Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh.
Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksakan diri maju (nganjuh).
Dalam konteks perilaku, istilah Ngandang Nganjuh disematkan kepada seseorang yang sebenarnya tidak memahami suatu perkara atau tidak memiliki keahlian, namun dengan sangat percaya diri mendesak masuk, memotong pembicaraan, mendebat asal mendebat, atau merasa paling tahu dalam sebuah forum. Di dunia medsos prilaku ini dicirikan dengan seringnya merekam diri mengomentari dan mendebat semua hal yang sebenarnya tidak ia pahami, tapi merasa diri ahli yang wajib didengar oleh masyarakat luas. Padahal, masyarakat yang memantau seperti sepakat jika omongan Si Ngandang Nganjuh ini isi hanya bualan dan semburan sampah yang muncuat dari kebingungannya sendiri.
Dunning-Kruger Effect — Fase Bodoh tapi Percaya Diri Penuh
Jika ditarik ke dalam ranah psikologi perkembangan kognitif modern, Ngandang Nganjuh adalah pengejawantahan sempurna dari fase Unconscious Incompetence (Ketidakmampuan yang Tidak Disadari).
Ini adalah fase di mana seseorang tidak hanya kekurangan informasi atau membawa informasi yang keliru, tetapi mereka juga sepenuhnya buta terhadap ketidaktahuan mereka sendiri. Celakanya, kebutaan kognitif ini sering kali memicu tingkat rasa percaya diri yang melambung tinggi—sebuah fenomena yang dalam dunia sains populer dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect.
Akar Universal dan Manifestasi Lokal
Unconscious Incompetence bukanlah cacat kultural masyarakat Bali saja; ini adalah cacat bawaan dalam struktur kognitif seluruh umat manusia.
Namun, manifestasinya selalu mengambil bentuk sesuai dengan panggung budaya tempat manusia itu berpijak. Dalam masyarakat Bali yang kental dengan budaya komunal (krama), ruang-ruang diskusi seperti paruman (rapat desa), balai banjar, hingga ‘door-stop’ pejabat, kolom komentar media sosial lokal, menjadi arena di mana fenomena ‘Ngandang Nganjuh’ ini kerap makin kentara meluas di Bali.
Ketika sebuah isu sensitif mencuat—mulai dari tata ruang pariwisata, ritual keagamaan, hingga regulasi ekonomi kreatif—sering kali suara yang paling lantang bukan datang dari para ahli yang merunduk dalam kontemplasi, melainkan dari individu yang berada di puncak “Gunung Kebodohan” (Peak of Mount Stupid). Si Ngandang Nganjuh berbicara tanpa landasan data, mereduksi kompleksitas masalah, dan dengan keras kepala ‘nganjuh’ (memaksakan) argumennya yang ‘ngandang‘ (melintang/tidak nyambung).
Kenapa Makin Meluas di Bali?
Secara psikologis, ada dua faktor utama yang menyuburkan perilaku Ngandang Nganjuh di era modern:
- Media sosial memberikan akses instan terhadap cuplikan informasi. Seseorang yang membaca satu utas di X (Twitter), mendengar cuplikan berita FB, atau menonton video singkat di TikTok selama 30 detik merasa telah menguasai satu disiplin ilmu utuh. Mereka tidak tahu betapa dalamnya jurang keilmuan tersebut, sehingga mereka melompat langsung untuk berargumen.
- Kesadaran Da Ngaden Awak Bisa — Jangan Mengaku Diri Paham — sepertinya telah sirna di Bali. Sosmed memberikan panggung bahkan kepada si paling tidak paham untuk mengungkapkan pendapatnya. Ini memberikan peluang pada orang tidak berkompeten ingin terlihat dan merasa “harus” terlihat tahu segalanya. Mengakui kalimat “Tiang nenten uning” (Saya tidak tahu) kini dianggap menjatuhkan wibawa diri, sehingga opsi yang ditempuh adalah ‘nganjuh’ alias memaksakan diri kelihatan gagah dan kompeten — padahal hanya bermain drama di ruang medsos.
Mulat Sarira & Melajahang Dewek
Istilah ‘Ngandang Nganjuh’ lahir sebagai kritik sosial dan self critic dalam budaya Bali. Kebudayaan Bali sendiri sebenarnya telah menyediakan penawar internal yang sangat kuat untuk mengobati Unconscious Incompetence ini. Filosofi itu adalah Mulat Sarira (introspeksi diri secara mendalam).
Ketika seseorang mempraktikkan ‘Mulat Sarira’, ia dituntun naik dari fase Unconscious Incompetence menuju Conscious Incompetence —sebuah fase krusial di mana manusia dengan berani dan jujur berkata: “Saya sadar bahwa saya belum tahu banyak hal.”
Dalam tradisi intelektual Bali tradisional, proses belajar dinamakan sebagai usaha untuk Melajahang Dewek (membuka diri untuk pembelajaran diri). Seseorang yang benar-benar belajar akan menyadari bahwa realitas itu berlapis-lapis. Kesadaran inilah yang melahirkan timbang rasa secara kognitif: menghargai perspektif orang lain karena tahu dan sadar akan keterbatasan diri sendiri.
Eling ring Dewek
Ungkapan ‘Ngandang Nganjuh’ adalah tamparan yang tajam bagi orang Bali yang merasa diri paham, padahal “beginner” dan sedang menyebarkan informasi dan opini sesat. Ungkapan ‘Ngandang-Nganjuh’ mendeskripsikan betapa memprihatinkan jika seseorang mengedepankan diri sendiri dengan jalan melintang menghalang jalan orang lain demi memuaskan ego ketidaktahuannya.
Menghadapi era informasi yang kian bising, tantangan terbesar masyarakat modern—termasuk masyarakat Bali—bukan lagi memerangi buta aksara, melainkan memerangi ilusi pengetahuan.
Orang yang sudah mulai sadar diri akan segera menyudahi dorongan untuk bersikap ‘ngandang-nganjuh’ dalam hal-hal yang tidak kita kuasai. Sebaliknya, mari kita kembali duduk di balai-balai banjar pemikiran kita, melakukan Mulat Sarira, dan dengan lapang dada membuka ruang bagi diri kita masing-masing untuk tidak terjebak ‘Ngandang-Nganjuh’, dan berlapang dada membelajarkan diri sebelum berkomentar baik di ranah keluarga ataupun di ranah sosmed atau ranah lainnya.
Semoga renungan malam Kuningan bukan merefleksikan diri penulisnya ‘Ngandang-Nganjuh’: Selamat Hari Raya Kuningan. Waras Seger Oger. Rahayu. [T]





























