21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

Early NHS by Early NHS
July 20, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan berpakaian. Manusia-manusia dari berbagai mazhab, ideologi, dan kepentingan datang dengan asumsi dan argumentasinya.

Kaum konservatif meminta tubuh itu ditutup, industri kecantikan beriklan agar tubuh itu dipoles, algoritma menuntut tubuh itu selalu terpampang di layar, sementara sebagian kritikus kontemporer, khususnya dari kalangan feminisme, mengupayakan agar tubuh itu dibebaskan dari nilai-nilai yang mereka anggap menindas.

Bahasa yang digunakan kelompok-kelompok itu barangkali berbeda. Ada yang bicara tentang moralitas, kecantikan, pemberdayaan, bahkan perlawanan terhadap kapitalisme dan budaya patriarki. Sayangnya, semua “niat baik” itu punya kemungkinan berakhir pada tuntutan yang sama, yaitu perempuan seharusnya menampilkan tubuh sesuai standar orang lain.

Kecenderungan tersebut tampak dalam tulisan seorang akademikus yang saya hormati, Surfian Rahmat AP, berjudul “Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital”, terbit di Tatkala.co pada 15 Juli 2026.  

Dalam tulisan tersebut, Surfian menjelaskan bahwa figur baddie umumnya dikonstruksikan sebagai perempuan yang percaya diri dan mandiri secara finansial, serta menampilkan hiper-femininitas tertentu melalui riasan wajah, bentuk tubuh, dan gaya berpakaian. Surfian kemudian melihatnya sebagai bentuk kontemporer dari pendisiplinan tubuh perempuan oleh budaya patriarki, kapitalisme neoliberal, dan algoritma media sosial.

 Gaya yang kerap dikaitkan dengan kemandirian, keberanian, dan kemampuan perempuan mengendalikan citra dirinya, menurut Surfian, justru menyembunyikan bentuk penaklukan baru. Ia menulis: “Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi ….”

Saya sepakat dengan Surfian pada beberapa bagian, khususnya saat ia mengkritik kapitalisme, industri kecantikan, algoritma, serta bagian tulisannya yang menjelaskan apropriasi budaya dan hierarki rasial. Hanya saja, persoalan terbesar tulisan Surfian terletak pada kecenderungan analisisnya mempersempit ruang agensi perempuan.

Surfian memang menyebut tubuh sebagai subjek politik yang secara aktif merespons dan mereproduksi struktur kekuasaan. Namun, pada bagian-bagian selanjutnya, perempuan lebih banyak digambarkan sebagai pihak yang telah menginternalisasi pengawasan, mengejar validasi eksternal, dan mengalami pemberdayaan yang ilusionis.

Hemat saya, tulisan Surfian menyisakan kesan bahwa perempuan yang mengikuti estetika baddie hanya merasakan kebebasan semu, padahal mereka sebenarnya sedang ditaklukkan; bahwa kepercayaan diri mereka merupakan produk manipulasi pasar; dan pilihan yang mereka anggap personal sesungguhnya adalah bentuk lain kepatuhan terhadap budaya digital dan kapitalisme. Pada akhirnya, perempuan kembali menjadi tubuh yang dijelaskan oleh orang lain.

Saya tidak mendefinisikan diri sebagai feminis dan tidak sedang membela hiper-femininitas. Saya hanya menolak argumen deterministik yang diajukan Surfian. Lebih-lebih, ia sempat mengatakan fenomena yang sedang dibahas memperlihatkan realitas yang kompleks, tetapi di dalam tulisannya kompleksitas itu ia reduksi menjadi persoalan struktur, sementara kemampuan perempuan untuk menafsirkan dan menegosiasikan pengalaman tubuhnya sendiri diabaikan. Surfian memang mengakui adanya agensi sebagai istilah, hanya saja penggunaan bahasa yang serba mutlak membuat agensi perempuan hampir tidak memiliki ruang dan diabaikan dalam kesimpulan analisisnya.

Struktur Tidak Menghapus Agensi

Tidak ada pilihan manusia yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial, dengan siapa ia bergaul, akun TikTok apa yang ia tonton, bahkan nasihat orang tua saat bocah bisa saja memengaruhi pilihan hidup seseorang. Cara seseorang berpakaian, menampilkan diri, sampai mendefinisikan diri tidak jarang dibentuk oleh kebudayaan, nilai, struktur sosial, atau lingkungan sekitar. Dengan kata lain, tidak ada tubuh yang berdiri bebas di luar struktur sosial atau kekuasaan.

Karena itu, menunjukkan bahwa suatu pilihan dipengaruhi oleh struktur belum cukup untuk membuktikan bahwa pilihan tersebut sama sekali bukan pilihan bebas. Seseorang bisa saja tahu dia sedang dipengaruhi tetapi tetap mempertahankan pilihan tersebut. Soal ini, pertanyaan terpentingnya bukan apakah pilihan perempuan murni dan bebas dari segala pengaruh, tetapi bagaimana perempuan menjalankan agensi di tengah pengaruh struktur tersebut. Seorang perempuan mungkin tahu dan paham bahwa industri kecantikan mengeksploitasi rasa “insecure”–nya, tetapi ia tetap menikmati kegiatan merias wajah. Seorang kreator kecantikan bisa saja menyadari bahwa media sosial memonetisasi tubuhnya, tetapi pada saat yang sama ia memperoleh pendapatan, jaringan sosial, dan kendali atas citra dirinya.

Kedua hal itu sangat mungkin muncul pada saat yang sama. Seseorang dapat memanfaatkan sistem yang membatasinya atau mengikuti norma tertentu sambil terus memperjuangkan eksistensinya. Seorang perempuan dapat memperoleh kesenangan, keuntungan material, dan ruang agensi dari suatu praktik, sekalipun praktik tersebut tetap berlangsung dalam relasi yang eksploitatif. Adanya manfaat yang diperoleh tidak begitu saja menghapus eksploitasi, sebagaimana eksploitasi tidak begitu saja menghapus seluruh agensi seseorang yang mengalaminya.

Maka itu, saya pikir analisis Surfian terlalu deterministik. Kapitalisme dan algoritma diperlakukan seolah-olah sepenuhnya menentukan arti tindakan perempuan. Padahal, dipengaruhi oleh struktur tidak sama dengan sepenuhnya ditentukan oleh struktur. Mengakui hal ini bukan berarti menolak adanya kekuasaan, tetapi menolak menjadikan perempuan sebagai korban pasif yang tidak memahami pengalaman tubuhnya sendiri.

Paternalisme dalam Bahasa Pembebasan

Kritik Surfian terhadap estetika baddie berisiko berubah menjadi paternalisme baru. Pada masa lalu, tubuh perempuan dikendalikan melalui bahasa moralitas: perempuan yang berpakaian terbuka dianggap tidak terhormat. Kini, kecenderungan untuk menetapkan makna tubuh perempuan juga dapat muncul melalui bahasa yang lebih progresif, misalnya ketika perempuan yang menikmati riasan dianggap semata-mata dikendalikan industri atau perempuan yang menampilkan tubuhnya langsung dinilai sedang mengobjektifikasi diri.

Tentu, kritik progresif tidak memiliki bentuk dan daya paksa yang sama dengan kontrol moral atau institusional. Namun, keduanya dapat bertemu pada satu kecenderungan, yaitu pihak lain merasa lebih mengetahui arti kebebasan perempuan daripada perempuan yang menjalani pengalaman tubuh tersebut.

Lalu, seperti apakah perempuan yang benar-benar bebas? Saya tidak akan menjawab pertanyaan ini. Yang ingin saya katakan, gagasan tentang tubuh yang sepenuhnya autentik, alamiah, dan bebas dari pengaruh pasar adalah fantasi. Tubuh manusia selalu terikat, tidak ada tubuh yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial maupun pasar.

Karena itu, pembebasan tidak dapat diukur dari tebal-tipisnya riasan, terbuka-tertutupnya pakaian, atau seberapa banyak tubuh ditampilkan.

Kritik Surfian terhadap kapitalisme dan algoritma tetap relevan. Namun, kritik tersebut akan menjadi lebih membebaskan apabila diarahkan pada perluasan pilihan, bukan pada penetapan pilihan mana yang boleh disebut bebas.

Perjuangannya bukan mengganti satu standar tubuh dengan standar tubuh lainnya. Bukan juga mengganti pengawasan konservatif dengan pengawasan progresif. Yang seharusnya diperjuangkan adalah kondisi ketika perempuan dapat memakai riasan atau tidak, menampilkan tubuh atau menutupinya, mengikuti estetika tertentu atau tidak, tanpa kehilangan martabat, kesempatan untuk hidup, bahkan mengupayakan eksistensi dirinya.

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan?

Tidak ada satu pihak pun, baik pasar, negara, agama, algoritma, maupun kritikus, yang memiliki kewenangan tunggal untuk menentukan arti kebebasan tubuh perempuan.

Estetika baddie bukan pembebasan mutlak, tetapi pada saat yang sama juga bukan penaklukan mutlak. Dalam tubuh perempuan di era digital, kesenangan, identitas, eksploitasi, dan agensi dapat hadir secara bersamaan. Karena itu, pertanyaan utamanya bukan apakah setiap perempuan yang mengikuti estetika baddie telah bebas atau sedang ditindas. Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang dan bahkan berubah dari waktu ke waktu.

Yang saya tolak bukan kritik terhadap pilihan perempuan, melainkan klaim bahwa kritikus selalu lebih mengetahui arti sesungguhnya dari pilihan tersebut dibandingkan perempuan yang menjalaninya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang diberi kewenangan untuk menentukan jawabannya?

Apabila jawaban selalu datang dari manusia lain, pasar, algoritma, negara, atau bahkan kritikus, perempuan akan tetap ditempatkan sebagai objek yang dibicarakan, bukan sebagai subjek yang mampu menafsirkan dan menyuarakan pengalaman tubuhnya sendiri.

Surfian Rahmat telah menunjukkan bahwa kekuasaan dapat bekerja melalui standar kecantikan, kapitalisme, dan algoritma. Namun, membongkar kekuasaan yang bekerja atas tubuh perempuan tidak seharusnya dilakukan dengan merampas kewenangan perempuan untuk memberi makna pada tubuhnya sendiri.

Tubuh perempuan dan juga laki-laki yang bebas bukan tubuh yang telah bebas dari pengaruh. Tubuh semacam itu tidak pernah ada. Tubuh kita selalu terikat. Yang perlu diperjuangkan adalah ruang agar manusia, di tengah berbagai keterikatannya, tetap dapat menegosiasikan, menerima, menolak, atau mengubah pengaruh-pengaruh tersebut. (Ciao!) [T]

  • BACA JUGA:
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Tags: PerempuanTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

Next Post

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki ---Membaca "Agem Ni Pollok" dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co