SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa, bereksperimen, hingga berulang kali mencoba menyelesaikan tantangan yang diberikan. Selama beberapa jam, peran mereka berubah. Guru kembali menjadi murid.
Momen itu berlangsung pada hari kedua In House Training (IHT) Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Kamis, 2 Juli 2026. Seluruh guru Kesbam mengikuti pelatihan yang dipandu oleh Ayuk Ratna Puspaningsih, S.Pd., M.Pd., guru SMAN Bali Mandara, Buleleng. Alih-alih menyampaikan materi melalui ceramah panjang, ia mengajak para guru mengalami sendiri bagaimana pembelajaran berbasis STEM itu berlangsung di ruang kelas.
Pelatihan diawali dengan pembahasan mengenai konsep dasar pembelajaran berbasis STEM. Selama ini, STEM kerap dipahami sebagai gabungan empat bidang ilmu, yakni Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Namun, menurut Ayuk Ratna, pemahaman tersebut kini berkembang.

Ia menjelaskan bahwa STEM tidak lagi dipandang sekadar menggabungkan empat disiplin ilmu. Esensi pendekatan ini justru terletak pada integrasi lintas bidang ilmu untuk memecahkan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Empat disiplin STEM menjadi fondasi utama, tetapi dalam praktiknya dapat melibatkan bidang ilmu lain sesuai konteks pembelajaran,” tuturnya.
Ia menambahkan, pembelajaran berbasis STEM merupakan pendekatan yang berpusat pada peserta didik dengan mengintegrasikan konsep, keterampilan, dan cara berpikir dari berbagai disiplin ilmu. Tujuannya ialah menyelesaikan permasalahan nyata melalui proses penyelidikan, perancangan, hingga inovasi.
Dalam praktiknya, integrasi tersebut dapat diperluas ke berbagai mata pelajaran lain seperti bahasa, seni, ilmu sosial, agama, ekonomi, hingga pendidikan karakter. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Ayuk Ratna juga meluruskan anggapan bahwa pembelajaran STEM selalu identik dengan proyek.
Menurutnya, proyek memang menjadi salah satu strategi yang paling sering digunakan karena memberi ruang bagi peserta didik untuk merancang, membuat, menguji, dan mengevaluasi solusi. Namun, proyek bukan satu-satunya cara.
“Inti pembelajaran berbasis STEM bukan pada proyeknya, melainkan pada integrasi berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikan masalah autentik melalui proses berpikir, merancang, menguji, dan mengevaluasi solusi,” jelasnya.

Karena itu, selain Project-Based Learning (PjBL), pendekatan STEM juga dapat diterapkan melalui Problem-Based Learning (PBL), Inquiry-Based Learning, maupun Design-Based Learning atau Engineering Design Process. Keempat model tersebut memiliki titik tekan yang berbeda, tetapi sama-sama mengarahkan peserta didik untuk aktif mencari solusi atas suatu persoalan.
Setelah memahami konsep, para guru diajak melihat bagaimana integrasi antarmata pelajaran dapat diterapkan dalam sebuah topik pembelajaran.
Misalnya, pengolahan sampah menjadi eco enzyme. Pada topik tersebut, IPA berkontribusi menjelaskan proses fermentasi dan penguraian bahan organik. Matematika digunakan untuk menghitung rasio bahan, volume, hingga menyajikan data dalam bentuk grafik. Bahasa Indonesia berperan dalam penyusunan laporan, artikel ilmiah sederhana, serta presentasi hasil proyek. Pendidikan Agama mengaitkan kegiatan tersebut dengan nilai moral dan tanggung jawab terhadap lingkungan, sementara Informatika membantu pengolahan data serta pembuatan infografis maupun dokumentasi digital. Seni kemudian memperkuat hasil melalui desain label produk atau media kampanye lingkungan.
Ayuk Ratna menegaskan bahwa integrasi tidak berarti semua mata pelajaran diajarkan bersamaan dalam satu waktu. Yang dipadukan adalah kompetensi dan konsep yang saling mendukung untuk mencapai tujuan pembelajaran yang utuh.

Pembelajaran kemudian berlanjut ke tahapan pelaksanaan STEM. Mulai dari menentukan masalah kontekstual, mengidentifikasi konsep yang relevan dari berbagai disiplin ilmu, merancang solusi atau produk, melakukan eksperimen, menguji hasil, hingga merefleksikan proses dan mengomunikasikan temuan.
Namun, penjelasan tersebut tidak berhenti pada teori.
Suasana pelatihan berubah menjadi jauh lebih hidup ketika Ayuk Ratna mulai membagikan berbagai tantangan sederhana kepada para guru. Instruksi demi instruksi diberikan, sementara para guru berkelompok mencari strategi terbaik untuk menyelesaikannya.
Mereka diminta membuat jembatan dari kertas, merancang wadah popcorn yang mampu berdiri kokoh, hingga menyelesaikan berbagai proyek kecil lainnya. Sesekali terdengar gelak tawa ketika rancangan yang dibuat tidak berjalan sesuai harapan. Di kesempatan lain, mereka saling bertukar ide, mengukur ulang, melipat kembali bahan yang tersedia, lalu mencoba solusi berbeda.
Tak ada rasa sungkan ketika hasil pertama gagal. Justru dari kegagalan itulah diskusi berkembang. Para guru merasakan sendiri bagaimana proses berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, hingga evaluasi berlangsung secara alami ketika seseorang dihadapkan pada sebuah persoalan.

Selama aktivitas berlangsung, para peserta bukan sekadar mendengar penjelasan mengenai STEM, melainkan mengalaminya secara langsung. Mereka merasakan bagaimana sebuah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mampu membangun rasa ingin tahu sekaligus mendorong lahirnya berbagai alternatif solusi.
Di akhir sesi, Ayuk Ratna kembali mengingatkan bahwa pendekatan STEM sangat selaras dengan arah Kurikulum Nasional yang berorientasi pada pembelajaran mendalam (deep learning). Peserta didik tidak cukup hanya menghafal konsep, tetapi perlu memahami, menerapkan, dan mentransfer pengetahuan dalam situasi nyata.
Karena itu, proyek memang sering dipilih sebagai strategi pembelajaran karena mampu mengakomodasi proses tersebut secara utuh. Namun, pemecahan masalah, eksperimen, studi kasus, maupun tantangan desain juga dapat menjadi wahana implementasi STEM selama memenuhi prinsip integrasi lintas disiplin dan pemecahan masalah autentik.
Pelatihan hari itu pun meninggalkan kesan berbeda bagi para guru. Mereka pulang bukan hanya membawa catatan materi, melainkan pengalaman belajar yang kembali mengingatkan bahwa pembelajaran terbaik sering kali lahir ketika seorang pendidik bersedia menempatkan dirinya sebagai pembelajar. Sebab, sebelum mengajak peserta didik berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, guru terlebih dahulu perlu merasakan sendiri proses menemukan jawaban melalui pengalaman belajar yang bermakna.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































