21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak hanya berasal dari ambulans yang membelah kemacetan, melainkan dari kegelisahan orang-orang yang harus bernegosiasi dengan nasib, dompet, dan birokrasi demi mempertahankan hidup.

Sirene ambulans selalu terdengar sama. Melengking, tergesa, dan seolah sedang berpacu dengan malaikat pencabut nyawa. Namun, sesampainya di rumah sakit, suara sirene itu mendadak kehilangan wibawa. Yang berbicara kemudian bukan lagi detak jantung pasien, melainkan kartu identitas, nomor antrean, kelas perawatan, dan sederet prosedur yang kadang lebih panjang daripada umur harapan pasien itu sendiri.

Mungkin inilah yang dimaksud Iwan Fals dalam lagu Ambulan Zig Zag. Bukan sekadar ambulans yang meliuk-liuk menembus kemacetan, melainkan gambaran sebuah negeri yang bahkan dalam urusan menyelamatkan nyawa pun masih harus berbelok-belok. Tidak lurus. Tidak sederhana. Tidak selalu manusiawi.

Di negeri ini, sakit ternyata bukan hanya urusan tubuh. Sakit juga urusan ekonomi. Demam memiliki tarifnya sendiri. Sesak napas memiliki kelasnya sendiri. Bahkan rasa nyeri pun seolah mempunyai kasta.

Mereka yang datang dengan kartu kredit, uang tunai, atau asuransi swasta sering kali seperti tamu istimewa yang dipersilakan masuk melalui pintu depan. Sementara mereka yang datang dengan kartu BPJS kadang merasa seperti penumpang kelas ekonomi yang harus sabar menerima kalimat-kalimat sakral: “Mohon menunggu.”; “Masih antre.”; “Prosedurnya seperti ini.”; dan “Harus rujukan dulu.”

Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan ramah, tentu saja. Sebab birokrasi yang sopan tetaplah birokrasi.

Sesungguhnya BPJS Kesehatan adalah salah satu pencapaian besar bangsa ini. Ia lahir dari cita-cita luhur bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Sebuah gagasan yang sangat mulia. Dalam filsafat politik, negara kesejahteraan memang dibangun atas keyakinan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan hak untuk hidup.

Masalahnya, cita-cita yang mulia kadang tersandung oleh kenyataan yang tidak selalu mulia. Jumlah pasien terus bertambah, sementara fasilitas kesehatan tidak bertumbuh secepat jumlah manusia yang sakit. Dokter spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Rumah sakit rujukan menumpuk pasien dari berbagai daerah. Akibatnya, antrean menjadi panjang seperti kisah cinta yang tak kunjung direstui.

Orang-orang miskin akhirnya harus belajar menjadi filsuf. Mereka belajar tentang kesabaran. Belajar tentang kepasrahan. Belajar bahwa hidup ternyata bukan soal sembuh atau tidak sembuh, tetapi soal nomor antrean yang dipanggil atau tidak dipanggil.

Di ruang tunggu rumah sakit, waktu seolah memiliki definisinya sendiri. Satu jam bisa terasa seperti satu abad. Seorang ibu yang membawa anak demam tinggi harus berdamai dengan kursi plastik yang keras. Seorang bapak yang meringis menahan sakit ginjal harus memahami bahwa sistem bekerja sesuai prosedur.

Prosedur, dalam banyak kesempatan, telah menjelma seperti dewa baru yang tidak boleh dibantah. Padahal, penyakit tidak pernah membaca aturan administrasi.

Serangan jantung tidak pernah bertanya apakah pasien menggunakan BPJS atau pembayaran mandiri. Stroke tidak pernah memeriksa apakah seseorang membawa surat rujukan atau tidak.

Kanker pun tidak peduli kelas perawatan. Semua penyakit memperlakukan manusia dengan sama. Ironisnya, manusialah yang sering memperlakukan sesamanya secara berbeda.

  ***

Ada pemandangan yang diam-diam menjadi rahasia umum. Pasien mandiri dapat memilih kamar lebih nyaman, pelayanan lebih cepat, serta lebih banyak alternatif pemeriksaan. Sementara pasien BPJS kadang harus menerima kenyataan bahwa kamar penuh, jadwal dokter mundur, atau obat tertentu tidak termasuk dalam tanggungan.

Memang tidak semua rumah sakit demikian. Banyak tenaga kesehatan yang bekerja dengan penuh dedikasi, bahkan melampaui batas kemanusiaannya sendiri. Banyak dokter dan perawat yang tetap melayani tanpa memandang status ekonomi pasien.

Namun, masalahnya bukan pada individu. Masalahnya ada pada sistem, dan sistem, sebagaimana kata para filsuf, sering kali lebih kejam daripada manusia yang menjalankannya.

Kita hidup di zaman ketika teknologi mampu membuat manusia berbicara dengan orang di belahan bumi lain dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mampu menjawab berbagai pertanyaan rumit. Robot mampu melakukan operasi yang presisi. Tetapi, di beberapa tempat, seorang pasien masih harus berpindah dari puskesmas ke rumah sakit daerah, dari rumah sakit daerah ke rumah sakit provinsi, dari rumah sakit provinsi ke rumah sakit pusat, seperti sedang mengikuti acara wisata kesehatan nasional.

Barangkali penyakit yang paling kronis di negeri ini bukan diabetes, bukan hipertensi, melainkan ketimpangan. Ketimpangan fasilitas. Ketimpangan tenaga medis. Ketimpangan akses. Ketimpangan kesempatan untuk sembuh.

Lucunya, semua orang sepakat bahwa kesehatan adalah hak dasar. Tetapi, dalam praktiknya, hak dasar itu sering kali memiliki fasilitas tambahan bagi mereka yang memiliki saldo lebih.

Nyawa manusia akhirnya seperti tiket pesawat. Ada kelas ekonomi. Ada kelas bisnis. Ada kelas eksekutif. Padahal, kematian memperlakukan semuanya sama rata. Di hadapan liang kubur, tidak ada ruang VIP.

Karena itu, sesungguhnya yang perlu diperbaiki bukan semata-mata jumlah rumah sakit atau kecanggihan alat medis. Yang lebih penting adalah membangun filosofi pelayanan bahwa pasien bukan pelanggan, melainkan manusia.

Sebab pelanggan bisa ditolak. Pelanggan bisa diprioritaskan berdasarkan kemampuan membayar. Tetapi manusia adalah sesama. Dan sesama seharusnya tidak memerlukan syarat untuk ditolong.

Kesehatan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dapat dibeli oleh mereka yang beruntung secara ekonomi. Rumah sakit tidak boleh berubah menjadi pasar, tempat kesembuhan ditentukan oleh isi dompet.

Karena pada akhirnya, kita semua adalah calon pasien. Cepat atau lambat. Kaya atau miskin. Pejabat atau rakyat biasa, dan ketika tubuh mulai rapuh, kita akan menyadari bahwa yang paling mahal di dunia ini ternyata bukan emas, bukan saham, bukan mobil mewah, melainkan kesempatan untuk ditolong tepat pada waktunya.

Sirene ambulans akan terus berbunyi. Ia akan terus berzig-zag di jalanan. Tetapi semoga suatu hari nanti, yang berbelok-belok hanyalah kendaraan itu, bukan keadilan. Sebab sebuah bangsa tidak diukur dari tingginya gedung rumah sakit yang dimilikinya, melainkan dari seberapa manusiawi ia memperlakukan orang-orang yang sedang sakit.

Dan sejarah selalu mengingat satu hal sederhana: Tidak ada negara yang benar-benar sehat apabila rakyat kecil masih harus antre terlalu lama untuk mendapatkan haknya hidup. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

Next Post

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co