“Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”
Kalimat itu meluncur dari Rika Ballo, S.KM., penyuluh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Denpasar, saat berdiri di hadapan ratusan murid baru SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Di layar terpampang berbagai jenis narkoba beserta dampak dan ancaman hukumnya. Sementara di bangku aula, para peserta mengikuti setiap penjelasan dengan saksama.
Edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba menjadi salah satu materi penting dalam rangkaian Ignite Fest Kesbam 2026. Di tengah konsep Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dikemas layaknya festival, sekolah menghadirkan BNN Kota Denpasar untuk membekali murid baru dengan pengetahuan tentang ancaman narkoba yang kini kian mengancam kehidupan remaja.
Rika membuka materinya dengan mengajak peserta memahami bahwa narkoba bukan hanya persoalan obat-obatan terlarang. Istilah narkoba mencakup narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lain yang dapat memengaruhi sistem saraf pusat, mengubah perilaku, suasana hati, hingga menyebabkan ketergantungan. Dampaknya bukan hanya merusak kesehatan fisik dan mental, tetapi juga hubungan sosial, pendidikan, bahkan masa depan.

Agar lebih mudah dipahami, ia memperkenalkan berbagai jenis narkotika beserta karakteristiknya. Mulai dari heroin, sabu, ganja, hingga berbagai narkotika sintetis yang belakangan banyak bermunculan dengan bentuk dan cara penggunaan yang semakin beragam. Menurutnya, perkembangan modus peredaran narkoba membuat setiap remaja perlu memiliki pengetahuan yang cukup agar tidak mudah menjadi sasaran.
“Jangan pernah berpikir mencoba sekali tidak akan berdampak apa-apa. Banyak penyalahguna berawal dari rasa penasaran, lalu akhirnya kehilangan kendali atas hidupnya,” tegas Rika.
Ia menjelaskan bahwa rasa ingin tahu memang menjadi bagian dari proses remaja bertumbuh. Namun, ketika rasa penasaran diarahkan pada hal yang keliru, konsekuensinya dapat berlangsung seumur hidup. Karena itu, kemampuan mengatakan ‘tidak’ mesti dibangun sejak dini, sebelum dihadapkan pada situasi sesungguhnya.
Materi kemudian berlanjut pada dampak penyalahgunaan narkoba terhadap tubuh. Melalui gambar dan ilustrasi, peserta diperlihatkan bagaimana narkoba merusak sel-sel otak, mengganggu fungsi jantung, paru-paru, dan hati, memicu gangguan mental, hingga menghancurkan cita-cita seseorang. Bahkan perubahan fisik pengguna narkoba dalam jangka panjang turut ditampilkan sebagai gambaran nyata akibat penyalahgunaan zat adiktif.
Tak hanya berbicara mengenai kesehatan, Rika juga mengingatkan konsekuensi hukum yang mengintai penyalahguna maupun pengedar narkoba. Murid diperlihatkan ancaman pidana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, termasuk hukuman berat bagi para pengedar berupa pidana penjara hingga puluhan tahun disertai denda miliaran rupiah.

Suasana aula semakin serius ketika Rika memaparkan perkembangan narkoba jenis baru. Ia mencontohkan cairan narkotika sintetis yang dapat dicampurkan ke dalam minuman maupun digunakan sebagai cairan rokok elektronik (vape/pod). Bentuknya yang tidak lagi menyerupai narkoba konvensional menjadi tantangan baru bagi masyarakat, khususnya kalangan remaja.
Rika menuturkan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa para pelaku kejahatan narkotika terus mencari cara agar barang terlarang itu tampak biasa di mata calon korbannya. Karena itu, pelajar tidak boleh lengah terhadap tawaran apa pun yang asal-usulnya tidak jelas.
“Narkoba sekarang tidak selalu berbentuk pil atau serbuk. Modusnya terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Justru karena itu kalian harus semakin kritis dan berani menolak,” tuturnya.
Ia juga mengajak peserta memahami alasan mengapa pelajar menjadi kelompok yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Tekanan teman sebaya, persoalan keluarga, rasa penasaran, gaya hidup, hingga kurangnya informasi acap kali menjadi faktor yang dimanfaatkan oleh para pengedar. Sebaliknya, karakter yang kuat, lingkungan pertemanan yang sehat, komunikasi dengan orang tua dan guru, serta keberanian menolak ajakan negatif menjadi benteng utama pencegahan.

Alexander, salah seorang peserta Ignite Fest 2026, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari sesi tersebut.
“Selama ini saya hanya tahu narkoba itu berbahaya. Ternyata bentuknya sekarang macam-macam dan cara penyebarannya juga semakin sulit dikenali. Itu yang membuat saya harus lebih berhati-hati,” ujarnya.
Menurut Alex, penyampaian materi terasa mudah dipahami karena diperkaya contoh-contoh kasus yang benar-benar pernah terjadi. Hal itu membuat ancaman narkoba terasa nyata, bukan sekadar teori di dalam kelas.
Hal senada disampaikan Novi (bukan nama sebenarnya). Ia menilai edukasi semacam itu penting diberikan sejak awal memasuki lingkungan sekolah.
“Yang paling saya ingat adalah keberanian untuk bilang tidak. Kadang kita takut dianggap tidak kompak kalau menolak ajakan teman. Padahal, keputusan itu bisa menentukan masa depan kita,” katanya.
Kehadiran BNN Kota Denpasar menjadi salah satu pembekalan yang melengkapi rangkaian Ignite Fest Kesbam 2026. Selama lima hari pelaksanaan, murid baru tidak hanya diperkenalkan dengan budaya sekolah, tenaga pendidik, maupun kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga memperoleh materi dari berbagai instansi mengenai isu-isu yang akan mereka hadapi selama menempuh pendidikan maupun dunia kerja. Konsep tersebut menjadi bagian dari semangat Ignite Fest yang menghadirkan MPLS secara interaktif tanpa mengurangi substansi MPLS itu sendiri.
Bagi Rika, keberhasilan pencegahan narkoba bukan diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, melainkan dari keputusan yang diambil para remaja ketika suatu hari dihadapkan pada godaan.
“Kalau setelah pulang dari sini kalian berani berkata ‘tidak’ ketika ada yang menawarkan barang mencurigakan, berarti tujuan kami sudah tercapai,” pungkasnya.
Pesan itu menjadi penutup yang membekas. Sebab pada akhirnya, tujuan sesi tersebut bukan sekadar mengenalkan jenis-jenis narkoba atau ancaman hukumnya. Yang ingin ditanamkan kepada ratusan murid baru Kesbam adalah keberanian menjaga diri, memilih pergaulan yang sehat, dan memastikan masa depan mereka tidak berhenti hanya karena rasa penasaran sesaat.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
























![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-350x250.png)
![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-350x250.png)





