9 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Chandra Manikan by Chandra Manikan
July 9, 2026
in Khas
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Pemandangan dalam sebuah upacara adat di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: @nuturang

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”, ditulis oleh I Ngurah Suryawan tahun 2021. Pada bab IV yang berjudul “Hasrat Memberdayakan Desa Adat”, justru menyambutku dengan sebuah pupuh, rangkaian bait puisi berbahasa Bali. Kira-kira beginilah bunyinya.

Pupuh karya Ni Made Sri Arwati seperti sengaja bersembunyi. Tidak ada lantunannya di kanal Youtube, arsip geguritannya pun sulit dilacak. Satu-satunya pijakan hanyalah berangkat dari tulisan I Ngurah Suryawan. Berbekal itu, aku mencoba melakukan tafsir awal dengan menghubungi seorang dalang muda, lalu mendiskusikan pupuh tersebut bersama seorang antropolog muda, untuk memahami wacana di balik pupuh tersebut.

Di bale delod rumah Budi pada Senin malam, tumpukan banten mengelilingi tempat kami berbincang. Meski suasana rumah begitu sibuk dengan persiapan Hari Raya Kuningan, aku lebih sibuk menyimak penjelasan Budi tentang makna pupuh tersebut.

“Kalau dari pupuh ini, si pembuat ingin mengingatkan bahwa ada dua desa di Bali,” ujar Budi (26), seorang dalang muda.

Budi membantu dalam menerka bagaimana rasa yang terkandung dalam pupuh karya Ni Made Sri Arwati ini. Dengan rambut yang agak basah, Budi melantunkan pupuh tersebut. Suaranya tidak keras, tapi memiliki tekanan yang kuat. Pada beberapa bagian, intonasi suaranya meliuk-liuk. Bibirnya nyaris tidak terbuka lebar, namun mengeluarkan suara yang berat dan dalam. Setiap kali nadanya meliuk, ada sensasi dingin merambat yang membuat lenganku merinding. Dalam teknik vokal Bali, teknik meliuk-liuk itu disebut wiletan.

Sesekali, konsentrasi mendengar lantunan pupuh menjadi buyar, karena terlalu banyak suara yang hadir di rumah Budi pada saat itu.

Menurut Budi, dalam melantunkan sebuah pupuh itu bebas menggunakan gaya intonasi apa saja: mau senang, lirih, tegas, marah, sedih dan sebagainya, tergantung kebutuhan si pelantun.

“Aku pakai gaya pupuhginada linggar petak, agar lebih lirih dia. Karena biasanya yang lirih-lirih gini disukai masyarakat,”

Karena setelah membaca pupuh tersebut, ia merasakan bait dari pupuh itu seolah-olah sedang memberikan sebuah nasihat. Nasihat terkait dengan harmonisasi dua desa yang ada di Bali.

Pupuh di Bali sangat terikat dengan namanya padalingsa; aturan baku pada bait, suku kata dan bunyi vokal. Pada pupuh yang ditulis oleh Ni Made Sri Arwati, menggunakan gaya pupuh ginada. Dimana struktur pupuh ginada ini memiliki 7 baris dalam 1 bait, setiap suku kata dan bunyi vokal akhir diatur dengan pakem: 8a, 8i, 8a, 8u, 8a, 4i, 8a.

“Jadi di Bali, dalam memupuh dibagi menjadi dua, satu tukang tembang dan satu lagi tukang ngartos. Biasanya per satu baris pupuh ditembangkan, lalu setelahnya diartikan.” tutur Budi, sambil memegang kertas print yang aku berikan.

Budi berpendapat bahwa dalam proses menafsir sebuah pupuh, kadang kala sesuai dengan kemampuan dari si pembaca dalam menginterpretasikannya. Menurutnya, pupuh ginada karya Ni Made Sri Arwati ini, tentang bagaimana dua desa ini harus diingat, dipahami, dipelajari untuk mencapai kesukertaan (kesejahteraan).

Pupuh ini, mengibaratkan dua desa sebagai sepasang suami istri (marabian). Desa dinas digambarkan sebagai laki-laki (lanang) yang bersosok ayah sejati (I Aji Yukti) mengabdi kepada pemerintah (guru wisesa). Tugasnya adalah menjalankan kewajiban menjaga ketertiban sesuai dengan negara. Desa adat digambarkan sebagai perempuan (biyang) yang menjaga kerukunan (ngardi trepti) diantara sesama warga (krama) masyarakat Bali. Dua desa tersebut hidup berdampingan, agar tidak keliru dan berbenturan (nenten pacang pati kaplug).

Tafsir Budi menempatkan pupuh karya Ni Made Sri Arwati, sebagai sebuah pengingat tentang relasi ideal antara desa dinas dan desa adat. Menurutnya, kedua institusi tersebut tidak seharusnya diposisikan sebagai pihak yang saling mengungguli, melainkan sebagai dua unsur yang harus tetap seimbang agar mampu menjalankan perannya masing-masing dalam kehidupan masyarakat Bali.

Senada dengan tafsir dari Budi, Era (25) seorang antropolog muda berpendapat bahwa pupuh adalah sebuah local knowledge. Karena pupuh bukan sekedar puisi atau karya sastra, tapi pengetahuan lokal yang menyimpan tentang bagaimana masyarakat Bali memahami tata kehidupan.

“Yang menarik buatku itu analogi desa dinas dan desa adat sebagai suami istri. Ini bukan sekedar perumpamaan yang indah, tapi menjelaskan bagaimana orang Bali memandang dua institusi itu harus saling melengkapi, bukan saling bersaing.”

Kami bertemu dengan bertatap muka di depan layar gawai, karena Era sedang melanjutkan jenjang magisternya di Jogja. Aku mengirimkan pupuh yang ditulis oleh Ni Made Sri Arwati tersebut ke WhatsApp-nya. Sambil memegang mikrofon headsetnya, Era menjelaskan pandangan sesuai dengan background keilmuannya.

Sesekali percakapan kami terputus-putus, karena koneksi internetku yang tidak stabil. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan yang sama sering sekali terulang.

“Soal ini aku setuju sih, karena semua hal pasti akan dipasangkan, kalau tidak kiri-kanan pasti diibaratkan gender,” tuturnya.

Ia menjelaskan lebih dalam dengan memasukan pandangan dari tokoh, yang bernama Claude Lévi-Strauss. Manusia cenderung memahami dunia lewat struktur berpikir yang berisi pasangan-pasangan, seperti: laki-laki/perempuan, dalam/luar, atau publik/domestik. Proses ini disebut sebagai bentuk kemapanan orang Bali dalam berpikir.

“Nah, di pupuh ini, desa dinas dan desa adat juga dibangun lewat logika seperti itu,” tutur Era.

Pemandangan dalam sebuah upacara adat di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: @nuturang

Lebih dalam Era menjelaskan, bahwa desa dinas diasosiasikan dengan urusan pemerintahan dan hubungan dengan negara, sementara desa adat diasosiasikan dengan kehidupan sosial, ritual, dan komunitas. Jadi masyarakat bali mengorganisasi realitas melalui pasangan simbolik yang saling membutuhkan.

“Sebagai perempuan Bali, jujur aku merasa lebih dekat dengan desa adat dibanding desa dinas,” tutur Era.

Bagi Era, kedekatannya dengan desa adat bukan lahir karena kewajiban administratif, melainkan karena pengalaman hidup yang dijalaninya sejak kecil. Jika desa dinas hanya hadir ketika ada urusan administrasi, desa adat justru menjadi ruang tempat ia belajar tentang kehidupan bermasyarakat. Melalui keterlibatannya dalam berbagai kegiatan adat, seperti ngayah dan membantu persiapan upacara, ia memahami nilai-nilai kebersamaan yang membentuk kesehariannya.

Simbol selalu membawa harapan tentang sebuah tatanan. Dalam konteks pupuh karya Ni Made Sri Arwati, desa dinas dan desa adat dimaknai sebagai dua entitas yang diikat oleh hubungan simbolik antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sepasang suami istri. Bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi.

Namun, simbol tidak selalu berjalan seiring dengan kenyataan. Perubahan politik, tata kelola pemerintah, ekonomi, hingga perkembangan ruang digital menimbulkan pertanyaan baru: apakah relasi itu masih bertumpu pada prinsip saling membutuhkan, atau justru mulai memperlihatkan kecenderungan dominasi salah satu peran atas yang lainnya? [T]

  • Karya ini ditulis sebagai bagian dari program lokakarya yang diselenggarakan oleh @menulis.mengingat. Didukung melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Bali. Bekerja sama dengan @tatkalamedia, @balebengong, dan @nuturang.
Tags: balidesa adatdesa dinaspupuhsastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Kata di Jalan Nangka

Next Post

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Chandra Manikan

Chandra Manikan

Seorang warga Indonesia yang gemar mengulik wacana, identitas, dan bagaimana kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. IG: @pcmpw

Related Posts

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

by Jaswanto
July 6, 2026
0
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

Read moreDetails

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
0
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

Read moreDetails

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
0
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

Read moreDetails

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
0
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

Read moreDetails

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
0
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari "I Godogan" di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas
Khas

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

by Chandra Manikan
July 9, 2026
Rumah Kata di Jalan Nangka
Persona

Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

by Angga Wijaya
July 9, 2026
Bali, Surga yang Sudah Overload
Esai

Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar
Budaya

Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi mengumumkan para pemenang berbagai kategori lomba. Dalam pengumuman yang disiarkan secara langsung...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Bunglon di Republik Kita

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis
Ulas Rupa

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

by Angga Wijaya
July 8, 2026
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co