28 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan pada setiap karya seni yang berani mempertanyakan kenyataan.”

Demokrasi Lebih dari Sekadar Pemilu

Demokrasi sering dipersempit maknanya menjadi sekadar sistem pemilihan umum atau pergantian kekuasaan yang berlangsung secara konstitusional. Ketika pemilu selesai dan pemerintahan terbentuk, banyak yang menganggap demokrasi telah menjalankan fungsinya. Padahal, demokrasi yang sesungguhnya tidak berhenti pada proses memilih pemimpin. Demokrasi adalah sebuah praktik kehidupan yang terus berlangsung melalui kebebasan masyarakat untuk berpikir, berbicara, mengkritik, dan berpartisipasi dalam menentukan arah kehidupan bersama.

Dalam ruang itulah seni memperoleh makna politiknya.

Sayangnya, politik masih sering dipahami secara sempit, seolah hanya menjadi urusan partai politik, parlemen, atau pemerintah. Akibatnya, ketika seni berbicara tentang ketidakadilan, kemiskinan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau persoalan sosial lainnya, karya tersebut kerap diberi label sebagai sesuatu yang “terlalu politis”. Padahal, persoalannya bukan karena seni telah memasuki wilayah politik, melainkan karena masyarakat masih memahami politik hanya sebagai perebutan kekuasaan.

Dalam negara demokrasi, politik sesungguhnya adalah urusan seluruh warga negara. Setiap upaya menyampaikan aspirasi, mempertanyakan kebijakan, membela kepentingan publik, atau mengawasi jalannya kekuasaan merupakan tindakan politik dalam arti yang paling mendasar. Oleh sebab itu, seni yang mengangkat realitas sosial sejatinya sedang menjalankan salah satu fungsi demokrasi, yaitu menghadirkan suara warga dalam ruang publik.

Seni sebagai Bahasa Kehidupan

Seni bukan sekadar media hiburan. Seni adalah bahasa yang memungkinkan manusia berbicara ketika bahasa formal tidak lagi mampu mewakili pengalaman hidupnya.

Ada penderitaan yang tidak cukup dijelaskan oleh angka statistik. Ada ketidakadilan yang lebih mudah dipahami melalui sebuah lukisan daripada laporan resmi. Ada kemarahan yang lebih kuat terdengar melalui lagu daripada pidato politik. Melalui puisi, teater, film, musik, tari, hingga mural di ruang publik, seni menghadirkan dimensi kemanusiaan yang sering kali luput dari pembicaraan politik formal.

Di situlah letak kekuatan seni. Seni tidak menggantikan politik, tetapi melengkapinya dengan menghadirkan pengalaman manusia sebagai pusat perhatian.

Kritik sebagai Praktik Demokrasi

Dalam demokrasi, kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara ataupun ancaman bagi pemerintah. Sebaliknya, kritik merupakan mekanisme yang menjaga agar kekuasaan tetap berjalan dalam koridor keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.

Filsuf Prancis Jacques Rancière menjelaskan bahwa politik tidak hanya berlangsung di lembaga negara. Politik juga terjadi ketika mereka yang selama ini tidak terlihat atau tidak didengar memperoleh kesempatan untuk menyatakan keberadaannya. Melalui konsep distribution of the sensible, Rancière menunjukkan bahwa politik berkaitan dengan siapa yang boleh berbicara, pengalaman siapa yang dianggap penting, dan persoalan apa yang layak menjadi perhatian publik.

Dalam kerangka tersebut, seni memiliki peran yang sangat demokratis. Sebuah mural yang mengkritik penggusuran, puisi yang mengisahkan buruh, film yang menyoroti diskriminasi, atau pertunjukan teater yang mempertanyakan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar karya artistik. Semua itu merupakan upaya memperluas ruang publik agar pengalaman masyarakat yang selama ini tersisihkan dapat hadir dalam percakapan bersama.

Dengan demikian, seni tidak sedang merebut peran negara. Seni justru mengingatkan negara bahwa demokrasi tidak boleh kehilangan kemampuan untuk mendengar suara warganya.

Mengapa Demokrasi Membutuhkan Seni?

Kritik yang lahir dari seni sering dianggap mengganggu stabilitas. Padahal, stabilitas yang dibangun melalui pembungkaman bukanlah stabilitas yang sehat, melainkan kesunyian yang dipaksakan.

Demokrasi justru bertumbuh melalui keberanian menerima kritik. Kritik adalah mekanisme koreksi yang membuat kekuasaan tetap berada dalam pengawasan masyarakat.

Pemikiran John Stuart Mill filsuf Inggris memperkuat pandangan tersebut. Menurut Mill, membungkam suatu pendapat berarti menghilangkan kemungkinan masyarakat menemukan kebenaran. Bahkan apabila suatu pendapat ternyata keliru, keberadaannya tetap penting karena memaksa masyarakat menguji kembali keyakinan yang selama ini dianggap benar. Demokrasi membutuhkan dialog dan perdebatan, bukan keseragaman.

Seni menjalankan fungsi itu dengan cara yang khas. Kritik dalam seni tidak selalu disampaikan secara langsung. Ia bekerja melalui simbol, metafora, ironi, satire, musik, visual, maupun gerak tubuh. Justru karena tidak bersifat literal, seni mampu menyentuh ruang-ruang batin yang sering kali gagal dijangkau oleh bahasa politik biasa. Ia tidak memaksa orang untuk sepakat, tetapi mengajak mereka berpikir.

Di sinilah seni menjalankan fungsi sosialnya yang paling mendalam.

Seni sebagai Memori Kolektif Bangsa

Seni bukan hanya mencerminkan masyarakat, tetapi juga membentuk kesadaran masyarakat. Karya-karya seni menjadi arsip emosional suatu bangsa. Melalui lagu, novel, film, puisi, dan pertunjukan teater, generasi berikutnya dapat memahami bagaimana suatu zaman mengalami ketidakadilan, harapan, maupun perjuangan.

Seni menjadi saksi sejarah yang tidak sekadar mencatat peristiwa, tetapi juga menyimpan emosi manusia yang hidup di dalamnya.

Karena itu, ketika seni kehilangan kebebasannya, masyarakat sesungguhnya kehilangan salah satu ruang paling penting untuk memahami dirinya sendiri.

Ketika Seni Menjadi Alat Kekuasaan

Persoalan muncul ketika seni diperlakukan sebagai instrumen politik. Bukan karena seniman tidak boleh memiliki pandangan politik setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk berpolitik melainkan karena seni kehilangan otonominya ketika dipaksa melayani kepentingan kekuasaan.

Pada saat itu, karya tidak lagi lahir dari pencarian makna, tetapi dari kebutuhan membangun citra, memenangkan dukungan, atau menyerang lawan politik. Seni berubah dari ruang dialog menjadi alat propaganda.

Sejarah menunjukkan bahwa propaganda selalu berusaha membuat seni hanya memiliki satu suara: suara yang menguntungkan penguasa. Sebaliknya, demokrasi justru membutuhkan keberagaman suara. Demokrasi tidak takut terhadap kritik karena kritik merupakan bagian dari mekanisme yang menjaganya tetap sehat.

Yang patut dikhawatirkan bukanlah karya seni yang mengkritik pemerintah, melainkan keadaan ketika tidak ada lagi karya yang berani mengkritik apa pun.

Ketiadaan kritik bukanlah tanda bahwa masyarakat telah adil. Bisa jadi, itulah pertanda bahwa masyarakat telah kehilangan keberanian untuk berbicara.

Menjaga Napas Demokrasi

Membela kebebasan seni bukan semata-mata membela hak para seniman. Membela seni berarti membela hak masyarakat untuk berpikir, berdialog, dan melihat kenyataan dari berbagai sudut pandang.

Seni yang bebas memungkinkan demokrasi terus mengoreksi dirinya sendiri. Ia menjaga agar kekuasaan tidak menjadi ruang yang kebal terhadap pertanyaan.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang hanya mampu menerima tepuk tangan. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang bersedia mendengar suara-suara yang tidak nyaman, memberi ruang bagi perbedaan pendapat, dan menganggap kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki kehidupan bersama.

Pada akhirnya, seni bukan pelengkap demokrasi. Seni adalah salah satu napasnya.

Selama masih ada puisi yang berani bertanya, lagu yang berani menggugat, mural yang berani mengingatkan, film yang berani membuka tabir ketidakadilan, dan teater yang berani menyuarakan keresahan masyarakat, selama itu pula demokrasi memiliki kesempatan untuk terus hidup, memperbaiki diri, dan tetap berpihak pada manusia.

Sebab demokrasi yang kehilangan seni adalah demokrasi yang kehilangan imajinasi. Dan ketika sebuah bangsa kehilangan imajinasi, ia perlahan kehilangan kemampuan untuk membayangkan masa depan yang lebih adil.

Demokrasi tidak hanya membutuhkan suara yang menang dalam pemilu. Demokrasi membutuhkan suara yang berani bertanya. Dan seni, sejak dahulu hingga hari ini, adalah salah satu bentuk keberanian itu.[T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Jaswanto

Tags: demokrasiPolitikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

Next Post

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails
Next Post
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Ulas Pentas

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja
Panggung

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

by Yahya Umar
July 28, 2026
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati
Ulas Rupa

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

by Angga Wijaya
July 28, 2026
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata
Khas

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 
Pemerintahan

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

BULELENG | TATKALA.CO -- Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Kerja bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten...

by tatkala
July 27, 2026
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co