KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I Gede Lecir dan adiknya, I Made Getar, terlibat perselisihan mengenai tanggung jawab kepada orang tua mereka. Dari konflik itulah, ‘Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa’ dipentaskan oleh Komunitas Saka Gading, Desa Adat Sangkanbuana, Duta Kabupaten Klungkung dalam Lomba Taman Penasar di Pesta Kesenian Bali ke-48.
Hari itu, Minggu, 21 Juni 2026, Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali dipadati penonton. Sejak pertunjukan dimulai pukul 11.00 WITA, perhatian mereka tertuju ke panggung. Melalui rangkaian pupuh, dialog, dan akting yang mengalir, para pemain menghidupkan kisah tentang keluarga, bakti, dan pentingnya menjaga hubungan persaudaraan.
Cerita berpusat pada keluarga Bapa Gunung, seorang petani sederhana yang sehari-hari membajak sawah dan berkebun. Meski hidup di desa dengan kesederhanaan, keluarganya hidup rukun dan berkecukupan. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan terpenuhi dengan baik.

Selain dikenal pekerja keras, Bapa Gunung juga gemar nyastra. Ketekunan dan kegigihannya membuat ia mampu menyekolahkan putranya hingga lulus dari perguruan tinggi ternama. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan kepada anak-anaknya tidak hanya berasal dari kerja keras, tetapi juga dari ajaran sastra yang menjadi bagian dari rutinitasnya.
Seiring waktu, jalan hidup kedua putranya berbeda. I Gede Lecir memilih tetap tinggal di desa, membantu ayahnya bekerja. Sementara itu, I Made Getar memilih menetap di kota, jauh dari kehidupan desa dan aktivitas sosial masyarakat.
Perbedaan pilihan hidup itu menjadi titik awal jarak yang perlahan tumbuh di antara keduanya. Konflik mencapai puncaknya ketika Bapa Gunung meninggal dunia. Saat keluarga bersiap melaksanakan upacara ngaben, muncul perbedaan pandangan mengenai pembiayaan upacara tersebut. I Made Getar dan istrinya merasa biaya tidak seharusnya ditanggung sendiri. Sang istri bahkan menyarankan agar biaya ngaben dibagi bersama dengan I Gede Lecir.
“Ajak kakakmu patungan saja. Jangan semua beban ditanggung sendiri. Pikirkan juga kebutuhan kita, terutama aku. Atau, kremasi saja biar cepat dan ringkas. Buat apa mengeluarkan uang banyak hanya untuk orang mati,” kata sang istri dalam bahasa Bali pada salah satu adegan.

Tanpa sengaja, percakapan itu didengar oleh I Gede Lecir. Ia pun naik pitam. Menurutnya, sang adik telah menjadi terlalu perhitungan dan mudah dipengaruhi oleh istrinya, bahkan dalam urusan bakti kepada orang tua.
Pertengkaran tak terhindarkan. Kedua saudara itu saling beradu pendapat. Masing-masing merasa berada di pihak yang benar. Suasana yang semula dipenuhi duka berubah menjadi ketegangan.
Namun, seperti halnya kehidupan, cerita tidak berhenti pada konflik. Melalui petuah yang disampaikan pimpinan desa, kedua saudara itu diajak kembali mengingat ajaran yang selama ini diwariskan oleh Bapa Gunung. Mereka diajak bersastra, merenungkan kembali makna bakti, tanggung jawab, dan hubungan keluarga yang lebih besar daripada persoalan materi.
Perlahan, hati keduanya terbuka. Mereka menyadari kekeliruan masing-masing. Perselisihan yang sempat memecah belah keluarga akhirnya mencair. I Gede Lecir dan I Made Getar kembali bersatu, lalu bersama-sama mengupacarai ayah mereka dengan penuh ketulusan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidik mereka dengan kasih sayang.

Pesan itulah yang berhasil disampaikan dengan kuat oleh para pemain Taman Penasar Komunitas Saka Gading. Sepanjang pementasan, penonton tampak larut mengikuti alur cerita. Bahasa Bali yang digunakan mengalir cair dan komunikatif. Dialog-dialog yang dibangun terasa hidup. Pada beberapa bagian, penonton tertawa oleh selipan humor. Pada bagian lain, mereka ikut terbawa emosi ketika konflik dua saudara itu memanas.
Kemampuan para pemain dalam menembang juga menjadi kekuatan tersendiri. Cerita mengalir melalui rangkaian pupuh seperti Pangkur, Semarandana, Ginada, Ginanti, dan pupuh lainnya. Tembang-tembang tersebut tidak hanya memperindah pertunjukan, tetapi juga memperkuat suasana dan pesan yang ingin disampaikan.
Pembina sekaligus koordinator Komunitas Saka Gading, Komang Gede Suastika, mengaku bangga melihat penampilan anak-anak binaannya.
“Saya sangat terkesan dan terharu sekali, karena mereka menampilkan yang terbaik, tanpa membuat banyak kesalahan. Penampilan mereka maksimal hari ini, sesuai dengan arahan dan latihan. Harapan saya semoga bisa bersaing dan meraih hasil yang diharapkan,” ujarnya.


Komang Gede Suastika mengatakan, para pemain menjalani latihan selama kurang lebih tiga bulan sebelum tampil di PKB. Proses tersebut tentu tidak mudah. Sebagian besar pemain masih berusia muda dan baru pertama kali belajar Taman Penasar.
“Mereka sudah berlatih selama tiga bulan. Tantangan yang dihadapi cukup banyak karena sebagian besar masih berusia muda dan baru belajar dari awal, mulai dari nembang, bermain peran, memahami cerita, hingga menghafal dialog. Proses itu membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran. Namun yang terpenting, mereka memiliki kemauan untuk belajar,” katanya.
Menurutnya, semangat belajar menjadi modal utama para pemain muda tersebut. “Mereka belum pernah tampil, semua murni masih baru-baru, dan langsung pentas di PKB. Kita bertujuan untuk tetap meregenerasi, agar kesenian ini tetap berlanjut,” tambahnya.
Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa pementasan ini bukan semata soal kompetisi. Lebih dari itu, ada upaya regenerasi yang tengah dibangun agar Taman Penasar tetap memiliki penerus di masa mendatang.


Taman Penasar sendiri merupakan salah satu bentuk kesenian yang memadukan berbagai unsur, mulai dari tembang pupuh, peneges, penegteg pabligbagan, hingga iringan instrumen geguntangan. Kesenian ini dicetuskan oleh Keluarga Kesenian Bali (KKB) RRI Denpasar.
Sebagai sebuah pertunjukan, Taman Penasar menghadirkan perpaduan antara sastra, seni vokal, dan seni peran. Para penembang dan peneges umumnya tampil dalam posisi duduk, seperti dalam arja petegak, namun tetap mampu menghadirkan karakter, konflik, dan pesan yang kuat kepada penonton.
Karena bertumpu pada sastra, Taman Penasar sering menjadi ruang refleksi bagi berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Nilai-nilai yang disampaikan tidak hadir dalam bentuk ceramah, melainkan mengalir melalui cerita, dialog, tembang, dan peran yang dimainkan.
Pesan itulah yang hadir dalam ‘Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa’. Di balik kisah dua saudara yang berselisih soal ngaben, tersimpan pengingat bahwa bakti kepada orang tua tidak layak diukur dengan untung rugi. Dan ketika ikatan keluarga mulai renggang, sastra dapat menjadi jalan pulang yang kembali menyatukan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























