10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menatap Modernitas dalam Cermin Kuno:  Relevansi Etis Cerita Tantri Nandakaharaṇa

I Wayan Juliana by I Wayan Juliana
March 23, 2026
in Esai
Menatap Modernitas dalam Cermin Kuno:  Relevansi Etis Cerita Tantri Nandakaharaṇa

Ilustrasi tatkala.co

SASTRA lama sering kali dipandang sebelah mata, dianggap sebagai artefak usang yang sudah ketinggalan zaman (out of fashion). Namun, sebuah pertanyaan kritis muncul: sejauh mana kemampuan kita hari ini dalam memberikan napas dan penafsiran baru atas karya-karya tersebut?

Dalam tradisi Bali, cerita Tantri Nandakaharaṇa bukan sekadar naskah berdebu; ia adalah narasi yang meresap dan menjelma secara mendalam dalam ruang kehidupan masyarakatnya. Jejak Tantri Nandakaharaṇa dapat ditemukan mulai dari pahatan relief di pura hingga dan bidang kesenian lainnya. Di ranah pendidikan, ia hadir sebagai media pembelajaran dan materi lomba masatua anak-anak, sementara di dunia digital, ia ditransformasi menjadi film animasi edukatif. Popularitasnya yang “mendarah daging” di Bali membuatnya lebih dari sekadar teks formal; ia telah menyatu menjadi bagian dari memori kolektif atau cerita rakyat.         

Cerita Tantri Nandakaharaṇa merupakan salah satu dari sekian banyak kumpulan kisah yang populer dan mendarah daging di Bali. Meskipun secara bentuk Tantri Nandakaharaṇa dibangun atas puh kidung namun jika dilihat secara naratif Tantri Nandakaharaṇa kerap diceritakan tanpa melagukannya. Kecenderungan inilah yang menjadikan Tantri Nandakaharaṇa dikenal bahkan mirip sebagai cerita rakyat.

Kisah Tantri Nandakaharaṇa sarat nilai-nilai kehidupan yang universal. Nilai-nilai inilah dapat dijadikan sebagai modal dalam penanaman nilai penddikan karakter. Oleh karena itu, cerita Tantri Nandakaharaṇa bukan hanya sekadar sebagai tradisi pelipur lara, namum mampu menjadi topik pendidikan dan mendidik dalam berbagai situasi, khususnya pendidikan dalam arti nonformal.

Dalam kisah Tantri Nandakaharaṇa sangatlah ditekankan pendidikan moral dalam bertingkah laku. Seperti dalam kisah Empas Padem Sangkaning Gedeg Ring Asu, I Titih Masawitra Sareng I Tuma danKedis Cangak Mati Baan Lobane. Pembaca cerita dijarkan cara bersikap sabar untuk mencapai tujuan yang besar. Dalam cerita Empas Padem Sangkaning Gedeg Ring Asu, memberikan gambaran yang sangat penting untuk dicermati oleh masyarakat bahkan pemimpin itu sendiri.

Sikap ketidak sabaran dari Empas tidaklah dapat ditawarkan kepada siapapun, sebab akibat kemarahannya yang tidak terkontrol atau tidak bersabar menyebabkan dirinya terjatuh sebelum sampai di tujuan. Padahal sebelum melakukan perjalanan, empas sudah diwanti-wanti oleh Angsa agar tidak menjawab apapun perjalanan sebab Empas hanya mengahandalkan gigitannya pada batang kayu yang ujungnya juga digigit oleh sepasang Angsa. Namun dalam perjalanan, peristiwa sepasang angsa menerbangkan sepasang Empas ini dilihat oleh keluarga anjing hutan yang kelaparan. Anjing hutan dengan keras mengatakan bahwa ada sepasang angsa membawa terbang kotoran sapi yang berisi serangga untuk persediaan makanan mereka.

Karena mangkal dikatai kotoran sapi, Empas menjawab untuk menyangkal ucapan si Anjing. Seketika itulah, sepasang empas terjatuh lalu dimakan oleh keluarga Anjing.  Tujuan Empas yang awalnya ingin menikmati telaga yang lebih luas seketika sirna karena tidak dapat menahan amarahnya. Selain itu yang menjadi kelemahan Empas yakni tidak dapat membunuh pendengarannya, sehingga apapun yang didengar langsung ditanggapi sehingga itulah menyebabkan ia terjatuh. Pendidikan etika semacam ini sangat perlu diterapkan dalam melaksanakan kehidupan.

Dari kejadian yang dialami Empas pada cerita Tantri Nandakaharaṇa dapatlah dipetik hikmah yakni, dalam upaya proses mengerjakan sesuatu hendaklah bersabar tidak terburu oleh rasa marah dalam hati. Selain itu, terkadang kita mesti menutup telinga dari ucapan-ucapan seseorang yang bersifat mengganggu, sebab ketika cemooh itu ditanggapi saat itu jugalah kita akan terjatuh seperti Empas. Ada pesan filosofis yang sangat relevan di sini: dalam mencapai tujuan besar, kita harus mampu menutup telinga dari gangguan yang bersifat destruktif. Tanggapan impulsif terhadap cemoohan sering kali justru menjadi penyebab jatuhnya seseorang sebelum sampai di garis

Berbeda lagi dengan cerita I Titih Masawitra Sareng I Tuma, namun masih dalam bingkai siasat bersabar. Dalam episode ini I Titihlah tokoh yang kurang sabar dalam menghadapi tantangan. Kehidupan manusia tidaklah jauh-jauh dari apa yang terdapat dalam cerita Tantri ini, itu sebabnya cerita Tantri bukan sekadar cerita pelipur lara untuk anak-anak, namun juga merupakan cara berpijak dalam memanajemen permasalahan dalam kehidupan. I Tuma dan I Titih merupakan dua kutu yang tinggal di ranjang sang Raja, I Tuma tinggal di tilam sedangkan I Titih tinggal di dinding dipan sang raja.

I Titih amatlah iri dengan kondisi tubuh Tuma yang gemuk. Setelah melewati berbagai pecakapan, I Tuma bersedia mengajak I Titih tinggal bersama di tilam sang raja namun dengan catatan harus sabar menunggu sang raja tidur terlelap dan tidak boleh mengisap darah sang raja terlalu banyak agar tidak kentara. Kesepakatan terjadi anatara Tuma dan Titih.

Ketika sang raja sudah mulai tertidur tanpa sadar karena kurang kesabaran akan nikmatnya menghisap darah sang raja, Titih pun menghisap darah sang raja ketika raja belum benar-benar tertidur. Karena merasa gatal dan sakit, raja pun mencari kutu yang ada pada tilam beliau. Tuma dan Titih pun dibunuh oleh sang raja. Faktor penyebab kematian kedua kutu ini adalah karena kurang hati-hati, kurang mawas dan terlalu tergesa-gesa dalam melaksanakan tugas sehingga bukan hasil yang baik yang didapatkan namun justru sebaliknya. Kesabaran dalam setiap usaha sangatlah diperlukan apalagi dalam melaksanakan suatu tugas.

Tantri Nandakaharaṇa membuktikan bahwa sastra bukan hanya pelipur lara, melainkan cara berpijak untuk mengelola permasalahan hidup. Dua fragmen cerita ini saja sudah cukup untuk memberikan gambaran tentang betapa pentingnya etika dan kesabaran. Jika kita mampu membaca dan meresapi nilai-nilai ini secara tuntas, niscaya kearifan dan kebijaksanaan bukan lagi sekadar angan, melainkan laku hidup yang nyata. [T]

Penulis: I Wayan Juliana
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita rakyatCerita Tantrimodernitastantri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Terpatri di Hari Fitri —Catatan Kecil Usai Lebaran

Next Post

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

I Wayan Juliana

I Wayan Juliana

Dosen Institut Agama Hindu Mpu Kuturan

Related Posts

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails
Next Post
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co