18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
in Esai
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ilustrasi tatkala.co

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya dipenuhi mahasiswa yang sibuk membandingkan buku, guru yang mencari referensi, dan pembaca yang larut menelusuri rak demi rak. Tak jarang seseorang datang dengan niat membeli satu buku, tetapi pulang membawa tiga atau empat judul sekaligus.

Kini suasananya berbeda. Rak-rak buku masih berdiri rapi. Sampul-sampul baru masih dipajang di etalase depan. Namun pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari. Kasir tampak lebih sering menunggu daripada melayani. Beberapa sudut yang dulu ramai kini terasa lengang. Kesunyian perlahan menggantikan keramaian yang dahulu menjadi ciri khasnya. Pemandangan itu membuat saya bertanya-tanya: benarkah masyarakat sudah tidak lagi membutuhkan buku?

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika dalam beberapa tahun terakhir sejumlah jaringan toko buku nasional menutup sejumlah gerainya akibat perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian menutup cabang. Sebagian mengecilkan ruang usaha. Sebagian lagi menyerah setelah bertahun-tahun berusaha bertahan menghadapi perubahan zaman.

Banyak orang kemudian buru-buru menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah rendahnya minat baca masyarakat. Generasi muda dianggap malas membaca. Mereka dituduh lebih senang menatap layar ponsel daripada membuka halaman buku. Membaca dianggap kalah menarik dibanding menggulir media sosial selama berjam-jam.

Perhatian yang Diperebutkan

Akan tetapi, data terbaru memberikan gambaran yang lebih kompleks. Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai 72,44 poin, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 66,77 poin. Pada saat yang sama, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) juga naik menjadi 73,52 poin. Data ini menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak sesederhana tuduhan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca. Sebaliknya, akses terhadap bahan bacaan dan aktivitas membaca justru menunjukkan tren yang membaik.

Pada saat yang sama, ruang digital semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Laporan Digital 2025 menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 212 juta orang atau 74,6 persen dari total penduduk. Selain itu, terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial yang aktif pada awal 2025. Angka tersebut menggambarkan betapa besar porsi kehidupan masyarakat yang kini berlangsung di ruang digital. Buku tidak lagi bersaing dengan sesama buku, melainkan dengan arus konten yang hadir tanpa henti di layar gawai.

Bayangkan seorang mahasiswa yang baru bangun pagi lalu membuka telepon genggamnya. Belum sempat berpikir, ia sudah disambut berita, video pendek, promosi produk, meme, gosip selebritas, kutipan motivasi, hingga tren terbaru yang datang silih berganti. Informasi mengalir begitu deras tanpa memberi kesempatan untuk berhenti sejenak. Akibatnya, membaca sepuluh halaman buku sering terasa lebih berat daripada menonton seratus video pendek.

Bukan tersebab generasi muda tidak cerdas. Bukan pula gegara mereka membenci buku. Melainkan karena perhatian mereka setiap hari diperebutkan oleh begitu banyak hal. Di sinilah senyatanya letak persoalan yang sedang kita hadapi. Kita bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita mengalami ledakan informasi. Yang semakin langka adalah kemampuan untuk tinggal lebih lama bersama sebuah gagasan.

Era digital telah melahirkan kebiasaan membaca cepat tetapi miskin kedalaman. Orang membaca judul tanpa membaca isi. Orang membagikan kutipan tanpa memahami konteksnya. Orang merasa mengetahui banyak hal hanya karena menyimpan ratusan artikel PDF di laptopnya, meskipun sebagian besar tidak pernah selesai dibaca. Pengetahuan perlahan berubah menjadi koleksi, bukan pemahaman.

Fenomena yang sama juga terjadi di banyak perguruan tinggi. Sejumlah kampus mulai beralih ke perpustakaan digital. Ribuan buku elektronik, jurnal ilmiah, dan basis data internasional kini dapat diakses dari mana saja. Dari sisi efisiensi, perubahan ini tentu merupakan kemajuan. Mahasiswa tidak perlu lagi datang ke perpustakaan hanya untuk mencari satu referensi.

Ironisnya, kemudahan akses terhadap pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan intensitas pemanfaatannya. Kajian Perpusnas tahun 2024 menunjukkan bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan masih relatif rendah. Fakta ini memperlihatkan bahwa tantangan terbesar perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar menyediakan koleksi, melainkan menghadirkan kembali pengalaman membaca yang mampu menarik perhatian masyarakat di tengah dominasi ruang digital.

Di sinilah posisi buku menjadi unik. Buku sesungguhnya sedang bertarung dalam kompetisi yang tidak seimbang. Ketika seseorang membuka sebuah buku, ia membutuhkan ketenangan, konsentrasi, dan kesediaan untuk mengikuti alur pemikiran penulis secara perlahan. Sebaliknya, media digital menawarkan kepuasan instan. Satu video dapat digantikan oleh video berikutnya hanya dalam hitungan detik. Satu informasi segera disusul informasi lain sebelum sempat direnungkan.

Buku tidak lagi bersaing dengan televisi sebagaimana beberapa dekade lalu. Buku kini bersaing dengan sistem teknologi yang mempekerjakan ribuan insinyur, psikolog perilaku, dan ilmuwan data untuk mempelajari cara paling efektif menarik perhatian manusia. Jika toko buku kehilangan pengunjung, persoalannya bukan karena buku tiba-tiba kehilangan nilai. Persoalannya adalah karena buku harus bersaing dengan mesin yang memang dirancang untuk membuat manusia sulit melepaskan pandangannya dari layar.

Bukan Krisis Membaca

Istilah “rendahnya minat baca” sering kali menyesatkan. Banyak orang masih membaca setiap hari. Mereka membaca pesan WhatsApp, berita daring, unggahan media sosial, komentar, dan berbagai bentuk teks lainnya. Yang berubah bukan aktivitas membaca itu sendiri, melainkan kualitas perhatian yang menyertainya.

Masyarakat modern semakin terbiasa membaca secara cepat, meloncat dari satu informasi ke informasi lain, dan jarang bertahan lama pada satu gagasan. Akibatnya, kemampuan membaca mendalam (deep reading) perlahan terkikis. Padahal kemampuan inilah yang memungkinkan seseorang memahami argumen yang kompleks, melakukan refleksi kritis, dan menghasilkan kebijaksanaan. Jika kondisi ini terus berlangsung, masalah yang kita hadapi bukan sekadar berkurangnya jumlah pembaca buku, melainkan melemahnya kapasitas masyarakat untuk berpikir secara mendalam.

Dalam konteks ini, toko buku dan perpustakaan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat menjual atau meminjam buku. Keduanya merupakan ruang sosial yang mempertahankan kemungkinan bagi manusia untuk berhenti sejenak dari arus informasi yang tak berkesudahan. Ketika seseorang berjalan di antara rak-rak buku, ia tidak sedang mengikuti algoritma yang menentukan apa yang harus dilihat berikutnya. Ia sedang memilih secara sadar arah pengetahuannya sendiri.

Karena itu, mempertahankan toko buku dan menghidupkan perpustakaan bukan hanya soal menjaga industri penerbitan atau menyediakan fasilitas pendidikan. Ia merupakan bagian dari upaya mempertahankan otonomi manusia atas perhatiannya. Di tengah dunia yang terus berusaha membeli, menjual, dan mengarahkan perhatian kita, membaca buku menjadi tindakan kebudayaan sebagai upaya merebut kembali kendali atas pikiran kita sendiri.

Di tengah kebisingan digital, buku menawarkan sesuatu yang semakin langka: keheningan. Membaca buku berarti mengambil jarak dari notifikasi, iklan, dan distraksi yang terus berebut perhatian. Itu sebabnya, buku tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan fokus yang semakin mahal nilainya pada zaman sekarang.

Karena itu, persoalan rendahnya minat baca tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan atau kampanye sesaat. Yang perlu dibangun adalah ekosistem yang membuat membaca kembali menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sekolah harus memperkenalkan buku sebagai jendela pemikiran, bukan sekadar bahan ujian. Kampus perlu menghidupkan kembali budaya literasi yang tidak berhenti pada pengunduhan artikel.

Jika dahulu tantangan terbesar dunia pendidikan adalah menghadirkan buku kepada masyarakat, tantangan hari ini adalah menghadirkan kembali masyarakat kepada buku. Di tengah kelimpahan informasi, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan, melainkan kekurangan perhatian. Nasib toko buku dan perpustakaan senyatanya bukan sekadar soal bisnis atau teknologi. Keduanya merupakan cermin dari kemampuan sebuah bangsa untuk menyediakan ruang hening bagi warganya agar dapat membaca, berpikir, dan merenung secara mendalam. Bagaimanapun, kebijaksanaan tidak lahir dari derasnya informasi, melainkan dari kesediaan memberi waktu bagi pikiran untuk mengolahnya. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Next Post

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co