11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
in Pameran
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

Pengunjung mengamati karya yang ditampilkan dalam Ubud Art Collect│Foto: Dok. UAC

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan dengan karya kontemporer, seniman lintas generasi berada dalam satu ruang, sementara pengunjung dapat berhenti di depan karya sekaligus berbincang langsung dengan orang yang membuatnya.

Ubud Art Collect menghadirkan 39 seniman dari Ubud dan sekitarnya. Sebanyak 4.863 pengunjung tercatat datang sepanjang penyelenggaraan untuk melihat karya, bertemu para seniman, dan mengenal lebih dekat beragam ekosistem kreatif yang hidup di kawasan ini.

Pertemuan langsung antara karya, seniman, dan publik itulah yang sejak awal menjadi gagasan utama acara ini. Formatnya sengaja dibuat sebagai mini art market, bukan pameran yang berjarak dengan publik. Pertemuan menjadi bagian penting dari pengalaman. Karya dapat dilihat dan dikoleksi, tetapi percakapan antara seniman dan pengunjung mendapat tempat yang sama besarnya.

“Ubud Art Collect kami bayangkan sebagai ruang yang tidak terlalu formal, sehingga orang bisa datang, melihat karya, berbincang langsung dengan seniman, dan menemukan karya yang mereka sukai. Bagi kami, proses bertemu dan bertukar ini sama pentingnya dengan transaksi karya seni itu sendiri,” ujar Bagus Ari Maruta, Co-founder Ubud Art Collect.

Ubud Art Collect 2026 di Wantilan Ubud│Foto: Dok. UAC

Gagasan tentang pertemuan itu menjadi relevan ketika ditempatkan dalam perjalanan panjang Ubud sebagai ruang hidup bagi seni. Ubud telah dikenal selama puluhan tahun sebagai salah satu pusat seni dan budaya Indonesia—tempat seniman, penulis, kolektor, pelaku budaya, dan wisatawan dari berbagai penjuru dunia bertemu. Menjelang satu abad perjalanan pariwisata Bali pada 2027, Ubud Art Collect mencoba merayakan sekaligus memperkenalkan kembali wajah seni Ubud hari ini. Didukung Desa Adat Ubud, acara ini mempertemukan berbagai generasi dan pendekatan, mulai dari tradisi lukisan Ubud, gaya Batuan dan Keliki, perkembangan Young Artist di Penestanan, hingga praktik kontemporer.

Dengan demikian, sejarah tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berhenti di masa lalu, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang terus bergerak.

“Ubud memiliki sejarah seni yang sangat panjang, tetapi yang menarik adalah bagaimana ekosistem ini terus berkembang dan melahirkan praktik-praktik baru. Kami ingin Ubud Art Collect menjadi ruang yang mempertemukan berbagai generasi dan pendekatan tersebut, sekaligus membuat seni terasa lebih dekat dan mudah diakses oleh publik,” kata Gustra Adnyana, Co-founder Ubud Art Collect.

Pengunjung mengamati karya yang ditampilkan dalam Ubud Art Collect di Wantilan Ubud│Foto: Dok. UAC

 

Pertemuan antara sejarah, generasi, dan pendekatan artistik tersebut kemudian terlihat konkret melalui para seniman yang terlibat. Rentang generasi itu terlihat dari Ketut Sumadi dan Wayan Mandiyasa, saudara kembar asal Banjar Kutuh Kaja, Ubud, yang dikenal sebagai “magic twins”, dan menjadi salah satu yang menarik perhatian pengunjung. Kehadiran mereka memperlihatkan bagaimana karakter personal, hubungan antarseniman, dan tradisi lokal turut membentuk pengalaman publik dalam menikmati seni.

Jalur kesinambungan tradisi juga muncul dalam bentuk yang berbeda pada sejumlah peserta lainnya. Ada Agung Dewi Monalisa, seniman perempuan asal Ubud yang merepresentasikan kesinambungan tradisi seni Ubud melalui gaya lukis yang dipengaruhi Walter Spies. I Gusti Nyoman Darta, cucu maestro seni Ubud I Gusti Nyoman Lempad, meneruskan hubungan panjang keluarganya dengan tradisi seni Ubud melalui karya-karyanya. Sementara jejak generasi Young Artist hadir melalui Ngurah KK, yang mendapat bimbingan langsung dari Arie Smit, maestro pelukis kelahiran Belanda yang menetap dan berkarya di Ubud.

Pengunjung mengamati karya yang ditampilkan dalam Ubud Art Collect di Wantilan Ubud│Foto: Dok. UAC

Namun, wajah seni Ubud yang ditampilkan tidak berhenti pada kesinambungan tradisi. Di sisi lain, praktik yang lebih kontemporer hadir melalui I Made Arya Palguna, yang memadukan estetika dan tradisi Bali dengan perspektif kontemporer dalam praktik multidisiplinernya. Sakde Oka mengeksplorasi kain, benang, jahit, dan sulam sebagai medium utama, sedangkan Made Aswino Aji, generasi muda penerus Sika Gallery, membawa pengalaman membangun ruang dan inisiatif seni alternatif di Indonesia.

Spektrum tersebut semakin lebar ketika melihat praktik dan medium lain yang hadir selama tiga hari penyelenggaraan. Keragaman itu berlanjut lewat tradisi Batuan yang diwakili Made Griyawan dan Aris Sarmanta serta tradisi Keliki melalui karya Nano Ari. Sekarputi Sidhiawati hadir dengan medium keramik, bersama Agugn dan A Jasmine—seniman yang juga menetap dan berkarya di Ubud. Kehadiran mereka memperlihatkan sebuah ekosistem yang tidak semata bertumpu pada sejarah, tetapi terus bertambah melalui orang-orang yang memilih Ubud sebagai tempat hidup, bekerja, dan mengembangkan praktik artistiknya.

Pengunjung mengamati karya yang ditampilkan dalam Ubud Art Collect di Wantilan Ubud│Foto: Dok. UAC

Keragaman yang berada dalam satu ruang itu pada akhirnya tidak hanya terbaca melalui daftar nama atau karya yang dipamerkan, tetapi juga melalui cara publik berinteraksi dengannya. Suasana tersebut terasa dalam penyelenggaraan Ubud Art Collect. Di antara panel-panel pameran dan karya yang memenuhi Wantilan, pengunjung bergerak dari satu karya ke karya lainnya. Sebagian berhenti cukup lama, sebagian berdiskusi, sementara yang lain mengamati dari dekat atau mengabadikan karya yang menarik perhatian. Ruang pamer bersinggungan langsung dengan arsitektur Wantilan dan lingkungan Ubud di sekelilingnya, membuat kegiatan seni hadir sebagai bagian dari keseharian, bukan sesuatu yang sepenuhnya terpisah darinya.

Dari interaksi-interaksi kecil semacam itulah fungsi Ubud Art Collect sebagai ruang pertemuan mendapatkan bentuknya. Selama tiga hari, pertemuan langsung itu membuka peluang bagi seniman dan publik untuk membangun koneksi serta memperluas apresiasi terhadap seni. Pada saat yang sama, Ubud Art Collect diarahkan untuk mendukung keberlanjutan ekosistem seni dan ekonomi kreatif lokal. Suasana yang terbuka dan intim menjadi pembeda dari pengalaman di ruang seni yang lebih formal.

Ubud Art Collect│Foto: Dok. UAC

Karena itu, ukuran pertemuan ini tidak semata berada pada transaksi atau jumlah karya yang berpindah tangan. Di situlah gagasan Ubud Art Collect menemukan bentuknya. Bukan hanya pada karya yang berpindah tangan, tetapi pada kemungkinan pertemuan yang tercipta di sekeliling karya tersebut. Di sebuah wilayah dengan sejarah seni yang panjang, pertanyaan yang dihadapi bukan semata bagaimana menjaga warisan, melainkan juga bagaimana memberi ruang bagi praktik baru untuk tumbuh dan bertemu publik.

Pada titik tersebut, apa yang berlangsung selama tiga hari di Wantilan Ubud dapat dibaca sebagai bagian dari percakapan yang lebih panjang tentang masa depan ekosistem seni di kawasan ini. Ubud Art Collect menempatkan keduanya dalam satu ruang: tradisi yang diwariskan lintas generasi dan praktik kontemporer yang terus bereksperimen. Dari pertemuan itulah terbuka percakapan mengenai bagaimana ekosistem seni Ubud dapat terus tumbuh menghadapi perubahan zaman. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaUbudUbud Art Collect
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co