23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
in Panggung
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I Gede Lecir dan adiknya, I Made Getar, terlibat perselisihan mengenai tanggung jawab kepada orang tua mereka. Dari konflik itulah, ‘Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa’ dipentaskan oleh Komunitas Saka Gading, Desa Adat Sangkanbuana, Duta Kabupaten Klungkung dalam Lomba Taman Penasar di Pesta Kesenian Bali ke-48.

Hari itu, Minggu, 21 Juni 2026, Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali dipadati penonton. Sejak pertunjukan dimulai pukul 11.00 WITA, perhatian mereka tertuju ke panggung. Melalui rangkaian pupuh, dialog, dan akting yang mengalir, para pemain menghidupkan kisah tentang keluarga, bakti, dan pentingnya menjaga hubungan persaudaraan.

Cerita berpusat pada keluarga Bapa Gunung, seorang petani sederhana yang sehari-hari membajak sawah dan berkebun. Meski hidup di desa dengan kesederhanaan, keluarganya hidup rukun dan berkecukupan. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan terpenuhi dengan baik.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Selain dikenal pekerja keras, Bapa Gunung juga gemar nyastra. Ketekunan dan kegigihannya membuat ia mampu menyekolahkan putranya hingga lulus dari perguruan tinggi ternama. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan kepada anak-anaknya tidak hanya berasal dari kerja keras, tetapi juga dari ajaran sastra yang menjadi bagian dari rutinitasnya.

Seiring waktu, jalan hidup kedua putranya berbeda. I Gede Lecir memilih tetap tinggal di desa, membantu ayahnya bekerja. Sementara itu, I Made Getar memilih menetap di kota, jauh dari kehidupan desa dan aktivitas sosial masyarakat.

Perbedaan pilihan hidup itu menjadi titik awal jarak yang perlahan tumbuh di antara keduanya. Konflik mencapai puncaknya ketika Bapa Gunung meninggal dunia. Saat keluarga bersiap melaksanakan upacara ngaben, muncul perbedaan pandangan mengenai pembiayaan upacara tersebut. I Made Getar dan istrinya merasa biaya tidak seharusnya ditanggung sendiri. Sang istri bahkan menyarankan agar biaya ngaben dibagi bersama dengan I Gede Lecir.

“Ajak kakakmu patungan saja. Jangan semua beban ditanggung sendiri. Pikirkan juga kebutuhan kita, terutama aku. Atau, kremasi saja biar cepat dan ringkas. Buat apa mengeluarkan uang banyak hanya untuk orang mati,” kata sang istri dalam bahasa Bali pada salah satu adegan.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Tanpa sengaja, percakapan itu didengar oleh I Gede Lecir. Ia pun naik pitam. Menurutnya, sang adik telah menjadi terlalu perhitungan dan mudah dipengaruhi oleh istrinya, bahkan dalam urusan bakti kepada orang tua.

Pertengkaran tak terhindarkan. Kedua saudara itu saling beradu pendapat. Masing-masing merasa berada di pihak yang benar. Suasana yang semula dipenuhi duka berubah menjadi ketegangan.

Namun, seperti halnya kehidupan, cerita tidak berhenti pada konflik. Melalui petuah yang disampaikan pimpinan desa, kedua saudara itu diajak kembali mengingat ajaran yang selama ini diwariskan oleh Bapa Gunung. Mereka diajak bersastra, merenungkan kembali makna bakti, tanggung jawab, dan hubungan keluarga yang lebih besar daripada persoalan materi.

Perlahan, hati keduanya terbuka. Mereka menyadari kekeliruan masing-masing. Perselisihan yang sempat memecah belah keluarga akhirnya mencair. I Gede Lecir dan I Made Getar kembali bersatu, lalu bersama-sama mengupacarai ayah mereka dengan penuh ketulusan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidik mereka dengan kasih sayang.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Pesan itulah yang berhasil disampaikan dengan kuat oleh para pemain Taman Penasar Komunitas Saka Gading. Sepanjang pementasan, penonton tampak larut mengikuti alur cerita. Bahasa Bali yang digunakan mengalir cair dan komunikatif. Dialog-dialog yang dibangun terasa hidup. Pada beberapa bagian, penonton tertawa oleh selipan humor. Pada bagian lain, mereka ikut terbawa emosi ketika konflik dua saudara itu memanas.

Kemampuan para pemain dalam menembang juga menjadi kekuatan tersendiri. Cerita mengalir melalui rangkaian pupuh seperti Pangkur, Semarandana, Ginada, Ginanti, dan pupuh lainnya. Tembang-tembang tersebut tidak hanya memperindah pertunjukan, tetapi juga memperkuat suasana dan pesan yang ingin disampaikan.

Pembina sekaligus koordinator Komunitas Saka Gading, Komang Gede Suastika, mengaku bangga melihat penampilan anak-anak binaannya.

“Saya sangat terkesan dan terharu sekali, karena mereka menampilkan yang terbaik, tanpa membuat banyak kesalahan. Penampilan mereka maksimal hari ini, sesuai dengan arahan dan latihan. Harapan saya semoga bisa bersaing dan meraih hasil yang diharapkan,” ujarnya.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Antusias penonton menyaksikan Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Komang Gede Suastika mengatakan, para pemain menjalani latihan selama kurang lebih tiga bulan sebelum tampil di PKB. Proses tersebut tentu tidak mudah. Sebagian besar pemain masih berusia muda dan baru pertama kali belajar Taman Penasar.

“Mereka sudah berlatih selama tiga bulan. Tantangan yang dihadapi cukup banyak karena sebagian besar masih berusia muda dan baru belajar dari awal, mulai dari nembang, bermain peran, memahami cerita, hingga menghafal dialog. Proses itu membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran. Namun yang terpenting, mereka memiliki kemauan untuk belajar,” katanya.

Menurutnya, semangat belajar menjadi modal utama para pemain muda tersebut. “Mereka belum pernah tampil, semua murni masih baru-baru, dan langsung pentas di PKB. Kita bertujuan untuk tetap meregenerasi, agar kesenian ini tetap berlanjut,” tambahnya.

Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa pementasan ini bukan semata soal kompetisi. Lebih dari itu, ada upaya regenerasi yang tengah dibangun agar Taman Penasar tetap memiliki penerus di masa mendatang.

Komunitas Saka Gading, Desa Adat Sangkanbuana, Kecamatan Klungkung, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

 

Taman Penasar sendiri merupakan salah satu bentuk kesenian yang memadukan berbagai unsur, mulai dari tembang pupuh, peneges, penegteg pabligbagan, hingga iringan instrumen geguntangan. Kesenian ini dicetuskan oleh Keluarga Kesenian Bali (KKB) RRI Denpasar.

Sebagai sebuah pertunjukan, Taman Penasar menghadirkan perpaduan antara sastra, seni vokal, dan seni peran. Para penembang dan peneges umumnya tampil dalam posisi duduk, seperti dalam arja petegak, namun tetap mampu menghadirkan karakter, konflik, dan pesan yang kuat kepada penonton.

Karena bertumpu pada sastra, Taman Penasar sering menjadi ruang refleksi bagi berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Nilai-nilai yang disampaikan tidak hadir dalam bentuk ceramah, melainkan mengalir melalui cerita, dialog, tembang, dan peran yang dimainkan.

Pesan itulah yang hadir dalam ‘Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa’. Di balik kisah dua saudara yang berselisih soal ngaben, tersimpan pengingat bahwa bakti kepada orang tua tidak layak diukur dengan untung rugi. Dan ketika ikatan keluarga mulai renggang, sastra dapat menjadi jalan pulang yang kembali menyatukan. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: KlungkungPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026taman penasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Next Post

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co