26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
in Esai
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Ilustrasi Canva

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan mengenal kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kalimat yang tercatat dalam Kitab Suci itu sering dipahami sebagai ajaran spiritual tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Jika dilepaskan sejenak dari konteks keagamaan, kalimat tersebut sesungguhnya menyimpan pemikiran yang sangat mendalam mengenai hakikat manusia. Ia mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sulit dijawab dengan jujur: apakah kita benar-benar hidup sebagai manusia yang bebas?

Pada zaman modern, kebebasan hampir selalu diukur dari banyaknya pilihan yang dimiliki seseorang. Kita menganggap diri bebas karena dapat memilih pekerjaan, menentukan pasangan hidup, menyampaikan pendapat di media sosial, membeli apa yang diinginkan, atau bepergian ke mana pun tanpa banyak hambatan.

Kebebasan kemudian direduksi menjadi kemampuan untuk melakukan apa saja selama tidak ada larangan dari pihak lain. Akibatnya, semakin sedikit batasan eksternal yang kita hadapi, semakin bebas pula kita merasa. Padahal, ukuran semacam itu hanya menyentuh permukaan. Manusia mungkin terbebas dari tekanan politik, bebas dari kemiskinan, atau hidup dalam sistem demokrasi yang menjamin hak-haknya.

Kendati demikian, belum tentu ia bebas dari dirinya sendiri. Ada bentuk penjara yang jauh lebih sunyi daripada tembok besi, yaitu penjara yang dibangun oleh ego. Penjara ini tidak terlihat, tetapi mampu mengendalikan hampir seluruh keputusan yang diambil seseorang. Ironisnya, semakin seseorang merasa berkuasa, semakin sulit pula ia menyadari bahwa dirinya sedang diperbudak oleh dorongan-dorongan batin yang tidak pernah ia pertanyakan.

Ego sering dipahami sebagai rasa percaya diri atau identitas diri. Padahal, dalam pengertian yang lebih luas, ego adalah kecenderungan untuk selalu menempatkan diri sebagai pusat segala sesuatu. Ego membuat seseorang haus akan pengakuan, takut kehilangan status, enggan menerima kritik, dan merasa harus selalu benar.

Ia tidak selalu tampil dalam bentuk kesombongan yang kasar. Kadang ego justru bersembunyi di balik sikap yang tampak rendah hati, kebaikan yang mengharapkan pujian, bahkan pengorbanan yang diam-diam menuntut balasan. Bayangkan seseorang yang hidup berkecukupan, memiliki jabatan tinggi, dihormati banyak orang, dan bebas menentukan arah hidupnya.

Dari luar, ia tampak sebagai simbol keberhasilan sekaligus kebebasan. Namun, setiap keputusan yang ia ambil sebenarnya didorong oleh rasa takut kehilangan citra. Ia bekerja tanpa henti bukan karena mencintai pekerjaannya, melainkan karena tidak sanggup membayangkan dirinya gagal.

Ia mengumpulkan kekayaan bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan agar tetap dipandang lebih unggul dibanding orang lain. Ia marah ketika dikritik karena harga dirinya bergantung pada penilaian publik. Apakah orang seperti ini benar-benar bebas? Secara hukum mungkin iya, tetapi secara batin ia adalah tawanan dari egonya sendiri.

Fenomena tersebut semakin jelas terlihat pada kehidupan digital saat ini. Media sosial menjanjikan ruang ekspresi tanpa batas, tetapi dalam praktiknya justru menciptakan ketergantungan baru terhadap validasi. Banyak orang mengukur nilai dirinya berdasarkan jumlah suka, komentar, atau pengikut.

Mereka membangun citra yang menarik, tetapi perlahan kehilangan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Pendapat diutarakan bukan karena diyakini benar, melainkan karena berpotensi mendapatkan apresiasi. Bahkan kemarahan pun kadang dipertontonkan agar terlihat memiliki kepedulian.

Dalam situasi seperti ini, kebebasan berubah menjadi ilusi. Seseorang merasa sedang mengekspresikan diri, padahal sebenarnya ia sedang menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. Inilah sebabnya mengapa kebenaran memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebebasan. Kebenaran bukan sekadar kumpulan fakta yang harus diketahui, melainkan keberanian untuk melihat realitas apa adanya, termasuk realitas tentang diri sendiri.

Mengenal kebenaran berarti berani mengakui motif-motif tersembunyi yang selama ini menggerakkan tindakan kita. Mengapa kita ingin dipuji? Mengapa kita takut gagal? Mengapa kita sulit memaafkan? Mengapa kita selalu ingin menjadi pemenang dalam setiap perdebatan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali tidak nyaman dijawab karena ego selalu mencari alasan untuk mempertahankan dirinya.

Di sinilah letak paradoks kehidupan manusia. Kita begitu sibuk mengubah dunia luar, tetapi jarang berusaha memahami dunia batin. Kita belajar berbagai keterampilan agar sukses, tetapi sedikit sekali yang mengajarkan cara mengenali kesombongan, iri hati, atau rasa takut yang tersembunyi di dalam diri.

Kita mengejar kebebasan melalui pencapaian eksternal, padahal akar perbudakan justru berada di dalam pikiran kita sendiri. Filsuf-filsuf besar sejak zaman Yunani kuno sebenarnya telah mengingatkan hal ini. Mereka meyakini bahwa manusia yang tidak mengenal dirinya akan mudah dikuasai oleh hawa nafsu dan ambisi.

Dalam tradisi Timur pun terdapat keyakinan serupa bahwa penderitaan muncul ketika manusia terlalu melekat pada ego dan keinginan pribadi. Meskipun lahir dari latar belakang yang berbeda, semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama: kebebasan sejati bukanlah soal memiliki lebih banyak pilihan, melainkan kemampuan untuk tidak diperbudak oleh dorongan-dorongan batin yang membutakan.

Tentu saja, membebaskan diri dari ego bukan berarti kehilangan identitas atau berhenti memiliki keinginan. Yang dimaksud adalah menempatkan ego pada posisi yang semestinya. Ego menjadi alat, bukan penguasa. Manusia tetap dapat bercita-cita, bekerja keras, dan menikmati keberhasilan tanpa menjadikan semua itu sebagai sumber harga dirinya.

Ia mampu menerima pujian tanpa menjadi sombong, menerima kritik tanpa merasa hancur, dan menerima kegagalan tanpa kehilangan makna hidup. Kebebasan seperti inilah yang jauh lebih sulit dicapai dibanding sekadar memperoleh kebebasan politik atau ekonomi. Kebenaran memang memiliki daya yang membebaskan karena ia menghancurkan ilusi yang selama ini kita pelihara.

Kebenaran memaksa kita melihat bahwa banyak keputusan yang kita anggap sebagai pilihan bebas ternyata hanyalah respons otomatis dari rasa takut, kesombongan, atau keinginan untuk diakui. Kesadaran itu mungkin menyakitkan, tetapi justru menjadi awal dari kemerdekaan yang sesungguhnya.

Selama manusia masih diperintah oleh ego, ia akan terus mencari sesuatu di luar dirinya untuk mengisi kekosongan yang tidak pernah selesai. Namun ketika ia berani mengenal kebenaran tentang dirinya sendiri, ia mulai menemukan ruang batin yang tidak lagi bergantung pada pujian, status, ataupun kemenangan.

Mungkin inilah makna terdalam dari ungkapan yang telah bertahan selama lebih dari dua ribu tahun itu. Kebebasan bukanlah keadaan ketika kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan, melainkan ketika keinginan-keinginan yang lahir dari ego tidak lagi menguasai hidup kita. Kebenaran tidak selalu membuat hidup menjadi lebih mudah, tetapi ia membuat hidup menjadi lebih jernih. Dan dari kejernihan itulah lahir kemerdekaan yang tidak dapat dirampas oleh keadaan, kekuasaan, maupun penilaian orang lain. Dalam dunia yang terus mendorong manusia untuk mengejar pengakuan, mungkin bentuk kebebasan paling langka justru adalah keberanian untuk hidup tanpa diperintah oleh ego. Itulah kebebasan yang tidak bergantung pada situasi apa pun, karena ia lahir dari kemenangan manusia atas dirinya sendiri.[T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Jaswanto

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

Next Post

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co