2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Radio Tua Kakek Panjul

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
in Dongeng
Radio Tua Kakek Panjul

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut tipis menggantung di atas sawah, dan embun menempel di ujung daun padi, berkilau saat matahari mulai mengintip.

Namun bagi Risa, pagi adalah suara.

“Krk… krk… tes… tes…”

Suara itu, setiap hari menjadi alarm baginya. Lalu, seperti biasa, ketika frekuensi tepat ditemukan, suara itu berubah menjadi alunan lagu pop Bali yang hangat dan penuh rasa. Suara penyanyi yang tak ia kenal namanya, tapi selalu berhasil membuat hatinya tenang.

“Bangun, Sa. Sudah pagi,” panggil Kakek Panjul dari ruang depan.

Radio tua itu sudah lebih dulu membangunkan dunia.

Radio itu terletak di atas meja kayu kecil. Warnanya cokelat pudar, dengan baret halus di sana-sini. Antenanya sering harus diputar-putar, dan kadang perlu ditepuk pelan agar kembali bersuara. Tapi setiap pagi, ia selalu setia memutar lagu-lagu pop Bali.

“Itu lagu kesukaan Nenekmu,” kata Kakek Panjul, saat lagu ‘Kembang di Hati’ milik Widi-Widiana diputar.

Radio itu adalah pemberian dari Nenek Sika, istri Kakek Panjul yang telah lama tutup usia. Sejak kepergiannya, radio itu menjadi lebih dari sekadar benda. Ia menjadi teman, pengingat, sekaligus pengisi sunyi Kakek Panjul.

Seperti biasa, setelah sarapan, Kakek Panjul membawa radio itu ke sawah. Lagu-lagu pop Bali mengalun di tengah hamparan hijau, menemani setiap langkahnya.

Kadang ia ikut bersenandung. Kadang hanya tersenyum kecil, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tak terlihat.

Hingga suatu pagi. Semuanya berubah.

“Krk… krk…”

Kakek Panjul memutar gelombang radio seperti biasa.

Tetapi tidak ada lagu.

Ia mencoba lagi, sedikit lebih keras.

“Krk… krk… krk…”

Hanya suara statis yang keluar. Kering, pecah, seperti suara yang kehilangan arah.

Kakek Panjul pun terdiam.

Tangannya masih bertahan di kenop radio. Ia memutar perlahan ke kiri. Lalu ke kanan. Berhenti. Lalu kembali lagi. Biasanya, di antara putaran itu, akan ada celah kecil tempat lagu menyelinap masuk.

Tapi kali ini tidak.

“Ah, mungkin belum pas,” gumamnya.

Ia berdiri, membawa radio itu mendekati jendela. Antenanya ditarik lebih panjang, diarahkan ke luar rumah.

“Di sini biasanya jernih…”

Tetap sunyi.

Ia mengetuk bagian samping radio. Pelan dulu, lalu sedikit lebih keras.

Tok. Tok. Tok.

“Hayolah…” bisiknya, hampir seperti membujuk.

“Krkkkk…………”

Risa yang melihat dari dekat mulai merasa ada yang tidak biasa.

“Kek, coba aku bantu?”

Ia ikut mencoba. Memutar, mengangkat, bahkan membalik radio itu sebentar. Tapi hasilnya sama. Tidak ada lagu. Hanya suara statis yang aneh.

Kakek Panjul perlahan duduk. Radio itu kini ia pegang dengan kedua tangan, seolah benda itu tiba-tiba menjadi sangat rapuh.

Jemarinya menyusuri permukaannya. Berhenti di sudut yang sedikit retak.

“Dulu, kamu paling keras kalau soal lagu,” gumamnya lirih.

Risa menatap wajah kakeknya. Ada kesedihan yang perlahan muncul.

“Rusak ya, Kek?” tanya Risa hati-hati.

Kakek Panjul menarik napas panjang. “Iya, sepertinya begitu…”

Hari itu, Kakek Panjul tetap pergi ke sawah. Tanpa radio. Dan untuk pertama kalinya, sawah terasa terlalu sepi.

Di rumah, Risa tidak tinggal diam. Ia membawa radio itu ke bengkel kecil di ujung Desa Muncuk Sari, milik Pak Selamet.

“Pak, ini bisa diperbaiki?” tanyanya.

Pak Selamet menerima radio itu dengan hati-hati. Ia membuka bagian belakangnya, memeriksa setiap bagian dengan teliti.

“Ini radio lama sekali. Banyak yang sudah aus,” katanya.

Percobaan pertama, ia mencoba mengganti kabel. Percobaan kedua, membersihkan komponen. Percobaan ketiga, menyolder ulang bagian yang retak. Namun, radio itu belum juga hidup.

“Masih belum mau diajak bicara,” kata Pak Selamet sambil tersenyum tipis.

Risa pun tak beranjak sebelum radio itu hidup kembali. Ia terus-terusan bertanya dengan harap yang sama.

“Ini penting sekali ya?” tanya Pak Selamet.

Risa mengangguk. “Kakek saya, tidak pernah lepas dari radio itu. Sejak nenek meninggal.”

Kalimatnya menggantung.

Pak Selamet terdiam. Kemudian ia berupaya sekuat tenaga memperbaiki radio itu. Berbagai hal dilakukannya, sampai hari menuju petang.

Risa yang sempat tertidur pun dibangunkan oleh Pak Selamet.

“Risa, ayo coba kita nyalakan, semoga berhasil,” katanya.

“Krk… krk…”

Lalu, lagu perlahan mulai terdengar. Risa langsung tersenyum lebar. “Hidup, Pak!”

Pak Selamet ikut tersenyum. “Tidak sempurna sih, tapi setidaknya dia masih mau bersuara.”

Risa mengeluarkan uang dari sakunya. “Berapa, Pak?”

Pak Selamet menggeleng pelan. “Tidak usah.”

Risa terkejut. “Tapi, Pak…”

“Sudah, anggap saja ini hadiah untuk kakekmu,” sahutnya.

Risa terdiam.

“Kadang, yang kita perbaiki bukan cuma barang. Tapi juga kenangan orang,” lanjut Pak Selamet.

Mata Risa mulai berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak.”

Risa pun pulang membawa radio itu.

“Sudah diperbaiki, Kek.”

Kakek Panjul menatapnya lama.

“Coba nyalakan Risa.”

“Krk… krk…”

Lalu lagu pop Bali kembali mengalun. Tidak terlalu jernih. Kadang terputus. Tapi cukup.

Kakek Panjul tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Risa duduk di sampingnya. Dan kini ia benar-benar mengerti. Radio itu bukan sekadar benda. Ia adalah cinta yang memilih untuk tetap hidup. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: dongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

Next Post

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails
Next Post
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co