29 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menatap Modernitas dalam Cermin Kuno:  Relevansi Etis Cerita Tantri Nandakaharaṇa

I Wayan Juliana by I Wayan Juliana
March 23, 2026
in Esai
Menatap Modernitas dalam Cermin Kuno:  Relevansi Etis Cerita Tantri Nandakaharaṇa

Ilustrasi tatkala.co

SASTRA lama sering kali dipandang sebelah mata, dianggap sebagai artefak usang yang sudah ketinggalan zaman (out of fashion). Namun, sebuah pertanyaan kritis muncul: sejauh mana kemampuan kita hari ini dalam memberikan napas dan penafsiran baru atas karya-karya tersebut?

Dalam tradisi Bali, cerita Tantri Nandakaharaṇa bukan sekadar naskah berdebu; ia adalah narasi yang meresap dan menjelma secara mendalam dalam ruang kehidupan masyarakatnya. Jejak Tantri Nandakaharaṇa dapat ditemukan mulai dari pahatan relief di pura hingga dan bidang kesenian lainnya. Di ranah pendidikan, ia hadir sebagai media pembelajaran dan materi lomba masatua anak-anak, sementara di dunia digital, ia ditransformasi menjadi film animasi edukatif. Popularitasnya yang “mendarah daging” di Bali membuatnya lebih dari sekadar teks formal; ia telah menyatu menjadi bagian dari memori kolektif atau cerita rakyat.         

Cerita Tantri Nandakaharaṇa merupakan salah satu dari sekian banyak kumpulan kisah yang populer dan mendarah daging di Bali. Meskipun secara bentuk Tantri Nandakaharaṇa dibangun atas puh kidung namun jika dilihat secara naratif Tantri Nandakaharaṇa kerap diceritakan tanpa melagukannya. Kecenderungan inilah yang menjadikan Tantri Nandakaharaṇa dikenal bahkan mirip sebagai cerita rakyat.

Kisah Tantri Nandakaharaṇa sarat nilai-nilai kehidupan yang universal. Nilai-nilai inilah dapat dijadikan sebagai modal dalam penanaman nilai penddikan karakter. Oleh karena itu, cerita Tantri Nandakaharaṇa bukan hanya sekadar sebagai tradisi pelipur lara, namum mampu menjadi topik pendidikan dan mendidik dalam berbagai situasi, khususnya pendidikan dalam arti nonformal.

Dalam kisah Tantri Nandakaharaṇa sangatlah ditekankan pendidikan moral dalam bertingkah laku. Seperti dalam kisah Empas Padem Sangkaning Gedeg Ring Asu, I Titih Masawitra Sareng I Tuma danKedis Cangak Mati Baan Lobane. Pembaca cerita dijarkan cara bersikap sabar untuk mencapai tujuan yang besar. Dalam cerita Empas Padem Sangkaning Gedeg Ring Asu, memberikan gambaran yang sangat penting untuk dicermati oleh masyarakat bahkan pemimpin itu sendiri.

Sikap ketidak sabaran dari Empas tidaklah dapat ditawarkan kepada siapapun, sebab akibat kemarahannya yang tidak terkontrol atau tidak bersabar menyebabkan dirinya terjatuh sebelum sampai di tujuan. Padahal sebelum melakukan perjalanan, empas sudah diwanti-wanti oleh Angsa agar tidak menjawab apapun perjalanan sebab Empas hanya mengahandalkan gigitannya pada batang kayu yang ujungnya juga digigit oleh sepasang Angsa. Namun dalam perjalanan, peristiwa sepasang angsa menerbangkan sepasang Empas ini dilihat oleh keluarga anjing hutan yang kelaparan. Anjing hutan dengan keras mengatakan bahwa ada sepasang angsa membawa terbang kotoran sapi yang berisi serangga untuk persediaan makanan mereka.

Karena mangkal dikatai kotoran sapi, Empas menjawab untuk menyangkal ucapan si Anjing. Seketika itulah, sepasang empas terjatuh lalu dimakan oleh keluarga Anjing.  Tujuan Empas yang awalnya ingin menikmati telaga yang lebih luas seketika sirna karena tidak dapat menahan amarahnya. Selain itu yang menjadi kelemahan Empas yakni tidak dapat membunuh pendengarannya, sehingga apapun yang didengar langsung ditanggapi sehingga itulah menyebabkan ia terjatuh. Pendidikan etika semacam ini sangat perlu diterapkan dalam melaksanakan kehidupan.

Dari kejadian yang dialami Empas pada cerita Tantri Nandakaharaṇa dapatlah dipetik hikmah yakni, dalam upaya proses mengerjakan sesuatu hendaklah bersabar tidak terburu oleh rasa marah dalam hati. Selain itu, terkadang kita mesti menutup telinga dari ucapan-ucapan seseorang yang bersifat mengganggu, sebab ketika cemooh itu ditanggapi saat itu jugalah kita akan terjatuh seperti Empas. Ada pesan filosofis yang sangat relevan di sini: dalam mencapai tujuan besar, kita harus mampu menutup telinga dari gangguan yang bersifat destruktif. Tanggapan impulsif terhadap cemoohan sering kali justru menjadi penyebab jatuhnya seseorang sebelum sampai di garis

Berbeda lagi dengan cerita I Titih Masawitra Sareng I Tuma, namun masih dalam bingkai siasat bersabar. Dalam episode ini I Titihlah tokoh yang kurang sabar dalam menghadapi tantangan. Kehidupan manusia tidaklah jauh-jauh dari apa yang terdapat dalam cerita Tantri ini, itu sebabnya cerita Tantri bukan sekadar cerita pelipur lara untuk anak-anak, namun juga merupakan cara berpijak dalam memanajemen permasalahan dalam kehidupan. I Tuma dan I Titih merupakan dua kutu yang tinggal di ranjang sang Raja, I Tuma tinggal di tilam sedangkan I Titih tinggal di dinding dipan sang raja.

I Titih amatlah iri dengan kondisi tubuh Tuma yang gemuk. Setelah melewati berbagai pecakapan, I Tuma bersedia mengajak I Titih tinggal bersama di tilam sang raja namun dengan catatan harus sabar menunggu sang raja tidur terlelap dan tidak boleh mengisap darah sang raja terlalu banyak agar tidak kentara. Kesepakatan terjadi anatara Tuma dan Titih.

Ketika sang raja sudah mulai tertidur tanpa sadar karena kurang kesabaran akan nikmatnya menghisap darah sang raja, Titih pun menghisap darah sang raja ketika raja belum benar-benar tertidur. Karena merasa gatal dan sakit, raja pun mencari kutu yang ada pada tilam beliau. Tuma dan Titih pun dibunuh oleh sang raja. Faktor penyebab kematian kedua kutu ini adalah karena kurang hati-hati, kurang mawas dan terlalu tergesa-gesa dalam melaksanakan tugas sehingga bukan hasil yang baik yang didapatkan namun justru sebaliknya. Kesabaran dalam setiap usaha sangatlah diperlukan apalagi dalam melaksanakan suatu tugas.

Tantri Nandakaharaṇa membuktikan bahwa sastra bukan hanya pelipur lara, melainkan cara berpijak untuk mengelola permasalahan hidup. Dua fragmen cerita ini saja sudah cukup untuk memberikan gambaran tentang betapa pentingnya etika dan kesabaran. Jika kita mampu membaca dan meresapi nilai-nilai ini secara tuntas, niscaya kearifan dan kebijaksanaan bukan lagi sekadar angan, melainkan laku hidup yang nyata. [T]

Penulis: I Wayan Juliana
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita rakyatCerita Tantrimodernitastantri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Terpatri di Hari Fitri —Catatan Kecil Usai Lebaran

Next Post

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

I Wayan Juliana

I Wayan Juliana

Dosen Institut Agama Hindu Mpu Kuturan

Related Posts

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails
Next Post
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co