MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar di Pulau Dewata itu dituntut bukan hanya mampu mempertahankan kemegahan panggung pertunjukannya, tetapi juga memastikan pengetahuan, nilai, dan ingatan budaya terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Di tengah derasnya arus perubahan zaman, regenerasi seniman serta pertemuan antara tradisi dan inovasi menjadi kunci agar denyut PKB tetap hidup.
Gagasan itulah yang mengemuka dalam Diskusi Budaya yang diselenggarakan Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (19/6/2026). Menghadirkan Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum., dan Dr. I Kadek Suartaya, S.SKar., M.Si., forum tersebut tidak hanya menengok perjalanan panjang PKB sejak kelahirannya, tetapi juga memetakan arah masa depannya sebagai ruang pelestarian, regenerasi, dan pengembangan kebudayaan Bali.
Bagi Prof. Arya Sugiartha, memahami masa depan PKB tidak bisa dilepaskan dari sejarah kelahirannya. Festival ini lahir dari situasi Bali pascatragedi kemanusiaan 1965–1966, ketika banyak seniman menjadi korban dan keberlangsungan kehidupan seni berada dalam ancaman. Dalam kondisi itulah muncul kesadaran untuk menyelamatkan ekosistem kesenian Bali.
Langkah awal diwujudkan melalui pembentukan Listibiya dan pendirian Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada 1967. Lembaga pendidikan tersebut menjadi ruang penting bagi proses regenerasi, memastikan pengetahuan dan keterampilan seni tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurut mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali itu, PKB sesungguhnya merupakan kelanjutan dari berbagai ikhtiar yang telah dirintis sebelumnya, termasuk Merdangga Utsawa Gong Kebyar dan Pesta Seni di Werdi Budaya. Upaya-upaya itu kemudian dipersatukan ketika Gubernur Bali Ida Bagus Mantra mengukuhkan festival tersebut dengan nama Pesta Kesenian Bali pada 1979.
Seiring perjalanan waktu, PKB berkembang jauh melampaui fungsi awalnya. Festival ini bukan lagi sekadar ruang pementasan seni, tetapi juga menjadi wahana edukasi, dokumentasi, dialog kebudayaan, hingga regenerasi seniman.
Dalam ekosistem itulah, menurut Arya Sugiartha, seniman senior memegang peran yang tidak tergantikan. Mereka bukan hanya pencipta karya, tetapi juga penjaga memori budaya, pembimbing, kurator, juri, sekaligus penghubung antara tradisi dan generasi baru.
“Seniman senior menjadi transmisi pengetahuan, termasuk etika berkesenian. Kreativitas harus tetap berjalan, tetapi tidak boleh mengabaikan nilai-nilai dan etika budaya Bali,” ujarnya.
Di sisi lain, ia melihat generasi muda membawa energi baru bagi perkembangan seni Bali. Bekal pendidikan formal, penguasaan teknologi digital, jejaring global, serta keberanian melakukan eksplorasi lintas disiplin menjadi modal penting untuk membawa seni Bali terus berkembang. Namun, inovasi tersebut, menurutnya, harus tetap berpijak pada akar tradisi.
Karena itu, ia menawarkan sejumlah strategi agar PKB tetap relevan pada masa mendatang, mulai dari program Maestro dan Murid Kreatif, digitalisasi dokumentasi karya dan pengetahuan seni, kolaborasi lintas generasi, hingga penguatan ruang dialog budaya.
“Keberhasilan PKB ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara pelestarian dan inovasi. Inovasi bukan memutus rantai tradisi, melainkan mentransformasikan nilai tradisi ke dalam bahasa artistik yang relevan dengan zamannya,” tegasnya.
Namun, bagi Dr. I Kadek Suartaya, ada satu warisan penting yang selama ini belum mendapat perhatian yang memadai. Di balik setiap pertunjukan yang memukau, sesungguhnya terdapat proses berpikir panjang yang kerap luput didokumentasikan.
Menurutnya, PKB selama ini lebih banyak merekam kemegahan panggung daripada pemikiran para maestro yang melahirkan karya-karya tersebut. Padahal, gagasan, pengalaman, dan refleksi para seniman merupakan bagian penting dari perjalanan kebudayaan Bali.
Ia mencontohkan lahirnya Adi Merdangga pada 1984 yang berawal dari gagasan Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra, untuk menghadirkan bentuk drumband yang berakar pada tradisi Bali, tetapi memiliki semangat modern. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan oleh para seniman dan akademisi hingga menjadi salah satu karya monumental dalam perkembangan seni Bali.
“Yang sering terlupakan adalah proses berpikir di balik lahirnya karya tersebut. Jika pemikiran para maestro tidak didokumentasikan, kita akan kehilangan pengetahuan yang sangat berharga bagi generasi berikutnya,” katanya.
Karena itu, Suartaya memandang PKB perlu memperluas fungsinya. Festival budaya terbesar di Bali ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya seni, tetapi juga tempat mendokumentasikan pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan para tokoh seni yang selama puluhan tahun menjaga denyut kebudayaan Bali melalui berkarya, ngayah, dan berbagai aktivitas budaya lainnya.
“Kalau kita ingin PKB tetap relevan hingga puluhan tahun mendatang, maka yang harus dirawat bukan hanya karya-karyanya, tetapi juga pemikiran, gagasan, dan pengetahuan para maestro yang melahirkan karya-karya tersebut,” ujarnya.
Gagasan-gagasan tersebut mendapat sambutan dari Ketua Panitia Diskusi Budaya sekaligus Pembina Kawiya Bali, I Made Subrata. Menurutnya, penyelenggaraan diskusi merupakan bentuk kontribusi Kawiya Bali bersama PWI Bali dalam mendukung misi PKB untuk menggali, melestarikan, dan mengembangkan kesenian Bali. Forum seperti ini diharapkan dapat memperkuat literasi budaya sekaligus menjadi ruang refleksi menjelang perjalanan PKB menuju usia 50 tahun.
Ia menjelaskan, keterlibatan Kawiya Bali dalam kegiatan budaya telah berlangsung secara konsisten. Pada Festival Seni Bali Jani 2023, komunitas ini mementaskan teater Nguber Berita ke Nusa. Saat Bulan Bahasa Bali 2026, Kawiya Bali kembali menghadirkan teater Jaratkaru. Sementara pada PKB 2025, mereka menampilkan Arja Tak Jadi Mati yang dipadukan dengan diskusi budaya bersama Gong Suling Gita Semara Peliatan, Ubud.
Serangkaian PKB XLVIII Tahun 2026, Kawiya Bali bersama PWI Bali kembali memperluas ruang dialog melalui penyelenggaraan lima kali diskusi budaya dengan lima tema berbeda. Langkah tersebut menjadi ikhtiar agar PKB tidak hanya dikenang melalui kemeriahan panggungnya, tetapi juga melalui gagasan-gagasan yang lahir di baliknya.
Sebab, ketika sebuah pertunjukan usai dan tepuk tangan mereda, yang akan tetap tinggal adalah pengetahuan, ingatan, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di situlah sesungguhnya masa depan PKB sedang dirawat.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























