CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium puja. Beberapa kakawin menyebutkan istilah ‘candya nireng bhasa’, ‘candya nireng palambang’ yang berarti menstanakannya dalam kakawin’. Sastra layaknya sebuah candi yang dikonstruksi oleh aksara dan bahasa. Melalui karya sastra, seorang penyair memuja sang dewata pujaan dan berharap dapat mencapai kebahagiaan abadi bahkan menyatu dengan sang dewata. Sehingga karya sastra Jawa Kuno khususnya kakawin selain sebagai media seni, juga merupakan media religius bagi penyair.
Monumen puja juga merujuk pada candi dalam bentuk bangunan fisik. Ia disusun dengan bebatuan dirangkai dengan teknik arsitektur. Setelah candi terbangun pada akhirnya akan difungsikan sebagai tempat pemujaan sang dewata junjungan. Candi oleh masyarakat Jawa Kuno juga merupakan yantra (piranti puja) yang amat penting. Sebab candi akan digunakan sebagai lingga stana sang dewata dan melalui candi para baktanya akan memujanya.
Ida Sri Pandita Buddha Raksita berasal dari Grya Taman Kencana, Beratan, Buleleng. Catatan kecil ini merupakan penjelajahan awal, setelah saya melaksanakan penelitian skripsi. Tentu, jejak spiritualitas beliau masih sangat luas. Sehingga membuka peluang untuk dijelajahi lebih dalam.
Akirti Sastra: Karya Sastra Ida Sri Pandita Buddha Raksitha
Ida Sri Pandita Buddha Raksita, seorang bakta Buddha, yang mewujudkan bakti tidak hanya melalui puja dan mantra semata. Ia juga pemuja Saraswati, sehingga pengetahuannya diabadikan melalui wija-wija aksara. Sebagai seorang kawi-wiku (penyair sekaligus pendeta) setidaknya mengarang tiga karya sastra yang baru saya temukan. Karya sastra tersebut berupa satu kakawin berjudul Kakawin Siddharthayana, dan dua geguritan berjudul Gaguritan Galang Sasih dan Gaguritan Grhasta Winaya.
Kakawin Siddharthayana menceritakan perjalanan panjang dari pangeran Siddhartha hingga menjadi Buddha[i]. Sedangkan Gaguritan Galang Sasih pada bagian awal berisi pemujaan kepada Bhatara Buddha yang mencapai kesempurnaan spiritual tepat setiap Purnama Waisaka. Kemudian dilanjutkan dengan dialog antara seorang ayah dan anak yang membahas mengenai hakikat kehidupan. Sedangkan Gaguritan Grhasta Winaya menjelaskan mengenai beberapa kewajiban manusia ketika sebagai anak, ayah, suami, istri, dan teman.
Ketiga karya sastra tersebut ditemukan dalam bentuk yang berbeda. Kakawin Siddharthayana ditemukan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali dalam bentuk manuskrip. Sedangkan dua geguritan lainnya dalam bentuk ketikan di salah satu website salah satu vihara di Buleleng.
Buddha Yantra: Stana Sang Buddha
Selain mengarang karya sastra bertema Buddhisme, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha juga membangun candi di wilayah Danau Beratan, Tabanan. Candi tersebut bernama Candi Buddhalaya[ii]. Melalui koleksi kliping dari sang anak, Bapak Agung Sapande, penulis mendapatkan informasi penting mengenai candi ini. ‘Buddhalaya’ berarti Sorga Buddha, berada pada areal taman bunga suasana di candi ini memang layak disebut sebagai sorga.
Berdasarkan kliping tersebut candi ini dibangun pada tahun 1964 atas prakarsa dari Ida Sri Pandita Buddha Raksitha. Candi ini berada di utara menghadap keselatan. Struktur candi ini terdiri dari tiga tingkat dan berbentuk persegi delapan. Pada tingkat pertama terdapat 5 anak tangga untuk mengakses struktur tingkat kedua, di sisi kiri dan kanannya dilengkapi dua patung gajah. Pada tingkat kedua terdapat arca Buddha pada sisi depan, belakang, kiri, dan kanan. Sedangkan pada tingkat ketiga terdapat arca Buddha pada bagian depan dan belakang. Serta memiliki atap bertumpuk lima dan satu atap dengan bentuk agak menjulang dan memiliki delapan sisi. Candi ini belum tersentuh oleh penelitian ilmiah, sehingga dimensinya tidak dapat diketahui..
Menuntun dan Membangun
Menurut informasi yang saya baca melalui kliping yang dimuat oleh media “Vimutti”, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha merupakan seorang penganut Buddhis Theravada. Uniknya walaupun beliau seorang bante buddhis, masyarakat Desa Beratan menganggap beliau sebagai sulinggih. Sehingga ketika berada di kampung halaman sapaan akrab beliau adalah ‘Sri Empu’ panggilan untuk sulinggih dari golongan Pande di Bali.
Sebagai seorang yang telah menjadi bantesekaligus sulinggih, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha menjalankan swadharmanya dengan tulus. Penelitian dari I Gde Pitana menjelaskan, walaupun Ida Sri Pandita Buddha Raksitha diketahui menganut Buddhisme, masyarakat Hindu di Bali tidak mempermasalahkannya. Ketika diminta untuk melaksanakan puja oleh umat Hindu, Sri Pandita tidak menggunakan piranti seperti sulinggih pada umumnya. Beliau hanya menggunakan piranti yang disiapkan, apapun akan diterimanya. Ketulusannya memberikan sinar yang berbeda, terang namun menghangatkan. Sehingga beberapa calon sulinggih memilihnya menjadi seorang nabe (guru bagi calon sulinggih).
Beberapa murid beliau adalah Ida Sri Mpu Dharma Dasi (Tamanbali, Bangli), Ida Sri Mpu Karuna Putra (Budeng, Jembrana), Ida Sri Mpu Upaksa Priya (Tusan, Klungkung), dan Ida Sri Mpu Mudita Baja (Budaga, Klungkung/Donggala)[iii].
Semangat beliau terus berlanjut dalam mengembangkan Buddhisme di Bali, khususnya di daerah Bali Utara. Melalui tangan dinginnya, beberapa Vihara berhasil dibangun. Salah satunya adalah Vihara Giri Manggala yang terletak di Desa Alasangker, Buleleng. Atas segala jasa dalam mengabdi dan mengembangkan Buddha di Bali, pada tahun 2008 Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) menghaturkan penghargaan “Upadhika Dharmmarakkhita Utama” kepada Ida Sri Pandita Buddha Raksitha.
Jejak spiritualitas beliau yang teralirkan melalui sungi sastra mengindikasikan bahwa Ida Sri Pandita Buddha Raksitha tidak memandang status pemuka agama hanya untuk memimpin upacara semata. Nyatanya jalan yoga dipilih sama seperti beberapa kawi-wiku pendahulunya yakni Ida Pedanda Ngurah, Ida Pedanda Made Sidemen, dan Ida Pedanda Panida Wanasara yang melakukan yoga melalui sastra. Dengan meminjam istilah dari Agastia, yoga sastra sangat memungkinkan seorang kawi-wiku mencapai tingkat kenirmalaan yang sempurna. Sebab tidak mungkin seseorang dapat mengarang suatu karya sastra seperti kakawin, tanpa memiliki sumber bacaan yang tidak saja banyak secara kuantitas namun juga berkualitas tinggi. Walaupun beliau lahir dari rahim Buddhisme Theravada, kebudayaan Nusantara yang adi luhung tetap dipelajari bahkan dikusai dengan baik. Mengarang kakawin termasuk geguritan, menuntut pemahaman yang baik terhadap perihal aksara Bali dan bahasa Bali, bahasa Jawa Kuno, serta pengetahuan tattwa (filsafat). Ida Sri Pandita Buddha Raksitha telah memberikan gambaran sinkritisme Siwa-Buddha yang menubuh pada dirinya. Menjadi seorang bante sekaligus sri empu bukanlah hal yang mudah. Namun dengan segala bukti yang ditinggalkannya, maka kita yakin beliau adalah kawi-wiku yang berkualitas. [T]
[i] Wangsa, I Gusti Putu Weda Adi. (2026). Transformasi Spiritual Siddhartha dalam Kakawin Siddharthayana: Analisis Semiotik: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana
[ii] Majalah Vimutti koleksi Bapak Agung Sapande
[iii] Pitana, I Gde. (1997). Origin Groups, Status and Identity in Contemporary Bali: Doctor of Philosophy, Australian National University





























