26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
in Khas
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

Diskusi mengenal dunia editorial bersama Andi Tarigan di Beranda Pustaka, Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: Dok. Beranda Pustaka & FSBJ 2026

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21 Juli 2026. Di hadapan para peserta, sebuah layar besar menampilkan wajah Andi Tarigan yang berbicara dari Jakarta melalui sambungan daring. Rencana awal menghadirkannya secara langsung harus berubah menjadi diskusi hibrida karena suatu hal. Kendati demikian, antusiasme peserta tidak surut. Justru ada pengalaman baru yang membuat sesi itu terasa berbeda.

Di sisi panggung, dua juru bahasa isyarat (JBI), Stary Brasnan dan Eka Pudji Astuti, menerjemahkan setiap kalimat yang saya ucapkan dan setiap penjelasan yang disampaikan narasumber. Itu adalah pengalaman pertama saya memandu sebuah diskusi yang didampingi juru bahasa isyarat. Rasanya menyenangkan menyaksikan bagaimana percakapan tentang buku dan dunia editorial dapat diakses lebih luas, termasuk oleh kawan-kawan Tuli—membuat diskusi hari itu menjadi ruang yang lebih inklusif. 

Sesi yang diselenggarakan Beranda Pustaka dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 itu mengangkat tema “Mengenal Dunia Editorial: Dari Naskah Menjadi Buku”. Topik yang terdengar ringan, tetapi sesungguhnya menyimpan banyak pertanyaan yang acap muncul di kalangan penulis: mengapa sebuah naskah diterima penerbit, sementara naskah lain ditolak? Apa sebenarnya yang dilakukan editor? Sejauh mana editor ikut menentukan lahirnya sebuah buku?

Dari kiri ke kanan, Stary Brasnan, Eka Pudji Astuti, Dede Putra Wiguna (saya)│Foto: Dok. Beranda Pustaka & FSBJ 2026

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dijawab satu per satu oleh Andi Tarigan, Kepala Redaksi Gramedia Pustaka Utama (GPU), yang telah lebih dari satu dekade berkecimpung di dunia penerbitan. Selama kariernya, ia menangani berbagai naskah, mulai dari filsafat, sejarah, politik, biografi, hingga bisnis. Pengalamannya memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah buku ternyata jauh lebih panjang daripada sekadar selesai ditulis. 

Andi membuka paparannya dengan membongkar gambaran yang selama ini kerap luput dari perhatian penulis. Banyak orang mengira buku lahir setelah naskah selesai ditulis. Padahal, penulisan justru baru merupakan titik awal.

“Satu naskah biasanya menempuh lima tahap utama, mulai dari akuisisi, penyuntingan, produksi, cetak dan distribusi, hingga pemasaran. Proses itu bisa memakan waktu enam sampai dua belas bulan,” jelasnya.

Tahapan tersebut menunjukkan bahwa sebuah buku merupakan hasil kerja panjang banyak orang, bukan hanya penulisnya. 

Lantas, apa sebenarnya dicari editor ketika membaca sebuah naskah?

Andi mengatakan, editor tidak langsung terpikat oleh tebal-tipisnya naskah ataupun nama besar penulis. Ada enam pertanyaan mendasar yang selalu mereka ajukan sejak halaman pertama.

“Apakah premisnya kuat? Apakah penulis memiliki suara yang khas? Siapa target pembacanya? Apakah strukturnya rapi? Apa orisinalitasnya? Dan, apakah naskah ini punya potensi pasar?” paparnya.

Enam pertanyaan itu menjadi gerbang awal sebelum editor memutuskan apakah sebuah naskah layak diteruskan ke tahap berikutnya.

Stary Brasnan dan Eka Pudji Astuti (Juru Bahasa Isyarat) saat membersamai diskusi│Foto: Dok. Beranda Pustaka & FSBJ 2026

Bagian tentang premis menjadi salah satu pembahasan menarik. Andi menilai masih banyak penulis yang menyamakan premis dengan tema, padahal keduanya berbeda.

“Premis bukan sekadar tema. Premis adalah inti cerita atau argumen yang bisa diringkas dalam satu atau dua kalimat, tetapi langsung membuat orang ingin tahu lebih jauh.”

Menurutnya, premis yang baik harus menghadirkan ketegangan, memiliki arah yang jelas, serta menawarkan sudut pandang yang berbeda. Namun, ia mengingatkan bahwa premis yang kuat saja belum cukup.

“Premis yang kuat perlu dieksekusi dengan tuntas dan meyakinkan,” tegas Andi.

Pembahasan kemudian bergeser pada persoalan yang acap disalahpahami penulis, yakni orisinalitas. Selama ini banyak orang menganggap sebuah karya baru harus menghadirkan ide yang belum pernah ada sebelumnya. Andi justru melihatnya dari sudut yang berbeda.

“Orisinalitas bukan berarti menemukan ide yang sama sekali baru. Yang dicari editor adalah sudut pandang baru terhadap tema yang sudah jamak.”

Ia kemudian mengajak peserta membayangkan rak toko buku yang dipenuhi judul-judul serupa. “Kalau naskah ini ditaruh di sebelah lima buku sejenis, apa yang membuatnya berbeda?” tanyanya.

Pertanyaan itu menjadi ukuran apakah sebuah naskah memiliki identitas yang cukup kuat untuk bersaing dengan karya lain. Orisinalitas, menurutnya, lahir dari cara penulis memandang persoalan, menggabungkan berbagai unsur, serta menghadirkan gaya bertutur yang khas. 

Setelah membahas bagaimana editor menilai sebuah naskah, Andi mengajak peserta melihat apa yang sebenarnya dikerjakan editor. Selama ini, profesi editor sering dipersempit hanya sebagai orang yang memperbaiki salah ketik.

“Penyuntingan bukan hanya memperbaiki salah ketik,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penyuntingan berlangsung dalam tiga lapis. Penyuntingan substansi membedah struktur besar naskah, memastikan alur cerita maupun argumen tersusun logis dan tidak saling mengulang. Setelah itu dilakukan copyediting untuk memperbaiki kalimat, diksi, ejaan, serta konsistensi istilah sesuai gaya selingkung penerbit. Tahap terakhir adalah proofreading, yakni pemeriksaan detail sebelum naskah naik cetak agar tidak ada lagi kesalahan teknis yang tersisa.

Dari kiri ke kanan, Dede Putra Wiguna (saya), Wulan Dewi Saraswati (panitia, pegiat seni pertunjukan), Andi Tarigan (narasumber)│Foto: Dok. Beranda Pustaka & FSBJ 2026

Agar penjelasannya lebih konkret, Andi memberikan sejumlah contoh. Sebuah tema yang sama bisa terasa segar ketika ditulis dari sudut pandang yang tidak biasa. Kisah pekerja migran, misalnya, dapat menjadi lebih menyentuh ketika diceritakan melalui mata anak yang ditinggalkan di kampung halaman. Begitu pula buku sejarah atau politik akan terasa lebih hidup ketika menghadirkan tokoh-tokoh yang selama ini berada di balik layar, bukan hanya tokoh besar yang sudah sering dibahas. Bagi editor, pengalaman yang autentik dan kedekatan penulis dengan tema menjadi kekuatan yang sukar ditiru. 

Salah satu bagian yang memancing pertanyaan peserta adalah alasan sebuah naskah ditolak penerbit. Andi menjawabnya dengan lugas.

Menurutnya, naskah sering kali gagal karena premisnya terlalu umum, belum melalui swasunting, target pembacanya tidak jelas, atau bab-bab awal belum cukup kuat untuk membuat editor terus membaca. Tidak sedikit pula penulis yang mengabaikan pentingnya sinopsis, surat pengantar, maupun riset terhadap buku-buku pembanding yang telah beredar di pasaran. 

Menjelang akhir sesi, Andi memberikan bekal praktis bagi siapa pun yang ingin menerbitkan buku.

“Pastikan naskah sudah selesai, riset penerbit yang sesuai, susun sinopsis yang tajam, poles bab-bab awal, ikuti pedoman pengiriman, lalu bersabar. Terus menulis dan jangan berhenti pada satu naskah.”

Pesan itu merangkum keseluruhan proses yang telah dipaparkannya sepanjang diskusi. Menerbitkan buku bukan perkara keberuntungan, melainkan perjalanan yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kemauan untuk terus memperbaiki karya. 

Ketika diskusi usai, saya memandang kembali layar yang perlahan dipadamkan. Diskusi sore itu tidak hanya memperkenalkan dunia editorial, tetapi juga mengubah cara pandang saya terhadap sebuah buku. Selama ini perhatian pembaca sering berhenti pada nama penulis yang tercetak di sampul. Padahal, di balik setiap buku yang baik, ada editor yang membaca lebih teliti, mempertanyakan lebih kritis, dan membantu penulis menemukan bentuk terbaik dari gagasannya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Andi TariganFestival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Next Post

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 26, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

Read moreDetails

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
0
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

Read moreDetails
Next Post
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co