RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di depan meja kecil. Di hadapannya terdapat mesin tik. Jemarinya mulai bergerak, disusul bunyi ketukan logam yang berulang-ulang memecah kesunyian. Di sekelilingnya, para pemain berjalan perlahan sembari membawa buku dan lentera, seolah sedang menelusuri lorong waktu nan gelap.
Lalu, sebuah puisi dibacakan.
Bukan puisi yang baru lahir kemarin sore, melainkan puisi yang diyakini sebagai puisi Indonesia pertama yang pernah diterbitkan di Bali: “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” karya Gd. P. Kertanadi yang dimuat dalam Majalah Bali Adnjana pada 1 Januari 1925. Dari titik itulah perjalanan panjang sastra Indonesia di Bali dimulai, dan dari titik itu pula Komunitas Mahima mengajak penonton menyusuri satu abad perkembangan puisi melalui pertunjukan “Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali.”

Pertunjukan yang dipentaskan dalam rangka Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 itu tidak hadir sebagai pembacaan puisi biasa. Ia merupakan pertemuan berbagai disiplin seni, mulai dari teater, tari, musik, visual, hingga diskusi akademik yang disusun menjadi satu narasi utuh tentang bagaimana puisi tumbuh, berubah, dan terus menemukan bentuknya mengikuti perjalanan masyarakat Bali selama seratus tahun.
Produksi ini diproduseri Kadek Sonia Piscayanti dengan naskah yang ditulis bersama Made Adnyana Ole. Penyutradaraan dipercayakan kepada Wahyu Mahaputra dan I Putu Ardiyasa. Pertunjukan dipilih sebagai mesin waktu yang membawa penonton menyaksikan perjalanan puisi dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga memasuki zaman media sosial dan kecerdasan buatan.
Babak pertama membawa penonton kembali ke Bali pada dekade 1920-an hingga 1930-an. Suasana panggung dipenuhi nuansa temaram, mesin tik tua, buku-buku, serta visual majalah lawas yang diproyeksikan ke layar. Semua elemen itu menghadirkan kesan bahwa puisi lahir dari ruang-ruang sunyi, dari halaman-halaman majalah yang menjadi tempat pertama para penyair menyuarakan zamannya.


Di babak inilah penonton kembali bertemu “Och. Ratna” karya M. Oke yang dimuat dalam Djatajoe tahun 1938. Puisi tersebut menghadirkan Bali sebagai perempuan jelita yang dipuja banyak orang. Metafora itu terasa masih relevan hingga kini. Bali tetap memesona dunia, tetapi sekaligus menghadapi berbagai tantangan yang lahir dari pesona tersebut. Melalui pembacaan puisi yang dipadukan dengan gerak tubuh para penari, makna karya itu tidak hanya terdengar, tetapi juga tampak hidup di atas panggung.
Suasana kemudian berubah. Musik menjadi lebih dinamis, warna-warna panggung menghangat, dan para pemain membangun instalasi dari kursi-kursi kayu. Babak kedua menandai hadirnya Indonesia yang telah merdeka. Jika pada masa kolonial puisi banyak berbicara tentang identitas dan kebangkitan, maka pada era ini puisi berkembang menjadi ruang memikirkan pembangunan, kemanusiaan, cinta, hingga pencarian jati diri.
Puisi “Dharmaku” karya Windhya Wirawan tampil sederhana, tetapi menyimpan gagasan besar. Bahwa setiap profesi dapat menulis sejarah melalui caranya masing-masing. Petani menulis sejarah dengan padi, buruh dengan peluh, prajurit dengan darah, sementara penyair menulisnya dengan pena. Sebuah pengingat bahwa sastra bukan sesuatu yang berdiri jauh dari kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.

Pertunjukan kian menarik ketika alur dramatiknya berhenti sejenak, lalu berubah menjadi ruang dialog terbuka. Tiga akademisi sastra ꟷ I Nyoman Darma Putra, I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, dan I Made Sujaya ꟷ naik ke atas panggung. Mereka tidak hadir sebagai pengisi seminar yang terpisah dari pertunjukan, melainkan menjadi bagian dari dramaturgi itu sendiri.
Konsep Public Lecture Performance menjadi salah satu pembeda utama produksi ini. Penonton tidak hanya menikmati puisi sebagai pengalaman estetik, tetapi juga diajak memahami konteks sejarah yang melahirkannya. Diskusi mengenai perkembangan puisi sejak era kolonial, pascakemerdekaan, Orde Baru, Reformasi, hingga munculnya media sosial dan kecerdasan buatan menjadi jembatan yang menghubungkan karya sastra dengan perjalanan masyarakat Bali.


Memasuki babak ketiga, panggung berubah drastis. Mesin tik menghilang. Sebagai gantinya, para pemain datang membawa laptop. Cahaya biru mendominasi ruang, sementara layar digital menampilkan visual-visual abstrak yang mengingatkan pada dunia komputasi.
Perubahan properti itu terasa sangat simbolis. Jika generasi awal penyair bergantung pada mesin tik dan halaman majalah, penyair masa kini hidup bersama layar, internet, media sosial, hingga kecerdasan buatan. Perubahan medium menjadi penanda bahwa sastra selalu bergerak mengikuti zaman, tanpa kehilangan esensinya.
Deretan puisi karya Warih Wisatsana, Oka Rusmini, Nanoq da Kansas, Tan Lioe Ie, Cok Sawitri, Mas Ruscita Dewi, Kadek Sonia Piscayanti, hingga Made Adnyana Ole dibacakan bergantian. Masing-masing membawa tema yang berbeda, mulai dari identitas, kemanusiaan, spiritualitas, lingkungan, hingga kegelisahan hidup modern. Perbedaan gaya antargenerasi justru memperlihatkan betapa luasnya lanskap puisi Indonesia di Bali saat ini.

Salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika seorang aktor duduk menatap layar laptop sembari membacakan puisi “://Folder Rahasia Kakak” karya Manik Sukadana. Puisi itu menghadirkan percakapan antara manusia dan kecerdasan buatan mengenai cinta, keluarga, kehilangan, dan ingatan yang tersimpan dalam folder-folder digital.
Pilihan karya tersebut terasa sangat tepat sebagai penutup perjalanan sejarah. Setelah melewati mesin tik, buku, majalah, dan surat kabar, puisi akhirnya memasuki ruang digital. Namun yang berubah hanyalah medianya. Yang tetap tinggal adalah pertanyaan-pertanyaan manusia tentang cinta, kehilangan, rumah, dan harapan.
Secara artistik, produksi Mahima menunjukkan keberanian menggabungkan berbagai bahasa seni tanpa membuatnya saling berebut perhatian. Tata cahaya berfungsi sebagai penanda zaman, musik menjadi pengikat emosi, tari memperluas makna puisi, sementara visual multimedia memperkaya imajinasi penonton. Seluruh unsur itu bergerak serempak melayani satu tujuan: membuat puisi tidak hanya dibaca, tetapi dialami.


Yang menarik, pertunjukan ini juga menghindari romantisisme sejarah. Tidak ada upaya menempatkan satu periode sebagai masa keemasan. Sebaliknya, setiap zaman diperlakukan sebagai mata rantai yang saling menyambung. Era kolonial melahirkan fondasi, masa kemerdekaan memperluas tema, sedangkan era digital menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru.
Ketika lampu panggung perlahan meredup, terucap sebuah kalimat yang menjadi penutup pertunjukan: “Puisi pada era manakah yang lebih baik?” Sejenak panggung hening. Lalu suara lain menjawab, “Bukan itu pertanyaannya!”

Jawaban itu barangkali menjadi simpulan paling penting. Selama seratus tahun, puisi Indonesia di Bali tidak pernah berhenti bertransformasi. Ia berpindah dari mesin tik ke laptop, dari halaman majalah ke layar gawai. Bentuknya boleh berganti, mediumnya boleh berubah, tetapi denyutnya tetap sama—menjadi cara manusia merekam sejarah, menyuarakan kegelisahan, dan menjaga imaji agar tetap hidup.
Melalui pertunjukan “Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali”, Komunitas Mahima tidak sekadar memperingati satu abad perjalanan puisi. Mereka menunjukkan bahwa puisi adalah warisan yang terus bertumbuh, berdialog dengan zamannya, dan akan selalu menemukan cara baru untuk menyapa generasi berikutnya.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































