbalik, hendak masuk ke dalam goa, Manik Angkeran melihat ekor naga itu penuh emas dan permata. Sebagai penduji ulung di sabung ayam, ia tergoda memiliki emas dan permata itu. Ekor Naga Basuki lalu ditebas, emas dan emas dilarikan.
Naga Basuki tiba-tiba marah, membakar Manik Angkeran. Karena lama tak datang, di Jawa Mpu Sidimantra gelisah, kemudian menjemput putranya ke Besakih. Namun lacur, didapati sang putra telah menjadi abu. Sidhimantra memohon supaya sang putra dihidupkan kembali, untuk seterusnya menjadi abdi di Besakih. Ia pun tidak diperkenankan balik ke Jawa.
Manik Angkeran insyaf, ia jadi pengabdi setia di Besakih.Namun di tangan Agus, setiap naga yang dia rupa, kerap menjadi drama dan lakon tersendiri. Kisah-kisah naga penyelamat bumi dan langit. Kisah-kisah naga penjaga kemakmuran tanah. Cerita-cerita awal bagaimana makanan, ruang-ruang hidup dirawat, dan di titik ini mitos-mitos perihal naga adalah cerita perihal keberlangsungan hidup dunia.
Akan tetapi selain simbol bumi, penjaga kemakmuran, dalam tradisi Bali, naga adalah simbol jeratan nafsu-nafsu duniawi. Inilah kenapa kemudian raja-raja Bali, dalam upacara kematian selalu menyertakan ”naga banda”, ular besar pembelit nafsu dunia. Maka untuk melapaskan raja dari dosa dan belitan nafsu dunia, ”naga banda” itu harus dilepas, dipanah pendeta ber-jnana mumpuni, berharap raja lepas dari belitan nafsu dunia.
Namun, menurut Agus Kama Loedin, “Naga-naga ini adalah keseimbangan antara alam, waktu dan diri’. Baginya, dunia mitologi naga bukanlah dunia klenik, bukan tanpa rasio, bukan tanpa sains. Dunia mitologi adalah rumah awal manusia. Dari situ dunia dimaknai, diurai sebagai sains pertama umat manusia sebelum teori-teori modern, filsafat, matematika, fisika dijabarkan lebih rigid. Dan dari mitologi itulah magnitud kegelisahan Agus menyeruak.

Keluar dari Batu Studio, segera kita mengalami pemernungan. Bukan karena karya-karyanya begitu mistis, menyengat kalbu, tapi karena ia tanpa rasa takut memasuki lorong-lorong permenungan dunia mitologi. Naga-naga Agus mengingatkan kita, bahwa kita semua sedang berhutang pada bumi. Dan “Jaga Raga Bara Jiwa” bukan sekadar tema pameran. Ia menjadi tamparan pelan yang harus kita jawab.
“Jaga Raga Bara Jiwa” pada akhirnya adalah sebuah seruan. Seruan untuk menjaga raga sebagai wadah, dan menjaga bara jiwa sebagai api nyala kreatif. Di ruang Venue Art itu, seorang “arkeolog gagal” justru menemukan kembali harta paling berharga: cerita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan tanggung jawab kita untuk menjaga bumi semesta hidup yang sedang terluka. [T]
Kusa Agra 16/9/2026






























