6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

Adwan SA by Adwan SA
September 6, 2026
in Esai
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

Pemutaran film Rawa Gambut di Palembang

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan, khususnya gambut, Teater Potlot sudah lebih dulu mendorong kita untuk mengecap rasanya menjadi gambut melalui naskah Rawa Gambut miliknya. Pementasan teater yang dilangsungkan di Taman Budaya Lampung pada 30 September 2017 itu kembali diputar di Roemah Tumbuh Kembang yang digagas oleh Komunitas Opus Sastra. Barangkali menjadi penting untuk kita semua ketahui, bahwa Rawa Gambut sudah pernah dipentaskan beberapa kali oleh Teater Potlot, yakni di Kota Palembang, Jambi, Lampung, juga Padang.

Sembari disesak oleh kabut asap yang dengan betah mengepung sudut-sudut Kota Palembang sedari pagi, para penonton diajak untuk menyelami kehidupan gambut yang kini banyak terbakar adanya. Bagaimana rasanya menjadi sebuah rawa gambut yang tubuhnya banyak cacat dan rentan luka disebabkan oleh perilaku ekstraktif manusia? Sesak. Sesak ialah satu kata yang bisa saya rasakan selama dan setelah menonton video berdurasi 1 jam 26 menit itu.

Rawa gambut pada pementasan itu tidak digambarkan layaknya matahari yang menjelma pemalu sebab menyembunyikan dirinya di balik kabut yang tebal sekali. Ia vokal dan lantang bersuara lalu berteriak atas tubuhnya sendiri. De-ngan dia-log yang ga-gap, gam-but men-coba men-jadi di-ri-nya sen-diri dan bersu-ara a-tas apa yang ia ras-sakan.

Uniknya lagi, jauh sebelum Tuan Presiden berteriak Antek-antek Aseng, Teater Potlot sudah meneriakkan kata asing melalui tokoh aku pada naskah garapan Almarhum Coni Sema ini. Sebuah anomali yang tidak diketahui dari mana asal dan apa tujuannya, secara misterius datang dan mengubah rawa gambut menjadi bentuk baru. Mendorong tokoh aku, yang di sini adalah gambut, berteriak “asing” sebab mereka tidak pernah tahu apa yang sedang berada di hadapannya itu. Meskipun sebagai penonton, kita semua paham betul bahwa itu adalah manusia.

Pada hari itu, Sabtu, 05 Oktober 2026, kami semua jelas terdampak akan adanya kabut asap yang disebabkan oleh karhutla. Meskipun begitu, agenda nonton bareng Rawa Gambut ini tidak urung di pertengahan jalan. Di tengah maraknya kasus ISPA yang melonjak, Opus Sastra merespon hal tersebut dengan mencoba menilik arsip-arsip kebudayaan yang sudah sejak lama dipentaskan lalu mendiskusikannya sebagai bentuk dorongan kesadaran sebagai manusia.

Selama menonton, saya menyadari bahwa kerja-kerja pemegang kekuasaan masih saja bergumul pada tragedi yang sama dan terulang setiap tahunnya: kebakaran hutan dan lahan. Olehnya, pandangan kita terus-menerus dipaksa untuk hanya mampu melihat tidak lebih dua meter; cuping hidung direduksi untuk bernapas layaknya puasa Senin-kamis; juga ruang-ruang akademik menjemput hari libur, meskipun dapur tetap mengepul dan ompreng masih berbunyi.

Saya sejenak berpikir, apakah kasus kebakaran hutan dan lahan ini memang tiada satu solusinya. Sebab, saban tahun pemerintah bahkan masyarakat selalu kalang kabut menanganinya. Atau sekadar bukti bahwa kita masih terlalu gagap dalam mengerti dan membicarakan gambut yang notabene adalah pembentuk sela-sela kehidupan kita selama ini.

Menjawab pertanyaan tersebut, dalam sesi diskusi, Yudi Semai mengatakan bahwa solusi penanganan kasus semacam ini adalah dengan membasahi gambut itu sendiri.

“Jangan jadikan gerakan pelestarian gambut ini sebagai proyek pembuatan kanal, embel-embel restorasi gambut, atau apapun itu yang sifatnya hanya seremonial belaka. Sebab sampai sekarang apa yang mereka katakan itu tidak pernah benar dilakukan. Tugas kita adalah terus menjaga gambut itu tetap basah dan jangan sekali-kali mencoba membakarnya,” ujar Yudi Semai yang saat ini menjadi pimpinan Teater Potlot itu.

Diskusi

Menilik lebih dalam kalimat yang Yudi Semai sampaikan, dapat kita ketahui bahwa gambut memiliki peran sosio-ekonomi yang signifikan terhadap kehidupan manusia. Mulai dari penjagaan hutan hujan tropis, perawatan rawa, pemanfaatan lahan basah, dan lain sebagainya akan dapat terus manusia rasakan dalam upaya melestarikan rawa gambut.

Karena jika kita tidak lagi memiliki lahan gambut, bumi akan kehilangan fungsi penyedot karbon terbaiknya. Dan jika karbon tidak lagi diserap dengan baik, jelas keseimbangan hidup akan merosot dan lekas menuju kepunahan massal.

Rawa Gambut dipungkasi dengan adegan di mana tokoh yang merupakan bentuk metafora gambut sedang menyiramkan air pada tubuhnya sendiri. Sama seperti narasi yang mereka gaungkan, yakni “Lahan gambut, rawa lebak adalah aku. Juga dirimu!” mendorong kita untuk menjaga gambut mulai dari diri sendiri.[T]

Palembang, 06 September 2026.

Tags: PalembangTeaterTeater Potlot
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

Next Post

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Adwan SA

Adwan SA

Seorang mahasiswa yang sedang menekuni dunia kepenulisan. Berasal dari daerah bernama Jalur di Kabupaten Banyuasin. Anggota aktif Komunitas Opus Sastra di Kota Palembang. Bercita-cita menjadi petani yang mencangkul dengan buku dan menanam benih-benih pengetahuan. Instagram: adwan.sa__

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co