19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza by Andre Syahreza
August 24, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam kebuntuan, dihapus bagian yang kurang meyakinkan, kadang ditulis ulang. Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun sampai dikirim ke penerbit yang jumlahnya masih terbatas.

Lalu nasib karya itu akan ditentukan oleh editor setelah menunggu lama di meja redaksi bersama tumpukan naskah lain. Jika nasibnya kurang beruntung, karya itu bahkan tidak pernah terbit sama sekali, atau harus mencari penerbit lain yang mau menerimanya.

Sekarang, 28 tahun setelah Orde Baru tumbang, kita hidup di tengah ledakan produksi teks, ledakan platform penerbitan, ledakan komunitas pembaca, dan ledakan akses yang membuat siapa saja dapat menjadi penulis hanya dengan sebuah telepon genggam dan koneksi internet. Di mana letak dan fungsi sastra pada ekosistem yang meriah ini?

Hari ini penulis tidak perlu lagi menulis bertahun-tahun, kadang di bawah tekanan rezim, hanya untuk menerbitkan karya yang harus pandai bermetafora agar tidak dilarang penguasa. Pintu ketakutan lampau itu kini sudah terbuka lebar. Inilah kemerdekaan yang tidak sempat dirasakan Pramoedya dan Rendra.

Tapi setiap kemerdekaan melahirkan tekanan baru.

Sastra Indonesia tidak hanya bergerak dari rezim sensor menuju kebebasan berekspresi, melainkan juga masuk ke dalam “rezim perhatian”, sebuah kondisi ketika hampir seluruh ruang budaya bekerja berdasarkan perebutan atensi manusia yang semakin pendek, semakin cepat berpindah, dan semakin sulit dipertahankan.

Di dalam rezim semacam itu, karya sastra tidak lagi sekadar dinilai berdasarkan kekuatan estetik atau intelektualnya, melainkan berdasarkan kemampuannya bertahan di tengah kompetisi untuk memperebutkan perhatian pembaca.

Perubahan itu tidak datang sebagai larangan politik atau intervensi negara yang mudah ditunjuk dengan jari. Ia hadir melalui mekanisme yang tampak alamiah: penerbit memilih naskah yang lebih mudah dipasarkan, platform digital mempromosikan karya dengan tingkat keterlibatan tertinggi, algoritma merekomendasikan cerita yang paling mungkin membuat pembaca terus menggulir layar, dan penulis belajar bahwa kedalaman tulisan sering kali berarti risiko kehilangan perhatian.

Akibatnya, sastra tidak hanya berubah pada pola distribusi, melainkan juga bentuk sastra itu sendiri. Kita dapat melihatnya pada ritme banyak novel populer kontemporer yang bergerak dengan kecepatan nyaris tanpa jeda: konflik hadir sejak awal, emosi dijaga tetap tinggi, ketegangan kecil ditanam di setiap akhir bab, dan karakter dibangun agar segera memancing identifikasi emosional.

Bahkan sebelum halaman pertama dibuka, pembaca sering sudah mengetahui luka, fantasi, dan kepuasan emosional yang dijanjikan sebuah cerita hanya dari judulnya. Karya-karya itu tidak menghadirkan pengalaman estetik yang menuntut pembacaan lambat, melainkan intensitas afektif yang dapat segera dikonsumsi.

Tentu saja sastra populer selalu menjadi bagian dari sejarah sastra modern. Ini bukan soal sastra menjadi populer, tapi logika perhatian perlahan berubah menjadi horizon dominan yang menentukan karya seperti apa yang paling mungkin bertahan. Dalam ekosistem semacam itu, karya yang terlalu lambat, terlalu ambigu, atau terlalu kompleks memiliki risiko lebih besar untuk ditinggalkan.

Situasi ini melahirkan perubahan yang lebih dalam: bergesernya standar keberhasilan sastra itu sendiri. Sebuah karya semakin sering dihargai bukan karena kemampuannya memperumit cara kita memandang dunia, melainkan karena performanya dalam ekonomi perhatian. Jumlah pembaca, tingkat viralitas, intensitas respons emosional, dan kemampuan mempertahankan engagement dari satu bagian ke bagian berikutnya menjadi penting.

Pada titik tertentu, perubahan tersebut menghasilkan sesuatu yang lebih serius daripada sekadar pergeseran selera, yaitu krisis otoritas estetik. Krisis itu bukan berarti orang berhenti peduli pada kualitas sastra. Justru sebaliknya, semua pihak masih berbicara tentang kualitas, tetapi dengan ukuran yang semakin sulit dipertemukan.    

Novel yang memenangkan penghargaan sastra mengklaim kualitas melalui legitimasi institusional. Novel yang dibaca jutaan orang mengklaim kualitas melalui jumlah buku yang terjual, seolah laku adalah standar baru untuk kualitas buku. Sementara platform digital mengukur kualitas melalui angka keterlibatan. Masing-masing memiliki ekosistem, komunitas, dan bahasanya sendiri-sendiri. Tetapi semakin sedikit ruang bersama tempat semua ukuran itu dapat diperdebatkan secara terbuka.

Di sinilah kritik sastra seharusnya memainkan peran penting. Tidak bermaksud sebagai polisi budaya yang menentukan mana sastra tinggi dan mana sastra rendah, tapi sebagai ruang mediasi yang memungkinkan berbagai standar itu saling dipersoalkan.                 Namun fungsi tersebut justru semakin melemah ketika ruang publik digital bekerja berdasarkan kecepatan reaksi dan sensitivitas afektif. Kritik yang tajam mudah dibaca sebagai serangan personal. Perdebatan estetik yang membutuhkan waktu akhirnya tenggelam di bawah arus komentar cepat dan siklus viral yang pendek. Sedikit demi sedikit, kritik kehilangan keberanian untuk benar-benar membedakan.

Kita kini hidup dalam ekosistem yang sangat produktif menghasilkan teks, tetapi semakin kesulitan mempertahankan kesabaran membaca. Ekosistem yang sangat berhasil menciptakan keterlibatan emosional, tetapi semakin jarang memberi ruang bagi pengalaman estetik yang lambat dan kompleks. Platform sastra digital perlahan mengaburkan pertanyaan paling penting: apakah sastra masih dipahami sebagai ruang untuk bergulat dengan kompleksitas manusia, atau hanya sebagai medium yang harus terus berhasil mempertahankan perhatian?

Pertanyaan itu menjadi semakin mendesak hari ini, ketika platform digital mulai menggantikan fungsi penerbit, algoritma mulai menggantikan fungsi kurator, dan kecerdasan buatan mulai mampu menghasilkan teks dalam skala yang nyaris tak terbatas. Sebab yang sedang terancam mungkin bukan sekadar mutu sastra, melainkan pengalaman manusia sendiri untuk berpikir perlahan, membaca dengan sabar, dan tinggal cukup lama di dalam kesulitan sebelum mencapai makna.

Untuk memahami bagaimana situasi ini terbentuk, kita perlu kembali ke momen ketika pintu kebebasan pascareformasi pertama kali dibuka. Ketika, tanpa banyak disadari, pagar lama runtuh hanya untuk digantikan oleh bentuk kontrol baru yang jauh lebih cair, lebih ramah, dan karena itu jauh lebih sulit untuk dilawan. [T][Bersambung]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SELANJUTNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca
Tags: algoritmaAndre SyahrezasastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Next Post

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke "Buleleng Festival”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co