PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut tipis menggantung di atas sawah, dan embun menempel di ujung daun padi, berkilau saat matahari mulai mengintip.
Namun bagi Risa, pagi adalah suara.
“Krk… krk… tes… tes…”
Suara itu, setiap hari menjadi alarm baginya. Lalu, seperti biasa, ketika frekuensi tepat ditemukan, suara itu berubah menjadi alunan lagu pop Bali yang hangat dan penuh rasa. Suara penyanyi yang tak ia kenal namanya, tapi selalu berhasil membuat hatinya tenang.
“Bangun, Sa. Sudah pagi,” panggil Kakek Panjul dari ruang depan.
Radio tua itu sudah lebih dulu membangunkan dunia.
Radio itu terletak di atas meja kayu kecil. Warnanya cokelat pudar, dengan baret halus di sana-sini. Antenanya sering harus diputar-putar, dan kadang perlu ditepuk pelan agar kembali bersuara. Tapi setiap pagi, ia selalu setia memutar lagu-lagu pop Bali.
“Itu lagu kesukaan Nenekmu,” kata Kakek Panjul, saat lagu ‘Kembang di Hati’ milik Widi-Widiana diputar.
Radio itu adalah pemberian dari Nenek Sika, istri Kakek Panjul yang telah lama tutup usia. Sejak kepergiannya, radio itu menjadi lebih dari sekadar benda. Ia menjadi teman, pengingat, sekaligus pengisi sunyi Kakek Panjul.
Seperti biasa, setelah sarapan, Kakek Panjul membawa radio itu ke sawah. Lagu-lagu pop Bali mengalun di tengah hamparan hijau, menemani setiap langkahnya.
Kadang ia ikut bersenandung. Kadang hanya tersenyum kecil, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tak terlihat.
Hingga suatu pagi. Semuanya berubah.
“Krk… krk…”
Kakek Panjul memutar gelombang radio seperti biasa.
Tetapi tidak ada lagu.
Ia mencoba lagi, sedikit lebih keras.
“Krk… krk… krk…”
Hanya suara statis yang keluar. Kering, pecah, seperti suara yang kehilangan arah.
Kakek Panjul pun terdiam.
Tangannya masih bertahan di kenop radio. Ia memutar perlahan ke kiri. Lalu ke kanan. Berhenti. Lalu kembali lagi. Biasanya, di antara putaran itu, akan ada celah kecil tempat lagu menyelinap masuk.
Tapi kali ini tidak.
“Ah, mungkin belum pas,” gumamnya.
Ia berdiri, membawa radio itu mendekati jendela. Antenanya ditarik lebih panjang, diarahkan ke luar rumah.
“Di sini biasanya jernih…”
Tetap sunyi.
Ia mengetuk bagian samping radio. Pelan dulu, lalu sedikit lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
“Hayolah…” bisiknya, hampir seperti membujuk.
“Krkkkk…………”
Risa yang melihat dari dekat mulai merasa ada yang tidak biasa.
“Kek, coba aku bantu?”
Ia ikut mencoba. Memutar, mengangkat, bahkan membalik radio itu sebentar. Tapi hasilnya sama. Tidak ada lagu. Hanya suara statis yang aneh.
Kakek Panjul perlahan duduk. Radio itu kini ia pegang dengan kedua tangan, seolah benda itu tiba-tiba menjadi sangat rapuh.
Jemarinya menyusuri permukaannya. Berhenti di sudut yang sedikit retak.
“Dulu, kamu paling keras kalau soal lagu,” gumamnya lirih.
Risa menatap wajah kakeknya. Ada kesedihan yang perlahan muncul.
“Rusak ya, Kek?” tanya Risa hati-hati.
Kakek Panjul menarik napas panjang. “Iya, sepertinya begitu…”
Hari itu, Kakek Panjul tetap pergi ke sawah. Tanpa radio. Dan untuk pertama kalinya, sawah terasa terlalu sepi.
Di rumah, Risa tidak tinggal diam. Ia membawa radio itu ke bengkel kecil di ujung Desa Muncuk Sari, milik Pak Selamet.
“Pak, ini bisa diperbaiki?” tanyanya.
Pak Selamet menerima radio itu dengan hati-hati. Ia membuka bagian belakangnya, memeriksa setiap bagian dengan teliti.
“Ini radio lama sekali. Banyak yang sudah aus,” katanya.
Percobaan pertama, ia mencoba mengganti kabel. Percobaan kedua, membersihkan komponen. Percobaan ketiga, menyolder ulang bagian yang retak. Namun, radio itu belum juga hidup.
“Masih belum mau diajak bicara,” kata Pak Selamet sambil tersenyum tipis.
Risa pun tak beranjak sebelum radio itu hidup kembali. Ia terus-terusan bertanya dengan harap yang sama.
“Ini penting sekali ya?” tanya Pak Selamet.
Risa mengangguk. “Kakek saya, tidak pernah lepas dari radio itu. Sejak nenek meninggal.”
Kalimatnya menggantung.
Pak Selamet terdiam. Kemudian ia berupaya sekuat tenaga memperbaiki radio itu. Berbagai hal dilakukannya, sampai hari menuju petang.
Risa yang sempat tertidur pun dibangunkan oleh Pak Selamet.
“Risa, ayo coba kita nyalakan, semoga berhasil,” katanya.
“Krk… krk…”
Lalu, lagu perlahan mulai terdengar. Risa langsung tersenyum lebar. “Hidup, Pak!”
Pak Selamet ikut tersenyum. “Tidak sempurna sih, tapi setidaknya dia masih mau bersuara.”
Risa mengeluarkan uang dari sakunya. “Berapa, Pak?”
Pak Selamet menggeleng pelan. “Tidak usah.”
Risa terkejut. “Tapi, Pak…”
“Sudah, anggap saja ini hadiah untuk kakekmu,” sahutnya.
Risa terdiam.
“Kadang, yang kita perbaiki bukan cuma barang. Tapi juga kenangan orang,” lanjut Pak Selamet.
Mata Risa mulai berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak.”
Risa pun pulang membawa radio itu.
“Sudah diperbaiki, Kek.”
Kakek Panjul menatapnya lama.
“Coba nyalakan Risa.”
“Krk… krk…”
Lalu lagu pop Bali kembali mengalun. Tidak terlalu jernih. Kadang terputus. Tapi cukup.
Kakek Panjul tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Risa duduk di sampingnya. Dan kini ia benar-benar mengerti. Radio itu bukan sekadar benda. Ia adalah cinta yang memilih untuk tetap hidup. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole




























