IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan manusia.
Percakapan ini bermula seperti sebuah wawancara biasa. AI memanggil saya dengan hormat, menyebut karya-karya saya, mengutip esai-esai yang saya tulis, lalu bertanya tentang Pesta Kesenian Bali (PKB). Pertanyaannya sederhana, tetapi justru mengandung kegelisahan yang semakin langka terdengar di ruang-ruang kebudayaan resmi.
“Langkah kuratorial paling radikal apa yang harus dilakukan agar PKB kembali menjadi ruang gagasan yang merdeka?”
Saya tersenyum.
Betapa aneh zaman ini. Yang bertanya tentang kebebasan berpikir bukan lagi seorang pejabat kebudayaan, bukan pula panitia festival, melainkan sebuah kecerdasan buatan.
Saya mulai bertanya dalam hati: jangan-jangan mesin sedang belajar menjadi manusia, sementara manusia sedang berlatih menjadi mesin.
Selama bertahun-tahun kita membanggakan Bali sebagai pulau budaya. Namun, semakin lama saya menyaksikan berbagai festival, semakin saya merasa bahwa yang dipelihara sering kali bukan kebudayaan, melainkan administrasi kebudayaan.
Seni menjadi sangat rapi.
Terlalu rapi.
Begitu rapi sehingga tak ada lagi ruang bagi kegagalan, keberanian, bahkan kejutan.
Di atas panggung kita menyaksikan ribuan gerak yang seragam. Di belakang panggung kita menyaksikan ribuan formulir yang sama. Yang berubah hanyalah warna kostum dan nama kabupaten. Cara berpikirnya tetap identik.
Barangkali birokrasi memang memiliki bakat luar biasa: mengubah imajinasi menjadi prosedur.
Tradisi kemudian diperlakukan seperti barang antik.
Ia dipoles.
Dipajang.
Difoto.
Dipromosikan.
Tetapi perlahan berhenti diajak berdialog.
Padahal tradisi yang sehat bukanlah benda mati. Tradisi adalah percakapan panjang antara masa lalu dan masa depan. Ketika percakapan itu berhenti, yang tersisa hanyalah museum yang kebetulan masih dipentaskan.
Ironinya, semakin sering kita mengucapkan kata pelestarian, semakin besar kemungkinan kita sedang mengawetkan sesuatu yang seharusnya hidup.
AI kemudian bertanya lagi.
“Apakah generasi muda sedang dipersiapkan menjadi penerus tradisi yang kritis, atau justru menjadi alat baru bagi standardisasi massal?”
Pertanyaan itu terasa seperti cermin.
Saya melihat anak-anak muda Bali yang luar biasa cerdas. Mereka mengakses musik dunia, filsafat, teknologi digital, kecerdasan buatan, hingga seni eksperimental hanya melalui telepon genggam.
Namun ketika memasuki ruang-ruang institusi, mereka sering diminta meninggalkan keberanian itu di depan pintu.
Mereka dipuji karena kreatif.
Tetapi dinilai karena kepatuhan.
Mereka diminta inovatif.
Asalkan tidak terlalu berbeda.
Mereka didorong berpikir.
Asalkan kesimpulannya sudah tersedia.
Begitulah cara birokrasi menciptakan ilusi pembaruan.
Yang lahir bukan inovator.
Yang lahir adalah operator.
Saya kemudian menjawab AI.
Persoalannya bukan semata PKB.
Persoalannya adalah cara kita memahami kebudayaan.
Selama kurasi masih berada di bawah bayang-bayang administrasi, seni akan selalu diminta menjelaskan dirinya kepada tabel anggaran.
Padahal sejarah menunjukkan kenyataan yang sebaliknya.
Bukan birokrasi yang melahirkan mahakarya.
Mahakaryalah yang kelak memaksa birokrasi menulis ulang sejarahnya.
Karena itu, kurator seharusnya memiliki kemerdekaan intelektual yang sama besarnya dengan seniman.
Negara cukup menyediakan ruang.
Bukan menentukan arah imajinasi.
Mungkin sudah waktunya PKB berhenti bertanya,
“Apakah karya ini sesuai pakem?”
dan mulai bertanya,
“Pertanyaan baru apa yang sedang diajukan karya ini kepada kebudayaan Bali?”
Pertanyaan kedua jauh lebih berbahaya.
Tetapi hanya pertanyaan semacam itulah yang mampu membuat sebuah peradaban tetap hidup.
Percakapan dengan AI berakhir tanpa tepuk tangan.
Tidak ada notulen.
Tidak ada rekomendasi resmi.
Tidak ada foto bersama.
Yang tertinggal hanyalah satu ironi yang sulit saya lupakan.
Hari ini, sebuah mesin mengingatkan saya bahwa tugas kebudayaan bukanlah mengulang jawaban, melainkan terus melahirkan pertanyaan.
Dan mungkin di situlah satire terbesar zaman kita bersembunyi.
Ketika kecerdasan buatan mulai mengajak manusia berpikir lebih bebas, sementara sebagian manusia justru sibuk mengajarkan kebudayaan untuk berpikir seperti mesin.
Barangkali ancaman terbesar terhadap seni bukanlah teknologi.
Melainkan kebiasaan kita menjadikan imajinasi sebagai dokumen, kreativitas sebagai prosedur, dan tradisi sebagai seragam.
Jika itu yang terus terjadi, maka suatu hari nanti mesin tidak akan menggantikan seniman.
Ia hanya akan menggantikan birokrasi.
Sedangkan seniman, sebagaimana sejak dahulu, akan tetap memiliki satu tugas yang tak pernah bisa diotomatisasi:
mengganggu kenyamanan zaman. [T]
Kubu Art Space.
Penulis: Wayan Gde Yudane
Editor: Adnyana Ole




























