17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
in Panggung
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

Anak-anak sedang menarikan Tari Bebek Putih Jambul | Foto: Istimewa

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya. Gerakan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sana mereka mulai mengenal bahwa Indonesia memiliki banyak bentuk tari, musik, busana, dan ekspresi budaya.

Tari dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan keberagaman budaya sekaligus menanamkan karakter kepada anak sejak usia dini. Gagasan inilah yang dikembangkan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Program Inovasi Seni Nusantara bertajuk “Implementasi Model Tari Nusantara Inovatif bagi Anak Usia Dini: Strategi Penguatan Karakter dan Budaya Nasional pada Era Digital.”

Gagasan tersebut diterapkan di Sanggar Tari Bali Nanta Kemara, Batubulan, Sukawati, Gianyar. Program ini dipimpin Prof. Dr. Ni Made Ruastiti, SST., M.Si. sebagai ketua tim bersama Dr. Arya Pageh Wibawa, S.T., M.Ds., Dr. I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn., dan Dr. Gede Yoga Kharisma Pradana, S.Sos., M.Si. Sanggar yang berdiri sejak 14 Januari 1988 itu dipimpin I Made Openanta, S.Sn., M.Pd.

Prof. Ruastiti menyerahkan metode pembelajaran program penelitian dan pengabdian kepada I Made Openanta | Foto: Istimewa

Selama ini, pembelajaran di sanggar lebih banyak berfokus pada tari Bali. Sementara itu, pengenalan tari dari berbagai daerah Nusantara belum pernah dilakukan. Keterbatasan modul, kostum, musik pengiring, dokumentasi, dan media pembelajaran digital menjadi tantangan dalam memperluas materi pembelajaran.

Kebutuhan tersebut kemudian melahirkan Gerak Ceria Nusantara. “Kami melakukan solusi dengan menerapkan pengembangan dan implementasi model Tari Nusantara inovatif ramah anak berjudul ‘Gerak Ceria Nusantara’, pelatihan dan pendampingan bagi anak serta pelatih sanggar, penyusunan modul pembelajaran, produksi musik iringan tari, penyediaan kostum tari, penguatan dokumentasi dan promosi digital, serta melakukan uji coba (pertunjukan mini),” kata Prof. Ruastiti, Senin, 17 Agustus 2026.

Melalui Gerak Ceria Nusantara, tim mengadaptasi unsur tari dari sejumlah daerah menjadi rangkaian gerak yang sederhana, aman, komunikatif, dan sesuai dengan perkembangan motorik serta kognitif anak. Materi yang dikembangkan mencakup Tari Bebek Putih Jambul dari Bali, Tari Rantak dari Sumatera Barat, Tari Jaipong dari Jawa Barat, Tari Giring-Giring dari Kalimantan, serta materi Tari Yamko Rambe Yamko dari Papua.

Penyederhanaan gerak dilakukan agar tari lebih mudah dipelajari oleh anak-anak. Identitas budaya dan nilai yang terkandung dalam setiap tari tetap dipertahankan, kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan dunia bermain anak. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar menirukan gerakan, tetapi juga mengenal keberagaman budaya Nusantara melalui gerak, irama, ekspresi, kostum, dan pola lantai.

Prof. Ruastiti sedang melatih anak-anak menarikan Tari Nusantara | Foto: Istimewa

Rangkaian pertunjukan disusun dalam lima bagian dengan durasi relatif singkat agar sesuai dengan kemampuan dan daya konsentrasi anak. Setiap bagian menghadirkan karakter daerah yang berbeda-beda sebelum seluruh penari bertemu dalam satu formasi pada bagian penutup. Pertemuan tersebut menjadi gambaran sederhana tentang kebinekaan, yakni berbagai budaya Indonesia hadir secara bersama tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Bagian pertama membawa anak-anak kembali ke Bali. Sembilan anak perempuan membawakan gerak tari ceria yang menggambarkan Bebek Putih Jambul. Gerakan tangan dilakukan menyerupai kepakan sayap, disertai gerak kaki, perubahan arah, serta pola lantai berbentuk V. Karakter bebek hadir secara imitatif dan dekat dengan pengalaman anak.

Dari gerak yang ringan tersebut, suasana berubah menjadi lebih dinamis ketika Tari Rantak dimainkan. Tari Rantak menghadirkan perubahan formasi, diagonal, dan barisan. Anak belajar mengatur arah, jarak, posisi, sekaligus koordinasi kelompok. Sementara Tari Jaipong memberikan ruang lebih besar bagi kelincahan dan ekspresi melalui ragam gerak yang telah disederhanakan.

Pengalaman bergerak kemudian bertambah dengan penggunaan properti. Pada bagian Tari Giring-Giring, penggunaan properti berupa tongkat kecil menambah pengalaman kinestetik anak. Gerakan mengangkat dan menurunkan properti, berputar, berjalan berjinjit, serta membentuk lingkaran dilakukan dengan memperhatikan keamanan dan kemampuan peserta.

Anak-anak sedang menarikan Tari Bebek Putih Jambul | Foto: Istimewa

Bagian terakhir menghadirkan materi Tari Yamko Rambe Yamko dari Papua. Penari perempuan dan laki-laki bergerak dalam formasi yang saling bergantian, memperlihatkan dinamika ruang dan kebersamaan. Selanjutnya, seluruh penari dari lima bagian hadir bersama. Masing-masing mempertahankan identitas budaya daerahnya, tetapi berada dalam satu komposisi.

Pertemuan seluruh penari menjadi bagian yang penting dalam pertunjukan. Kebinekaan tidak hanya dijelaskan kepada anak melalui kata-kata, tetapi dialami langsung melalui proses menari bersama. Anak belajar bahwa perbedaan gerak, musik, busana, dan ekspresi dapat hadir dalam satu kesatuan.

Pengalaman itu juga terlihat dari perubahan yang dirasakan selama proses pembelajaran. “Melalui kegiatan ini telah meningkatkan variasi materi pembelajaran, keterampilan pelatih, keberanian anak untuk tampil, kedisiplinan, kerja sama, rasa percaya diri, serta pengenalan anak terhadap keragaman budaya Indonesia,” papar Prof. Ruastiti senang.

Untuk mendukung proses tersebut, program juga mengembangkan musik pengiring, kostum, modul pembelajaran, video tutorial, serta dokumentasi audiovisual. Musik dirancang dengan tempo dan struktur yang disesuaikan dengan kemampuan anak, sekaligus menjadi penuntun ritme, dinamika, dan perubahan gerak selama pertunjukan.

Pengembangan program tidak dilakukan hanya oleh tim dari kampus. Prof. Ruastiti menyebutkan, pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif. Sanggar tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dilibatkan sejak identifikasi kebutuhan, penciptaan karya, latihan, uji coba, evaluasi, hingga pemanfaatan hasil. Tim ISI Bali juga melibatkan mahasiswa dalam pendampingan koreografi, musik, dokumentasi, pengelolaan kelas, serta interaksi dengan peserta dan orang tua.

Anak-anak sedang menarikan Tari Rantak | Foto: Istimewa

Dalam pelaksanaannya, sejumlah tantangan tetap muncul. Tantangan terutama berkaitan dengan penyesuaian jadwal latihan anak dan orang tua, perbedaan kemampuan motorik dan konsentrasi peserta, serta proses menyederhanakan gerak tanpa menghilangkan identitas budaya. Kendala tersebut diatasi melalui pembagian kelompok, pengulangan materi, pendampingan intensif, jadwal latihan fleksibel, dan evaluasi berkala.

Proses yang telah berjalan itu kemudian diarahkan agar tidak berhenti setelah program selesai. “Ke depan, Gerak Ceria Nusantara kami arahkan menjadi bagian dari latihan rutin Sanggar Nanta Kemara. Tim juga akan mendorong pembentukan kader pelatih, pengelolaan modul dan media digital, pengajuan HKI, serta pengembangan pertunjukan atau festival mini sebagai agenda berkelanjutan,” imbuhnya.

Keberlanjutan tersebut penting agar pengalaman yang diperoleh anak dan pelatih tidak hanya menjadi bagian dari sebuah program. Prof. Ruastiti berharap model ini dapat diterapkan di PAUD, sekolah, dan sanggar seni lainnya. Dengan memadukan tradisi, pendidikan karakter, kreativitas, dan teknologi digital, tari tidak hanya menjadi kegiatan pentas, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk mengenal Indonesia sejak dini.

Pengalaman baru itu juga dirasakan oleh sanggar. Ketua Sanggar Nanta Kemara, I Made Openanta, mengatakan anak-anak yang sebelumnya lebih banyak mempelajari tari Bali kini memperoleh pengalaman baru dan bahkan mampu membawakan materi tari dari berbagai wilayah Indonesia. “Ini akan menjadi pengalaman baru baru anak-anak,” ungkapnya.

Di ruang latihan, perbedaan itu hadir melalui gerak yang mereka pelajari. Anak-anak mengenal Bali, Sumatera Barat, Jawa Barat, Kalimantan, dan Papua melalui tubuh mereka sendiri. Mereka belajar mengikuti irama, mengingat gerakan, menjaga formasi, dan menyesuaikan diri dengan teman-temannya.

Dari pengalaman tersebut, keberagaman menjadi sesuatu yang dapat mereka lihat, dengar, dan rasakan secara langsung. Lima materi tari dengan karakter berbeda dapat dimainkan bersama tanpa harus meleburkan ciri masing-masing.

Gerak Ceria Nusantara pun menjadi pengalaman sederhana bagi anak-anak untuk mengenal Indonesia melalui tubuh dan gerak. Mereka menari bersama, belajar mengenali perbedaan, dan tumbuh dalam satu ruang yang memberi kesempatan bagi setiap budaya untuk hadir.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia (ISI) BaliISI BaliProgram Inovasi Seni Nusantara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

Next Post

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
0
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

Read moreDetails

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
0
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

Read moreDetails

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
0
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

Read moreDetails

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
0
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

Read moreDetails
Next Post
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban
Esai

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

by Angga Wijaya
August 17, 2026
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!
Ekonomi

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar workshop “UMKM...

by Deanda Dewindaru
August 17, 2026
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana
Esai

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati
Pameran

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co