26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini sedang berhadapan dengan masalah lingkungan yang serius, tidak berhenti pada sistem tata kelola sampah yang semrawut, fenomena alih fungsi lahan yang semakin brutal juga benar-benar menjadi ancaman ekologis bagi pulau yang masih menyandang sebutan the last paradise in the world. Pertanyaannya, apakah sebutan tersebut masih layak disandang oleh Bali?

Mangrove dan Politik

Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali yang dipimpin I Made Supartha kembali menjadi sorotan atas aksi inspeksi mendadak (sidak) di lahan yang dikelola oleh Bali Turtle Island Development (BTID). Aksi sidak tersebut oleh dugaan pembabatan ekosistem mangrove di Pulau Serangan yang secara hukum menjadi indikasi pelanggaran terhadap Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

Aksi dari kamar kekuasaan legislatif tersebut adalah angin segar bagi publik Bali. Aksi tersebut memperlihatkan keberanian wakil rakyat terhadap korporasi yang tanpa rasa bersalah merusak lingkungan dengan pertimbangan keuntungan saja. Di sana Pansus TRAP juga telah berhasil merepresentasikan kekuasaan rakyat Bali atas tanah kelahirannya. Belakangan, DPRD Bali pun banjir pujian dan dukungan moral dari warganet dan hal tersebut juga diekspresikan lewat ratusan mawar putih dari warga Serangan dan Jimbaran.

Dalam kacamata politik lingkungan, langkah-langkah berani dari Pansus TRAP DPRD Bali dapat dibaca sebagai politik performatif. Sebagai “penguasa parlemen”, PDI-Perjuangan menyadari bahwa keberanian untuk menertibkan tata ruang yang kian serampangan penting dilakukan di tengah carut marutnya isu pengelolaan sampah. Upaya tersebut juga dapat dibaca sebagai langkah strategis mendukung narasi besar yang dibawa Koster sebagai Gubernur Bali sekaligus Ketua DPD PDI-Perjuangan, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Tetapi pertanyaan kritis harus dilayangkan kepada Pansus TRAP, apakah langkah ini benar-benar upaya serius menegakkan tata ruang, atau hanya sekadar manuver demi menaikkan nilai tawar di meja negosiasi—baik ditujukan kepada korporasi atau kepada rakyat Bali?

Serangan Balik

Sayangnya, Pansus TRAP tidak boleh berpuas diri. Pihak BTID dalam keterangannya menyebut bahwa pihaknya tidak akan diam dengan aksi penyegelan tersebut. Pihaknya menyebut bahwa mereka telah mengantongi izin untuk mengelola kawasan tersebut—termasuk memadatkan ekosistem mangrove. Padahal, jika merujuk pada PP 27/2025, perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove tidak hanya sekadar dilakukan di kawasan hutan, tetapi juga dilakukan di luar hutan. Artinya, ekosistem mangrove yang berada di kawasan BTID juga harus dilindungi dan dikelola demi kepentingan bersama.

Di samping soal klaim izin yang telah dikantongi, pertimbangan pihak BTID untuk mengambil langkah hukum, termasuk pelaporan ke direksi pusat (baca: potensi intervensi pusat) menjadi tantangan tersendiri upaya menjaga ekologis Bali yang sudah berada di titik nadir. Dan yang penting untuk digarisbawahi dari pernyataan pihak BTID adalah memandang aksi ini dapat mengganggu iklim investasi di Bali dan berpotensi menyurutkan niatan investor untuk menanamkan modalnya di Bali—dan ke depannya berpotensi berimplikasi pada peluang kerja.

Harus diakui, respon semacam ini adalah senjata klasik korporasi. Langkah ini diambil oleh korporasi memiliki tujuan untuk menciptakan efek gentar (chilling effect) bagi para pengambilan kebijakan. Memberikan label kritik lingkungan sebagai ancaman bagi suburnya pertumbuhan investasi, jelas dapat dibaca sebagai upaya korporasi untuk “mendisiplinkan” negara. Langkah BTID untuk melaporkan persoalan ini ke jajaran direksi juga dapat dibaca sebagai upaya menarik konflik dari ranah lokal ke ranah nasional yang biasanya lebih permisif terhadap investasi demi mengejar target pertumbuhan ekonomi di level makro.

Senjakala Ekologis di Tanah Dewata

Pembabatan ekosistem mangrove atas nama keuntungan korporasi jelas-jelas upaya memunggungi nilai-nilai Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan). Hilangnya ekosistem mangrove yang memiliki fungsi penahan abrasi dan penyerap karbon hilang, secara tidak langsung adalah pernyataan tegas bahwa risiko bencana tidak hanya ditanggung oleh korporasi, tetapi juga oleh publik. Dan di sinilah letak ketidakadilan lingkungan yang begitu nyata di depan mata.

Masyarakat Bali sebagian besarnya adalah masyarakat adat yang memiliki tanggung jawab atas berlangsungnya berbagai ritual dengan segala kelengkapannya (dharma agama). Di samping itu, secara administratif mereka juga harus patuh, salah satunya soal kewajiban membayar pajak (dharma negara). Secara sosiokultural, masyarakat Bali memiliki tanggung jawab komunal melalui berbagai ritual agama, adat, dan ngayah yang menguras energi serta materi demi menjaga keharmonisan alam sesuai dengan nilai-nilai filosofis Tri Hita Karana. Dan menjadi sebuah ironi bagi masyarakat Bali dengan berbagai upaya yang dilakukan, harus turut menerima risiko ekologis akibat pembangunan infrastruktur pariwisata yang abai terhadap daya dukung lingkungan.

Kembali lagi pada konteks di awal, apabila ketegangan antara DPRD Bali dan BTID berakhir dengan kompromi pragmatis di balik meja negosiasi, maka masyarakat Bali semakin dekat pada fase “Senjakala Ekologis”. Dan menjadi penting bagi seluruh pemimpin di Bali untuk kembali membuka manuskrip-manuskrip lokal—mengingat begitu banyak manuskrip yang bicara mengenai lingkungan. Atau mungkin, para pemimpin di Bali harus mendengarkan lagu “Kembali ke Akar” yang diciptakan sekaligus dipopulerkan oleh Navicula, kurang lebih begini liriknya, “Nasihat orang tua, leluhur, moyang kita // Coba pikir dan rasa maksud dari semuanya // siapa diri kita, oh, jangan sampai lupa // Apa yang kita punya, itulah yang kita jaga // kembali ke akar”.

Bali tidak bisa bertumbuh apabila tercerabut dari akarnya. Jika narasi seperti, investasi, pertumbuhan ekonomi, peluang kerja masih terus digunakan untuk memutihkan pelanggaran ekologis, maka dapat dipastikan masyarakat Bali akan terperangkap di dalam kepatuhan yang tragis—menjaga harmoni alam lewat berbagai ritus, membayar pajak yang kian hari kian mencekik, juga harus menanggung beban ekologis akibat kerakusan pemimpin yang tidak pernah ada ujungnya. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliekologilingkunganPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

Next Post

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co