8 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menatap Modernitas dalam Cermin Kuno:  Relevansi Etis Cerita Tantri Nandakaharaṇa

I Wayan Juliana by I Wayan Juliana
March 23, 2026
in Esai
Menatap Modernitas dalam Cermin Kuno:  Relevansi Etis Cerita Tantri Nandakaharaṇa

Ilustrasi tatkala.co

SASTRA lama sering kali dipandang sebelah mata, dianggap sebagai artefak usang yang sudah ketinggalan zaman (out of fashion). Namun, sebuah pertanyaan kritis muncul: sejauh mana kemampuan kita hari ini dalam memberikan napas dan penafsiran baru atas karya-karya tersebut?

Dalam tradisi Bali, cerita Tantri Nandakaharaṇa bukan sekadar naskah berdebu; ia adalah narasi yang meresap dan menjelma secara mendalam dalam ruang kehidupan masyarakatnya. Jejak Tantri Nandakaharaṇa dapat ditemukan mulai dari pahatan relief di pura hingga dan bidang kesenian lainnya. Di ranah pendidikan, ia hadir sebagai media pembelajaran dan materi lomba masatua anak-anak, sementara di dunia digital, ia ditransformasi menjadi film animasi edukatif. Popularitasnya yang “mendarah daging” di Bali membuatnya lebih dari sekadar teks formal; ia telah menyatu menjadi bagian dari memori kolektif atau cerita rakyat.         

Cerita Tantri Nandakaharaṇa merupakan salah satu dari sekian banyak kumpulan kisah yang populer dan mendarah daging di Bali. Meskipun secara bentuk Tantri Nandakaharaṇa dibangun atas puh kidung namun jika dilihat secara naratif Tantri Nandakaharaṇa kerap diceritakan tanpa melagukannya. Kecenderungan inilah yang menjadikan Tantri Nandakaharaṇa dikenal bahkan mirip sebagai cerita rakyat.

Kisah Tantri Nandakaharaṇa sarat nilai-nilai kehidupan yang universal. Nilai-nilai inilah dapat dijadikan sebagai modal dalam penanaman nilai penddikan karakter. Oleh karena itu, cerita Tantri Nandakaharaṇa bukan hanya sekadar sebagai tradisi pelipur lara, namum mampu menjadi topik pendidikan dan mendidik dalam berbagai situasi, khususnya pendidikan dalam arti nonformal.

Dalam kisah Tantri Nandakaharaṇa sangatlah ditekankan pendidikan moral dalam bertingkah laku. Seperti dalam kisah Empas Padem Sangkaning Gedeg Ring Asu, I Titih Masawitra Sareng I Tuma danKedis Cangak Mati Baan Lobane. Pembaca cerita dijarkan cara bersikap sabar untuk mencapai tujuan yang besar. Dalam cerita Empas Padem Sangkaning Gedeg Ring Asu, memberikan gambaran yang sangat penting untuk dicermati oleh masyarakat bahkan pemimpin itu sendiri.

Sikap ketidak sabaran dari Empas tidaklah dapat ditawarkan kepada siapapun, sebab akibat kemarahannya yang tidak terkontrol atau tidak bersabar menyebabkan dirinya terjatuh sebelum sampai di tujuan. Padahal sebelum melakukan perjalanan, empas sudah diwanti-wanti oleh Angsa agar tidak menjawab apapun perjalanan sebab Empas hanya mengahandalkan gigitannya pada batang kayu yang ujungnya juga digigit oleh sepasang Angsa. Namun dalam perjalanan, peristiwa sepasang angsa menerbangkan sepasang Empas ini dilihat oleh keluarga anjing hutan yang kelaparan. Anjing hutan dengan keras mengatakan bahwa ada sepasang angsa membawa terbang kotoran sapi yang berisi serangga untuk persediaan makanan mereka.

Karena mangkal dikatai kotoran sapi, Empas menjawab untuk menyangkal ucapan si Anjing. Seketika itulah, sepasang empas terjatuh lalu dimakan oleh keluarga Anjing.  Tujuan Empas yang awalnya ingin menikmati telaga yang lebih luas seketika sirna karena tidak dapat menahan amarahnya. Selain itu yang menjadi kelemahan Empas yakni tidak dapat membunuh pendengarannya, sehingga apapun yang didengar langsung ditanggapi sehingga itulah menyebabkan ia terjatuh. Pendidikan etika semacam ini sangat perlu diterapkan dalam melaksanakan kehidupan.

Dari kejadian yang dialami Empas pada cerita Tantri Nandakaharaṇa dapatlah dipetik hikmah yakni, dalam upaya proses mengerjakan sesuatu hendaklah bersabar tidak terburu oleh rasa marah dalam hati. Selain itu, terkadang kita mesti menutup telinga dari ucapan-ucapan seseorang yang bersifat mengganggu, sebab ketika cemooh itu ditanggapi saat itu jugalah kita akan terjatuh seperti Empas. Ada pesan filosofis yang sangat relevan di sini: dalam mencapai tujuan besar, kita harus mampu menutup telinga dari gangguan yang bersifat destruktif. Tanggapan impulsif terhadap cemoohan sering kali justru menjadi penyebab jatuhnya seseorang sebelum sampai di garis

Berbeda lagi dengan cerita I Titih Masawitra Sareng I Tuma, namun masih dalam bingkai siasat bersabar. Dalam episode ini I Titihlah tokoh yang kurang sabar dalam menghadapi tantangan. Kehidupan manusia tidaklah jauh-jauh dari apa yang terdapat dalam cerita Tantri ini, itu sebabnya cerita Tantri bukan sekadar cerita pelipur lara untuk anak-anak, namun juga merupakan cara berpijak dalam memanajemen permasalahan dalam kehidupan. I Tuma dan I Titih merupakan dua kutu yang tinggal di ranjang sang Raja, I Tuma tinggal di tilam sedangkan I Titih tinggal di dinding dipan sang raja.

I Titih amatlah iri dengan kondisi tubuh Tuma yang gemuk. Setelah melewati berbagai pecakapan, I Tuma bersedia mengajak I Titih tinggal bersama di tilam sang raja namun dengan catatan harus sabar menunggu sang raja tidur terlelap dan tidak boleh mengisap darah sang raja terlalu banyak agar tidak kentara. Kesepakatan terjadi anatara Tuma dan Titih.

Ketika sang raja sudah mulai tertidur tanpa sadar karena kurang kesabaran akan nikmatnya menghisap darah sang raja, Titih pun menghisap darah sang raja ketika raja belum benar-benar tertidur. Karena merasa gatal dan sakit, raja pun mencari kutu yang ada pada tilam beliau. Tuma dan Titih pun dibunuh oleh sang raja. Faktor penyebab kematian kedua kutu ini adalah karena kurang hati-hati, kurang mawas dan terlalu tergesa-gesa dalam melaksanakan tugas sehingga bukan hasil yang baik yang didapatkan namun justru sebaliknya. Kesabaran dalam setiap usaha sangatlah diperlukan apalagi dalam melaksanakan suatu tugas.

Tantri Nandakaharaṇa membuktikan bahwa sastra bukan hanya pelipur lara, melainkan cara berpijak untuk mengelola permasalahan hidup. Dua fragmen cerita ini saja sudah cukup untuk memberikan gambaran tentang betapa pentingnya etika dan kesabaran. Jika kita mampu membaca dan meresapi nilai-nilai ini secara tuntas, niscaya kearifan dan kebijaksanaan bukan lagi sekadar angan, melainkan laku hidup yang nyata. [T]

Penulis: I Wayan Juliana
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita rakyatCerita Tantrimodernitastantri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Terpatri di Hari Fitri —Catatan Kecil Usai Lebaran

Next Post

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

I Wayan Juliana

I Wayan Juliana

Dosen Institut Agama Hindu Mpu Kuturan

Related Posts

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co