29 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takut Galungan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
in Dongeng
Takut Galungan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya.

Selain Ica, ada tiga babi lain yang tinggal di kandang yang sama. Mereka bernama Dewi, Siska, dan Bulan. Entah mengapa Made Subur memberi nama-nama yang begitu indah kepada babi-babi itu. Setiap hari ia datang membawa makanan sambil berteriak memanggil nama mereka satu per satu.

Selain memelihara babi, Made Subur juga memelihara ayam. Salah satunya adalah Jago, seekor ayam jantan yang setiap pagi selalu berkokok dari atas tembok kandang.

“Kokokokookkkkkkk!”

“Bangun, babi-babi malas!” teriaknya.

“Kenapa kau selalu ribut setiap pagi, Jago?” gerutu Ica.

“Iya, mengganggu tidur kami saja,” sahut Siska.

Jago mengembangkan sayapnya. “Agar kalian tidak melewatkan banyak hal di hari ini.”

Hari-hari berlalu. Hingga suatu saat, suasana kandang mulai berubah. Hari Raya Galungan tinggal dua puluh lima hari lagi. Ica lantas teringat satu hal. Dulu, Made Subur pernah memiliki banyak babi. Namun menjelang Galungan, satu per satu babi itu dijual.

“Nah, sekarang babi-babi Made Subur tinggal kita. Apakah kita juga akan dijual?” tanya Dewi, cemas.

“Semoga saja tidak. Aku takut disembelih,” sahut Bulan, pelan.

“Mustahil. Kita pasti dijual. Kalau tidak, dari mana Made Subur mendapat uang?” sela Siska.

Ica hanya menunduk lesu. “Ya, kita berdoa saja semoga selamat,” katanya.

Sejak saat itu, mereka sering murung. Apalagi Jago selalu mengingatkan bahwa Galungan semakin dekat.

Sepuluh hari menjelang Galungan, orang-orang mulai berdatangan ke rumah Made Subur. Mereka melihat-lihat kandang, menawar harga, bahkan menandai babi yang mereka sukai.

Ketakutan para babi semakin besar. Melihat itu, Jago bertekad menolong teman-temannya.

“Aku punya ide! Aku akan memanggil pasukan ayam. Kami akan mematuk pintu kandang sampai terbuka, lalu kalian bisa kabur,” katanya suatu pagi.

“Hah? Kabur?” Ica menggeleng. “Kita berutang budi kepada Made Subur. Gimana kita bisa pergi begitu saja? Ia pasti sedih.”

“Tapi kalau tidak kabur, kalian akan dijual!” sahut Jago.

Dewi tiba-tiba menyela, “Lalu dijadikan lawar, urutan, tum, balung, ah sedapnya…”

Ia malah menelan ludah.

“Hush! Kenapa kau terdengar senang?” tanya Siska.

“Aku cuma penasaran. Setiap kali tetangga memasak daging babi, aromanya harum sekali,” jawab Dewi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama murung, mereka tertawa bersama mendengar ocehan Dewi.

Keesokan harinya, Jago datang bersama pasukan ayam. Mereka mematuk pintu kandang sekuat tenaga.

Tak! Tak! Tak!

Tak! Tak! Tak!

Tak! Tak! Tak!

Setelah sekian lama mematuk, pintu itu tidak rusak sedikit pun. Malah paruh-paruh mereka yang memerah karena kesakitan. Pasukan ayam akhirnya menyerah dan pulang. Jago tertunduk lesu.

“Maaf. Aku gagal menolong kalian.”

Ica tersenyum. “Sudahlah, Jago. Jangan memaksakan diri.”

“Tapi kalian teman-temanku,” kata Jago, matanya berkaca-kaca.

“Kalau memang itu takdir kami, kami akan menerimanya. Barangkali hidup kami memang untuk memberi manfaat. Jangan bersedih.”

Bulan mengangguk. “Besok mungkin hari terakhir kami di sini. Terima kasih sudah menjadi teman yang baik.”

Mata Jago pun basah. Ia memeluk teman-temannya satu per satu, lalu berkokok sekeras-kerasnya meski hari sudah menjelang petang.

Malam itu, tak satu pun babi bisa tidur nyenyak. Ica hanya diam. Siska panas dingin. Dewi mondar-mandir. Bulan berguling-guling gelisah. Mereka menunggu pagi dengan perasaan campur aduk.

Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, para pembeli datang. Satu per satu babi diangkut ke dalam kerangkeng besi dan dibawa pergi dengan mobil bak.

Pagi itu kandang menjadi sunyi. Sekitar pukul tujuh, Made Subur datang membersihkan kandang. Ia menyiram lantai kandang dengan air.

Byur!

Ica terbangun, disemprot air. Ia pun terkejut. Dewi, Siska, dan Bulan sudah tidak ada. Kini tinggal ia sendirian.

“Kenapa aku masih di sini?” pikirnya.

Melihat Ica kebingungan, Made Subur meletakkan selang air dan mendekat.

“Aku sangat menyayangimu, Ica,” katanya sambil mengelus kepala Ica. “Aku tidak akan menjualmu.”

Ica menatapnya lekat-lekat.

“Kamu pembawa rezeki bagiku. Nanti kamu bisa punya anak-anak babi. Aku akan mencarikan pejantan terbaik untukmu.”

Made Subur tersenyum.

“Aku merawatmu sejak kecil. Aku tidak tega menjualmu begitu saja. Jadi tenanglah. Ikhlaskan teman-temanmu.”

Ica terdiam. Perasaannya terasa aneh. Di satu sisi, ia bahagia karena tidak dijual. Namun ia juga sedih karena teman-temannya telah pergi tanpa sempat berpamitan.

Sore harinya, Jago datang ke kandang. Ia berniat mengenang teman-temannya yang telah pergi. Namun begitu melihat Ica, matanya membelalak.

“Ica! Kau masih di sini?”

Ica mengangguk. “Made Subur tidak menjualku.”

“Wah, syukurlah! Berarti aku masih punya teman,” seru Jago.

Meski begitu, keduanya tetap terdiam beberapa saat, mengingat Dewi, Siska, dan Bulan. Akhirnya Jago berkata pelan, “Mari kita ikhlaskan mereka, Ica.”

Ica mengangguk. “Ya. Semoga mereka damai di alam baka dan mendapatkan surga.” [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: dongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Next Post

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails
Next Post
Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co