23 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Chandra Manikan by Chandra Manikan
July 22, 2026
in Ulas Pentas
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

“Transformasi Drupadi menjadi Durpadi” diperankan oleh Ocha Diartini | Photo: Chandra Manikan

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai Durpadi. Sasana Budaya kala itu berubah menjadi ruang yang sangat ganjil, mistis sekaligus mencekam. Saya mendengar rintihan lirih perlahan mengalun, lalu pecah menjadi teriakan yang sarat amarah.

Saya terpaku. Sulit membedakan siapa yang sesungguhnya sedang bersuara: apakah Durpadi, perubahan Drupadi yang menjadi Durga, atau Ocha Diartini, yang seolah memberikan tubuh dan suaranya sebagai wadah bagi luka perempuan. Saat itu, bulu kuduk saya berdiri, entah itu adalah bentuk rasa kagum atau rasa takut, saya juga tidak begitu mengerti.

Apa yang saya tonton hari itu, di Singaraja Literary Festival 2026, bukan lagi sekedar pertunjukkan teater. Melainkan sebuah pengalaman baru yang memaksa saya menonton hingga akhir. Memaksa saya ikut masuk kedalam emosi yang sedang disampaikan oleh Ocha Diartini, bahkan ketika adegan telah berganti.

“Kini aku bukan lagi Drupadi yang lemah dan pasrah, akulah “Durpadi”, Durga dalam diri Drupadi, perempuan berkekuatan semesta, yang siap meleburmu dari bencana ke bencana.”

Kalimat tersebut tampak seperti deklarasi kemenangan seorang perempuan yang selama ini terpinggirkan. Ia tidak lagi menerima nasib sebagai korban, melainkan menjelma sosok yang menebar ancaman terhadap dunia laki-laki. Sekilas, kalimat tersebut dapat dibaca sebagai kisah emansipasi: perempuan yang berhasil merebut kembali suaranya setelah dibungkam oleh tuduhan, pengasingan, dan penghinaan.

Meminjam kacamata dari Gayatri Chakravorty Spivak, transformasi Drupadi menjadi Durpadi justru memperlihatkan sebuah paradoks. Saya melihat adanya sebuah persoalan dalam kalimat yang dilontarkan oleh Durpadi ini. Persoalan, dengan bahasa siapa ia berbicara?

Dalam esai Can the Subaltern Speak?, Spivak memberitahu saya, tentang kritik terhadap cara dunia memahami suara kelompok yang terpinggirkan. Menurutnya, subaltern bukan sekedar kelompok yang tertindas secara sosial atau ekonomi. Subaltern adalah mereka yang berada di luar struktur representasi, sehingga pengalaman dan suaranya tidak pernah diakui sebagai miliknya sendiri.

Lebih dalam Spivak meyakinkan saya, bahwa ketika subaltern berbicara, suaranya seringkali diterjemahkan, dibingkai, atau bahkan ditentukan terlebih dahulu oleh sistem pengetahuan yang berkuasa. Sehingga, persoalan utama yang timbul bukanlah ada atau tidaknya suara, melainkan apakah suara itu sungguh berasal dari dirinya sendiri.

“Durpadi berteriak marah” sebuah monolog yang diperankan oleh Ocha Diartini pada Singaraja Literary Festival 2026 | Photo: Chandra Manikan

Monolog Durpadi karangan Putu Fajar Arcana, dibuka dengan sebuah identitas yang sepenuhnya dibentuk oleh kuasa patriarki. Menyebut dirinya sebagai “perempuan yang tersakiti” karena “dituduh berzina dengan bayangannya sendiri.” Saya rasa tuduhan tersebut, menjadi titik awal yang menentukan seluruh perjalanan hidupnya Drupadi. Menariknya, identitas tersebut tidak lahir dari pengakuan dirinya, melainkan dari penilaian laki-laki. Drupadi tidak terlebih dahulu hadir sebagai subjek yang mendefinisikan dirinya; ia hadir sebagai objek yang didefinisikan oleh tuduhan.

Spivak memberikan saya sebuah gambaran, bahwa situasi yang terjadi pada monolog tersebut merupakan bentuk epistemic violence atau kekerasan epistemik. Baginya, kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Kekerasan juga hadir melalui pengetahuan yang menentukan: siapa yang dianggap benar, siapa yang dianggap salah, siapa yang dianggap suci, dan siapa yang dianggap tercemar.

Tuduhan terhadap Drupadi bukan sekedar persoalan moral, melainkan proses produksi pengetahuan yang mengubahnya menjadi sosok yang layak dihukum. Akibat tuduhan tersebut, Drupadi berubah menjadi Durpadi dan diasingkan ke Setra Gandamayu. Saya mengartikan Setra ini bukan hanya menjadi sebuah lokasi, melainkan simbol pengasingan dari tatanan sosial. Setra menjadi ruang bagi mereka yang tidak lagi diakui keberadaannya. Pengasingan tersebut memperlihatkan bagaimana subaltern tidak hanya kehilangan hak untuk berbicara, tetapi juga kehilangan tempat untuk diakui sebagai bagian dari masyarakat.

Menariknya, monolog ini kemudian mengalami perubahan drastis ketika Durpadi berkata, “Sejak itu aku berjanji akan menghancurkan setiap pikiran yang dijejalkan oleh para lelaki.” Pada titik ini, saya menganggap bahwa perempuan akhirnya memperoleh suaranya sendiri. Akan tetapi, Spivak berpendapat lain. Ia mempertanyakan, apakah Durpadi sedang berbicara sebagai dirinya sendiri, ataukah ia sedang menggunakan bahasa yang diwariskan oleh laki-laki yang selama ini menindasnya?

Pilihan kata yang digunakan Durpadi dipenuhi oleh kosakata penghancuran: “meluluhlantakkan”, “musnahkan”, “lumat”, “remuk”, “semburkan tulang-belulangnya”. Menurut Spivak, seluruh kata tersebut merupakan bahasa dominasi, penaklukan, dan peperangan. Durpadi memang melawan, tetapi masih menggunakan logika yang sama dengan para penindasnya. Artinya, perlawanan Durpadi tidak menghancurkan struktur kekuasaan; ia justru bergerak di dalam struktur yang sama dengan laki-laki yang menindasnya.

Bentuk perlawanan tersebut yang saya sebut sebagai sebuah paradoks. Durpadi memang dapat mengeluarkan suara dan melawan, tetapi suara tersebut muncul melalui tata bahasa kekuasaan yang sama dengan para penindasnya. Dalam monolog ini, posisi laki-laki dan perempuan memang dibalik, tetapi logika kekuasaan tetap dipertahankan. Drupadi yang dihancurkan laki-laki, berubah menjadi Durpadi yang mengancam untuk menghancurkan laki-laki. Relasi kuasanya berubah arah, tetapi bentuk kekuasaannya tetap sama.

“Transformasi Drupadi menjadi Durpadi” diperankan oleh Ocha Diartini | Photo: Chandra Manikan

Transformasi Drupadi menjadi Durpadi juga memperlihatkan bagaimana identitas perempuan dibentuk oleh trauma. Durga dalam tradisi hindu dikenal sebagai manifestasi Shakti, energi alam semesta yang melindungi keseimbangan dunia. Akan tetapi dalam monolog ini, Durga lahir bukan sebagai simbol keseimbangan, melainkan sebagai akibat dari luka yang berkepanjangan. Kekuatan Drupadi tidak muncul karena pengakuan terhadap dirinya sebagai perempuan, tetapi karena akumulasi penghinaan yang akhirnya menjelma menjadi kemarahan.

Saya melihat puncak paradoks dari monolog ini, ketika Durpadi mengancam akan menghancurkan Sahadewa, bahkan seluruh keturunan Pandu. Sasaran kemarahannya bukan lagi individu tertentu, tetapi keseluruhan garis keturunan laki-laki. Ancaman ini, menurut saya, menunjukan bahwa logika yang bekerja masih merupakan logika patriarki. Kekuasaan dipahami sebagai kemampuan memusnahkan garis keturunan, menguasai kerajaan, dan/atau menaklukkan musuh. Bahasa yang digunakan tetap merupakan bahasa yang selama ini identik dengan dunia para ksatria: peperangan, penaklukan, dan pembunuhan.

Penggalan dari kalimat penutup, “Aku haus darah lelaki,” menjadi klimaks dari seluruh monolog. Pada satu sisi, kalimat ini terdengar sebagai suara pembebasan seorang perempuan, yang selama ini dibungkam. Di sisi lain, kalimat ini terdengar sebagai kekuasaan yang telah dibentuk oleh sistem patriarki itu sendiri. Durpadi memperoleh suara, tetapi suara tersebut masih meminjam bahasa dari sistem patriarki yang telah mengasingkannya.

Karena itu, saya melihat kekuatan monolog ini tidak terletak pada keberhasilan Durpadi membalas dendam kepada laki-laki. Kekuatannya justru berada pada tragedi yang diperlihatkan: seorang perempuan yang akhirnya dapat berbicara, tetapi masih harus berbicara dengan bahasa yang diwariskan oleh kekuasaan yang pernah membungkamnya. Pada titik ini, saya sangat setuju dengan pemikiran Spivak. Persoalan terbesar bukanlah apakah Durpadi mampu berbicara dengan bebas, melainkan apakah Durpadi mampu berbicara tanpa harus terlebih dahulu mengadopsi bahasa, logika, dan imajinasi politik milik laki-laki yang selama ini menguasainya.

Monolog Durpadi karangan Putu Fajar Arcana ini, memperlihatkan bahwa pembebasan tidak selalu berarti keluar dari struktur penindasan. Dalam monolognya, pembebasan justru berlangsung di dalam bahasa yang sama, sehingga suara Durpadi terdengar lantang. Namun, gema itu masih memantulkan logika patriarki, sebab sejak awal sistem itulah yang membentuk sekaligus menghancurkan Drupadi. [T]

Penulis: Chandra Manikan
Editor: Adnyana Ole

Tags: MonologPutu Fajar ArcanaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

Chandra Manikan

Chandra Manikan

Seorang warga Indonesia yang gemar mengulik wacana, identitas, dan bagaimana kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. IG: @pcmpw

Related Posts

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Khas

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]
Ulas Rupa

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

by Angga Wijaya
July 22, 2026
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia
Esai

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co