31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menatap Modernitas dalam Cermin Kuno:  Relevansi Etis Cerita Tantri Nandakaharaṇa

I Wayan Juliana by I Wayan Juliana
March 23, 2026
in Esai
Menatap Modernitas dalam Cermin Kuno:  Relevansi Etis Cerita Tantri Nandakaharaṇa

Ilustrasi tatkala.co

SASTRA lama sering kali dipandang sebelah mata, dianggap sebagai artefak usang yang sudah ketinggalan zaman (out of fashion). Namun, sebuah pertanyaan kritis muncul: sejauh mana kemampuan kita hari ini dalam memberikan napas dan penafsiran baru atas karya-karya tersebut?

Dalam tradisi Bali, cerita Tantri Nandakaharaṇa bukan sekadar naskah berdebu; ia adalah narasi yang meresap dan menjelma secara mendalam dalam ruang kehidupan masyarakatnya. Jejak Tantri Nandakaharaṇa dapat ditemukan mulai dari pahatan relief di pura hingga dan bidang kesenian lainnya. Di ranah pendidikan, ia hadir sebagai media pembelajaran dan materi lomba masatua anak-anak, sementara di dunia digital, ia ditransformasi menjadi film animasi edukatif. Popularitasnya yang “mendarah daging” di Bali membuatnya lebih dari sekadar teks formal; ia telah menyatu menjadi bagian dari memori kolektif atau cerita rakyat.         

Cerita Tantri Nandakaharaṇa merupakan salah satu dari sekian banyak kumpulan kisah yang populer dan mendarah daging di Bali. Meskipun secara bentuk Tantri Nandakaharaṇa dibangun atas puh kidung namun jika dilihat secara naratif Tantri Nandakaharaṇa kerap diceritakan tanpa melagukannya. Kecenderungan inilah yang menjadikan Tantri Nandakaharaṇa dikenal bahkan mirip sebagai cerita rakyat.

Kisah Tantri Nandakaharaṇa sarat nilai-nilai kehidupan yang universal. Nilai-nilai inilah dapat dijadikan sebagai modal dalam penanaman nilai penddikan karakter. Oleh karena itu, cerita Tantri Nandakaharaṇa bukan hanya sekadar sebagai tradisi pelipur lara, namum mampu menjadi topik pendidikan dan mendidik dalam berbagai situasi, khususnya pendidikan dalam arti nonformal.

Dalam kisah Tantri Nandakaharaṇa sangatlah ditekankan pendidikan moral dalam bertingkah laku. Seperti dalam kisah Empas Padem Sangkaning Gedeg Ring Asu, I Titih Masawitra Sareng I Tuma danKedis Cangak Mati Baan Lobane. Pembaca cerita dijarkan cara bersikap sabar untuk mencapai tujuan yang besar. Dalam cerita Empas Padem Sangkaning Gedeg Ring Asu, memberikan gambaran yang sangat penting untuk dicermati oleh masyarakat bahkan pemimpin itu sendiri.

Sikap ketidak sabaran dari Empas tidaklah dapat ditawarkan kepada siapapun, sebab akibat kemarahannya yang tidak terkontrol atau tidak bersabar menyebabkan dirinya terjatuh sebelum sampai di tujuan. Padahal sebelum melakukan perjalanan, empas sudah diwanti-wanti oleh Angsa agar tidak menjawab apapun perjalanan sebab Empas hanya mengahandalkan gigitannya pada batang kayu yang ujungnya juga digigit oleh sepasang Angsa. Namun dalam perjalanan, peristiwa sepasang angsa menerbangkan sepasang Empas ini dilihat oleh keluarga anjing hutan yang kelaparan. Anjing hutan dengan keras mengatakan bahwa ada sepasang angsa membawa terbang kotoran sapi yang berisi serangga untuk persediaan makanan mereka.

Karena mangkal dikatai kotoran sapi, Empas menjawab untuk menyangkal ucapan si Anjing. Seketika itulah, sepasang empas terjatuh lalu dimakan oleh keluarga Anjing.  Tujuan Empas yang awalnya ingin menikmati telaga yang lebih luas seketika sirna karena tidak dapat menahan amarahnya. Selain itu yang menjadi kelemahan Empas yakni tidak dapat membunuh pendengarannya, sehingga apapun yang didengar langsung ditanggapi sehingga itulah menyebabkan ia terjatuh. Pendidikan etika semacam ini sangat perlu diterapkan dalam melaksanakan kehidupan.

Dari kejadian yang dialami Empas pada cerita Tantri Nandakaharaṇa dapatlah dipetik hikmah yakni, dalam upaya proses mengerjakan sesuatu hendaklah bersabar tidak terburu oleh rasa marah dalam hati. Selain itu, terkadang kita mesti menutup telinga dari ucapan-ucapan seseorang yang bersifat mengganggu, sebab ketika cemooh itu ditanggapi saat itu jugalah kita akan terjatuh seperti Empas. Ada pesan filosofis yang sangat relevan di sini: dalam mencapai tujuan besar, kita harus mampu menutup telinga dari gangguan yang bersifat destruktif. Tanggapan impulsif terhadap cemoohan sering kali justru menjadi penyebab jatuhnya seseorang sebelum sampai di garis

Berbeda lagi dengan cerita I Titih Masawitra Sareng I Tuma, namun masih dalam bingkai siasat bersabar. Dalam episode ini I Titihlah tokoh yang kurang sabar dalam menghadapi tantangan. Kehidupan manusia tidaklah jauh-jauh dari apa yang terdapat dalam cerita Tantri ini, itu sebabnya cerita Tantri bukan sekadar cerita pelipur lara untuk anak-anak, namun juga merupakan cara berpijak dalam memanajemen permasalahan dalam kehidupan. I Tuma dan I Titih merupakan dua kutu yang tinggal di ranjang sang Raja, I Tuma tinggal di tilam sedangkan I Titih tinggal di dinding dipan sang raja.

I Titih amatlah iri dengan kondisi tubuh Tuma yang gemuk. Setelah melewati berbagai pecakapan, I Tuma bersedia mengajak I Titih tinggal bersama di tilam sang raja namun dengan catatan harus sabar menunggu sang raja tidur terlelap dan tidak boleh mengisap darah sang raja terlalu banyak agar tidak kentara. Kesepakatan terjadi anatara Tuma dan Titih.

Ketika sang raja sudah mulai tertidur tanpa sadar karena kurang kesabaran akan nikmatnya menghisap darah sang raja, Titih pun menghisap darah sang raja ketika raja belum benar-benar tertidur. Karena merasa gatal dan sakit, raja pun mencari kutu yang ada pada tilam beliau. Tuma dan Titih pun dibunuh oleh sang raja. Faktor penyebab kematian kedua kutu ini adalah karena kurang hati-hati, kurang mawas dan terlalu tergesa-gesa dalam melaksanakan tugas sehingga bukan hasil yang baik yang didapatkan namun justru sebaliknya. Kesabaran dalam setiap usaha sangatlah diperlukan apalagi dalam melaksanakan suatu tugas.

Tantri Nandakaharaṇa membuktikan bahwa sastra bukan hanya pelipur lara, melainkan cara berpijak untuk mengelola permasalahan hidup. Dua fragmen cerita ini saja sudah cukup untuk memberikan gambaran tentang betapa pentingnya etika dan kesabaran. Jika kita mampu membaca dan meresapi nilai-nilai ini secara tuntas, niscaya kearifan dan kebijaksanaan bukan lagi sekadar angan, melainkan laku hidup yang nyata. [T]

Penulis: I Wayan Juliana
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita rakyatCerita Tantrimodernitastantri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Terpatri di Hari Fitri —Catatan Kecil Usai Lebaran

Next Post

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

I Wayan Juliana

I Wayan Juliana

Dosen Institut Agama Hindu Mpu Kuturan

Related Posts

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails
Next Post
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co