25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Memasak di Kota

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 25, 2026
in Esai
Ibu Memasak di Kota

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu pasti apakah memasak masih menjadi pilihan setiap keluarga. Di tengah situasi ekonomi negeri yang tidak menentu, pola hidup hemat amat diperlukan.

Namun, orang kita sekarang ingin hidup yang serba praktis; untuk kebutuhan makan tinggal membeli. Pilihan kuliner banyak di kota, dari makanan tradisional hingga modern, semua tersedia.

Sebenarnya, ini bukan soal punya uang atau tidak. Memasak, lebih dari itu. Ia berhubungan dengan rasa cinta-kasih seorang ibu terhadap keluarganya. Makan makanan yang dihasilkan dari aktivitas memasak, tentu berbeda rasanya jika membeli atau makan di luar rumah.

Mungkin saja, kini hampir jarang ibu yang memasak di kota. Apalagi bagi perempuan pekerja. Mereka tidak sempat lagi memasak karena kesibukan pekerjaan. Mungkin hanya ibu rumah tangga yang masih sempat memasak.

Saya melihat itu pada kehidupan para tetangga saya. Mereka para perantau dari Jawa, Nusa Tenggara, dan kota-kota di Bali yang mencari penghidupan di Denpasar. Untuk menghemat pengeluaran, rata-rata mereka memasak. Makan bersama menjadi momen yang khusyuk sekaligus membahagiakan. Tetapi semakin lama saya memperhatikan kehidupan mereka, saya merasa bahwa memasak bukan sekadar perkara menghemat uang.

Ada sesuatu yang lebih dalam di balik dapur-dapur kecil itu. Di kota, dapur mungkin tidak lagi sebesar dapur yang saya kenal ketika masih tinggal di kampung. Rumah-rumah semakin kecil. Banyak orang tinggal di kamar kos, rumah kontrakan, atau rumah petak dengan ruang yang terbatas. Dapur bahkan kadang hanya berupa sudut kecil di belakang rumah. Kompor diletakkan berdekatan dengan tempat mencuci piring. Tidak ada meja makan yang besar atau kursi yang cukup untuk seluruh anggota keluarga.

Tetapi dari tempat yang sempit itu, makanan tetap bisa lahir. Saya sering membayangkan seorang ibu yang pagi-pagi sudah berada di depan kompor. Sambil memasak, mungkin ia memikirkan anaknya yang sebentar lagi berangkat sekolah. Ia mungkin belum selesai membereskan rumah, sementara waktu terus berjalan. Di kota, semuanya terasa terburu-buru.

Suara kendaraan sudah terdengar sejak pagi. Orang-orang berangkat bekerja. Anak-anak pergi sekolah. Pedagang membuka warung, kantor mulai ramai, dan jalan raya dipenuhi kendaraan.

Di tengah semua itu, ada seorang ibu yang berdiri di dapur. Ia memasak. Tidak ada yang bertepuk tangan, memberi penghargaan, dan tidak ada berita yang melaporkan pekerjaannya. Tetapi makanan yang keluar dari dapur itu menjadi bagian penting dari kehidupan sebuah keluarga.

Barangkali pekerjaan seperti ini terlalu biasa sehingga kita sering tidak melihat nilainya. Antropologi mengajarkan bahwa hal-hal yang tampak biasa dalam kehidupan sehari-hari justru sering menyimpan makna kebudayaan yang besar. Makanan, misalnya, bukan hanya sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh agar kita kenyang. Di balik sepiring nasi ada hubungan sosial, kebiasaan, ingatan, identitas, bahkan kasih sayang.

Karena itu, memasak sebenarnya adalah sebuah praktik kebudayaan. Seorang ibu yang memasak tidak hanya sedang mengolah beras, sayur, ikan, telur, cabai, bawang, dan berbagai bumbu. Ia sedang mengolah sesuatu yang lebih abstrak, yakni, rasa rumah.

Mungkin karena itu makanan di rumah sering terasa berbeda. Bukan karena masakan ibu selalu lebih enak daripada makanan restoran. Belum tentu. Di kota, kita bisa menemukan makanan yang dimasak oleh koki profesional dengan teknik yang jauh lebih baik. Kita bisa membeli makanan apa saja hanya dengan beberapa sentuhan di layar telepon genggam.

Tetapi ada rasa tertentu yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Rasa itu adalah rasa pulang. Saya teringat kehidupan para perantau di sekitar tempat tinggal saya di Denpasar. Mereka datang dari berbagai tempat. Ada yang dari Jawa, Nusa Tenggara, dan daerah-daerah lain di Bali. Mereka datang dengan tujuan yang hampir sama, yakni mencari kehidupan yang lebih baik.

Kota menerima mereka dengan cara yang khas. Kota menawarkan pekerjaan, tetapi sekaligus meminta biaya hidup. Ada uang kos yang harus dibayar, listrik, air, transportasi, pulsa, kebutuhan sekolah anak, dan tentu saja makanan.

Makan tiga kali sehari mungkin terdengar sederhana. Tetapi jika dihitung selama sebulan, makanan bisa menjadi salah satu pengeluaran terbesar sebuah keluarga.

Maka dapur kembali menjadi penting. Mereka membeli beras dalam jumlah tertentu. Membeli minyak goreng, telur, sayuran, ikan, tempe, tahu, bumbu. Barang-barang itu mungkin terlihat kecil jika dibeli satu per satu. Tetapi ketika semuanya dikumpulkan, kita akan melihat bagaimana sebuah keluarga sebenarnya sedang mengatur strategi untuk bertahan hidup.

Di sinilah memasak mempunyai dimensi ekonomi. Memasak sendiri sering kali lebih murah daripada membeli makanan setiap hari. Tetapi keuntungan memasak tidak berhenti pada penghematan. Ada sesuatu yang tidak tercatat dalam buku pengeluaran keluarga.

Makan bersama. Saya melihat bagaimana sebuah keluarga yang sejak pagi menjalani kesibukan masing-masing bisa kembali bertemu di depan makanan yang sama. Anak yang baru pulang sekolah, ayah yang pulang bekerja, ibu yang sejak pagi mengurus rumah, semuanya duduk dan makan. Barangkali percakapan mereka sederhana. Tentang sekolah, pekerjaan, tetangga, harga barang, tentang siapa yang belum membayar listrik, dan tentang rencana besok.

Namun, justru percakapan semacam itulah yang membuat sebuah keluarga tetap menjadi keluarga. Kita sering mengira keluarga dibentuk oleh hubungan darah. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, keluarga juga dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Makan bersama adalah salah satunya.

Karena itu, saya kira dapur dan meja makan mempunyai hubungan yang sangat penting. Dapur menghasilkan makanan, dan meja makan mempertemukan manusia. Di kota, keduanya menghadapi tantangan.

Kesibukan membuat waktu makan bersama semakin sulit. Orang bekerja dengan jam yang berbeda. Anak sekolah sampai sore. Ada yang bekerja malam, ada yang pulang larut. Bahkan ketika berada di rumah, seseorang bisa saja sibuk dengan telepon genggamnya.

Kita berada dalam satu rumah, tetapi belum tentu berada dalam satu kehidupan. Mungkin di sinilah pertanyaan tentang memasak menjadi menarik. Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita semakin sering membeli makanan?

Tentu saja tidak ada yang salah dengan membeli makanan. Kota memang menyediakan pilihan yang membuat hidup lebih mudah. Orang yang bekerja seharian tentu membutuhkan kepraktisan. Perempuan yang bekerja juga tidak seharusnya dibebani anggapan bahwa mereka harus selalu memasak.

Saya kira kita perlu berhati-hati di sini. Memasak tidak boleh menjadi ukuran untuk menilai apakah seorang perempuan adalah ibu yang baik atau buruk.

Perempuan bekerja mempunyai hak atas waktunya sendiri. Beban pekerjaan rumah tangga juga semestinya tidak selalu diletakkan di pundak perempuan. Jika seorang ibu tidak memasak karena bekerja, itu bukan berarti ia tidak mencintai keluarganya.

Cinta tidak selalu berbentuk makanan. Ada ibu yang menunjukkan kasih sayang dengan memasak, ada yang menunjukkannya dengan bekerja, ada yang mengantar anak sekolah, ada yang mendengarkan cerita anaknya. Ada pula yang mungkin tidak pandai memasak, tetapi selalu hadir ketika keluarganya membutuhkan.

Karena itu, memasak hanyalah salah satu bahasa kasih sayang. Tetapi bahasa itu, menurut saya, tetap penting untuk dibicarakan. Sebab kota perlahan-lahan membuat banyak hal menjadi transaksi.

Ketika lapar, kita membeli makanan. Ketika haus, kita membeli minuman. Ketika ingin berbincang, kita pergi ke kafe. Ketika ingin berkumpul, kita mencari restoran. Hampir semuanya tersedia dengan harga tertentu.

Kota memang luar biasa dalam menyediakan pilihan. Tetapi dalam kehidupan yang semakin praktis, kita perlu bertanya, bahwa, apakah semua yang menjadi mudah juga menjadi lebih bermakna? Saya tidak sedang mengajak orang kembali ke masa lalu. Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa dulu semuanya lebih baik.

Dulu pun ada persoalan. Tidak semua keluarga mampu makan dengan layak. Tidak semua ibu mempunyai waktu untuk memasak. Tidak semua rumah mempunyai dapur yang nyaman. Tetapi ada sesuatu yang mungkin perlahan berubah; cara kita menghabiskan waktu bersama.

Dapur adalah salah satu ruang yang memungkinkan manusia menghabiskan waktu tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang istimewa. Memotong bawang bersama anak, membersihkan ikan, mngupas kentang, menunggu air mendidih, mencicipi sayur, menambah garam, dan enyediakan nasi di meja.

Semua itu tampak remeh. Tetapi kehidupan keluarga sebenarnya tersusun dari hal-hal yang remeh semacam itu.

Saya membayangkan para ibu perantau di Denpasar yang memasak di dapur kecil rumah mereka. Mungkin mereka memasak makanan dari kampung halaman. Sambal yang pedas, sayur dengan bumbu tertentu. Masakan yang mungkin tidak dijual di warung dekat rumah.

Dengan memasak, mereka bukan hanya menghemat uang. Mereka juga membawa kampung halaman ke kota. Di dalam aroma masakan itu mungkin terdapat kenangan tentang rumah orang tua, tentang halaman, tentang tetangga, tentang masa kecil. Kota boleh mengubah alamat seseorang, tetapi makanan sering menjadi salah satu cara untuk mempertahankan ingatan tentang dari mana seseorang berasal.

Itulah sebabnya makanan mempunyai hubungan yang erat dengan identitas. Orang Jawa membawa selera Jawa. Orang Bali membawa rasa Bali. Orang Nusa Tenggara membawa makanan yang mengingatkan mereka pada daerah asal. Ketika semua bertemu di kota, makanan menjadi salah satu cara kebudayaan bergerak.

Denpasar, seperti kota-kota lainnya, bukan hanya tempat bertemunya manusia. Ia juga tempat bertemunya selera, kebiasaan, bahasa, ingatan, dan cara hidup. Di warung, pasar, rumah kontrakan, kos, dan dapur-dapur kecil, kebudayaan sebenarnya terus berlangsung.

Kita sering mencari kebudayaan di pura, museum, festival, atau upacara. Padahal kebudayaan juga berada di dapur. Ia ada dalam cara seseorang memotong cabai. Dalam cara seorang ibu memasak nasi, dalam cara sebuah keluarga membagi lauk, dalam kebiasaan menyisakan bagian tertentu untuk ayah. Dalam kebiasaan anak mengambil makanan terakhir setelah memastikan orang lain sudah makan.

Kebudayaan hidup dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering tidak kita sadari. Mungkin karena itu saya tidak ingin melihat memasak hanya sebagai pekerjaan rumah tangga.

Memasak adalah pekerjaan, tentu saja. Ia membutuhkan waktu, tenaga, pengetahuan, keterampilan, dan biaya. Tetapi memasak juga bisa menjadi tindakan sosial. Seorang ibu memasak untuk orang lain. Di situ ada orientasi kepada orang lain. Ada perhatian terhadap kebutuhan tubuh orang yang dicintainya.

Dalam dunia yang semakin individualistis, tindakan sederhana semacam itu terasa semakin penting. Kita hidup di kota dengan banyak orang, tetapi sering kali merasa sendirian. Kita bertemu begitu banyak manusia setiap hari, tetapi tidak semuanya menjadi bagian dari kehidupan kita.

Barangkali karena itu, makan bersama menjadi penting. Ia membuat kita berhenti sebentar. Meletakkan telepon, duduk, mengambil nasi, menyendok lauk. Dan, berbicara. Tidak perlu pembicaraan besar. Tidak perlu diskusi tentang politik atau filsafat. Percakapan sederhana pun cukup.

Sebab yang penting bukan selalu apa yang dibicarakan, melainkan bahwa kita hadir satu sama lain. Pada akhirnya, saya tidak tahu apakah memasak masih menjadi kebiasaan banyak ibu di kota. Saya tidak memiliki data untuk mengatakan bahwa jumlahnya semakin sedikit atau semakin banyak.

Saya hanya melihat dapur-dapur kecil di sekitar saya. Saya melihat para perantau yang tetap memasak meskipun hidup di kota. Saya melihat makanan sederhana yang disiapkan untuk keluarga. Saya melihat orang-orang duduk bersama setelah seharian bekerja.

Dari sana saya belajar bahwa memasak mungkin bukan sekadar soal makanan. Ia tentang cara manusia mempertahankan rumah ketika rumah itu berada jauh dari kampung halaman, tentang cara sebuah keluarga menghemat uang sekaligus menghemat jarak di antara mereka, tentang ibu yang mungkin tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintai keluarganya, tetapi setiap pagi menyalakan kompor.

Dan mungkin, di tengah kota yang menawarkan segala sesuatu untuk dibeli, dapur adalah salah satu ruang terakhir tempat manusia masih membuat sesuatu dengan tangannya sendiri untuk orang lain. Kita bisa membeli nasi, lauk, sambal. Bahkan kita bisa membeli pengalaman makan melalui berbagai aplikasi.

Tetapi ada satu hal yang tidak selalu bisa kita beli, yakni, perasaan bahwa seseorang telah menyiapkan makanan karena ia memikirkan kita. Mungkin itulah mengapa makanan buatan rumah terasa berbeda. Bukan karena bumbunya lebih lengkap atau harganya lebih mahal. Melainkan karena di dalamnya ada waktu, tenaga, dan ingatan seseorang. Dan mungkin, ada cinta yang tidak pernah disebutkan dengan kata-kata. Di kota yang semakin cepat, seorang ibu yang masih memasak barangkali sedang melakukan sesuatu yang sederhana; memperlambat kehidupan keluarganya. Ia mengajak kita duduk, dan makan. Dan untuk beberapa saat, menjadi manusia yang tidak sedang mengejar apa-apa. Hanya bersama.[T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ibuKeluargaKotaPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co