ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya. Gerakan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sana mereka mulai mengenal bahwa Indonesia memiliki banyak bentuk tari, musik, busana, dan ekspresi budaya.
Tari dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan keberagaman budaya sekaligus menanamkan karakter kepada anak sejak usia dini. Gagasan inilah yang dikembangkan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Program Inovasi Seni Nusantara bertajuk “Implementasi Model Tari Nusantara Inovatif bagi Anak Usia Dini: Strategi Penguatan Karakter dan Budaya Nasional pada Era Digital.”
Gagasan tersebut diterapkan di Sanggar Tari Bali Nanta Kemara, Batubulan, Sukawati, Gianyar. Program ini dipimpin Prof. Dr. Ni Made Ruastiti, SST., M.Si. sebagai ketua tim bersama Dr. Arya Pageh Wibawa, S.T., M.Ds., Dr. I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn., dan Dr. Gede Yoga Kharisma Pradana, S.Sos., M.Si. Sanggar yang berdiri sejak 14 Januari 1988 itu dipimpin I Made Openanta, S.Sn., M.Pd.

Selama ini, pembelajaran di sanggar lebih banyak berfokus pada tari Bali. Sementara itu, pengenalan tari dari berbagai daerah Nusantara belum pernah dilakukan. Keterbatasan modul, kostum, musik pengiring, dokumentasi, dan media pembelajaran digital menjadi tantangan dalam memperluas materi pembelajaran.
Kebutuhan tersebut kemudian melahirkan Gerak Ceria Nusantara. “Kami melakukan solusi dengan menerapkan pengembangan dan implementasi model Tari Nusantara inovatif ramah anak berjudul ‘Gerak Ceria Nusantara’, pelatihan dan pendampingan bagi anak serta pelatih sanggar, penyusunan modul pembelajaran, produksi musik iringan tari, penyediaan kostum tari, penguatan dokumentasi dan promosi digital, serta melakukan uji coba (pertunjukan mini),” kata Prof. Ruastiti, Senin, 17 Agustus 2026.
Melalui Gerak Ceria Nusantara, tim mengadaptasi unsur tari dari sejumlah daerah menjadi rangkaian gerak yang sederhana, aman, komunikatif, dan sesuai dengan perkembangan motorik serta kognitif anak. Materi yang dikembangkan mencakup Tari Bebek Putih Jambul dari Bali, Tari Rantak dari Sumatera Barat, Tari Jaipong dari Jawa Barat, Tari Giring-Giring dari Kalimantan, serta materi Tari Yamko Rambe Yamko dari Papua.
Penyederhanaan gerak dilakukan agar tari lebih mudah dipelajari oleh anak-anak. Identitas budaya dan nilai yang terkandung dalam setiap tari tetap dipertahankan, kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan dunia bermain anak. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar menirukan gerakan, tetapi juga mengenal keberagaman budaya Nusantara melalui gerak, irama, ekspresi, kostum, dan pola lantai.

Rangkaian pertunjukan disusun dalam lima bagian dengan durasi relatif singkat agar sesuai dengan kemampuan dan daya konsentrasi anak. Setiap bagian menghadirkan karakter daerah yang berbeda-beda sebelum seluruh penari bertemu dalam satu formasi pada bagian penutup. Pertemuan tersebut menjadi gambaran sederhana tentang kebinekaan, yakni berbagai budaya Indonesia hadir secara bersama tanpa kehilangan identitas masing-masing.
Bagian pertama membawa anak-anak kembali ke Bali. Sembilan anak perempuan membawakan gerak tari ceria yang menggambarkan Bebek Putih Jambul. Gerakan tangan dilakukan menyerupai kepakan sayap, disertai gerak kaki, perubahan arah, serta pola lantai berbentuk V. Karakter bebek hadir secara imitatif dan dekat dengan pengalaman anak.
Dari gerak yang ringan tersebut, suasana berubah menjadi lebih dinamis ketika Tari Rantak dimainkan. Tari Rantak menghadirkan perubahan formasi, diagonal, dan barisan. Anak belajar mengatur arah, jarak, posisi, sekaligus koordinasi kelompok. Sementara Tari Jaipong memberikan ruang lebih besar bagi kelincahan dan ekspresi melalui ragam gerak yang telah disederhanakan.
Pengalaman bergerak kemudian bertambah dengan penggunaan properti. Pada bagian Tari Giring-Giring, penggunaan properti berupa tongkat kecil menambah pengalaman kinestetik anak. Gerakan mengangkat dan menurunkan properti, berputar, berjalan berjinjit, serta membentuk lingkaran dilakukan dengan memperhatikan keamanan dan kemampuan peserta.

Bagian terakhir menghadirkan materi Tari Yamko Rambe Yamko dari Papua. Penari perempuan dan laki-laki bergerak dalam formasi yang saling bergantian, memperlihatkan dinamika ruang dan kebersamaan. Selanjutnya, seluruh penari dari lima bagian hadir bersama. Masing-masing mempertahankan identitas budaya daerahnya, tetapi berada dalam satu komposisi.
Pertemuan seluruh penari menjadi bagian yang penting dalam pertunjukan. Kebinekaan tidak hanya dijelaskan kepada anak melalui kata-kata, tetapi dialami langsung melalui proses menari bersama. Anak belajar bahwa perbedaan gerak, musik, busana, dan ekspresi dapat hadir dalam satu kesatuan.
Pengalaman itu juga terlihat dari perubahan yang dirasakan selama proses pembelajaran. “Melalui kegiatan ini telah meningkatkan variasi materi pembelajaran, keterampilan pelatih, keberanian anak untuk tampil, kedisiplinan, kerja sama, rasa percaya diri, serta pengenalan anak terhadap keragaman budaya Indonesia,” papar Prof. Ruastiti senang.
Untuk mendukung proses tersebut, program juga mengembangkan musik pengiring, kostum, modul pembelajaran, video tutorial, serta dokumentasi audiovisual. Musik dirancang dengan tempo dan struktur yang disesuaikan dengan kemampuan anak, sekaligus menjadi penuntun ritme, dinamika, dan perubahan gerak selama pertunjukan.
Pengembangan program tidak dilakukan hanya oleh tim dari kampus. Prof. Ruastiti menyebutkan, pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif. Sanggar tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dilibatkan sejak identifikasi kebutuhan, penciptaan karya, latihan, uji coba, evaluasi, hingga pemanfaatan hasil. Tim ISI Bali juga melibatkan mahasiswa dalam pendampingan koreografi, musik, dokumentasi, pengelolaan kelas, serta interaksi dengan peserta dan orang tua.

Dalam pelaksanaannya, sejumlah tantangan tetap muncul. Tantangan terutama berkaitan dengan penyesuaian jadwal latihan anak dan orang tua, perbedaan kemampuan motorik dan konsentrasi peserta, serta proses menyederhanakan gerak tanpa menghilangkan identitas budaya. Kendala tersebut diatasi melalui pembagian kelompok, pengulangan materi, pendampingan intensif, jadwal latihan fleksibel, dan evaluasi berkala.
Proses yang telah berjalan itu kemudian diarahkan agar tidak berhenti setelah program selesai. “Ke depan, Gerak Ceria Nusantara kami arahkan menjadi bagian dari latihan rutin Sanggar Nanta Kemara. Tim juga akan mendorong pembentukan kader pelatih, pengelolaan modul dan media digital, pengajuan HKI, serta pengembangan pertunjukan atau festival mini sebagai agenda berkelanjutan,” imbuhnya.
Keberlanjutan tersebut penting agar pengalaman yang diperoleh anak dan pelatih tidak hanya menjadi bagian dari sebuah program. Prof. Ruastiti berharap model ini dapat diterapkan di PAUD, sekolah, dan sanggar seni lainnya. Dengan memadukan tradisi, pendidikan karakter, kreativitas, dan teknologi digital, tari tidak hanya menjadi kegiatan pentas, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk mengenal Indonesia sejak dini.
Pengalaman baru itu juga dirasakan oleh sanggar. Ketua Sanggar Nanta Kemara, I Made Openanta, mengatakan anak-anak yang sebelumnya lebih banyak mempelajari tari Bali kini memperoleh pengalaman baru dan bahkan mampu membawakan materi tari dari berbagai wilayah Indonesia. “Ini akan menjadi pengalaman baru baru anak-anak,” ungkapnya.
Di ruang latihan, perbedaan itu hadir melalui gerak yang mereka pelajari. Anak-anak mengenal Bali, Sumatera Barat, Jawa Barat, Kalimantan, dan Papua melalui tubuh mereka sendiri. Mereka belajar mengikuti irama, mengingat gerakan, menjaga formasi, dan menyesuaikan diri dengan teman-temannya.
Dari pengalaman tersebut, keberagaman menjadi sesuatu yang dapat mereka lihat, dengar, dan rasakan secara langsung. Lima materi tari dengan karakter berbeda dapat dimainkan bersama tanpa harus meleburkan ciri masing-masing.
Gerak Ceria Nusantara pun menjadi pengalaman sederhana bagi anak-anak untuk mengenal Indonesia melalui tubuh dan gerak. Mereka menari bersama, belajar mengenali perbedaan, dan tumbuh dalam satu ruang yang memberi kesempatan bagi setiap budaya untuk hadir.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































