17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
in Panggung
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

Pementasan "Kera Wuhan" oleh Teater Kini Berseri (Tekiber) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali dalam rangka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026, ratusan penonton—didominasi anak-anak muda—larut dalam riuh yang tak putus-putus. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan sebuah pementasan teater, melainkan menunggu karya terbaru Teater Kini Berseri (Tekiber), kelompok seni pertunjukan yang dalam beberapa tahun terakhir selalu berhasil mencuri perhatian lewat garapan-garapannya yang segar, jenaka, dan dekat dengan kehidupan generasi muda.

Begitu lampu panggung menyala, dunia fantasi langsung terbentang. Sun Go Kong muncul dengan segala kelincahan dan kenakalannya. Tak lama kemudian hadir Hanoman, sang kera putih dari epos Ramayana. Dua tokoh legendaris dari dua tradisi budaya berbeda itu dipertemukan dalam satu kisah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Melalui Kera Wuhan, Tekiber kembali memperlihatkan kepiawaiannya meramu drama, tari, musik, aksi teatrikal, dan komedi menjadi sebuah drama musikal yang menghibur sekaligus mengajak penonton berpikir. Humor mengalir nyaris tanpa jeda, sementara kritik sosial diselipkan secara halus sehingga penonton tertawa tanpa merasa sedang digurui.

Pementasan “Kera Wuhan” oleh Teater Kini Berseri (Tekiber) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali dalam rangka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Kisah bermula ketika Sun Go Kong bersama saudara seperguruannya berusaha menyelamatkan Biksu Tong yang diculik siluman misterius. Dalam perjalanan, mereka bertemu Hanoman yang tengah mencari Dewi Shita yang juga menghilang secara misterius. Dua perjalanan itu akhirnya bertemu pada satu kenyataan: penculikan tersebut bukan sekadar ulah para siluman, melainkan bagian dari rencana besar yang berkaitan dengan ambisi menguasai kesadaran manusia.

Di balik adegan pertarungan, kekacauan, dan kelucuan yang terus berganti, tersimpan pertanyaan sederhana namun mendalam: siapa sebenarnya musuh terbesar manusia?

Kurator Festival Seni Bali Jani, Made Adnyana, melihat pertunjukan ini sebagai salah satu contoh bagaimana tema besar FSBJ VIII, “Kembara Sukma Atma Kerthi, Pengembaraan Menuju Jiwa Maha Suci,” diterjemahkan dengan bahasa yang akrab bagi generasi muda.

“Ide yang sangat cerdas memadukan dua kisah dari dua belahan dunia yang berbeda, Sun Go Kong dari daratan Tiongkok dengan Hanoman yang mewakili Bali. Dari pertemuan keduanya lahir humor-humor segar yang membuat pertunjukan semakin hidup,” ujarnya.

Menurut Made Adnyana, kekuatan Tekiber bukan hanya terletak pada cerita yang menghibur, tetapi juga pada kemampuan mereka menyisipkan pesan filosofis melalui dialog dan lagu-lagu yang digarap khusus sehingga maknanya mengalir alami, bukan menggurui.

Pementasan “Kera Wuhan” oleh Teater Kini Berseri (Tekiber) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali dalam rangka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Ia juga mengapresiasi perubahan konsep pertunjukan Tekiber. Jika pada karya-karya sebelumnya seluruh dialog dan lagu menggunakan teknik lip sync, kali ini seluruh pemain berbicara dan bernyanyi secara langsung (live speaking dan live singing). Konsep tersebut, menurutnya, memberi ruang improvisasi yang jauh lebih luas.

Improvisasi itulah yang beberapa kali membuat penonton meledak dalam tawa. Salah satu yang paling berkesan muncul ketika seorang tokoh bertanya, “Mana Rama?” yang langsung dijawab, “Rama sedang dalam perjalanan. Kena macet acara KKN.”

Dialog spontan itu merujuk pada situasi nyata di kawasan Taman Budaya Bali yang saat itu dipadati mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam peluncuran Desa Kerthi. Candaan yang lahir dari situasi sehari-hari tersebut menjadi bukti bagaimana Tekiber piawai menangkap fenomena sosial lalu mengubahnya menjadi humor yang terasa dekat dengan pengalaman penonton.

Secara visual, Kera Wuhan tampil semarak. Kostum bergaya fantasi oriental, tata musik yang dinamis, koreografi teatrikal, hingga karakter-karakter yang kuat membuat panggung terus hidup. Interaksi antarpemain terasa cair, sementara perpaduan budaya Asia dengan pendekatan komedi modern menjadikan pertunjukan ini mudah diterima lintas generasi, terutama kalangan muda.

Pementasan “Kera Wuhan” oleh Teater Kini Berseri (Tekiber) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali dalam rangka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Di balik panggung, Kera Wuhan juga menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai komunitas teater di Bali. Pimpinan Produksi Tekiber, Indra Parusa, menjelaskan bahwa proses produksi kali ini melibatkan para pemenang lomba teater yang sebelumnya diselenggarakan Tekiber.

“Kami sebelumnya mengadakan lomba teater, kemudian mengajak para pemenang untuk bergabung dalam produksi ini. Bukan hanya aktor, tetapi juga divisi tata rias, kostum, hingga kru produksi,” bebernya.

Kolaborasi itu sekaligus menjadi ruang belajar bagi para talenta muda untuk merasakan atmosfer produksi profesional. Semangat regenerasi memang menjadi salah satu napas yang terus dijaga Tekiber sejak awal berdiri.

Menurut Indra, Kera Wuhan merupakan eksperimen pertama Tekiber dalam format drama musikal penuh. Kemajuan teknologi audio menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan konsep tersebut diwujudkan.

“Sekarang teknologi sudah jauh lebih maju. Clip-on berkualitas sudah mudah didapat, berbeda dengan dulu yang sangat sulit. Itu sangat membantu kami membuat pertunjukan dengan konsep live speaking dan live singing,” ujarnya.

Pementasan “Kera Wuhan” oleh Teater Kini Berseri (Tekiber) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali dalam rangka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Persiapan produksi dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Namun latihan efektif hanya berlangsung sekitar tiga minggu karena sebagian besar pemain masih disibukkan dengan aktivitas sekolah maupun kuliah.

“Kami memang ingin memberikan ruang bagi talenta-talenta muda hasil kompetisi teater untuk berkembang bersama Tekiber,” katanya.

Sementara itu, Benny Dipo yang menyutradarai sekaligus menulis naskah Kera Wuhan mengungkapkan bahwa judul pertunjukan ini berangkat dari permainan bunyi dengan kata kerauhan dalam bahasa Bali yang berarti kerasukan atau dimasuki energi di luar diri manusia.

Dalam tafsirnya, kerauhan menjadi simbol perjalanan batin manusia. Manusia dapat kehilangan kendali ketika dikuasai amarah, ego, ketakutan, keserakahan, maupun ambisi. Karena itu, pertarungan terbesar sesungguhnya bukan melawan musuh di luar, melainkan melawan diri sendiri.

Gagasan tersebut menjadi benang merah yang mengikat seluruh cerita. Pertemuan imajinatif Sun Go Kong dan Hanoman akhirnya bukan sekadar ruang bermain humor, melainkan metafora tentang pencarian kesadaran diri—selaras dengan semangat Festival Seni Bali Jani VIII yang mengajak manusia melakukan pengembaraan menuju jiwa yang lebih jernih.

Pementasan “Kera Wuhan” oleh Teater Kini Berseri (Tekiber) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali dalam rangka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Di penghujung pertunjukan, ketika tawa perlahan mereda dan lampu panggung mulai redup, pesan itu justru terasa semakin kuat. Tekiber kembali membuktikan bahwa komedi bukan hanya alat untuk menghibur, melainkan medium yang efektif untuk menyampaikan renungan tentang kehidupan.

Sebagaimana ditegaskan Indra Parusa, kritik sosial yang selama ini menjadi ciri khas Tekiber bukanlah upaya menghakimi siapa pun.

“Kami sebenarnya tidak terlalu suka mengkritik secara langsung. Karena siapa pun kalau dikritik pasti sakit hati. Kami lebih senang mengangkat fenomena yang sedang terjadi di masyarakat, lalu membawanya ke atas panggung dengan cara khas Tekiber, yaitu melalui humor dan hiburan,” pungkasnya.

Maka, ketika tirai akhirnya tertutup, yang tertinggal bukan hanya tawa penonton. Ada kesadaran bahwa perjalanan paling panjang bukanlah petualangan Sun Go Kong melawan siluman atau Hanoman mencari Dewi Shita, melainkan perjalanan setiap manusia menaklukkan ego dalam dirinya sendiri. Di situlah Kera Wuhan menemukan kekuatannya: menghadirkan hiburan yang memikat generasi muda, sekaligus mengajak mereka pulang dengan sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar kenangan akan sebuah pertunjukan.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Kera WuhanTekiber
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

Next Post

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails
Next Post
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

"Dasa Muka, The Face of Humanity", Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co