27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 26, 2026
in Esai
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Ilustrasi tatkala.co

“Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya.”

KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaban Swami Vivekananda kepada murid-muridnya itu mengandung makna yang jauh melampaui persoalan moralitas. Ketika ada yang mengeluhkan bahwa perempuan-perempuan yang dianggap “tidak bermoral” sering memasuki kamar tempat Sri Ramakrishna dahulu tinggal, Vivekananda justru menjawab bahwa mereka memang boleh datang, sebab Sang Guru hadir justru untuk mereka yang telah jatuh. Jawaban itu bukan pembenaran terhadap perilaku yang menyimpang, melainkan penegasan bahwa kasih seorang guru melampaui stigma sosial. Guru sejati tidak datang untuk mengumpulkan orang-orang yang sudah merasa suci, tetapi untuk membangunkan mereka yang masih tertidur dalam ketidaksadaran.

Jawaban Vivekananda mengingatkan kita bahwa inti spiritualitas bukanlah penghukuman, melainkan transformasi. Dunia sering kali lebih mudah mengingat kesalahan seseorang daripada perjuangannya untuk berubah. Sekali seseorang diberi cap sebagai pendosa, penjahat, atau orang gagal, label itu seakan melekat seumur hidup. Akan tetapi, sejarah para mahaguru justru menunjukkan hal yang berbeda. Mereka melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat oleh kebanyakan orang, yaitu potensi Ilahi yang masih tersembunyi di balik segala kelemahan manusia. Cara pandang inilah yang menjadi dasar seluruh perjalanan spiritual.

Guru Sejati Tidak Datang untuk Menghakimi

Dalam kehidupan modern, budaya menghakimi berkembang begitu cepat. Media sosial membuat setiap orang dapat menjadi hakim bagi orang lain hanya dalam hitungan detik. Kesalahan seseorang dapat tersebar luas, sementara proses pertobatan dan perubahan sering kali luput dari perhatian. Akibatnya, masyarakat lebih mengenal dosa daripada kemungkinan lahirnya kebajikan. Kita lebih mudah mengingat siapa seseorang dahulu dibandingkan melihat siapa dirinya hari ini.

Berbeda dengan kecenderungan tersebut, para guru spiritual selalu memandang manusia sebagai makhluk yang sedang bertumbuh. Mereka tidak mengingkari adanya karma maupun tanggung jawab moral, tetapi mereka juga tidak menutup pintu bagi pertobatan. Dalam tradisi Sanātana Dharma, Tuhan dikenal sebagai Patita Pavana, penyelamat mereka yang jatuh. Sebutan ini mengandung makna yang sangat mendalam bahwa belas kasih Ilahi tidak pernah berhenti hanya karena manusia pernah melakukan kesalahan. Selama masih ada kesadaran untuk berubah, selalu ada jalan kembali menuju dharma.

Seorang dokter tidak membuka praktik untuk orang-orang yang sehat. Seorang guru tidak mengajar murid yang sudah mengetahui semuanya. Demikian pula seorang guru spiritual. Kehadirannya memperoleh makna justru karena masih ada manusia yang terluka, tersesat, dan kehilangan arah. Oleh sebab itu, Sri Ramakrishna tidak pernah membatasi kasihnya hanya kepada mereka yang dianggap saleh. Kasih seorang guru bukanlah hadiah bagi orang yang sempurna, melainkan jembatan bagi mereka yang ingin bertumbuh menuju kesempurnaan.

Ratnakara dan Lubdhaka: Cahaya Selalu Menemukan Jalannya

Kisah Ratnakara merupakan salah satu contoh transformasi terbesar dalam tradisi Hindu. Sebelum dikenal sebagai Maharsi Valmiki, ia adalah seorang perampok yang hidup dari kekerasan. Hidupnya berubah bukan karena hukuman yang keras, melainkan karena sebuah pertanyaan sederhana dari Resi Narada mengenai siapa yang bersedia menanggung akibat karmanya. Pertanyaan itu mengguncang kesadarannya lebih kuat daripada ancaman apa pun. Ia mulai melihat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus dipikul sendiri.

Ratnakara kemudian menjalani tapa yang sangat panjang hingga tubuhnya tertutup sarang semut atau valmika. Dari pengalaman itulah lahir nama Valmiki. Yang menarik, Tuhan tidak menghapus masa lalunya. Justru pengalaman kelam itu menjadi fondasi kebijaksanaan yang membuatnya mampu menulis Ramayana, salah satu mahakarya terbesar dalam sejarah umat manusia. Masa lalu ternyata tidak selalu menjadi beban; ia dapat menjadi pupuk bagi lahirnya kebijaksanaan apabila diolah melalui kesadaran.

Pesan serupa terdapat dalam kisah Lubdhaka yang dikaitkan dengan perayaan Maha Sivaratri. Lubdhaka hanyalah seorang pemburu biasa. Ia bukan seorang resi, bukan pula ahli kitab suci. Namun melalui pengalaman yang tampaknya sederhana, ia memperoleh anugerah Siwa. Kisah ini mengajarkan bahwa rahmat Ilahi tidak bekerja berdasarkan status sosial maupun reputasi seseorang. Yang dilihat bukanlah penampilan luar, melainkan kesiapan hati untuk terbuka terhadap cahaya kesadaran.

Pancamaya Kośa dan Peta Kesadaran Hawkins

Mengapa manusia dapat berubah sedemikian besar? Filsafat Vedanta memberikan jawaban melalui konsep Pañcamaya Kośa, yaitu lima lapis kesadaran manusia. Yang mengalami kekotoran bukanlah Ātman, melainkan lapisan-lapisan yang membungkusnya. Tubuh dapat melakukan kesalahan, pikiran dapat dipenuhi kebencian, ego dapat dikuasai keserakahan, tetapi hakikat terdalam manusia tetap murni. Spiritualitas adalah proses membersihkan diri agar cahaya Ātman kembali bersinar.

Pandangan tersebut memiliki keselarasan yang menarik dengan peta kesadaran David R. Hawkins. Hawkins menjelaskan bahwa manusia dapat bergerak dari tingkat kesadaran rendah seperti rasa malu, rasa bersalah, apati, dan kemarahan menuju keberanian, penerimaan, kasih, damai, hingga pencerahan. Dengan demikian, seseorang tidak selamanya terperangkap dalam satu tingkat kesadaran. Evolusi batin selalu mungkin terjadi selama seseorang mau belajar, merenung, dan memperbaiki dirinya.

Ratnakara mengalami lompatan kesadaran. Lubdhaka mengalami lompatan kesadaran. Orang-orang yang oleh masyarakat disebut sebagai “the fallen” pun memiliki kemungkinan yang sama. Karena itu, spiritualitas tidak berhenti di satu titik tetapi sebuah proses perjalanan. Spiritualitas selalu bertanya bagaimana seseorang dapat bertumbuh menjadi lebih sadar.

The Turning Point: Revolusi Cara Pandang

Dalam The Turning Point, Fritjof Capra menjelaskan bahwa krisis terbesar umat manusia bukan pertama-tama krisis ekonomi, politik, ataupun lingkungan hidup. Akar dari berbagai persoalan tersebut adalah krisis cara pandang (crisis of perception). Dunia modern terlalu lama dibangun di atas paradigma mekanistik yang melihat manusia sebagai kumpulan bagian-bagian yang dapat dipisahkan, dikategorikan, dan diberi label. Akibatnya, manusia kehilangan pandangan yang utuh terhadap kehidupan.

Apabila gagasan Capra dibaca bersama kisah Ratnakara, Lubdhaka, dan ajaran Sri Ramakrishna, tampak bahwa semuanya berbicara mengenai perubahan paradigma. Yang harus diubah bukan hanya perilaku seseorang, melainkan cara kita memandang dirinya. Selama kita melihat seseorang hanya dari masa lalunya, kita sebenarnya sedang mempertahankan paradigma lama. Paradigma baru memandang manusia sebagai makhluk yang terus berevolusi dalam kesadaran. Ia bukan hasil akhir, melainkan proses yang terus berlangsung.

Pandangan Capra juga sangat dekat dengan pemikiran Guruji Anand Krishna mengenai kesehatan holistik. Menurut Guruji Anand Krishna, manusia tidak dapat dipahami hanya dari tubuh fisiknya. Pikiran, emosi, energi kehidupan, nilai-nilai spiritual, bahkan hubungannya dengan alam semesta membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perubahan sejati selalu bersifat holistik. Ia bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan perubahan cara memandang diri sendiri, sesama, dan seluruh kehidupan.

Peradaban Baru Dimulai dari Kesempatan Kedua

Peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang tidak pernah menghukum kesalahan. Sebaliknya, hukum tetap harus ditegakkan demi keadilan. Akan tetapi, peradaban yang benar-benar maju adalah peradaban yang mampu memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin berubah. Menghukum tanpa membuka ruang rehabilitasi hanya akan melahirkan lingkaran kebencian yang tidak pernah berakhir. Belas kasih bukanlah lawan dari keadilan, melainkan penyempurnanya.

Narada melihat seorang resi di balik seorang perampok. Siwa melihat ketulusan di balik seorang pemburu. Sri Ramakrishna melihat kerinduan jiwa di balik mereka yang dicap masyarakat sebagai orang-orang yang telah jatuh. Fritjof Capra melihat masa depan dunia bergantung pada perubahan paradigma. David Hawkins melihat kemungkinan kenaikan kesadaran setiap manusia. Guruji Anand Krishna mengajak kita membangun kesehatan holistik melalui transformasi batin. Meskipun lahir dari zaman dan latar belakang yang berbeda, semuanya menunjuk kepada arah yang sama, yaitu bahwa perubahan sejati selalu berawal dari kesadaran.

Inilah pelajaran terbesar yang sangat dibutuhkan dunia saat ini. Kita hidup di zaman yang begitu cepat memberi cap, tetapi begitu lambat memberi kesempatan. Padahal sejarah membuktikan bahwa manusia-manusia besar sering lahir dari titik balik kehidupannya, bukan dari kesempurnaannya. Ratnakara menjadi Valmiki bukan karena ia tidak pernah berdosa, melainkan karena ia berani berubah. Lubdhaka memperoleh anugerah bukan karena ia telah sempurna, melainkan karena hatinya akhirnya terbuka. Sri Ramakrishna menerima mereka yang dianggap jatuh karena beliau melihat kemungkinan yang belum mampu dilihat oleh orang lain.

Pada akhirnya, perubahan terbesar dalam sejarah bukanlah ketika manusia menemukan teknologi baru, membangun kota-kota megah, atau mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa. Perubahan terbesar terjadi ketika kesadaran berbalik arah (turning point), dari ego menuju kasih, dari penghukuman menuju pembinaan, dari keterpisahan menuju kesatuan, dan dari kegelapan menuju terang. Selama manusia masih memiliki keberanian untuk mengubah kesadarannya, selama itu pula tidak ada jiwa yang benar-benar terlambat. Itulah harapan abadi yang diajarkan oleh para mahaguru lintas zaman: setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali kepada dharma, menemukan hakikat dirinya sebagai Ātman, dan ikut membangun peradaban yang lebih utuh, lebih holistik, dan lebih manusiawi. Inner Peace Communal Love Global Harmony, sebagaimana misi Anand Ashram Foundation. [T]

Tags: Fritjof CapraLubdaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Next Post

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
0
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

Read moreDetails

Negeri Pesugihan

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

Read moreDetails

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails
Next Post
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?
Khas

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co