MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan musiknya. Di hadapan penonton yang sebagian besar menyimak dari jarak dekat, piano, kontrabas, dan drum membangun percakapan yang perlahan berkembang melalui melodi dan improvisasi.
Dodot Trio tampil pada hari penutupan festival, Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 19.40 WITA. Penonton tampak mengikuti permainan ketiga musisi itu dengan saksama. Sebagian penonton mancanegara terlihat mengangguk atau menggeleng mengikuti alur musik. Tepuk tangan sesekali terdengar ketika salah satu pemain menyelesaikan bagian improvisasinya.
Di atas panggung, Dodot Atmojo memainkan piano bersama Helmy Agustrian pada kontrabas dan Wisnu Priambodo pada drum. Mereka membawakan sejumlah karya dari album ‘The Story of White Piano’, album debut Dodot Atmojo yang baru dirilis setelah perjalanan panjangnya sebagai musisi.
Format yang mereka pilih adalah piano trio, salah satu format klasik dalam jazz. Komposisi orisinal bertemu dengan standar jazz, sementara ruang improvisasi memberi kesempatan bagi ketiga pemain untuk saling merespons. Musik tidak dibangun hanya dari permainan piano sebagai pusat, tetapi dari hubungan antara piano, kontrabas, dan drum.


Bagi Dodot, album tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan bermusiknya. Pianis yang bernama lengkap Dodot Soemantri Atmodjo, kelahiran Malang, Jawa Timur, itu telah lebih dari empat dekade berkiprah di skena jazz. Ia pindah ke Bali pada awal dekade 1980-an dan sejak itu pula ia menjalani aktivitas bermusik di berbagai hotel ternama di Bali.
Dalam perjalanan tersebut, Dodot terbiasa memainkan berbagai jenis musik, mulai dari standar jazz, Top 40, hingga lagu-lagu permintaan tamu. Pengalaman panjang sebagai solo pianis kemudian membentuk dirinya sebagai entertainer yang terbiasa membaca suasana dan kebutuhan panggung.
Namun, selama lebih dari empat dekade berkarya, Dodot tidak menyebut dirinya sebagai seniman. Ia memilih istilah ‘pekerja seni’ karena memandang aktivitas bermusik sebagai pekerjaan yang juga memiliki tanggung jawab untuk melayani.

Keinginan untuk memiliki rekaman karya sendiri justru datang belakangan. Ada dorongan dari orang-orang di lingkar terdekat yang mempertanyakan posisinya sebagai musisi tanpa diskografi. Sebuah kalimat terus terngiang di telinganya: “kalau kamu seorang seniman, kamu harus punya karya”.
Kalimat tersebut mendorong Dodot masuk ke studio rekaman dan mulai mendokumentasikan musiknya. Ia kemudian menggarap ‘The Story of White Piano’ bersama Helmy Agustrian pada kontrabas dan Wisnu Priambodo pada drum. Produksi album dikerjakan bersama Anom Darsana (Co-founder SUVJF) di Antida Music Productions.
Album tersebut memuat enam track, terdiri atas tiga komposisi orisinal dan tiga standar jazz. Secara musikal, Dodot menempatkannya dalam koridor jazz dengan format piano trio. Komposisi-komposisi itu kemudian berkembang melalui improvisasi yang menjadi bagian penting dari permainan mereka.

Penampilan di SUVJF menjadi ruang untuk mempertemukan karya tersebut dengan penonton secara langsung. Dodot sendiri bukan nama baru dalam festival ini. Ia hampir setiap tahun terlibat dalam penyelenggaraan SUVJF dan melihat festival tersebut sebagai salah satu ruang penting bagi keberlangsungan musik jazz di Bali.
“Saya hampir setiap tahun terlibat di SUVJF. Harapan saya perhelatan ini agar selalu ada. Karena di sinilah kita bisa menemukan sesuatu yang benar-benar jazz. Jadi saya menghargai teman-teman SUVJF karena telah konsisten sampai saat ini,” ujar Dodot Atmojo.
Menurutnya, keberadaan festival juga berkaitan dengan regenerasi jazz. Ia melihat masih banyak musisi muda yang membutuhkan ruang untuk memainkan musik mereka dan bertemu pendengar.
“Dari sini banyak bermunculan regenerasi jazz. Karena mereka awalnya tidak punya wadah, dan SUVJF bisa menjadi wadah itu,” ungkap Dodot.

Bagi Dodot, perjalanan bermusiknya belum berhenti pada album perdana. Ia masih ingin terus berkarya bersama rekan-rekannya dan berharap karya tersebut menemukan pendengar.
“Untuk seterusnya, saya akan terus berkarya bersama teman-teman. Dan yang paling penting, semoga ada yang mau mendengarkan dan menikmati karya-karya kami,” tandasnya.
Ia juga turut berpesan kepada para musisi jazz muda agar tetap konsisten menjalani apa yang telah dipilih, karena hasil tidak akan datang secara instan. Menurut Dodot, menjadi pekerja seni juga berarti mampu menikmati proses dan seni yang dijalani, bukan semata-mata mengejar kepentingan komersial.
Malam itu, Dodot Trio menutup penampilannya dengan cara yang sejalan dengan perjalanan Dodot selama puluhan tahun: bermain, mendengarkan, dan memberi ruang bagi musik untuk berinteraksi. Di tengah festival yang mempertemukan banyak warna jazz, penampilan tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang musisi yang baru mendokumentasikan karyanya setelah berpuluh tahun berada di blantika musik. Dan bagi Dodot, perjalanan itu masih berlanjut, dan akan terus berlanjut.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































