26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 26, 2026
in Esai
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Ilustrasi tatkala.co

“Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya.”

KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaban Swami Vivekananda kepada murid-muridnya itu mengandung makna yang jauh melampaui persoalan moralitas. Ketika ada yang mengeluhkan bahwa perempuan-perempuan yang dianggap “tidak bermoral” sering memasuki kamar tempat Sri Ramakrishna dahulu tinggal, Vivekananda justru menjawab bahwa mereka memang boleh datang, sebab Sang Guru hadir justru untuk mereka yang telah jatuh. Jawaban itu bukan pembenaran terhadap perilaku yang menyimpang, melainkan penegasan bahwa kasih seorang guru melampaui stigma sosial. Guru sejati tidak datang untuk mengumpulkan orang-orang yang sudah merasa suci, tetapi untuk membangunkan mereka yang masih tertidur dalam ketidaksadaran.

Jawaban Vivekananda mengingatkan kita bahwa inti spiritualitas bukanlah penghukuman, melainkan transformasi. Dunia sering kali lebih mudah mengingat kesalahan seseorang daripada perjuangannya untuk berubah. Sekali seseorang diberi cap sebagai pendosa, penjahat, atau orang gagal, label itu seakan melekat seumur hidup. Akan tetapi, sejarah para mahaguru justru menunjukkan hal yang berbeda. Mereka melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat oleh kebanyakan orang, yaitu potensi Ilahi yang masih tersembunyi di balik segala kelemahan manusia. Cara pandang inilah yang menjadi dasar seluruh perjalanan spiritual.

Guru Sejati Tidak Datang untuk Menghakimi

Dalam kehidupan modern, budaya menghakimi berkembang begitu cepat. Media sosial membuat setiap orang dapat menjadi hakim bagi orang lain hanya dalam hitungan detik. Kesalahan seseorang dapat tersebar luas, sementara proses pertobatan dan perubahan sering kali luput dari perhatian. Akibatnya, masyarakat lebih mengenal dosa daripada kemungkinan lahirnya kebajikan. Kita lebih mudah mengingat siapa seseorang dahulu dibandingkan melihat siapa dirinya hari ini.

Berbeda dengan kecenderungan tersebut, para guru spiritual selalu memandang manusia sebagai makhluk yang sedang bertumbuh. Mereka tidak mengingkari adanya karma maupun tanggung jawab moral, tetapi mereka juga tidak menutup pintu bagi pertobatan. Dalam tradisi Sanātana Dharma, Tuhan dikenal sebagai Patita Pavana, penyelamat mereka yang jatuh. Sebutan ini mengandung makna yang sangat mendalam bahwa belas kasih Ilahi tidak pernah berhenti hanya karena manusia pernah melakukan kesalahan. Selama masih ada kesadaran untuk berubah, selalu ada jalan kembali menuju dharma.

Seorang dokter tidak membuka praktik untuk orang-orang yang sehat. Seorang guru tidak mengajar murid yang sudah mengetahui semuanya. Demikian pula seorang guru spiritual. Kehadirannya memperoleh makna justru karena masih ada manusia yang terluka, tersesat, dan kehilangan arah. Oleh sebab itu, Sri Ramakrishna tidak pernah membatasi kasihnya hanya kepada mereka yang dianggap saleh. Kasih seorang guru bukanlah hadiah bagi orang yang sempurna, melainkan jembatan bagi mereka yang ingin bertumbuh menuju kesempurnaan.

Ratnakara dan Lubdhaka: Cahaya Selalu Menemukan Jalannya

Kisah Ratnakara merupakan salah satu contoh transformasi terbesar dalam tradisi Hindu. Sebelum dikenal sebagai Maharsi Valmiki, ia adalah seorang perampok yang hidup dari kekerasan. Hidupnya berubah bukan karena hukuman yang keras, melainkan karena sebuah pertanyaan sederhana dari Resi Narada mengenai siapa yang bersedia menanggung akibat karmanya. Pertanyaan itu mengguncang kesadarannya lebih kuat daripada ancaman apa pun. Ia mulai melihat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus dipikul sendiri.

Ratnakara kemudian menjalani tapa yang sangat panjang hingga tubuhnya tertutup sarang semut atau valmika. Dari pengalaman itulah lahir nama Valmiki. Yang menarik, Tuhan tidak menghapus masa lalunya. Justru pengalaman kelam itu menjadi fondasi kebijaksanaan yang membuatnya mampu menulis Ramayana, salah satu mahakarya terbesar dalam sejarah umat manusia. Masa lalu ternyata tidak selalu menjadi beban; ia dapat menjadi pupuk bagi lahirnya kebijaksanaan apabila diolah melalui kesadaran.

Pesan serupa terdapat dalam kisah Lubdhaka yang dikaitkan dengan perayaan Maha Sivaratri. Lubdhaka hanyalah seorang pemburu biasa. Ia bukan seorang resi, bukan pula ahli kitab suci. Namun melalui pengalaman yang tampaknya sederhana, ia memperoleh anugerah Siwa. Kisah ini mengajarkan bahwa rahmat Ilahi tidak bekerja berdasarkan status sosial maupun reputasi seseorang. Yang dilihat bukanlah penampilan luar, melainkan kesiapan hati untuk terbuka terhadap cahaya kesadaran.

Pancamaya Kośa dan Peta Kesadaran Hawkins

Mengapa manusia dapat berubah sedemikian besar? Filsafat Vedanta memberikan jawaban melalui konsep Pañcamaya Kośa, yaitu lima lapis kesadaran manusia. Yang mengalami kekotoran bukanlah Ātman, melainkan lapisan-lapisan yang membungkusnya. Tubuh dapat melakukan kesalahan, pikiran dapat dipenuhi kebencian, ego dapat dikuasai keserakahan, tetapi hakikat terdalam manusia tetap murni. Spiritualitas adalah proses membersihkan diri agar cahaya Ātman kembali bersinar.

Pandangan tersebut memiliki keselarasan yang menarik dengan peta kesadaran David R. Hawkins. Hawkins menjelaskan bahwa manusia dapat bergerak dari tingkat kesadaran rendah seperti rasa malu, rasa bersalah, apati, dan kemarahan menuju keberanian, penerimaan, kasih, damai, hingga pencerahan. Dengan demikian, seseorang tidak selamanya terperangkap dalam satu tingkat kesadaran. Evolusi batin selalu mungkin terjadi selama seseorang mau belajar, merenung, dan memperbaiki dirinya.

Ratnakara mengalami lompatan kesadaran. Lubdhaka mengalami lompatan kesadaran. Orang-orang yang oleh masyarakat disebut sebagai “the fallen” pun memiliki kemungkinan yang sama. Karena itu, spiritualitas tidak berhenti di satu titik tetapi sebuah proses perjalanan. Spiritualitas selalu bertanya bagaimana seseorang dapat bertumbuh menjadi lebih sadar.

The Turning Point: Revolusi Cara Pandang

Dalam The Turning Point, Fritjof Capra menjelaskan bahwa krisis terbesar umat manusia bukan pertama-tama krisis ekonomi, politik, ataupun lingkungan hidup. Akar dari berbagai persoalan tersebut adalah krisis cara pandang (crisis of perception). Dunia modern terlalu lama dibangun di atas paradigma mekanistik yang melihat manusia sebagai kumpulan bagian-bagian yang dapat dipisahkan, dikategorikan, dan diberi label. Akibatnya, manusia kehilangan pandangan yang utuh terhadap kehidupan.

Apabila gagasan Capra dibaca bersama kisah Ratnakara, Lubdhaka, dan ajaran Sri Ramakrishna, tampak bahwa semuanya berbicara mengenai perubahan paradigma. Yang harus diubah bukan hanya perilaku seseorang, melainkan cara kita memandang dirinya. Selama kita melihat seseorang hanya dari masa lalunya, kita sebenarnya sedang mempertahankan paradigma lama. Paradigma baru memandang manusia sebagai makhluk yang terus berevolusi dalam kesadaran. Ia bukan hasil akhir, melainkan proses yang terus berlangsung.

Pandangan Capra juga sangat dekat dengan pemikiran Guruji Anand Krishna mengenai kesehatan holistik. Menurut Guruji Anand Krishna, manusia tidak dapat dipahami hanya dari tubuh fisiknya. Pikiran, emosi, energi kehidupan, nilai-nilai spiritual, bahkan hubungannya dengan alam semesta membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perubahan sejati selalu bersifat holistik. Ia bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan perubahan cara memandang diri sendiri, sesama, dan seluruh kehidupan.

Peradaban Baru Dimulai dari Kesempatan Kedua

Peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang tidak pernah menghukum kesalahan. Sebaliknya, hukum tetap harus ditegakkan demi keadilan. Akan tetapi, peradaban yang benar-benar maju adalah peradaban yang mampu memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin berubah. Menghukum tanpa membuka ruang rehabilitasi hanya akan melahirkan lingkaran kebencian yang tidak pernah berakhir. Belas kasih bukanlah lawan dari keadilan, melainkan penyempurnanya.

Narada melihat seorang resi di balik seorang perampok. Siwa melihat ketulusan di balik seorang pemburu. Sri Ramakrishna melihat kerinduan jiwa di balik mereka yang dicap masyarakat sebagai orang-orang yang telah jatuh. Fritjof Capra melihat masa depan dunia bergantung pada perubahan paradigma. David Hawkins melihat kemungkinan kenaikan kesadaran setiap manusia. Guruji Anand Krishna mengajak kita membangun kesehatan holistik melalui transformasi batin. Meskipun lahir dari zaman dan latar belakang yang berbeda, semuanya menunjuk kepada arah yang sama, yaitu bahwa perubahan sejati selalu berawal dari kesadaran.

Inilah pelajaran terbesar yang sangat dibutuhkan dunia saat ini. Kita hidup di zaman yang begitu cepat memberi cap, tetapi begitu lambat memberi kesempatan. Padahal sejarah membuktikan bahwa manusia-manusia besar sering lahir dari titik balik kehidupannya, bukan dari kesempurnaannya. Ratnakara menjadi Valmiki bukan karena ia tidak pernah berdosa, melainkan karena ia berani berubah. Lubdhaka memperoleh anugerah bukan karena ia telah sempurna, melainkan karena hatinya akhirnya terbuka. Sri Ramakrishna menerima mereka yang dianggap jatuh karena beliau melihat kemungkinan yang belum mampu dilihat oleh orang lain.

Pada akhirnya, perubahan terbesar dalam sejarah bukanlah ketika manusia menemukan teknologi baru, membangun kota-kota megah, atau mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa. Perubahan terbesar terjadi ketika kesadaran berbalik arah (turning point), dari ego menuju kasih, dari penghukuman menuju pembinaan, dari keterpisahan menuju kesatuan, dan dari kegelapan menuju terang. Selama manusia masih memiliki keberanian untuk mengubah kesadarannya, selama itu pula tidak ada jiwa yang benar-benar terlambat. Itulah harapan abadi yang diajarkan oleh para mahaguru lintas zaman: setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali kepada dharma, menemukan hakikat dirinya sebagai Ātman, dan ikut membangun peradaban yang lebih utuh, lebih holistik, dan lebih manusiawi. Inner Peace Communal Love Global Harmony, sebagaimana misi Anand Ashram Foundation. [T]

Tags: Fritjof CapraLubdaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Next Post

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co