SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan foto kedua anaknya yang akan berangkat sekolah. Mereka berangkat pagi-pagi. Seragam sudah rapi. Tas sudah di punggung. Buku juga sudah masuk. Tetapi pagi itu bukan cahaya matahari yang pertama kali menyambutnya, melainkan kabut asap pekat.
Bayangkan, mereka berjalan menuju sekolah dengan udara yang seharusnya menjadi hak paling sederhana seorang anak, udara yang bisa dihirup tanpa rasa khawatir. Ironisnya, di negeri yang dulu dikenal sabagai Zamrud Khatulistiwa, yang konstitusinya menjanjikan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, seorang anak justru harus belajar menghadapi lingkungan yang sedang sakit.
Plot Twist Film Ekologi
Nah, pada saat yang hampir bersamaan, Sungai Barito, salah satu sungai besar Kalimantan, mengalami penyusutan debit yang ekstrem. Di sekitar Kalahien, Barito Selatan, muncul hamparan pasir dan daratan di tengah aliran. Bahkan motor bisa lewat di situ menyeberangi sungai. BMKG menyebut wilayah tersebut sedang berada pada puncak musim kemarau.
Seingat saya sejak saya masih SD, Barito adalah sungai yang besar, berada di Kalimantan yang dikenal sebagai pulau yang basah, hijau, dan berhutan. Pasti yang yang akan bilang penyebabnya karena memang sedang musim kemarau. Berarti kita baru membaca gejalanya, belum membaca ceritanya.
Kita bukan sedang menyaksikan air yang berkurang. Namun kita sedang menyaksikan sebuah sistem kehidupan, yang perlahan kehilangan kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri. Dan ini urusan yang serius. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Dalam sistem ekologis, hutan membantu menyerap, menyimpan, dan mengatur air. Sungai juga bukan cuma sekadar saluran yang mengangkut air dari hulu ke hilir. Sungai sangatlah kompleks, karena punya banyak cerita yang terjadi di daerah aliran sungainya.
Apa yang kita lakukan terhadap hutan, tanah, rawa, gambut, dan lahan pada akhirnya akan diceritakan kembali oleh sungai. Alam akan bertutur ke kita dalam bentuk banjir, kadang dalam bentuk air keruh, sekrang lebih seram, sungai Barito yang kehilangan air.
Tentu kita tidak boleh asal menunjuk satu tersangka. Memang ada perubahan iklim, variasi cuaca, dan kemarau ekstrem yang berperan penting. Tetapi justru karena iklim sedang berubah, kita harus segera menyadari seberapa kuat sebenarnya lanskap kita menghadapi perubahan itu. Kita tahu hutan yang sehat adalah semacam tabungan ekologis yang membantu tanah menyimpan air ketika hujan datang dan menopang aliran ketika hujan pergi.
Maka, ketika tutupan hutan berubah menjadi perkebunan, pertambangan, jalan, permukiman, atau penggunaan lain, yang berubah bukan hanya warna pada gambar peta. Yang berubah itu sebenarnya adalah kemampuan alam untuk bekerja.
Dan ketika kemampuan lanskap menyimpan air berubah, melemah, maka kemarau yang sama dapat menghasilkan akibat yang berbeda. Di satu tempat, ada sisi sungai masih mengalir, di sisi lain sungai pasir mulai muncul. Lalu datang api. Kita tengok di bulan Agustus ini, karhutla kembali menjadi persoalan serius di banyak wilayah Kalimantan. Pemerintah bahkan menguatkan operasi terpadu di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Persoalannya serius karena kabut asap telah mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat di sana. Jadi kita seperti sedang melihat tiga adegan dari satu film ekologis. Adegan air menyusut, tanah mengering, lalu api datang. Plot twist dari film ini adalah adanya pemeran lain yang sering luput dari kamera kita, kebudayaan.
Kebudayaan yang Limbung
Sebab bagi banyak masyarakat Kalimantan, hutan dan sungai bukan sekadar benda alam. Hutan adalah ruang hidup. Sungai adalah jalan, pasar, sumber pangan. Sungai adalah orientasi kehidupan. Dan alam adalah guru yang menjadi sumber pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Hutan Adat Sungai Utik, Kalimantan Barat, misalnya, masyarakat Dayak Iban memiliki kelembagaan dan aturan adat dalam mengelola hutan secara lestari. Praktik tersebut bahkan telah memperoleh pengakuan melalui sertifikasi ekolabel dan penghargaan internasional. Semua itu melahirkan kearifan lokal yang bukan sekadar kalimat indah seperti “jangan merusak alam”. Ia bisa berbentuk aturan, pengetahuan, teknologi, ritual, dan kelembagaan sosial.
Kemampuan membuat perahu tradisional, membaca musim, mengenali berbagai jenis ikan, menentukan kawasan yang boleh dan tidak boleh diambil, menjaga hutan adat, semua itu adalah pengetahuan sekaligus sistem sosial. Dengan kata lain, kebudayaan tumbuh dari ekologi. Maka ketika ekologi rusak, kita jangan hanya menghitung berapa pohon yang hilang.
Dari situ pula kita bisa hitung berapa pengetahuan yang ikut hilang. Berapa jenis tanaman yang tak lagi dikenal. Ada juga makanan yang tak lagi tersedia. Belum lagi berapa cerita tentang sungai yang tak lagi relevan, keterampilan yang tidak lagi diwariskan dan terbayang kelak anak cucu kita hanya mengenal hutan dari buku pelajaran. Itupun buku sudah digusur oleh gadget.
Di sinilah, kita lalu perlu untuk memahami istilah biocultural diversity, di mana keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya tidak selalu berdiri sendiri. Keduanya saling menopang agar tidak limbung. Maka, ketika hutan kehilangan rumahnya, kebudayaan yang lahir dari hutan pun dapat kehilangan habitat sosialnya.
Begitu pula sungai. Kita mungkin masih mempertahankan nama “Barito”. Nama sungainya tetap ada. Di peta juga masih mencantumkannya. Dituliskan juga dalam buku sekolah. Tapi kalau sungainya terus berubah, kehidupan budaya yang dahulu mengikutinya juga dapat berubah.
Rumah Ekologis Budaya
Kemudian saya ingin menggunakan satu metafora yang agak menyedihkan. Indonesia bopeng. Wajah manusia yang bopeng masih bisa memperlihatkan kecantikan, keteguhan, bahkan kewibawaan pemiliknya. Tetapi wajah sebuah bangsa saya kira agak berbeda dari itu.
Karena wajah bangsa bukan cuma gunung yang indah untuk difoto atau hutan yang hijau dari udara. Wajah bangsa juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan alam, masyarakat, dan masa depannya sendiri. Karena itu, bopeng ekologis seharusnya membuat kita menyadari tentang sesuatu yang lebih dalam daripada lingkungan yang rusak.
Ini soal kualitas tata kelola kita, tentang siapa yang mendapatkan keuntungan dari alam Kalimantan. Lalu siapa sih, yang selama ini yang mendapat izin untuk mengubahnya? Apakah masyarakat adat di sana menikmati hasil ekonominya, dan ketika alam rusak, malahan saudara-saudara kita di sana yang membayar tagihannya.
Ironi juga saya kira ketika sekolah mengajarkan anak tentang cinta lingkungan, sementara ia harus melewati asap untuk sampai ke sekolah seperti kasus di atas. Kita mengajarkan pentingnya sungai, sementara sungai di dekatnya kehilangan air. Kita mengajarkan kebudayaan Dayak, Banjar, Melayu, Kutai, dan berbagai masyarakat Kalimantan, tetapi habitat ekologis yang melahirkan sebagian kebudayaan itu, pelan tapi pasti, terus berubah.
Sepertinya kontradiksi di saat kita sibuk mengajarkan pelestarian budaya, tetapi lupa bahwa kebudayaan juga membutuhkan rumah ekologis. Budaya kita ajarkan lewat tarian, membuat festival, dicetak di buku, sampai membangun museum. Tapi kita lupa kita menjaga hutan dan sungai tempat kebudayaan itu tumbuh.
Atau, jangan-jangan kita sedang melakukan sesuatu yang aneh, Saudara. Kita melestarikan budaya setelah menghancurkan habitat budayanya. Mungkin itulah mengapa bagi saya anak yang berjalan menuju sekolah dalam kepungan asap, menjadi gambaran yang jauh lebih kuat daripada sekadar membaca jumlah angka titik panas.
Wajah Indonesia Kelak
Anak itu adalah masa depan. Asap adalah akibat dari hutan berharga warisan masa lalu yang sedang kita perlakukan hari ini. Kalau boleh agak puitis, Sungai Barito adalah semacam cermin yang memperlihatkan semuanya. Mungkin Barito tidak sedang sekadar kering. Mungkin ia sedang memberi tahu kita bahwa sebuah sistem telah berubah. Seperti halnya Kalimantan tidak sedang sekadar terbakar. Namun sedang bercerita ketahanan ekologis memiliki batas.
Yang lebih sedih, mungkin Indonesia tidak sedang sekadar kehilangan hutan. Mungkin Indonesia sedang kehilangan sebagian wajahnya sendiri. Karenanya benak kita mestinya bukan sekadar berapa banyak pohon yang bisa kita tanam kembali, namun seperti apa Indonesia yang ingin kita wariskan pada anak-anak itu yang hari ini berjalan menembus asap, saat mereka dewasa.
Sebab jika hutan terus hilang, sungai terus menyusut, dan keuntungan alam terus mengalir kepada segelintir orang, sementara kerusakannya diwariskan kepada anak-anak kita, suatu hari kita mungkin masih memiliki Indonesia yang secara administratif utuh. Tetapi wajahnya mungkin semakin bopeng.
Bukan sekadar wajah Indonesia menjadi kurang indah. Tetapi bahwa bopeng tersebut mungkin memperlihatkan siapa sebenarnya kita dalam memperlakukan rumah yang kita sebut Indonesia. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole
























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)





