26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
in Esai
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Ilustrasi Canva

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan mengenal kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kalimat yang tercatat dalam Kitab Suci itu sering dipahami sebagai ajaran spiritual tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Jika dilepaskan sejenak dari konteks keagamaan, kalimat tersebut sesungguhnya menyimpan pemikiran yang sangat mendalam mengenai hakikat manusia. Ia mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sulit dijawab dengan jujur: apakah kita benar-benar hidup sebagai manusia yang bebas?

Pada zaman modern, kebebasan hampir selalu diukur dari banyaknya pilihan yang dimiliki seseorang. Kita menganggap diri bebas karena dapat memilih pekerjaan, menentukan pasangan hidup, menyampaikan pendapat di media sosial, membeli apa yang diinginkan, atau bepergian ke mana pun tanpa banyak hambatan.

Kebebasan kemudian direduksi menjadi kemampuan untuk melakukan apa saja selama tidak ada larangan dari pihak lain. Akibatnya, semakin sedikit batasan eksternal yang kita hadapi, semakin bebas pula kita merasa. Padahal, ukuran semacam itu hanya menyentuh permukaan. Manusia mungkin terbebas dari tekanan politik, bebas dari kemiskinan, atau hidup dalam sistem demokrasi yang menjamin hak-haknya.

Kendati demikian, belum tentu ia bebas dari dirinya sendiri. Ada bentuk penjara yang jauh lebih sunyi daripada tembok besi, yaitu penjara yang dibangun oleh ego. Penjara ini tidak terlihat, tetapi mampu mengendalikan hampir seluruh keputusan yang diambil seseorang. Ironisnya, semakin seseorang merasa berkuasa, semakin sulit pula ia menyadari bahwa dirinya sedang diperbudak oleh dorongan-dorongan batin yang tidak pernah ia pertanyakan.

Ego sering dipahami sebagai rasa percaya diri atau identitas diri. Padahal, dalam pengertian yang lebih luas, ego adalah kecenderungan untuk selalu menempatkan diri sebagai pusat segala sesuatu. Ego membuat seseorang haus akan pengakuan, takut kehilangan status, enggan menerima kritik, dan merasa harus selalu benar.

Ia tidak selalu tampil dalam bentuk kesombongan yang kasar. Kadang ego justru bersembunyi di balik sikap yang tampak rendah hati, kebaikan yang mengharapkan pujian, bahkan pengorbanan yang diam-diam menuntut balasan. Bayangkan seseorang yang hidup berkecukupan, memiliki jabatan tinggi, dihormati banyak orang, dan bebas menentukan arah hidupnya.

Dari luar, ia tampak sebagai simbol keberhasilan sekaligus kebebasan. Namun, setiap keputusan yang ia ambil sebenarnya didorong oleh rasa takut kehilangan citra. Ia bekerja tanpa henti bukan karena mencintai pekerjaannya, melainkan karena tidak sanggup membayangkan dirinya gagal.

Ia mengumpulkan kekayaan bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan agar tetap dipandang lebih unggul dibanding orang lain. Ia marah ketika dikritik karena harga dirinya bergantung pada penilaian publik. Apakah orang seperti ini benar-benar bebas? Secara hukum mungkin iya, tetapi secara batin ia adalah tawanan dari egonya sendiri.

Fenomena tersebut semakin jelas terlihat pada kehidupan digital saat ini. Media sosial menjanjikan ruang ekspresi tanpa batas, tetapi dalam praktiknya justru menciptakan ketergantungan baru terhadap validasi. Banyak orang mengukur nilai dirinya berdasarkan jumlah suka, komentar, atau pengikut.

Mereka membangun citra yang menarik, tetapi perlahan kehilangan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Pendapat diutarakan bukan karena diyakini benar, melainkan karena berpotensi mendapatkan apresiasi. Bahkan kemarahan pun kadang dipertontonkan agar terlihat memiliki kepedulian.

Dalam situasi seperti ini, kebebasan berubah menjadi ilusi. Seseorang merasa sedang mengekspresikan diri, padahal sebenarnya ia sedang menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. Inilah sebabnya mengapa kebenaran memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebebasan. Kebenaran bukan sekadar kumpulan fakta yang harus diketahui, melainkan keberanian untuk melihat realitas apa adanya, termasuk realitas tentang diri sendiri.

Mengenal kebenaran berarti berani mengakui motif-motif tersembunyi yang selama ini menggerakkan tindakan kita. Mengapa kita ingin dipuji? Mengapa kita takut gagal? Mengapa kita sulit memaafkan? Mengapa kita selalu ingin menjadi pemenang dalam setiap perdebatan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali tidak nyaman dijawab karena ego selalu mencari alasan untuk mempertahankan dirinya.

Di sinilah letak paradoks kehidupan manusia. Kita begitu sibuk mengubah dunia luar, tetapi jarang berusaha memahami dunia batin. Kita belajar berbagai keterampilan agar sukses, tetapi sedikit sekali yang mengajarkan cara mengenali kesombongan, iri hati, atau rasa takut yang tersembunyi di dalam diri.

Kita mengejar kebebasan melalui pencapaian eksternal, padahal akar perbudakan justru berada di dalam pikiran kita sendiri. Filsuf-filsuf besar sejak zaman Yunani kuno sebenarnya telah mengingatkan hal ini. Mereka meyakini bahwa manusia yang tidak mengenal dirinya akan mudah dikuasai oleh hawa nafsu dan ambisi.

Dalam tradisi Timur pun terdapat keyakinan serupa bahwa penderitaan muncul ketika manusia terlalu melekat pada ego dan keinginan pribadi. Meskipun lahir dari latar belakang yang berbeda, semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama: kebebasan sejati bukanlah soal memiliki lebih banyak pilihan, melainkan kemampuan untuk tidak diperbudak oleh dorongan-dorongan batin yang membutakan.

Tentu saja, membebaskan diri dari ego bukan berarti kehilangan identitas atau berhenti memiliki keinginan. Yang dimaksud adalah menempatkan ego pada posisi yang semestinya. Ego menjadi alat, bukan penguasa. Manusia tetap dapat bercita-cita, bekerja keras, dan menikmati keberhasilan tanpa menjadikan semua itu sebagai sumber harga dirinya.

Ia mampu menerima pujian tanpa menjadi sombong, menerima kritik tanpa merasa hancur, dan menerima kegagalan tanpa kehilangan makna hidup. Kebebasan seperti inilah yang jauh lebih sulit dicapai dibanding sekadar memperoleh kebebasan politik atau ekonomi. Kebenaran memang memiliki daya yang membebaskan karena ia menghancurkan ilusi yang selama ini kita pelihara.

Kebenaran memaksa kita melihat bahwa banyak keputusan yang kita anggap sebagai pilihan bebas ternyata hanyalah respons otomatis dari rasa takut, kesombongan, atau keinginan untuk diakui. Kesadaran itu mungkin menyakitkan, tetapi justru menjadi awal dari kemerdekaan yang sesungguhnya.

Selama manusia masih diperintah oleh ego, ia akan terus mencari sesuatu di luar dirinya untuk mengisi kekosongan yang tidak pernah selesai. Namun ketika ia berani mengenal kebenaran tentang dirinya sendiri, ia mulai menemukan ruang batin yang tidak lagi bergantung pada pujian, status, ataupun kemenangan.

Mungkin inilah makna terdalam dari ungkapan yang telah bertahan selama lebih dari dua ribu tahun itu. Kebebasan bukanlah keadaan ketika kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan, melainkan ketika keinginan-keinginan yang lahir dari ego tidak lagi menguasai hidup kita. Kebenaran tidak selalu membuat hidup menjadi lebih mudah, tetapi ia membuat hidup menjadi lebih jernih. Dan dari kejernihan itulah lahir kemerdekaan yang tidak dapat dirampas oleh keadaan, kekuasaan, maupun penilaian orang lain. Dalam dunia yang terus mendorong manusia untuk mengejar pengakuan, mungkin bentuk kebebasan paling langka justru adalah keberanian untuk hidup tanpa diperintah oleh ego. Itulah kebebasan yang tidak bergantung pada situasi apa pun, karena ia lahir dari kemenangan manusia atas dirinya sendiri.[T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Jaswanto

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

Next Post

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co