PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam kebuntuan, dihapus bagian yang kurang meyakinkan, kadang ditulis ulang. Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun sampai dikirim ke penerbit yang jumlahnya masih terbatas.
Lalu nasib karya itu akan ditentukan oleh editor setelah menunggu lama di meja redaksi bersama tumpukan naskah lain. Jika nasibnya kurang beruntung, karya itu bahkan tidak pernah terbit sama sekali, atau harus mencari penerbit lain yang mau menerimanya.
Sekarang, 28 tahun setelah Orde Baru tumbang, kita hidup di tengah ledakan produksi teks, ledakan platform penerbitan, ledakan komunitas pembaca, dan ledakan akses yang membuat siapa saja dapat menjadi penulis hanya dengan sebuah telepon genggam dan koneksi internet. Di mana letak dan fungsi sastra pada ekosistem yang meriah ini?
Hari ini penulis tidak perlu lagi menulis bertahun-tahun, kadang di bawah tekanan rezim, hanya untuk menerbitkan karya yang harus pandai bermetafora agar tidak dilarang penguasa. Pintu ketakutan lampau itu kini sudah terbuka lebar. Inilah kemerdekaan yang tidak sempat dirasakan Pramoedya dan Rendra.
Tapi setiap kemerdekaan melahirkan tekanan baru.
Sastra Indonesia tidak hanya bergerak dari rezim sensor menuju kebebasan berekspresi, melainkan juga masuk ke dalam “rezim perhatian”, sebuah kondisi ketika hampir seluruh ruang budaya bekerja berdasarkan perebutan atensi manusia yang semakin pendek, semakin cepat berpindah, dan semakin sulit dipertahankan.
Di dalam rezim semacam itu, karya sastra tidak lagi sekadar dinilai berdasarkan kekuatan estetik atau intelektualnya, melainkan berdasarkan kemampuannya bertahan di tengah kompetisi untuk memperebutkan perhatian pembaca.
Perubahan itu tidak datang sebagai larangan politik atau intervensi negara yang mudah ditunjuk dengan jari. Ia hadir melalui mekanisme yang tampak alamiah: penerbit memilih naskah yang lebih mudah dipasarkan, platform digital mempromosikan karya dengan tingkat keterlibatan tertinggi, algoritma merekomendasikan cerita yang paling mungkin membuat pembaca terus menggulir layar, dan penulis belajar bahwa kedalaman tulisan sering kali berarti risiko kehilangan perhatian.
Akibatnya, sastra tidak hanya berubah pada pola distribusi, melainkan juga bentuk sastra itu sendiri. Kita dapat melihatnya pada ritme banyak novel populer kontemporer yang bergerak dengan kecepatan nyaris tanpa jeda: konflik hadir sejak awal, emosi dijaga tetap tinggi, ketegangan kecil ditanam di setiap akhir bab, dan karakter dibangun agar segera memancing identifikasi emosional.
Bahkan sebelum halaman pertama dibuka, pembaca sering sudah mengetahui luka, fantasi, dan kepuasan emosional yang dijanjikan sebuah cerita hanya dari judulnya. Karya-karya itu tidak menghadirkan pengalaman estetik yang menuntut pembacaan lambat, melainkan intensitas afektif yang dapat segera dikonsumsi.
Tentu saja sastra populer selalu menjadi bagian dari sejarah sastra modern. Ini bukan soal sastra menjadi populer, tapi logika perhatian perlahan berubah menjadi horizon dominan yang menentukan karya seperti apa yang paling mungkin bertahan. Dalam ekosistem semacam itu, karya yang terlalu lambat, terlalu ambigu, atau terlalu kompleks memiliki risiko lebih besar untuk ditinggalkan.
Situasi ini melahirkan perubahan yang lebih dalam: bergesernya standar keberhasilan sastra itu sendiri. Sebuah karya semakin sering dihargai bukan karena kemampuannya memperumit cara kita memandang dunia, melainkan karena performanya dalam ekonomi perhatian. Jumlah pembaca, tingkat viralitas, intensitas respons emosional, dan kemampuan mempertahankan engagement dari satu bagian ke bagian berikutnya menjadi penting.
Pada titik tertentu, perubahan tersebut menghasilkan sesuatu yang lebih serius daripada sekadar pergeseran selera, yaitu krisis otoritas estetik. Krisis itu bukan berarti orang berhenti peduli pada kualitas sastra. Justru sebaliknya, semua pihak masih berbicara tentang kualitas, tetapi dengan ukuran yang semakin sulit dipertemukan.
Novel yang memenangkan penghargaan sastra mengklaim kualitas melalui legitimasi institusional. Novel yang dibaca jutaan orang mengklaim kualitas melalui jumlah buku yang terjual, seolah laku adalah standar baru untuk kualitas buku. Sementara platform digital mengukur kualitas melalui angka keterlibatan. Masing-masing memiliki ekosistem, komunitas, dan bahasanya sendiri-sendiri. Tetapi semakin sedikit ruang bersama tempat semua ukuran itu dapat diperdebatkan secara terbuka.
Di sinilah kritik sastra seharusnya memainkan peran penting. Tidak bermaksud sebagai polisi budaya yang menentukan mana sastra tinggi dan mana sastra rendah, tapi sebagai ruang mediasi yang memungkinkan berbagai standar itu saling dipersoalkan. Namun fungsi tersebut justru semakin melemah ketika ruang publik digital bekerja berdasarkan kecepatan reaksi dan sensitivitas afektif. Kritik yang tajam mudah dibaca sebagai serangan personal. Perdebatan estetik yang membutuhkan waktu akhirnya tenggelam di bawah arus komentar cepat dan siklus viral yang pendek. Sedikit demi sedikit, kritik kehilangan keberanian untuk benar-benar membedakan.
Kita kini hidup dalam ekosistem yang sangat produktif menghasilkan teks, tetapi semakin kesulitan mempertahankan kesabaran membaca. Ekosistem yang sangat berhasil menciptakan keterlibatan emosional, tetapi semakin jarang memberi ruang bagi pengalaman estetik yang lambat dan kompleks. Platform sastra digital perlahan mengaburkan pertanyaan paling penting: apakah sastra masih dipahami sebagai ruang untuk bergulat dengan kompleksitas manusia, atau hanya sebagai medium yang harus terus berhasil mempertahankan perhatian?
Pertanyaan itu menjadi semakin mendesak hari ini, ketika platform digital mulai menggantikan fungsi penerbit, algoritma mulai menggantikan fungsi kurator, dan kecerdasan buatan mulai mampu menghasilkan teks dalam skala yang nyaris tak terbatas. Sebab yang sedang terancam mungkin bukan sekadar mutu sastra, melainkan pengalaman manusia sendiri untuk berpikir perlahan, membaca dengan sabar, dan tinggal cukup lama di dalam kesulitan sebelum mencapai makna.
Untuk memahami bagaimana situasi ini terbentuk, kita perlu kembali ke momen ketika pintu kebebasan pascareformasi pertama kali dibuka. Ketika, tanpa banyak disadari, pagar lama runtuh hanya untuk digantikan oleh bentuk kontrol baru yang jauh lebih cair, lebih ramah, dan karena itu jauh lebih sulit untuk dilawan. [T][Bersambung]
Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole
![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-750x375.png)







![Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin2-1-360x180.jpg)
![Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin-360x180.jpeg)











![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









