23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus# Benar Majapahit Islam?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Google

 

KEMARIN saya berkesempatan membaca-baca koleksi lontar Java Instituut (berdiri 1919), salah satunya Lontar Kutaramanawa, dan menjadi kembali teringat pertanyaan teman-teman saya yang tak sempat saya tanggapi, tentang “Apa benar kerajaan Majapahit adalah kerajaan Islam?” *

Kerajaan Majapahit tahun 1401 masehi rajanya menyembah Buddha, kitab hukumnya atau dasar konstitusinya bernama ‘Kutaramanawa’. Demikian disebutkan dalam salah satu lontar koleksi Java Instituut. **

Lontar sejenis saya juga temui beberapa tersimpan di rumah keturunan para cendikiawan di Bali, juga tersedia di perpustakaan/museum di Lombok, Yogyakarta, Jakarta dan Leiden.

Angka tahun 1401 yang tertulis dalam lontar Kutaramanawa ini, sebagai tahun berlakunya kitab undang-undang Kutaramanawa di Majapahit, sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Piagam Trawulan, berangka tahun 1358 masehi, bahwa konstitusi yang berlaku bernama Kutaramanawa.

‘Kutaramanawa’ adalah kitab undang-undang Hindu-Buddha yang babonnya dari pemikiran India Kuno yang secara umum disebut Manawa Dharma Sastra.

Kutaramanawa dan/atau Manawa Dharma Sastra menjadi acuan sebagian besar kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Di Bali abad 11-12, sebagaimana disebutkan dalam 2 prasasti Bali Kuno, menyebutkan kitab ini sebagai acuannya. Raja-raja Kediri dan Singosari, yang tiada lain didirikan oleh leluhur para brahmana dan bangsawan serta warga negara Majapahit, kitab sastranya menyebutkan Manawa Dharma Sastra sebagai acuan penyelenggaraan negera.

Museum NTB juga memiliki koleksi lontar Kutaramanawa yang tak lain peninggalan Kerajaan Cakranegara-Karangasem, sebuah kerajaan Hindu, yang berkuasa selama 200 tahun di Lombok sebelum kerajaan ini bubar karena pendudukan Belanda.

Dari mana muncul perdebatan baru yang mengatakan Majapahit sebagai kerajaan Islam? Konon satu keping uang emas bertulis Arab yang disimpan di Museum Nasional yang menjadi dasar perdebatan dan pembelaan kalau Majapahit adalah kerajaan Islam. Juga didukung oleh dongeng-dongeng atau kisah-kisah lisan lainnya.

Siapa saja yang ingin mengetahui agama apa yang berkuasa di sebuah kerajaan kuno, jalan terbaiknya adalah dengan membaca atau mencari tahu dasar konstitusinya. Konstitusilah yang menunjukkan secara terang benderang bagaimana dan nilai apa yang menjadi pedoman penyelenggaraan sebuah negara atau kerajaan. Bukan keping mata uangnya, bukan berdasar cerita lisan atau dongeng. Agama resmi kerajaan atau agama penguasa bisa dilihat dari acuan filosofis yang tercermin dalam undang-undang atau pijakan konstitusi yang dipakai.

Lagipula, selain lontar Kutaramanawa, ada ratusan lontar-lontar atau naskah-naskah peninggalan Majapahit yang masih terawat di berbagai museum dan perpustakaan, serta di keluarga-keluarga Bali yang sebagian besar leluhurnya dari Jawa (Kediri, Singosari dan Majapahit) dan naskah-nasakah ini bisa dibaca dengan terang benderang berisi mantra-mantra Śiwa dan Buddha, ajaran-ajaran filsafat-tatwa, etika-susila, upakara-upacara, pengobatan, pedoman bertani, berternak, memasak, perbintangan, dan seterusnya.

Kalau tidak bisa membaca huruf Jawa Kuno, Jawa, Bali, silahkan melihat dan mengamati langsung peninggalan arkeologi, candi dan reliefnya, semuanya bisa bercerita dengan terang benderang ajaran apa yang mendasarinya.

Di Jawa ada ribuan, mungkin ratusan ribu kepingan bukti-bukti arkeologis peninggalan Majapahit yang merupakan sambungan Singosari, Kediri, dan mitosnya kelanjutan dari Medang-Mataram Kuna, yang tak lain kerajaan dan masyarakat yang membangun candi-candi Buddha dan Śiwa, seperti Candi Śiwagraha (Prambanan) dan Borobudur, serta gugusan atau galaksi percandian di Jawa Tengah yang jumlahnya mencapai ratusan titik percandian besar yang sebagiannya belum direstorasi.

Kalau ada berpikul-pikul uang kepeng kuno China di Bali, dan dipakai sampai kini sebagai perlengkapan ritual, tidak berarti bahwa Bali adalah Kerajaan China. Demikian juga karena telah ditemukan berpikul-pikul koin bolong China dipakai di era Majapahit tidak menunjukkan bahwa Majapahit sebuah kerajaan beragama Konghucu atau beragama Tao.

Berlakunya uang berbagai bangsa di Majapahit menunjukkan kemajuan perdagangan antar bangsa telah terjadi ketika itu. Penduduk atau pedagang dari berbagai latar belakang bangsa dan agama juga telah menjadi bagian kehidupan sosio-kultural. Pedagang berlatar Arab, India, Tiongkok, Mongolia, dan penjelajah Eropa sudah mulai berinteraksi di beberapa kepulauan Nusantara dan Melaka ketika itu.

Majapahit telah masuk menjadi bagian penting dari pergaulan antar bangsa yang disegani di Asia Tenggara ketika itu. Para tokoh suci dari India tercatat diundang ke Majapahit, demikian juga para saudagar besar Gujarat, Arab dan Cina. Berlakunya berbagai mata uang di sebuah negeri menandakan keterbukaan berpikir dan kemampuan berinteraksi melampaui batas antar bangsa dari pemerintah dan warganya.

Keluarga saya sampai hari ini, kebetulan orang tua kami pemangku (pemimpin upakara Hindu Bali di pura/kuil), memakai ikatan/jalinan ratusan uang kepeng bolong berasal dari Tiongkok sebagai bagian dari ritual. Ini juga tidak menunjukkan bahwa kami penganut Konghucu atau Falun Gong atau Falun Dafa.

Kami bahkan tidak bisa baca tulisan kanji pada uang kepeng China tersebut. Nilai estetika, berbagai campuran unsur logam atau nilainya, atau kandungan unsur-unsur yang secara simbolis mewakili unsur bumi dan alam semesta lainnya yang kami butuhkan dalam ritual kami.

Silakan membuka-buka atau baca atau analisa konstitusi Majapahit jika ngebet ingin tahu tata pemerintahan dan gambaran kehidupan sosiologis di kerajaan Majapahit. Mohamad Yamin, berdasar buku-buku dan jurnal terbitan pakar-pakar efigrafi dan filologi Belanda telah meneliti konstitusi Majapahit dan menyebutkan kitab undang-undang Kutaramanawa yang berlaku sebagai dasar berkonstitusi di Majapahit terdiri dari 275 pasal, terbagi dalam 19 bab, pembagiannya sebagai berikut :

Bab – I : Ketentuan umum mengenai denda.
Bab – II : Delapan macam pembunuhan, disebut astadusta.
Bab – III : Perlakuan terhadap hamba, disebut kawula.
Bab – IV : Delapan macam pencurian, disebut astacorah.
Bab – V : Paksaan atau sahasa.
Bab – VI : Jual-beli atau adol-atuku.
Bab – VII : Gadai atau sanda.
Bab – VIII : Hutang-piutang atau ahutang-apihutang.
Bab – IX : Titipan.
Bab – X : Mahar atau tukon.
Bab – XI : Perkawinan atau kawarangan.
Bab – XII : Mesum atau paradara.
Bab – XIII : Warisan atau drewe kaliliran.
Bab – XIV : Caci-maki atau wakparusya.
Bab – XV : Menyakiti atau dandaparusya.
Bab – XVI : Kelalaian atau kagelehan.
Bab – XVII : Perkelahaian atau atukaran.
Bab – XVIII : Tanah atau bhumi.
Bab – XIX : Fitnah atau duwilatek.

Demikian detail dan jelasnya pedoman konstitusi Majapahit.

Pertanyaannya sekarang sekiranya bukan apa agama Majapahit. Konstitusinya demikian jelas, detail dan serius. Juga penegakannya sangat serius. Sebagai contoh: Karya sastra Kidung Sorandaka yang ditulis ketika itu menguraikan bahwa Lembu Sora dituntut hukum mati berdasarkan undang-undang yang berlaku, tak lain Kutaramanawa. Sekarang? Ada baiknya kita belajar dan bercermin dari leluhur demikian seriusnya para leluhur dalam bernegara dan berkonstitusi untuk menata kehidupan.

Dibandingkan mempertanyakan agama kerajaan masa silam, sekiranya ada baiknya mempertanyakan seberapa serius kita bernegara dan berkonstitusi hari ini? Apa kontribusi kita pada masyarakat dan negara hari ini?

Apa yang bisa dipelajari secara paratexts dari Lontar Kutaramanawa?

Piagam-prasasti-kakawin menyebutkan Kerajaan Majapahit menjadi besar dan kuat salah satunya karena konstitusinya sangat kuat mengayomi secara sangat detail dan tegas. Mereka berhasil berkonstitusi secara serius. Banyak sumber menyebutkan Majapahit pudar meredup karena persoalan dilema “beragama”.

Demikian juga sejarah dunia mengajarkan bahwa keseriusan berkonstitusi yang membuat sebuah negara sejahtera atau berjaya. Ketika sebuah negara besar ricuh dalam urusan “beragama” dan melupakan atau abai berkonstitusi secara serius dan tegas, negara-negara itu runtuh. Baik di Eropa, Timur Tengah, dan India, mengalami masa kegelapan dan peperangan karena ricuh dan gelap dalam “beragama” dan pada saat yang sama abai atau malah meninggalkan kehidupan “berkonstitusi”. (T)

Catatan Harian,  23 Januari 2018

Keterangan:

* Bung Yamin, Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan para pendiri bangsa  mengetahui dan mengakui bahwa Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha. Bung Karno  dan Bung Yamin adalah dua sosok penting yang mempopulerkan kejayaan Majapahit, dalam berbagai kesempatan (dalam buku, artikel dan pidato) mereka mendorong untuk menjadikan wilayah dan kejayaan Majapahit sebagai semacam “acuan penentuan wilayah” NKRI. Bung Yamin menulis buku ‘Gajah Mada’, dan beberapa jilid pembahasan pedoman konstitusi Kerajaan Majapahit.

** Karena lontar koleksi Java Instituut yang kini disimpan di Yogyakarta ada batasan menayangkan foto koleksinya saya salin cepat orat-oret halaman depan lontar Kutaramanawa. Java Instituut adalah Yayasan Kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok, dikenal sebagai Java Instituut. Memiliki koleksi patung kuno dan naskah-naskah kuno yang kini disimpan oleh Museum Negeri Senobudoyo, Yogyakarta. Java Instituut ini berdiri pada 4 Agustus 1919 di Surakarta. Pendirinya antara lain P.A.A.P. Prangwadono (Mangkunegoro VII), R. Dr. Hoesein Djajadiningrat, R. Sastrowijono, dan Dr. E.D.K. Bosch, sedangkan pengurus yayasan pertama kali diketuai oleh Dr. Hoesein Djajadjningrat, sedangkan Dr. F.D.K. Bosch bertindak sebagai sekretaris. Dalam perkembangan selanjutnya pengurus ini dilengkapi dengan pembantu ahli dalam berbagai bidang. Tokoh-tokoh seperti Ir. Th. Karsten, Dr. W.F. Stutterheim, S. Koperberg, P. Sisten, tercantum dalam personalia kepengurusan ini. Tujuan utama perkumpulan ini ialah mendorong perkembangan budaya Jawa, Madura, Sunda, dan Bali dalam arti yang seluas-luasnya. Java Instituut melakukan kajian Bali, Lombok, Jawa dan Madura, secara intensif. Kongres Java Instituut pernah berkongres di Bali dan melakukan safari keliling bersama rombongan peserta dan pengurus. Lembaga ini berjaringan dengan ahli-ahli budaya Bali di masanya, termasuk para pentolan lembaga ini bergesekan dan rekat berjaringan, diskusi dan kerjasama riset ilmiah para pentolan perintis perpustakaan lontar Gedong Kirtya dan Museum Bali.

Tags: agamahukumkonstitusiMajapahit
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Seni dan Kesehatan Jiwa – Dari Puisi Angga Wijaya hingga Karya Rupa di Rumah Berdaya

Next Post

Jokowi Vs Prabowo di Pilgub Bali dan Lain-lain Logika Aneh

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post

Jokowi Vs Prabowo di Pilgub Bali dan Lain-lain Logika Aneh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co