KUCING
aku seekor kucing yang memanjat jendelamu
kau penghuni yang selalu menutupnya,
bersantai menenteng cangkir teh yang pekat.
aku mengeong dan mengamuk, mendesis,
mencakar-cakar jendela, memperingatkan
hal yang bisa saja kulakukan pada halus pipimu
yang ditumbuhi mungil jerawat biji wijen.
kau masih santai, membukakan pintu
dengan gerutu kukatakan aku membencimu
sembari melompat ke tempatmu duduk
melingkar, menanti telapakmu mengelus
memperdengarkan dengus napasku
yang mendengkur sepanjang mencintai pangkuanmu.
(2026)
MUNGIL SENYUMMU
kutemui mungil senyummu
di deretan pohon itu
sempat kutanyakan apakah lambaian daun
mampu menangkap senyuman itu. yang
berlompatan dari satu ranting, ke denting
lain. dari satu kata, ke mata lain. lalu
membiarkannya menggelinding, terselip
ke dalam permukaan serabut.
kutemui mungil senyummu
di geletar senandung suara-suara
kukira suara itu memanggil namaku, yang
terjebak di dalam botol minuman yang berisi
berliter-liter kehangatan. saat kau rentangkan
suara-suara itu lalu mendawainya bagai harpa
dalam diafragma yang sunyi, menjadikannya
syal dari rajutan bulumata yang empuk
kutemui mungil senyummu
di antara catatan harianmu yang berserakan
mengeja senyum-senyum lain
mengalimatkan senyumku tanpa sengaja
SEBUAH SENYUM DI LANTAI 5
Memasuki lantai ini, begitu
pintu lift terbuka
di luar telah mengantre
debar-debar yang begitu panjang
Senyummu duduk di bawah
jam dinding, dan menyambutmu
dengan serumpun bayang yang
membuatku merangkak melupakan luka
bertahun-tahun ke belakang
Senyummu barangkali sehelai
dari bulumata pelangi
yang tanggal dan meninggalkan
rindu merah jambu di dadaku
Dan aku memungutinya
sebagai pelengkap rindu yang bisa
menemanimu duduk di balik meja
sejak embun menyapa napasmu
hingga senja datang mengetuk jendela.
DI LUAR GEDUNG INI
di luar gedung ini
pohon-pohon membiarkan
dedaunannya ranggas
seperti senyum yang ikhlas
melepas, dan merayakan kepergian
di luar gedung ini
angin telah menggembala
awan-awan untuk datang
ke atas kepalamu
lalu mengembuskan lagu-lagu
dengan ketukan santai
tanpa hujan, tanpa gerimis
hanya guyuran reminisensi
penuh ritmis
di luar gedung ini
terik mengintip ke dalam
melihat aku
melihat kau
menggaung-gaungkan rindu
yang panjang
di gedung ini
di relung ini.
KAU HENDAK MENANAM POHON CINTA NAMUN AKU HANYA SEBUAH SENDOK
hai,
bolehkah aku sedikit berguna bagimu?
(2026)
MEMANDANGI HANNI : TERSAKITI
dengan sepasang kuncir
di kanan dan kiri rambutmu
kau tempatkan wajahmu di depan kamera
dekat sekali, terlalu dekat
lensanya sedikit retak, teramat halus
seperti gurat selaput sayap capung
yang terbang gelisah,
mencari kolam demi menceburkan
debar yang tak siap
dan menyembunyikan segala sipu
yang lemahkan penerbangannya
hingga jatuh menukik ke permukaan
mimpi-mimpi indah
sementara kau hanya ingin bicara
melontarkan monolog yang kelu
“aku tak ingin menjadi yang tersakiti,”
namun kamera itu tak juga menyala
tombolnya terlalu gugup
menghadapi kantung matamu
kaupun sendu, merasa kamera
menyakitimu
.
Penulis: Andi Wirambara
Editor: Adnyana Ole
tak jauh dari tempatmu, aku permukaan kolam
tempat capung-capung jatuh memakamkan diri
sejak tadi menunggumu datang
mungkin saja kau berpikir untuk
mendekatkan wajahmu di sana
lalu aku mempersiapkan isyarat
tentang bagaimana mungkin
kau akan disakiti, bahkan aku
tak berani menjumpai tatapan kuyu itu
memilih menghitung berapa banyak karet
yang dibutuhkan untuk melilit kunciranmu
hanya aku tak pernah berhasil mendapatkan jumlah
dengan segala waswas dan gamang
aku hanya mampu membuat riak mungil
yang tak akan pernah cukup
untuk menyakiti
apapun yang kaucemaskan.
(2026)
HANNI DAN MIE INSTAN
hanni jadi model iklan produk mie instan
di sesi pemotretan, hanni tersenyum sungkan
sepiring mie di tangannya telah didekorasi
lebih cantik dari kamar apartemennya
aromanya tanpa permisi masuk dan mencari
bunyi-bunyian di belantara lambungnya
hanni semakin gelisah
lidah dan salivanya juga gelisah
aku juga gelisah
sebagai tukang rebus di balik dapur
yang tak pernah ia tahu letaknya.
nanti, jika hanni akhirnya memakan mie instan itu
dan mengeluhkan rasa manis yang berlebih
percayalah, aku sudah memberi asin yang cukup
lebih kecut dari segala air mata yang mendidih.
jadi jangan menyalahkanku,
itu pasti dari senyumnya
pasti senyumnya!
(2026)
BANDANA SUPERNATURAL
kau sering menyembunyikan keningmu
—setidak-tidaknya saat aku ingin mencatatnya
berkali-kali kau menutupi dengan bermacam bandana
yang putih menempel lekat, pas di kening
yang biru pun sama, bedanya hanya
lebih lebar hingga menutup tempurung rambutmu
pernah sekali bandanamu tertinggal, keningmu
kaututupi dengan kacamata hitam
sebelum aku menyadari apapun.
mungkinkah hal magis bersemayam di sana
yang menampakkan rindu-rindu malang
dan hanya terpanggil dengan ritual-ritual
di sudut paling lembab lorong perkotaan?
atau bandanamu ialah perisai paling jitu
mementalkan segala yang asing mendaratkan
segala bentuk sapaan di keningmu?
kau tahu, bandara memang tempat untuk
lepas landas dan mendarat, bukan?
meski kau di sana, aku tetap menahan diri
sebagai baling-baling pesawat
yang mungkin menerbangkan bandanamu
namun aku masihlah segala asing
yang terus tertolak oleh keningmu
barangkali sebaiknya aku menanti tidurmu saja
yang membuka keningmu mempersilakan rindu
turun bertabur seperti semburat lampu-lampu kota
hingga kau mengerti bahwa aku tidak seasing
piring terbang yang kukendarai mengitarimu
di langit, berputar-putar berhari-hari cahaya
menanti kening terbaik untuk menjatuhkan diri
tanpa perlu membangunkan kenyataan apapun.
(2026)






























