14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Chandra Manikan by Chandra Manikan
July 9, 2026
in Khas
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Pemandangan dalam sebuah upacara adat di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: @nuturang

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”, ditulis oleh I Ngurah Suryawan tahun 2021. Pada bab IV yang berjudul “Hasrat Memberdayakan Desa Adat”, justru menyambutku dengan sebuah pupuh, rangkaian bait puisi berbahasa Bali. Kira-kira beginilah bunyinya.

Pupuh karya Ni Made Sri Arwati seperti sengaja bersembunyi. Tidak ada lantunannya di kanal Youtube, arsip geguritannya pun sulit dilacak. Satu-satunya pijakan hanyalah berangkat dari tulisan I Ngurah Suryawan. Berbekal itu, aku mencoba melakukan tafsir awal dengan menghubungi seorang dalang muda, lalu mendiskusikan pupuh tersebut bersama seorang antropolog muda, untuk memahami wacana di balik pupuh tersebut.

Di bale delod rumah Budi pada Senin malam, tumpukan banten mengelilingi tempat kami berbincang. Meski suasana rumah begitu sibuk dengan persiapan Hari Raya Kuningan, aku lebih sibuk menyimak penjelasan Budi tentang makna pupuh tersebut.

“Kalau dari pupuh ini, si pembuat ingin mengingatkan bahwa ada dua desa di Bali,” ujar Budi (26), seorang dalang muda.

Budi membantu dalam menerka bagaimana rasa yang terkandung dalam pupuh karya Ni Made Sri Arwati ini. Dengan rambut yang agak basah, Budi melantunkan pupuh tersebut. Suaranya tidak keras, tapi memiliki tekanan yang kuat. Pada beberapa bagian, intonasi suaranya meliuk-liuk. Bibirnya nyaris tidak terbuka lebar, namun mengeluarkan suara yang berat dan dalam. Setiap kali nadanya meliuk, ada sensasi dingin merambat yang membuat lenganku merinding. Dalam teknik vokal Bali, teknik meliuk-liuk itu disebut wiletan.

Sesekali, konsentrasi mendengar lantunan pupuh menjadi buyar, karena terlalu banyak suara yang hadir di rumah Budi pada saat itu.

Menurut Budi, dalam melantunkan sebuah pupuh itu bebas menggunakan gaya intonasi apa saja: mau senang, lirih, tegas, marah, sedih dan sebagainya, tergantung kebutuhan si pelantun.

“Aku pakai gaya pupuhginada linggar petak, agar lebih lirih dia. Karena biasanya yang lirih-lirih gini disukai masyarakat,”

Karena setelah membaca pupuh tersebut, ia merasakan bait dari pupuh itu seolah-olah sedang memberikan sebuah nasihat. Nasihat terkait dengan harmonisasi dua desa yang ada di Bali.

Pupuh di Bali sangat terikat dengan namanya padalingsa; aturan baku pada bait, suku kata dan bunyi vokal. Pada pupuh yang ditulis oleh Ni Made Sri Arwati, menggunakan gaya pupuh ginada. Dimana struktur pupuh ginada ini memiliki 7 baris dalam 1 bait, setiap suku kata dan bunyi vokal akhir diatur dengan pakem: 8a, 8i, 8a, 8u, 8a, 4i, 8a.

“Jadi di Bali, dalam memupuh dibagi menjadi dua, satu tukang tembang dan satu lagi tukang ngartos. Biasanya per satu baris pupuh ditembangkan, lalu setelahnya diartikan.” tutur Budi, sambil memegang kertas print yang aku berikan.

Budi berpendapat bahwa dalam proses menafsir sebuah pupuh, kadang kala sesuai dengan kemampuan dari si pembaca dalam menginterpretasikannya. Menurutnya, pupuh ginada karya Ni Made Sri Arwati ini, tentang bagaimana dua desa ini harus diingat, dipahami, dipelajari untuk mencapai kesukertaan (kesejahteraan).

Pupuh ini, mengibaratkan dua desa sebagai sepasang suami istri (marabian). Desa dinas digambarkan sebagai laki-laki (lanang) yang bersosok ayah sejati (I Aji Yukti) mengabdi kepada pemerintah (guru wisesa). Tugasnya adalah menjalankan kewajiban menjaga ketertiban sesuai dengan negara. Desa adat digambarkan sebagai perempuan (biyang) yang menjaga kerukunan (ngardi trepti) diantara sesama warga (krama) masyarakat Bali. Dua desa tersebut hidup berdampingan, agar tidak keliru dan berbenturan (nenten pacang pati kaplug).

Tafsir Budi menempatkan pupuh karya Ni Made Sri Arwati, sebagai sebuah pengingat tentang relasi ideal antara desa dinas dan desa adat. Menurutnya, kedua institusi tersebut tidak seharusnya diposisikan sebagai pihak yang saling mengungguli, melainkan sebagai dua unsur yang harus tetap seimbang agar mampu menjalankan perannya masing-masing dalam kehidupan masyarakat Bali.

Senada dengan tafsir dari Budi, Era (25) seorang antropolog muda berpendapat bahwa pupuh adalah sebuah local knowledge. Karena pupuh bukan sekedar puisi atau karya sastra, tapi pengetahuan lokal yang menyimpan tentang bagaimana masyarakat Bali memahami tata kehidupan.

“Yang menarik buatku itu analogi desa dinas dan desa adat sebagai suami istri. Ini bukan sekedar perumpamaan yang indah, tapi menjelaskan bagaimana orang Bali memandang dua institusi itu harus saling melengkapi, bukan saling bersaing.”

Kami bertemu dengan bertatap muka di depan layar gawai, karena Era sedang melanjutkan jenjang magisternya di Jogja. Aku mengirimkan pupuh yang ditulis oleh Ni Made Sri Arwati tersebut ke WhatsApp-nya. Sambil memegang mikrofon headsetnya, Era menjelaskan pandangan sesuai dengan background keilmuannya.

Sesekali percakapan kami terputus-putus, karena koneksi internetku yang tidak stabil. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan yang sama sering sekali terulang.

“Soal ini aku setuju sih, karena semua hal pasti akan dipasangkan, kalau tidak kiri-kanan pasti diibaratkan gender,” tuturnya.

Ia menjelaskan lebih dalam dengan memasukan pandangan dari tokoh, yang bernama Claude Lévi-Strauss. Manusia cenderung memahami dunia lewat struktur berpikir yang berisi pasangan-pasangan, seperti: laki-laki/perempuan, dalam/luar, atau publik/domestik. Proses ini disebut sebagai bentuk kemapanan orang Bali dalam berpikir.

“Nah, di pupuh ini, desa dinas dan desa adat juga dibangun lewat logika seperti itu,” tutur Era.

Pemandangan dalam sebuah upacara adat di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: @nuturang

Lebih dalam Era menjelaskan, bahwa desa dinas diasosiasikan dengan urusan pemerintahan dan hubungan dengan negara, sementara desa adat diasosiasikan dengan kehidupan sosial, ritual, dan komunitas. Jadi masyarakat bali mengorganisasi realitas melalui pasangan simbolik yang saling membutuhkan.

“Sebagai perempuan Bali, jujur aku merasa lebih dekat dengan desa adat dibanding desa dinas,” tutur Era.

Bagi Era, kedekatannya dengan desa adat bukan lahir karena kewajiban administratif, melainkan karena pengalaman hidup yang dijalaninya sejak kecil. Jika desa dinas hanya hadir ketika ada urusan administrasi, desa adat justru menjadi ruang tempat ia belajar tentang kehidupan bermasyarakat. Melalui keterlibatannya dalam berbagai kegiatan adat, seperti ngayah dan membantu persiapan upacara, ia memahami nilai-nilai kebersamaan yang membentuk kesehariannya.

Simbol selalu membawa harapan tentang sebuah tatanan. Dalam konteks pupuh karya Ni Made Sri Arwati, desa dinas dan desa adat dimaknai sebagai dua entitas yang diikat oleh hubungan simbolik antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sepasang suami istri. Bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi.

Namun, simbol tidak selalu berjalan seiring dengan kenyataan. Perubahan politik, tata kelola pemerintah, ekonomi, hingga perkembangan ruang digital menimbulkan pertanyaan baru: apakah relasi itu masih bertumpu pada prinsip saling membutuhkan, atau justru mulai memperlihatkan kecenderungan dominasi salah satu peran atas yang lainnya? [T]

  • Karya ini ditulis sebagai bagian dari program lokakarya yang diselenggarakan oleh @menulis.mengingat. Didukung melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Bali. Bekerja sama dengan @tatkalamedia, @balebengong, dan @nuturang.
Tags: balidesa adatdesa dinaspupuhsastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Kata di Jalan Nangka

Next Post

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Chandra Manikan

Chandra Manikan

Seorang warga Indonesia yang gemar mengulik wacana, identitas, dan bagaimana kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. IG: @pcmpw

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari "I Godogan" di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co