SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan dengan karya kontemporer, seniman lintas generasi berada dalam satu ruang, sementara pengunjung dapat berhenti di depan karya sekaligus berbincang langsung dengan orang yang membuatnya.
Ubud Art Collect menghadirkan 39 seniman dari Ubud dan sekitarnya. Sebanyak 4.863 pengunjung tercatat datang sepanjang penyelenggaraan untuk melihat karya, bertemu para seniman, dan mengenal lebih dekat beragam ekosistem kreatif yang hidup di kawasan ini.
Pertemuan langsung antara karya, seniman, dan publik itulah yang sejak awal menjadi gagasan utama acara ini. Formatnya sengaja dibuat sebagai mini art market, bukan pameran yang berjarak dengan publik. Pertemuan menjadi bagian penting dari pengalaman. Karya dapat dilihat dan dikoleksi, tetapi percakapan antara seniman dan pengunjung mendapat tempat yang sama besarnya.
“Ubud Art Collect kami bayangkan sebagai ruang yang tidak terlalu formal, sehingga orang bisa datang, melihat karya, berbincang langsung dengan seniman, dan menemukan karya yang mereka sukai. Bagi kami, proses bertemu dan bertukar ini sama pentingnya dengan transaksi karya seni itu sendiri,” ujar Bagus Ari Maruta, Co-founder Ubud Art Collect.

Gagasan tentang pertemuan itu menjadi relevan ketika ditempatkan dalam perjalanan panjang Ubud sebagai ruang hidup bagi seni. Ubud telah dikenal selama puluhan tahun sebagai salah satu pusat seni dan budaya Indonesia—tempat seniman, penulis, kolektor, pelaku budaya, dan wisatawan dari berbagai penjuru dunia bertemu. Menjelang satu abad perjalanan pariwisata Bali pada 2027, Ubud Art Collect mencoba merayakan sekaligus memperkenalkan kembali wajah seni Ubud hari ini. Didukung Desa Adat Ubud, acara ini mempertemukan berbagai generasi dan pendekatan, mulai dari tradisi lukisan Ubud, gaya Batuan dan Keliki, perkembangan Young Artist di Penestanan, hingga praktik kontemporer.
Dengan demikian, sejarah tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berhenti di masa lalu, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang terus bergerak.
“Ubud memiliki sejarah seni yang sangat panjang, tetapi yang menarik adalah bagaimana ekosistem ini terus berkembang dan melahirkan praktik-praktik baru. Kami ingin Ubud Art Collect menjadi ruang yang mempertemukan berbagai generasi dan pendekatan tersebut, sekaligus membuat seni terasa lebih dekat dan mudah diakses oleh publik,” kata Gustra Adnyana, Co-founder Ubud Art Collect.

Pertemuan antara sejarah, generasi, dan pendekatan artistik tersebut kemudian terlihat konkret melalui para seniman yang terlibat. Rentang generasi itu terlihat dari Ketut Sumadi dan Wayan Mandiyasa, saudara kembar asal Banjar Kutuh Kaja, Ubud, yang dikenal sebagai “magic twins”, dan menjadi salah satu yang menarik perhatian pengunjung. Kehadiran mereka memperlihatkan bagaimana karakter personal, hubungan antarseniman, dan tradisi lokal turut membentuk pengalaman publik dalam menikmati seni.
Jalur kesinambungan tradisi juga muncul dalam bentuk yang berbeda pada sejumlah peserta lainnya. Ada Agung Dewi Monalisa, seniman perempuan asal Ubud yang merepresentasikan kesinambungan tradisi seni Ubud melalui gaya lukis yang dipengaruhi Walter Spies. I Gusti Nyoman Darta, cucu maestro seni Ubud I Gusti Nyoman Lempad, meneruskan hubungan panjang keluarganya dengan tradisi seni Ubud melalui karya-karyanya. Sementara jejak generasi Young Artist hadir melalui Ngurah KK, yang mendapat bimbingan langsung dari Arie Smit, maestro pelukis kelahiran Belanda yang menetap dan berkarya di Ubud.

Namun, wajah seni Ubud yang ditampilkan tidak berhenti pada kesinambungan tradisi. Di sisi lain, praktik yang lebih kontemporer hadir melalui I Made Arya Palguna, yang memadukan estetika dan tradisi Bali dengan perspektif kontemporer dalam praktik multidisiplinernya. Sakde Oka mengeksplorasi kain, benang, jahit, dan sulam sebagai medium utama, sedangkan Made Aswino Aji, generasi muda penerus Sika Gallery, membawa pengalaman membangun ruang dan inisiatif seni alternatif di Indonesia.
Spektrum tersebut semakin lebar ketika melihat praktik dan medium lain yang hadir selama tiga hari penyelenggaraan. Keragaman itu berlanjut lewat tradisi Batuan yang diwakili Made Griyawan dan Aris Sarmanta serta tradisi Keliki melalui karya Nano Ari. Sekarputi Sidhiawati hadir dengan medium keramik, bersama Agugn dan A Jasmine—seniman yang juga menetap dan berkarya di Ubud. Kehadiran mereka memperlihatkan sebuah ekosistem yang tidak semata bertumpu pada sejarah, tetapi terus bertambah melalui orang-orang yang memilih Ubud sebagai tempat hidup, bekerja, dan mengembangkan praktik artistiknya.

Keragaman yang berada dalam satu ruang itu pada akhirnya tidak hanya terbaca melalui daftar nama atau karya yang dipamerkan, tetapi juga melalui cara publik berinteraksi dengannya. Suasana tersebut terasa dalam penyelenggaraan Ubud Art Collect. Di antara panel-panel pameran dan karya yang memenuhi Wantilan, pengunjung bergerak dari satu karya ke karya lainnya. Sebagian berhenti cukup lama, sebagian berdiskusi, sementara yang lain mengamati dari dekat atau mengabadikan karya yang menarik perhatian. Ruang pamer bersinggungan langsung dengan arsitektur Wantilan dan lingkungan Ubud di sekelilingnya, membuat kegiatan seni hadir sebagai bagian dari keseharian, bukan sesuatu yang sepenuhnya terpisah darinya.
Dari interaksi-interaksi kecil semacam itulah fungsi Ubud Art Collect sebagai ruang pertemuan mendapatkan bentuknya. Selama tiga hari, pertemuan langsung itu membuka peluang bagi seniman dan publik untuk membangun koneksi serta memperluas apresiasi terhadap seni. Pada saat yang sama, Ubud Art Collect diarahkan untuk mendukung keberlanjutan ekosistem seni dan ekonomi kreatif lokal. Suasana yang terbuka dan intim menjadi pembeda dari pengalaman di ruang seni yang lebih formal.

Karena itu, ukuran pertemuan ini tidak semata berada pada transaksi atau jumlah karya yang berpindah tangan. Di situlah gagasan Ubud Art Collect menemukan bentuknya. Bukan hanya pada karya yang berpindah tangan, tetapi pada kemungkinan pertemuan yang tercipta di sekeliling karya tersebut. Di sebuah wilayah dengan sejarah seni yang panjang, pertanyaan yang dihadapi bukan semata bagaimana menjaga warisan, melainkan juga bagaimana memberi ruang bagi praktik baru untuk tumbuh dan bertemu publik.
Pada titik tersebut, apa yang berlangsung selama tiga hari di Wantilan Ubud dapat dibaca sebagai bagian dari percakapan yang lebih panjang tentang masa depan ekosistem seni di kawasan ini. Ubud Art Collect menempatkan keduanya dalam satu ruang: tradisi yang diwariskan lintas generasi dan praktik kontemporer yang terus bereksperimen. Dari pertemuan itulah terbuka percakapan mengenai bagaimana ekosistem seni Ubud dapat terus tumbuh menghadapi perubahan zaman. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























