LEBARAN tahun ini saya tidak ikut larut seperti masyarakat lain mengunjungi objek wisata. Tidak juga berdesak-desakan menghabiskan uang di pusat perbelanjaan. Hari fitri tahun ini saya bersama istri, anak, menantu, dan cucu-cucu berkunjung dan berkumpul di keluarga besar almarhum mertua di Cilacap, Jawa Tengah.
Mertua laki-laki dan perempuan saya, Bapak Isman dan Ibu Djasiah sudah meninggal beberapa tahun silam. Kami berkumpul di keluarga kakak tertua istri saya yang kebetulan bertempat tinggal di sebelah rumah almarhum mertua. Memang ada suasana yang berbeda tanpa kehadiran orang tua. Namun suasana hari fitri tahun ini mematri kembali tali silaturahmi seluruh anggota keluarga. Dari enam bersaudara, kini sudah bertambah menjadi puluhan bersaudara, anak-anak dan cucu-cucu.
Begitulah lebaran. Bukan semata momentum berakhirnya bulan Ramadan, tetapi juga sebentuk komunikasi keluarga bagi semua. Sebagai komunikasi keluarga, Lebaran menjadi media pertukaran pesan dan emosi di antara anggota keluarga. Mengobrol bersama di ruang makan, bercerita tentang anak dan cucu, dan mengungkapkan kasih sayang serta dukungan emosional kepada semua keluarga.

Komunikasi keluarga di saat Lebaran bertujuan membangun interaksi dan dialog keluarga. Lewat komunikasi itu keharmonisan keluarga tetap terpatri dengan mencegah kesalahpahaman dan konflik di antara anggota keluarga. Karakter anak dan cucu terbentuk dengan memahami norma dan nilai sosial yang diwarisi dari leluhur terdahulu.
Ikatan
Idulfitri dan Lebaran bukan semata seremoni silaturahmi, namun juga momentum mematri kembali ikatan sejarah, sosial budaya, dan ikatan batin. Sejarah tentang rumah mereka di masa kecil tentu tak pernah akan terlupakan. Di rumah itu mereka pernah bermain bersama, kadang-kadang juga bertengkar untuk hal-hal yang sepele, seperti berebut mandi, berebut mainan, atau melempar pekerjaan yang diberikan orang tua kepada yang lain.
Anggota keluarga yang di luar kota sengaja mudik ke rumah keluarga besar untuk mematri ikatan sosial budaya. Tradisi sungkem di saat Lebaran tetap terpatri di hari fitri. Ketika kedua orang tua sudah meninggal, maka seluruh anak akansowan berziarah ke makam orang tua. Menengok kembali kedua orang tua yang sudah tenang di alam keabadian. Tentu saja menimbulkan suasana haru.

Lebaran tak pernah terlewatkan bagi semua keluarga. Ikatan batin kembali terpatri. Ada kerinduan untuk pulang kembali ke rumah. Rindu pada “tanah air” keluarga. Ada ikatan batin yang sulit terlupakan pada tanah tempat mereka berpijak dan air yang pernah mereka minum sehar-hari. ikatan batin seperti ini tak mungkin hilang, meski mereka kini tak lagi tinggal di rumah orang tua itu.
Bukan Soal Rasa
Berkumpul bersama kakak dan adik tidak dapat dilakukan setiap hari. Apalagi bila masing-masing sudah bertempat tinggal di kota lain. Hari Raya Idulfitri mengundang mereka untuk kembali bersatu dalam suasana silaturahmi yang nikmatnya berbeda dari hari-hari biasanya.
Solidaritas sosial terbangun di antara anggota keluarga di hari yang berbahagia. Tidak ingin membebani keluarga kakak tertua, masing-masing anggota keluarga membawa makanan dan minuman untuk disantap bersama. Ada yang membawa bakso, tahu, bihun, rica-rica ayam, rendang sapi, oseng kangkung, sop ayam, kering kentang, kopi susu, es buah, dan beragam makanan lain.
Bukan soal rasa makanan yang dibawa mereka. Ini adalah solidaritas yang kembali terpatri setelah setahun tak bertemu. Solidaritas yang juga tergambar ketika masa anak-anak. Solidaritas yang lahir dari hati yang fitri, terpatri di hari yang fitri.
Lebaran menjadikan keluarga besar yang telah ditinggal orang tua dan kakek nenek buyut mereka merajut kembali kohesitas sosial. Pertengkaran dan perbedaan pendapat tentu pernah terjadi di antara anggota keluarga besar. Saat Lebaran ikatan sosial itu kembali direkatkan dengan ketulusan hati.
Idulfitri dan Lebaran sejatinya memang bukan momentum hura-hura. Untuk sebagian orang menjadi ajang silaturahmi. Ada yang memaknai sebagai kembali ke fitri. Bagi kami, Idulfitri dan Lebaran adalah pulang kembali ke rumah, setelah kedua orang tua kembali ke rumah Ilahi. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole





























