sore di gerbang tim.
jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,
angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.
aku duduk di bawah baliho usang iklan pertunjukan,
membiarkan rambut kusut dan deru aspal menamparku.
langit layu menatap anak-anak memacu sepeda,
mengubur masa kecilku yang terlanjur usai.
lalu wajahku gatal diraupi debu dan polusi,
sambil kukecek mata—jalanan gelar sirkus jakarta.
dua buku usai kulahap dengan kepala penuh,
sementara ingatan hadirkan pengamen ondel-ondel
yang berkeringat menjajal nasib tanpa wajah tradisi.
jam tiga lewat dua puluh lima menit di gerbang tim,
telingaku menangkap lengking toa di jarak 500 meter,
hiburan bising penawar lelah seninku yang bacin.
citra penyair.
biarpun engkau memukau di panggung, penyair,
kilaunya sekadar pinjaman dari rahasia kata-kata.
ragamu tetaplah tanah liat yang rapuh dan fana,
sembunyi di balik sajak yang mati-matian kau puja.
senyummu terekah memalsukan simpati penonton,
gaya jalangmu didesain untuk memanipulasi manusia.
lalu kau poles watak oportunismu dengan diksi kesatria,
berharap aspal kota tak lekas membelah—menelanmu.
karenamu, puisi yang berdarah tak lagi dipercaya,
puisi ditunggangi syahwat para pencari nama—
laiknya si miskin yang bangga pamer perhiasan bajakan.
maka timbalah segera air di sumur kemunafikanmu,
tataplah bayangan wajah puisimu di dasar ember:
ia membeku, perlahan dicemari lumut air berlendir.
wajah kegetiran.
telapak tanganku basah dan perlahan bergetar,
tepat saat bibirmu merekah senyum yang hampir waras.
tak ada layar romansa yang sanggup tergelar di sini,
sebab dadaku terlanjur penuh trauma yang terbakar.
engkau penuh luka dan pertanyaan pada kehidupan,
menjadikan hadirku suaka dari jerat kuasa makna—
pada tuhan-tuhan jantan yang gemar nindas betinanya.
di titik nadir ini, aku hancur lalu menyatu denganmu.
persetan dengan warna cinta atau janji kemanusiaan,
yang mereka khotbahkan di bawah pendar imitasi cahaya.
aku tergenapi adamu yang sama-sama menolak kalah.
maka kecuplah telapak tanganku yang gemetar dan basah,
biarkan darah dan sum-summu menyerap habis lelahku,
hingga wajah tuhan merupa kita yang lahir dari kegetiran.
pandang rabun kelas pekerja.
aku si gila, yang terus tertipu oleh derau waktu,
memikul memar dari rentetan siasat saudara-saudaraku.
di jakarta perlindungan tak nyata, hidup hanya baris catatan,
sedang cemas melayang-layang, memamah udara berdebu.
musim-musim telah lama kehilangan fitrahnya,
siang dan malam menyusut jadi tenggat yang meneror.
perjumpaan demi perjumpaan menetaskan telur bencana,
dan di kepalaku: angka, catatan dan dusta saling berperang.
aku si gila, yang dikutuk mencatat fakta-fakta,
bukan dengan mata elang, tapi pandang rabun kelas pekerja,
merekam setiap gejala kota yang pelan-pelan tak manusiawi.
tak ada tetesan dewa-dewi, yang ada hanya peluh amis
merembes keluar dari punggungku yang kian tipis—terkikis,
lalu kepada aspal jalan kuleburkan sisa-sisa kewarasan.
jalan yang dipilihkan kenyataan.
sajak pamfletmu pernah jadi saksi bagi penguasa takabur,
puluhan tahun menerjang kemelut hidup masyarakat.
namun dari busuknya sejarah di negerimu sendiri,
kesaksianmu kini nyaris gagal menetaskan pencerahan.
bahasa pemberontakan dari lidah api sajakmu dulu,
kini membakar tumpukan laporan penuh dusta.
sebab kesadaran bangsa ini sudah terlanjur macet
dihadang tebalnya aspal dan tembok birokrasi.
aku sempat memanggilmu dari sisa api sajakmu,
yang menyala liar dan mendidihkan akal sehatku.
tapi bara idealismemu mengabukanku pelan-pelan.
abu obsesi padamu menjauhkanku dari diriku sendiri,
lewat ilusi perlawanan dan sanjungan orang-orang.
kini, kutempuh jalan yang dipilihkan kenyataan.
resmi menjelma drama komedi.
putaran siang dan malam kian bergegas,
meringkas kalender menjadi rutinitas yang buram.
segala yang dijanjikan di depan kamera dan mimbar,
kini tak terbaca—tertutup kabut yang sengaja ditaburkan.
sengkarut nasib rakyat yang kian tertinggal,
sengaja dikaburkan dari berkas evaluasi kebijakan.
lalu nama yang maha gaib mendadak dicatut,
sekadar tameng demi menetralisir kebuntuan.
hari-hari kita resmi menjelma drama komedi.
obrolan serius berganti panggung stand-up,
dan rencana masa depan menguap di ruang seminar.
para cerdik cendikia pun tiba-tiba bermunculan,
di podium mereka lantang menyuarakan kesejahteraan,
sambil diam-diam merawat syahwat—ambisi kekuasaan.
Penulis: Selendang Sulaiman
Editor: Adnyana Ole






























