DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot lampu. Sejumlah wartawan sibuk mencatat, memotret, mewawancarai, lalu merangkai peristiwa menjadi cerita yang kelak akan menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang perjalanan kebudayaan Bali.
Namun, apakah tugas mereka selesai ketika berita tayang?
Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam Diskusi Budaya bertajuk Peran Media dalam Publikasi dan Dokumentasi Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali bersama Komunitas Wartawan Budaya (Kawiya) Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Denpasar, Senin (6/7).
Diskusi yang dipandu Dr. I Made Sujaya itu menghadirkan Dewan Kehormatan PWI Bali, Drs. IGM Dwikora Putra, dan Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Dr. Nyoman Darma Putra. Keduanya mengingatkan bahwa di era media sosial, wartawan memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar melaporkan jalannya sebuah pertunjukan.
Bagi Dwikora Putra, pers harus hadir sebagai penjernih informasi. Ketika media sosial dipenuhi kabar yang belum tentu benar, media arus utama justru dituntut menjadi ruang verifikasi yang dapat dipercaya masyarakat.
Ia mencontohkan, setiap penyelenggaraan PKB hampir selalu diwarnai beredarnya informasi prematur mengenai peserta terbaik ataupun pemenang lomba sebelum pengumuman resmi disampaikan. Situasi seperti itu, menurutnya, tidak boleh diperparah dengan pemberitaan yang terburu-buru.
“Pers harus menjadi cleaning house. Jangan sampai masyarakat hanya mengonsumsi informasi yang belum tentu benar dari media sosial. Di sinilah media arus utama memiliki tanggung jawab untuk menjernihkan informasi,” ujarnya.
Lebih dari itu, Dwikora mengajak wartawan keluar dari pola liputan yang hanya berorientasi pada seremoni. Foto pertunjukan dan laporan kegiatan memang penting, tetapi belum cukup untuk merekam makna sebuah festival budaya sebesar PKB.
Menurut jurnalis yang telah berkecimpung di dunia pers sejak 1991 itu, peliputan PKB idealnya berlangsung dalam tiga tahap. Sebelum festival dimulai, media perlu mengulas tema, gagasan, serta proses kreatif yang melatarbelakanginya. Saat festival berlangsung, wartawan semestinya menangkap dinamika, perdebatan gagasan, hingga perkembangan seni yang lahir dari ruang-ruang pertunjukan. Sementara setelah festival usai, media masih memiliki tugas melakukan evaluasi sekaligus menyusun catatan kritis mengenai penyelenggaraan PKB.
Dengan cara itulah, pemberitaan tidak berhenti menjadi laporan peristiwa, melainkan berkembang menjadi dokumentasi intelektual yang dapat dibaca dan dipelajari pada masa mendatang.
Ia pun mengenang masa ketika media rutin menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan akademisi, budayawan, dan seniman dengan beragam pandangan mengenai PKB. Tradisi tersebut, menurutnya, perlu dihidupkan kembali agar ruang publik tetap dipenuhi dialog yang sehat tentang kebudayaan.
Pandangan serupa disampaikan Prof. Dr. Nyoman Darma Putra. Ia menilai perjalanan PKB selama puluhan tahun tidak akan terdokumentasikan dengan baik tanpa kehadiran media massa.
“Kalau tidak ada pemberitaan media, kita akan kehilangan banyak catatan tentang perjalanan PKB. Peran media sudah sangat jelas dan tidak perlu diragukan lagi,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dokumentasi kebudayaan masih menghadapi tantangan, terutama soal pembiayaan. Karena itu, ia mendorong sanggar maupun yayasan seni membangun kemitraan dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Menurutnya, banyak perusahaan di Bali memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya, tetapi masih membutuhkan wadah yang tepat untuk menyalurkan dukungannya.
“Saya kira banyak perusahaan di Bali yang sebenarnya ingin menyalurkan CSR mereka. Dukungan itu bisa diarahkan untuk memperkuat publikasi dan dokumentasi kegiatan seni budaya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PWI Bali I Wayan Dira Arsana melihat peran wartawan budaya bukan hanya sebagai profesi, melainkan juga panggilan moral. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, jurnalis Bali dinilai memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga keberlangsungan budaya melalui karya jurnalistik yang akurat, mendalam, dan berkualitas.
Menurut Pemimpin Redaksi Bali Post tersebut, kehadiran Kawiya Bali menjadi angin segar karena membuka ruang kolaborasi antara wartawan, akademisi, dan pegiat budaya. Kolaborasi semacam itu diyakini dapat memperkaya perspektif pemberitaan sekaligus memperkuat identitas jurnalisme budaya di Bali.
Sejak proposal kegiatan disampaikan kepada PWI Bali, katanya, organisasi profesi itu langsung menyambut baik gagasan tersebut dan membangun sinergi agar forum diskusi dapat terlaksana.
“Ini menjadi upaya untuk mendekatkan kembali jurnalis pada fungsi utamanya. Jurnalis di Bali memiliki tanggung jawab moral terhadap keberdayaan budaya, yakni menyuarakan, membesarkan, dan menggaungkan berbagai potensi budaya melalui informasi yang berkualitas,” ujarnya.
Bagi Dira Arsana, ruang redaksi bukan sekadar tempat memproduksi berita. Di sanalah narasi tentang kebudayaan dibangun, dirawat, sekaligus diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, media tidak boleh semata-mata mengejar kepentingan bisnis atau kecepatan informasi, tetapi juga menjaga kualitas pemberitaan yang berpihak pada pelestarian budaya.
“Ruang-ruang media jangan hanya dikorbankan untuk kepentingan pemilik media. Kita juga harus hadir, berbicara, dan menggunakan dapur redaksi sebagai ruang untuk menjaga kesehatan budaya Bali melalui pemberitaan yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Di situlah, diskusi itu mengingatkan bahwa panggung PKB tidak hanya milik para seniman. Wartawan pun memiliki panggungnya sendiri—bukan untuk tampil, melainkan untuk memastikan setiap gagasan, karya, dan denyut kebudayaan yang lahir dari festival ini tidak hilang ditelan waktu. Sebab ketika pertunjukan selesai dan lampu panggung dipadamkan, tulisan-tulisan merekalah yang akan tetap hidup, menjadi arsip, menjadi ingatan, dan menjadi jejak perjalanan budaya Bali bagi generasi yang akan datang.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































