apakah kita sudah sampai/belum/perjalanan masih akan lama sekali/apakah kita sudah sampai/usahakanlah/aku tahu kita belum sampai/kita tak pernah sampai/tak akan pernah sampai/aku tak ingin sampai// –Kita tak Pernah Sampai/Kadek Sonia Piscayanti
Tahun ini 2026 Mahima sudah berusia 18 tahun. Kiranya apa yang sudah dan pernah lahir di Mahima, masih akan terus terjaga di kenangan siapapun yang pernah ada di dalamnya. Mahima adalah sebuah gagasan tentang dunia yang kerap sunyi, yang digemakan melalui berbagai percakapan dan wacana setelahnya.
Sebagai sebuah bagian dari kota, Mahima tak hanya menjadi sebuah kata namun perjalanan bagi beberapa ratus manusia, dan bahkan ribuan, yang di dalamnya ada cerita tiada habisnya soal bagaimana sebuah perjuangan ditegakkan, dijalankan, ditiupkan nyalanya.
Didirikan dalam konteks sunyinya kota Singaraja dibandingkan kota literasi lainnya di Indonesia, Mahima berawal di tahun 2008 dari beberapa mahasiswa yang ingin belajar menulis, baik puisi, cerpen, esai, dan apapun. Dengan keterbatasan saya dan suami yang kami berdua baru menikah di tahun 2007, kami mendirikan Mahima dengan sederhana.
Sebagai rumah jiwa kami, Mahima bertumbuh dengan segala pasang surutnya. Berbagai isu kami hadapi, dari isu finansial hingga isu regenerasi, kami hadapi dan lalui. Semua isu membuat kami sadar bahwa memelihara manusia adalah memelihara kerentanan abadi. Manusia itu rapuh, manusia itu fana, manusia itu luar biasa. Mahima menjadi pemelihara dan perantara di antara semua kerentanan itu. Mahima juga adalah lembaga yang terus belajar dari semua kesementaraan dan kerapuhan manusia. Sekaligus menjadi penjaga yang tabah bagi siapapun yang pulang dan pergi dan kembali.
Namun apa yang dimiliki Mahima saat ini selain kenangan-kenangan personal setiap manusia yang hadir, adalah produk-produk kebudayaan yang makin kompleks dan beragam.
Periode Mahima bisa dibagi dalam 4 periode. Periode pertama, tahun 2008-2010 adalah periode persemaian benih Mahima yaitu Mahima memperkenalkan sastra sebagai sebuah alternatif komunitas di Singaraja. Periode ini kami banyak merangkul pelajar dan mahasiswa sebagai anggota Mahima.
Periode kedua, 2011-2017, kami melahirkan banyak sekali karya pertunjukan, album musikalisasi puisi, dan buku-buku terbitan Mahima. Tahun 2012 penerbitan Mahima lahir. Masa ini adalah masa panen karya Mahima. Dalam berbagai konteks; teater, musik, buku, film pendek. Kami menghasilkan buku puisi, cerpen, novel, esai, drama, buku ajar, hasil penelitian, dongeng, sejarah, musik, hingga rupa. Seluruhnya masih bisa diakses hingga saat ini. Kami juga mulai mengembangkan jurnalisme digital Tatkala.co yang turut menjaga dan memelihara kreativitas Mahima menembus ruang dan waktu. Dalam waktu singkat pula Tatkala meraih banyak penulis senior maupun pemula yang turut membangun Mahima.
Periode ketiga, 2018-2022, ini masa dewasa Mahima. Ada project-project yang lebih eksploratif dan naratif, seperti teater 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah yang menjadikan Mahima lebih dikenal sebagai lembaga yang konsisten memelihara narasi manusia dan kerentanannya yang personal. Kami juga berhasil melalui pandemi dengan tetap menyelenggarakan kegiatan daring, menyelenggarakan workshop digital dan mengembangkan kembali seluruh potensi digital seperti podcast dan youtube.
Periode keempat, 2023-2026 adalah fase pengembangan, fase global. Mahima mendirikan Singaraja Literary Festival. Sebuah festival yang menjadikan Mahima dikenal kembali sebagai sumber penciptaan karya sastra alih wahana dari manuskrip lokal.
Platform SLF menjadi sebuah penanda kelahiran kembali kekuatan dasar Singaraja sebagai kota sastra. Dengan potensi SLF yang menyuarakan identitas lokal sebagai dasar pendidikan dan penelitian Bahasa dan Seni, ia masuk sebagai salah satu festival sastra yang diundang sebagai peserta konsorsium festival sastra nasional.
Pertanyaan berikutnya apakah Mahima sudah sampai?
Tahun 2026 ini memang menjadi fase penentu Mahima. Kami mengembangkan toko buku independent, Anima, yang menjadi etalase karya yang kami hasilkan sejak 2008.
Kami juga akan meluncurkan Perpustakaan Mahima, yang telah lama menjadi ruh dalam Mahima. Jika dulu perpustakaan ini hanya dinikmati oleh keluarga Mahima, kini kami buka perpustakaan untuk umum, sebagai pertukaran gagasan bagi yang datang dan ingin belajar.
Apakah Mahima sudah sampai? Rasanya masih belum dan akan terus tercipta tujuan baru. Kami upayakan bersama-sama pendukung setianya, pembacanya, dan penikmatnya, kami tiupkan nafasnya agar panjang usia, senantiasa bergeliat. Bernafas sehidup-hidupnya, sebisa-bisanya.
Dalam semua kerentanan yang luar biasa ini, sastra hadir dalam Mahima, menjaga, memelihara manusia dengan sederhana.
Singaraja, 25 Maret 2026
- Tulisan ini dibacakan sebagai pidato kebudayaan pada acara Mahima March Match March 2026 sebagai bentuk perayaan 18 tahun Komunitas Mahima





























