MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama hampir lima dekade, PKB berkembang melalui berbagai fase yang dipengaruhi karakter kepemimpinan gubernur di setiap periode, sekaligus menjadi ruang pelestarian, pengembangan, dan regenerasi seni budaya Bali.
Menjelang perayaan emas 50 tahun pada 2028, sejumlah budayawan menilai PKB perlu melangkah lebih jauh. Selain menjaga tradisi yang telah mengakar, festival ini juga diharapkan menghadirkan pembaruan melalui rekonstruksi karya-karya legendaris, penciptaan atraksi baru, penguatan dokumentasi, serta peningkatan dukungan pendanaan bagi para seniman.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya bertajuk “Perjalanan Panjang PKB Menuju 50 Tahun” yang diselenggarakan Kawiya Bali bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali sebagai bagian dari rangkaian PKB XLVIII Tahun 2026 di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (3/7).
Diskusi menghadirkan Kurator PKB XLVIII, Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Prof. Dr. I Made Bandem, dengan Nyoman Winata sebagai moderator.
PKB Lahir sebagai Wahana Pembinaan
Prof. Dibia menjelaskan, sejak pertama kali digagas Gubernur Bali saat itu, almarhum Ida Bagus Mantra, pada 1979, PKB tidak pernah dimaksudkan sekadar menjadi panggung hiburan. Festival ini dirancang sebagai strategi membangun kecintaan generasi muda terhadap seni budaya Bali melalui tiga pilar utama, yakni rekonstruksi kesenian yang mulai hilang, penggalian potensi budaya yang hidup di masyarakat, serta pengembangan karya-karya baru.
“Memang sejak awal Pesta Kesenian Bali dimaksudkan untuk melakukan pembinaan generasi muda terhadap budaya mereka. Dijadikan wahana untuk membuat mereka sadar, cinta, dan bangga terhadap warisan seni budaya melalui program rekonstruksi, penggalian, dan pengembangan,” ujarnya.
Budayawan kelahiran Singapadu, Gianyar, itu menilai tujuan tersebut kini mulai memperlihatkan hasil. Ia mengenang, ketika masih muda di desanya hanya terdapat dua penari Barong. Kini jumlahnya telah berkembang menjadi puluhan. Begitu pula seni bapang yang dahulu didominasi orang dewasa, kini telah dipelajari anak-anak sejak usia dini.
“Kondisi ini menunjukkan orang tua maupun anak-anak sudah memiliki rasa bangga terhadap budayanya sendiri. Harapan kita ke depan, generasi muda tidak perlu lagi dikhawatirkan akan meninggalkan budaya Bali,” katanya.
Berawal dari Beragam Tradisi Seni
Menurut Prof. Dibia, kelahiran PKB tidak terjadi secara tiba-tiba. Meski resmi dimulai pada 1979, festival ini merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa seni dan budaya yang telah berkembang sebelumnya.
Ia menyebut tradisi mepeed, lahirnya Gong Kebyar di Bali Utara pada 1915, Festival Gong Kebyar Gianyar tahun 1938, hingga Merdangga Utsawa yang digagas Listibiya sebagai ajang lomba Gong Kebyar se-Bali menjadi inspirasi penting lahirnya PKB.
Selain itu, tradisi arak-arakan pada masa Presiden Soekarno setiap menerima tamu negara juga menjadi bagian dari inspirasi tersebut.
“Setiap Presiden Soekarno menerima tamu dari luar negeri selalu diadakan arak-arakan. Saya beberapa kali berjalan dari Singapadu ke Denpasar untuk melihatnya,” kenangnya.
Festival Ramayana Nasional 1970 dan Festival Ramayana Internasional 1971 turut memberi pengaruh terhadap konsep PKB yang kemudian diramu secara visioner oleh Ida Bagus Mantra menjadi festival yang mampu mewadahi seluruh potensi seni budaya Bali.
Peresmian Taman Budaya (Art Center) Denpasar juga menjadi tonggak penting karena sejak saat itu kawasan tersebut menjadi pusat penyelenggaraan PKB. Prof. Dibia mengaku masih mengingat dirinya tampil membawakan Kecak Subali-Sugriwa saat peresmian Art Center.
Dari Belasan Pertunjukan Menjadi Ratusan Agenda
Pada penyelenggaraan perdana, PKB hanya menampilkan sekitar 15 pertunjukan yang berlangsung setiap Sabtu, Minggu, dan Rabu. Saat itu Sendratari Ramayana menjadi sajian utama sebelum berkembang menghadirkan kisah Mahabharata, Babad, Tantri, dan cerita klasik lainnya.
Dalam satu dekade pertama, penyelenggaraan PKB tidak hanya terpusat di Denpasar, tetapi juga berlangsung bergilir di sejumlah kabupaten. Festival Gong Kebyar menjadi agenda paling bergengsi dengan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi.
“Euforia Festival Gong Kebyar luar biasa. Masyarakat merasa menjadi bagian dari PKB dan memiliki kebanggaan terhadap daerahnya masing-masing,” ujarnya.
Memasuki 1985, PKB mulai membuka diri ke panggung internasional dengan tampilnya kelompok gamelan Sekar Jaya dari California, Amerika Serikat.
“Kedatangan Sekar Jaya menjadi titik awal PKB memasuki dunia internasional. Mereka menampilkan kesenian Bali dengan kualitas yang benar-benar di luar ekspektasi kita,” kata Prof. Dibia.
Kini, PKB berkembang menjadi festival yang menghadirkan lebih dari 200 kegiatan selama hampir sebulan penuh.
Tantangan Menuju PKB Emas
Meski berkembang pesat, Prof. Dibia menilai masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah menjelang usia emas PKB.
Persoalan utama yang disorot adalah belum adanya komitmen peningkatan anggaran secara berkelanjutan. Menurutnya, biaya produksi kesenian terus meningkat, sementara dukungan dana tidak selalu bertambah sehingga cukup membebani daerah dengan kemampuan fiskal terbatas.
“Kalau kita membanggakan PKB sebagai ajang pembinaan generasi muda, maka harus didukung dengan dana yang memadai. Jangan sampai harga-harga naik tetapi dana PKB justru turun,” tegasnya.
Ia mengusulkan adanya kesepakatan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menaikkan anggaran PKB setiap tahun sekitar 10 hingga 20 persen.
Selain pendanaan, Prof. Dibia juga menyoroti pentingnya dokumentasi. Menurutnya, banyak naskah, notasi gamelan, foto, maupun arsip sejarah PKB masih tersimpan secara pribadi sehingga perlu dihimpun menjadi pusat dokumentasi resmi.
Khusus menyambut PKB ke-50, ia mengusulkan rekonstruksi karya-karya terbaik yang pernah lahir dalam sejarah PKB sekaligus mendorong penciptaan ikon-ikon baru, seperti pengembangan Barong Macan dan Barong Bangkal.
Ia juga berharap perayaan emas PKB mampu menghadirkan kelompok seni dari berbagai negara sehingga semakin memperkuat posisi PKB sebagai festival seni budaya bertaraf dunia.
Lima Babak Perjalanan PKB
Sementara itu, Prof. I Made Bandem membagi perjalanan PKB selama hampir 48 tahun ke dalam lima periode berdasarkan masa kepemimpinan gubernur Bali.
Menurutnya, pembagian tersebut membantu memahami bagaimana arah kebijakan kebudayaan terus berkembang dari masa ke masa.
Periode pertama (1979–1989) pada era Gubernur Ida Bagus Mantra disebut sebagai masa perintisan dan revitalisasi tradisi, ketika pemerintah fokus menghidupkan kembali berbagai potensi seni tradisional melalui pembinaan, penggalian, dan pengembangan.
Periode kedua (1989–1998) pada masa Gubernur Ida Bagus Oka disebut sebagai masa konsolidasi dan penguatan identitas Bali, dengan penekanan pada penguatan fondasi budaya yang telah dibangun sebelumnya.
Periode ketiga (1999–2008) di bawah Gubernur Dewa Made Beratha merupakan masa reformasi dan pelibatan publik. Semangat demokratisasi membuat keterlibatan masyarakat semakin luas, tidak lagi didominasi lembaga pendidikan seni, tetapi juga sanggar, sekaa, yayasan, dan komunitas budaya.
“Zaman reformasi membawa semangat demokratisasi sehingga pelibatan publik menjadi jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya,” katanya.
Periode keempat (2009–2018) pada era Gubernur Made Mangku Pastika ditandai sebagai fase diplomasi budaya dan diversifikasi festival seni, ditandai lahirnya berbagai festival baru yang memperluas ruang kreativitas seniman.
Sementara periode kelima yang dimulai sejak 2019 di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster disebut sebagai fase menuju kemapanan dan penguatan ekosistem budaya.
Menurut Prof. Bandem, berbagai regulasi kebudayaan yang lahir pada periode ini, termasuk Perda Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem budaya yang lebih kuat.
“Periode ini ditandai dengan lahirnya berbagai perda kebudayaan dan penguatan ekosistem budaya. PKB menjadi bagian dari upaya yang lebih besar dalam pemajuan kebudayaan Bali,” ujarnya.
Profesionalisme dan Kesakralan
Ke depan, Prof. Bandem menilai tantangan terbesar PKB adalah membangun tata kelola yang semakin profesional seiring semakin besarnya skala penyelenggaraan.
“Tata kelola akan menjadi tantangan terbesar ke depan. PKB membutuhkan manajemen yang profesional karena skala penyelenggaraannya terus berkembang,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara seni sakral dan seni pertunjukan agar seni wali maupun bebali tidak kehilangan nilai kesakralannya.
“Seni wali dan bebali adalah sumber lahirnya berbagai kreativitas seni Bali. Kalau itu tidak dijaga, kita akan kehilangan sumber penciptaan kesenian kita sendiri,” ungkapnya.
Selain itu, ia berharap seni klasik seperti wayang kulit serta permainan tradisional anak mendapat ruang yang lebih besar dalam penyelenggaraan PKB.
Prof. Bandem juga mengungkapkan rencana pemindahan pusat penyelenggaraan PKB ke kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung pada perayaan emas tahun 2028. Kawasan tersebut dirancang memiliki panggung terbuka berkapasitas sekitar 15 ribu penonton, sejumlah wantilan, gedung pertunjukan tertutup, museum, serta berbagai fasilitas penunjang lainnya.
Menutup pemaparannya, Prof. Bandem menegaskan bahwa selama hampir lima dekade PKB telah menjadi monumen hidup pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang terus bertumbuh berkat kolaborasi masyarakat, seniman, pemerintah, akademisi, dan media massa.
Memasuki usia emas, tantangan PKB bukan lagi sekadar menjaga tradisi tetap hidup, melainkan memastikan warisan budaya Bali terus berkembang secara kreatif, terdokumentasi dengan baik, serta didukung tata kelola dan pendanaan yang mampu menjadikannya salah satu festival seni budaya terbaik di dunia. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole






























