PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada ekosistem dunia usaha, terutama pengaruh pada upaya-upaya pemberdayaan perempuan di Bali Utara.
Untuk itulah, ketika I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri terpilih menjadi Ketua Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusahan Muda Indonesia (BPC HIPMI) Buleleng, banyak orang menaruh harapan besar terhadap sehatnya perkembangan dunia usaha sekaligus juga harapan pada makin berdayanya perempuan Buleleng di segala lini kehidupan.
“Sebagai pengusaha, kita harus memberikan dampak positif, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi karyawan dan masyarakat luas. Dari sana lahir kepedulian sosial hingga kontribusi nyata melalui berbagai program,” kata I Gusti Agung Ratih Krisnandari setelah ia terpilih menjadi Ketua BPC HIPMI Buleleng dalam acara Musyawarah Cabang (Muscab) ke-XII BPC HIPMI Kabupaten Buleleng di The Grand Villandra Hotel and Resort, Sabtu, 28 Maret 2026.
Kata-kata yang diembuskan Dokter Igar — nama populer I Gusti Agung Ratih Krisnandari –terasa menyejukkan justru karena ia tak melulu bicara soal dampak ekonomi, melainkan bicara juga soal kepedulian sosial, sesuatu yang belakangan memang harus diperhatikan secara lebih serius.

Jadi, tidak salah Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra memuji HIPMI sebagai organisasi pengusaha muda, kini memiliki upaya besar untuk membangkitkan jiwa-jiwa inovasi dan kreativitas. Dan, tak salah juga, Bupati berharap sinergi HIPMI dan pemerintah harus terus diperkuat agar mampu membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Komitmen pemerintah dalam mendukung pengusaha muda, khususnya melalui pelatihan, pendampingan, hingga fasilitasi perizinan. Kolaborasi lintas perangkat daerah juga akan diperkuat guna menjawab berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha, terutama di sektor UMKM,” kata Bupati Sutjidra.
***
Jika tak kenal dengan baik Dokter Igar, barangkali ia bisa disalahpahami sebagai sosok yang aneh. Ia sesungguhnya seorang dokter, namun jiwa kewirausahaan yang tertanam kuat dalam dirinya membuat ia punya perhitungan lain untuk meretas jalan hidup menuju masa depan yang lebih menjanjikan. Tak semua orang, tentu saja, mampu menyusun “perhitungan hidup” seperti yang dilakukan Dokter Igar.
Sehingga, kata yang cocok untuk sosok seperti itu adalah unik. Ia unik, karena tak banyak orang bisa melakukannya. Tepatnya, ia sosok tiada dua. Dalam dirinya seakan terkumpul beragam benih keinginan, dan ia menumbuhkan semua keinginan itu secara perlahan, tanpa ambisi berlebihan, dan tentu saja dengan penuh dedikasi.

Nama lengkapnya I Gusti Agung Ratih Krisnandari. Karena ia dokter, ia disapa dengan sapaan awal Dok atau Dokter. Igar adalah singkatan dari I Gusti Agung Ratih. Jadi, ia dipanggil Dokter Igar. Dan, sejak awal, nama itu sudah mengandung hal unik yang membuat orang mengerutkan kening. Apalagi, ia kemudian menjadi Ketua HIPMI, organisasi yang diisi pengusaha. Bukan memimpin organisasi dokter semisal Ikatan Dokter Indonesia atau IDI.
Kenapa Dokter Igar sepertinya lebih dikenal sebagai pengusaha, padahal ada embel-embel dokter di depan namanya?
“Ceritanya cukup panjang,” kata Dokter Igar. Dan, ia kemudian bercerita tentang keluarga, cita-cita, karir, dunia medis, dunia usaha, dunia pendidikan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Dokter Igar lahir dari keluarga pendidik. Ayahnya dosen di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja dan kini jadi guru besar. Ibunya guru SMA. Ia bersama dua adik yang semuanya perempuan sejak awal sudah mendapat pendidikan yang baik. Karena itulah, setamat SMAN 1 Singaraja, tahun 2011, ia dengan mudah bisa masuk fakultas kedokteran di Universitas Diponogoro (Undip) Semarang.
Setamat kuliah, tahun 2017, ia sempat menjadi dokter di Rumah Sakit Karya Dharma Husada, lalu di sebuah klinik kecantikan. Namun, mulai tahun 2017 pula ia membangun lembaga usaha di bidang properti. Namanya, Krisna Agung Property. Ia bertindak sebagai owner sekaligus direktur. Jadi, pada masa-masa itu, selain bekerja sebagai dokter, ia juga sedang giat-giatnya membangun usaha.
“Bahkan, sebenarnya usaha itu saya sudah rintis sejak masa-masa kuliah,” kata Dokter Igar.
***
Bekerja sebagai dokter sekaligus mengelola usaha pembangunan perumahan sepertinya bukan kombinasi yang tak mudah dijalani. Beberapa saat ia harus berhadapan dengan orang yang membutuhkan kesehatan, beberapa saat kemudian ia berhadapan dengan orang yang membutuhkan rumah. Paginya memegang dokumen medis, sorenya bisa saja ia memegang dokumen sertifikat tanah dan rumah.
Dokter Igar menjalani dua pekerjaan itu selama sekitar 3 tahun, sampai akhirnya ia memutuskan untuk konsentrasi pada usaha yang dirintisnya. Pada tahun-tahun itu, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan dokter spesialis, justru ia menempuh pendidikan lanjutan di Institut Teknik Bandung untuk belajar tentang dunia property.
Hari-harinya kemudian lebih banyak disibukkan dengan dunia usaha ketimbang dunia medis. Setelah mendirikan lembaga usaha di bidang properti, ia mendirikan lembaga pendidikan, Dunia Prestasi, yang bergerak di bidang bimbingan belajar dengan biaya pendidikan yang bisa dijangkau kalangan luas.

Pekerjaan di dunia medis, di dunia properti, dan dunia pendidikan, dilakoni Dokter Igar dengan serius. Dunia kedokteran pun tidak sepenuhnya ditinggalkan, Pada tahun 2025 ia memutuskan untuk membuka praktek dokter umum sehingga ia tetap bisa membantu orang untuk mendapatkan kesehatan.
“Semua usaha yang saya kerjakan pada prinsipnya adalah membantu orang. Menjadi dokter membantu orang untuk mendapatkan kesehatan, di dunia properti membantu orang untuk bisa memiliki rumah dengan layak, dan pada usaha bimbingan belajar saya ingin membantu orang untuk bisa mendapatkan pendidikan dengan biaya terjangkau,” kata Dokter Igar.
Dalam dunia usaha yang dijalankan Dokter Igar, kuncinya adalah kepedulian sosial, bukan melulu soal materi dan keuntungan.
“Saya ingin menjadi manusia berdampak, memberi manfaat pada orang, saat menjadi dokter atau saat menjadi pengusaha,” kata Dokter Igar.
Jadi, bagi Dokter Igar, tidak ada profesi yang lebih mulia dari yang lainnya. Semuanya mulia, asal dijalankan dengan dasar moral untuk membantu manusia lainnya. Menjadi dokter punya manfaat kemanusiaan, pun menjadi pengusaha. “Keduanya bisa memberi kepuasan pada diri saya karena bisa membantu orang lain,” ujar Dokter Igar
Menjadi dokter, barangkali kepuasannya berbeda dengan menjadi pengusaha. Seorang dokter tak pernah mengejar pasien, namun ia membantu siapa pun pasien yang datang kepadanya, Menjadi pengusaha punya tantangan yang berbeda. Pengusaha punya strategi marketing untuk mencari pelanggan. Dalam dunia properti misalnya, pengusaha mencari orang untuk dibantu agar bisa memiliki rumah yang layak dan sesuai keinginan. Menunggu dan mencari, bagi Dokter Igar, punya tantangan dan kepuasan yang berbeda.
“Menjadi pengusaha bukan mencari materi saja, tapi bisa berdampak dan bermanfaat bagi orang yang membutuhkan,” kata Dokter Igar.
***
Dokter Igar barangkali bisa disebut sebagai perempuan pengusaha yang bisa diteladani bagi perempuan lain, terutama yang punya minat dalam dunia usaha. Keperempuan Dokter Igar bekerja dengan baik dalam dirinya: lembut, ramah dan suka bergaul, namun keras kepala dalam mewujudkan keinginan diri sendiri.

Dalam hal ini, Dokter Igar menyatakan diri bersyukur punya orang tua yang telah mendidiknya menjadi perempuan yang berani belajar, berani setara, berani memperjuangkan cita-cita.
“Orang tua tak pernah membatasi diri saya. Kami tiga bersaudara, perempuan semua, dididik sebagai pribadi yang sama seperti laki-laki. Tak membedakan gender. Bisa bicara dengan siapa saja bahwa saya profesional, saya perempuan,” kata Dokter Igar.
Ngomong-ngomong usaha apa yang pernah ia ingin bangun, namun kini belum kesampaian?
“Selain usaha properti, saya sebenarnya sudah membangun usaha peternakan babi, minimarket, dan kini sedang merintis pembangunan apotek,” sahut Dokter Igar. Wah. [T]





























