18 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza by Andre Syahreza
August 18, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam kebuntuan, dihapus bagian yang kurang meyakinkan, kadang ditulis ulang. Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun sampai dikirim ke penerbit yang jumlahnya masih terbatas.

Lalu nasib karya itu akan ditentukan oleh editor setelah menunggu lama di meja redaksi bersama tumpukan naskah lain. Jika nasibnya kurang beruntung, karya itu bahkan tidak pernah terbit sama sekali, atau harus mencari penerbit lain yang mau menerimanya.

Sekarang, 28 tahun setelah Orde Baru tumbang, kita hidup di tengah ledakan produksi teks, ledakan platform penerbitan, ledakan komunitas pembaca, dan ledakan akses yang membuat siapa saja dapat menjadi penulis hanya dengan sebuah telepon genggam dan koneksi internet. Di mana letak dan fungsi sastra pada ekosistem yang meriah ini?

Hari ini penulis tidak perlu lagi menulis bertahun-tahun, kadang di bawah tekanan rezim, hanya untuk menerbitkan karya yang harus pandai bermetafora agar tidak dilarang penguasa. Pintu ketakutan lampau itu kini sudah terbuka lebar. Inilah kemerdekaan yang tidak sempat dirasakan Pramoedya dan Rendra.

Tapi setiap kemerdekaan melahirkan tekanan baru.

Sastra Indonesia tidak hanya bergerak dari rezim sensor menuju kebebasan berekspresi, melainkan juga masuk ke dalam “rezim perhatian”, sebuah kondisi ketika hampir seluruh ruang budaya bekerja berdasarkan perebutan atensi manusia yang semakin pendek, semakin cepat berpindah, dan semakin sulit dipertahankan.

Di dalam rezim semacam itu, karya sastra tidak lagi sekadar dinilai berdasarkan kekuatan estetik atau intelektualnya, melainkan berdasarkan kemampuannya bertahan di tengah kompetisi untuk memperebutkan perhatian pembaca.

Perubahan itu tidak datang sebagai larangan politik atau intervensi negara yang mudah ditunjuk dengan jari. Ia hadir melalui mekanisme yang tampak alamiah: penerbit memilih naskah yang lebih mudah dipasarkan, platform digital mempromosikan karya dengan tingkat keterlibatan tertinggi, algoritma merekomendasikan cerita yang paling mungkin membuat pembaca terus menggulir layar, dan penulis belajar bahwa kedalaman tulisan sering kali berarti risiko kehilangan perhatian.

Akibatnya, sastra tidak hanya berubah pada pola distribusi, melainkan juga bentuk sastra itu sendiri. Kita dapat melihatnya pada ritme banyak novel populer kontemporer yang bergerak dengan kecepatan nyaris tanpa jeda: konflik hadir sejak awal, emosi dijaga tetap tinggi, ketegangan kecil ditanam di setiap akhir bab, dan karakter dibangun agar segera memancing identifikasi emosional.

Bahkan sebelum halaman pertama dibuka, pembaca sering sudah mengetahui luka, fantasi, dan kepuasan emosional yang dijanjikan sebuah cerita hanya dari judulnya. Karya-karya itu tidak menghadirkan pengalaman estetik yang menuntut pembacaan lambat, melainkan intensitas afektif yang dapat segera dikonsumsi.

Tentu saja sastra populer selalu menjadi bagian dari sejarah sastra modern. Ini bukan soal sastra menjadi populer, tapi logika perhatian perlahan berubah menjadi horizon dominan yang menentukan karya seperti apa yang paling mungkin bertahan. Dalam ekosistem semacam itu, karya yang terlalu lambat, terlalu ambigu, atau terlalu kompleks memiliki risiko lebih besar untuk ditinggalkan.

Situasi ini melahirkan perubahan yang lebih dalam: bergesernya standar keberhasilan sastra itu sendiri. Sebuah karya semakin sering dihargai bukan karena kemampuannya memperumit cara kita memandang dunia, melainkan karena performanya dalam ekonomi perhatian. Jumlah pembaca, tingkat viralitas, intensitas respons emosional, dan kemampuan mempertahankan engagement dari satu bagian ke bagian berikutnya menjadi penting.

Pada titik tertentu, perubahan tersebut menghasilkan sesuatu yang lebih serius daripada sekadar pergeseran selera, yaitu krisis otoritas estetik. Krisis itu bukan berarti orang berhenti peduli pada kualitas sastra. Justru sebaliknya, semua pihak masih berbicara tentang kualitas, tetapi dengan ukuran yang semakin sulit dipertemukan.    

Novel yang memenangkan penghargaan sastra mengklaim kualitas melalui legitimasi institusional. Novel yang dibaca jutaan orang mengklaim kualitas melalui jumlah buku yang terjual, seolah laku adalah standar baru untuk kualitas buku. Sementara platform digital mengukur kualitas melalui angka keterlibatan. Masing-masing memiliki ekosistem, komunitas, dan bahasanya sendiri-sendiri. Tetapi semakin sedikit ruang bersama tempat semua ukuran itu dapat diperdebatkan secara terbuka.

Di sinilah kritik sastra seharusnya memainkan peran penting. Tidak bermaksud sebagai polisi budaya yang menentukan mana sastra tinggi dan mana sastra rendah, tapi sebagai ruang mediasi yang memungkinkan berbagai standar itu saling dipersoalkan.                 Namun fungsi tersebut justru semakin melemah ketika ruang publik digital bekerja berdasarkan kecepatan reaksi dan sensitivitas afektif. Kritik yang tajam mudah dibaca sebagai serangan personal. Perdebatan estetik yang membutuhkan waktu akhirnya tenggelam di bawah arus komentar cepat dan siklus viral yang pendek. Sedikit demi sedikit, kritik kehilangan keberanian untuk benar-benar membedakan.

Kita kini hidup dalam ekosistem yang sangat produktif menghasilkan teks, tetapi semakin kesulitan mempertahankan kesabaran membaca. Ekosistem yang sangat berhasil menciptakan keterlibatan emosional, tetapi semakin jarang memberi ruang bagi pengalaman estetik yang lambat dan kompleks. Platform sastra digital perlahan mengaburkan pertanyaan paling penting: apakah sastra masih dipahami sebagai ruang untuk bergulat dengan kompleksitas manusia, atau hanya sebagai medium yang harus terus berhasil mempertahankan perhatian?

Pertanyaan itu menjadi semakin mendesak hari ini, ketika platform digital mulai menggantikan fungsi penerbit, algoritma mulai menggantikan fungsi kurator, dan kecerdasan buatan mulai mampu menghasilkan teks dalam skala yang nyaris tak terbatas. Sebab yang sedang terancam mungkin bukan sekadar mutu sastra, melainkan pengalaman manusia sendiri untuk berpikir perlahan, membaca dengan sabar, dan tinggal cukup lama di dalam kesulitan sebelum mencapai makna.

Untuk memahami bagaimana situasi ini terbentuk, kita perlu kembali ke momen ketika pintu kebebasan pascareformasi pertama kali dibuka. Ketika, tanpa banyak disadari, pagar lama runtuh hanya untuk digantikan oleh bentuk kontrol baru yang jauh lebih cair, lebih ramah, dan karena itu jauh lebih sulit untuk dilawan. [T][Bersambung]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

Tags: algoritmaAndre SyahrezasastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Next Post

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails
Next Post
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke "Buleleng Festival”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co