21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 20, 2026
in Esai
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Ilustrasi tatkala.co

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan dunia, termasuk politik. Seolah-olah semakin seseorang tidak peduli pada persoalan sosial, semakin tinggi pula kesadarannya. Akibatnya muncul pola spiritualitas yang sibuk mencari ketenangan pribadi, tetapi menutup mata terhadap penderitaan masyarakat, ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan alam.

Padahal kehidupan tidak pernah terpisah-pisah. Harga beras, kualitas pendidikan, kesehatan publik, reklamasi pantai, penggusuran petani, rusaknya hutan, korupsi, hingga kebijakan ekonomi adalah bagian nyata dari kehidupan manusia sehari-hari. Semua itu dipengaruhi keputusan politik. Maka ketika seseorang berkata dirinya spiritual tetapi tidak peduli pada dampak kebijakan publik, sesungguhnya ia sedang memisahkan spiritualitas dari realitas kehidupan.

Spiritualitas sejati justru mengajarkan kepekaan. Semakin sadar seseorang, semakin ia mampu merasakan penderitaan orang lain. Kesadaran bukan membuat manusia terbang meninggalkan bumi, melainkan membuatnya hadir sepenuhnya di bumi dengan empati dan tanggung jawab. Dalam perspektif ini, spiritualitas bukan pelarian, melainkan cara memandang hidup secara utuh dan holistik.

Politik Praktis dan Political Awareness Itu Berbeda

Banyak orang alergi terhadap politik karena mereka menyamakan political awareness dengan politik praktis. Padahal keduanya berbeda secara mendasar. Politik praktis berkaitan dengan perebutan kekuasaan: partai, jabatan, kampanye, strategi, lobi, dan kepentingan elektoral. Di wilayah ini memang sering muncul konflik kepentingan, pencitraan, bahkan manipulasi. Tidak sedikit orang kecewa karena politik praktis sering terlihat kotor.

Namun political awareness atau kesadaran politik berbeda sama sekali. Political awareness adalah kemampuan memahami bagaimana kekuasaan bekerja dan bagaimana kebijakan memengaruhi kehidupan rakyat. Kesadaran politik membuat seseorang tidak apatis. Ia sadar bahwa keputusan negara dapat menentukan nasib jutaan orang.

Ketika seseorang peduli pada nasib petani yang kehilangan lahan, menolak kebijakan yang merusak lingkungan, atau mengkritik korupsi anggaran publik, itu bukan berarti ia haus kekuasaan. Itu adalah bentuk kesadaran sosial. Sama seperti seseorang yang peduli terhadap kesehatan tubuhnya, masyarakat juga perlu peduli terhadap kesehatan kehidupan berbangsa.

Masalahnya, sebagian orang memilih menyederhanakan semuanya. Sedikit saja bicara tentang kebijakan publik, langsung dicap “terlalu politis”. Akibatnya masyarakat kehilangan keberanian moral untuk bersuara. Padahal diam terhadap ketidakadilan juga memiliki konsekuensi etis.

Kesadaran politik bukan berarti harus menjadi politisi. Sama seperti peduli kesehatan tidak berarti harus menjadi dokter. Political awareness adalah kesadaran warga negara yang memahami bahwa kehidupan sosial tidak bisa dilepaskan dari keputusan politik.

Pseudo Spiritualitas dan Kenikmatan Diri Sendiri

Di zaman sekarang muncul fenomena yang bisa disebut pseudo spiritualitas, yakni spiritualitas semu yang hanya berpusat pada kenyamanan pribadi. Yang penting meditasi, tenang, healing, bahagia sendiri, lalu merasa selesai dengan kehidupan. Persoalan rakyat dianggap “energi rendah”, kritik sosial dianggap “kurang spiritual”, dan kepedulian terhadap masalah publik dianggap mencemari vibrasi batin.

Padahal spiritualitas yang hanya sibuk mencari rasa nyaman pribadi tanpa kepedulian sosial sesungguhnya sangat egoistis. Dalam bahasa yang keras, itu mirip masturbasi psikologis dan spiritual: menikmati sensasi ketenangan sendiri tanpa mau berbagi kesadaran bagi kehidupan yang lebih luas. Ada kenikmatan pribadi, tetapi tidak ada transformasi sosial. Ada rasa damai individual, tetapi tidak ada keberanian moral menghadapi ketidakadilan.

Spiritualitas seperti ini akhirnya menjadi sebuah mode. Orang berbicara tentang chakra, energi, dsn vibrasi tinggi, tetapi diam ketika alam dihancurkan, rakyat kecil dipinggirkan, atau korupsi merajalela. Bahkan ada yang merasa dirinya lebih suci karena “tidak mau terlibat politik”.

Padahal ketidakpedulian juga adalah pilihan politik. Ketika orang baik diam, ruang publik akan diisi oleh mereka yang haus kekuasaan. Dalam banyak kasus sejarah, kerusakan sosial terjadi bukan hanya karena kejahatan orang jahat, tetapi juga karena diamnya orang-orang yang sebenarnya baik.

Spiritualitas tanpa kepedulian sosial mudah berubah menjadi narsisme rohani. Orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi lupa bahwa manusia hidup dalam jaringan kehidupan yang saling terhubung.

Spiritualitas Holistik: Menyentuh Alam dan Kemanusiaan

Spiritualitas yang sehat harus bersifat holistik. Artinya, ia menyentuh seluruh aspek kehidupan: tubuh, pikiran, relasi sosial, ekonomi, budaya, politik, hingga hubungan manusia dengan alam. Kesadaran spiritual tidak berhenti di ruang meditasi, tetapi tercermin dalam cara memperlakukan sesama dan bumi tempat manusia hidup.

Karena itu menjaga lingkungan sesungguhnya juga tindakan spiritual. Sungai bukan hanya objek ekonomi. Hutan bukan sekadar komoditas. Laut bukan hanya sumber eksploitasi. Alam adalah bagian dari kehidupan yang menopang keberadaan manusia. Ketika alam dirusak demi keuntungan jangka pendek, dampaknya selalu kembali kepada rakyat kecil terlebih dahulu: banjir, kekeringan, krisis pangan, hilangnya ruang hidup, dan meningkatnya kemiskinan.

Dalam konteks ini, political awareness menjadi penting karena banyak kerusakan alam justru lahir dari keputusan politik dan ekonomi. Maka kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya dengan meditasi atau doa. Dibutuhkan juga keberanian bersuara, mengingatkan, dan mengkritik kebijakan yang destruktif.

Tokoh-tokoh besar dunia menunjukkan hal itu. Mahatma Gandhi berbicara tentang kemerdekaan sekaligus kesederhanaan hidup. Dalai Lama sering mengangkat isu kemanusiaan dan lingkungan. Gus Dur membela pluralisme dan hak kelompok kecil dengan pendekatan spiritual-humanis. Mereka tidak melihat spiritualitas sebagai pelarian dari dunia, melainkan cara memanusiakan dunia.

Kesadaran Spiritual Adalah Keberanian Moral

Pada akhirnya spiritualitas sejati bukan soal tampil suci, melainkan keberanian menjaga nurani tetap hidup di tengah dunia yang penuh kepentingan. Kesadaran spiritual tidak menuntut semua orang masuk partai politik atau terlibat politik praktis. Tetapi spiritualitas yang matang akan melahirkan political awareness: kepedulian terhadap nasib masyarakat dan masa depan bumi.

Orang spiritual boleh berbeda pilihan politik, tetapi tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaan. Ia boleh tidak mengejar jabatan, tetapi tidak boleh apatis terhadap penderitaan sosial. Sebab ketika kebijakan publik salah arah, yang paling menderita selalu rakyat kecil dan generasi mendatang.

Kesadaran sejati bukan hanya kemampuan memejamkan mata dalam meditasi, tetapi juga kemampuan membuka mata terhadap kenyataan. Meditasi yang mendalam seharusnya melahirkan kejernihan melihat kehidupan, bukan membuat manusia mati rasa terhadap dunia.

Karena itu spiritualitas dan political awareness sesungguhnya dapat berjalan berdampingan. Yang perlu dihindari adalah keterikatan ego dalam politik praktis, bukan kesadaran sosialnya. Spiritualitas yang holistik justru membuat manusia semakin sadar bahwa seluruh kehidupan saling terhubung.

Ketika manusia menyadari keterhubungan itu, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia akan peduli pada masyarakat, alam, bangsa, dan masa depan bersama. Dan di situlah spiritualitas menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar mencapai kedamaian pribadi, tetapi ikut menghadirkan kesadaran bagi kehidupan yang lebih luas. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesadaranMahatma GandhiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Next Post

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co