14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

I Gede Tilem Pastika by I Gede Tilem Pastika
March 14, 2026
in Esai
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Ilustrasi Suasana Pentas Wayang dan Peenonton sibuk dengan Smartphonya (Sumber: AI Generator, 2026)

SETIAP Tumpek Wayang di Bali secara inheren menawarkan momen meditatif yang mengetuk kesadaran batin melalui ritual yang khas, namun pengalaman saya tadi pagi, kala turut serta mengikuti sahabat, Sang Nyoman Gede Adhi Santika, dalam pementasan wayang di sebuah rumah di Denpasar mengungkap ironis yang mencolok.

Di antara puluhan hadirin ritual tersebut, hanya empat individu yang sungguh-sungguh fokus menyaksikan sepenuhnya. Sementara sebagian lagi disibukkan oleh tugas-tugas ritus seperti menyusun banten atau mempersiapkan upakara lainnya, dan yang tidak sedikit justru terpaku pada layar smartphone mereka; di tengah kepulan asap dupa dan denting gender yang mengisi narasi kuno, seharusnya tercipta jeda reflektif untuk lepas dari hiruk-pikuk duniawi, tetapi realitasnya.

Jeda tersebut kerap terganggu oleh getaran notifikasi di saku celana. Tarikan tak terelakkan menuju panggung bayang digital modern yang ironisnya mengalahkan daya tarik ritual sakral berbasis wali ini, mencerminkan hegemoni digital yang telah meresap dalam budaya kontemporer Bali, mengubah yang suci menjadi latar belakang semata di tengah dinamika urbanisasi.

Gambar 1: Pertunjukan Wayang Lemah dalam Sangoman
(Sumber: Dok. Penulis, 2026)

Kita sedang hidup di era di mana “kelir” atau layar wayang sebagai simbol tradisional pemisah antara dunia fana dan transenden dalam pertunjukan wayang Kulit Bali telah berpindah secara radikal ke genggaman tangan setiap individu. Jika dahulu kelir berfungsi sebagai ruang sakral untuk mencari tuntunan moral, hikmah filosofis, dan harmoni kosmik melalui narasi dalang yang menjembatani bebali yang suci, kini layar digital smartphone telah berevolusi menjadi medan tempur egois, panggung pamer virtual yang tak kenal lelah, serta gudang prasangka yang mereproduksi polarisasi sosial tanpa henti.

Fenomena sosial kontemporer di Bali menunjukkan pergeseran paradigmatik yang mengkhawatirkan ini: identitas budaya adiluhung, yang selama ini diwujudkan melalui ritual Tumpek Wayang dan pementasan wali, kini tergerus secara bertahap oleh perilaku toksik yang lahir dari rahim media sosial, seperti kecanduan notifikasi yang menginterupsi jeda reflektif, performativitas selfie di tengah upakara sakral, serta hegemoni konten instan yang mengkomodifikasi nilai-nilai purba menjadi sekadar latar belakang estetis.

Pergeseran ini bukan sekadar anomali teknologi, melainkan cerminan transformasi makna dalam kerangka Gramsci: di mana hegemoni digital meresap ke dalam struktur budaya Bali urban, mengubah wayang dari medium resistensi spiritual menjadi korban urbanisasi yang pasif, sehingga mengundang urgensi rekonstruksi identitas melalui pendekatan fenomenologis yang kritis terhadap dualitas sakral-profan di era hiperkonektivitas.

Makna Tumpek Wayang perlu kita bedah kembali dengan kacamata yang lebih tajam. I Gusti Putu Ngurah Angga Divayana, atau yang akrab disapa Rah Ucil, seorang dalang muda berbakat, memberikan perspektif yang sangat dalam. Menurutnya, Tumpek itu sejatinya dimaknai sebagai tampak (terlihat) dan tampek (dekat), sementara Wayang adalah bayang-bayang. Maka, dalam momentum Tumpek Wayang, setiap individu seharusnya mampu “dekat dan melihat” ke dalam bayangan dirinya sendiri sebagai bentuk introspeksi atau mulat sarira (wawancara, 13 Maret 2026).

Perspektif ini diperkuat oleh Sang Nyoman Gede Adhi Santika, seorang akademisi dan praktisi seni, yang melihat wayang dengan kacamata yang sangat kekinian. Adhi Santika meyakini bahwa keberadaan wayang sebagai ruang bertutur sejatinya adalah salah satu bentuk “media sosial” yang paling awal. Baginya, bentangan kelir dengan visual sinematiknya adalah “YouTube” bagi kakek-kakek kita dulu sebagai sebuah ruang di mana informasi, hiburan, dan nilai moral disebarluaskan (wawancara, 14 Maret 2026).

Namun, Adhi Santika juga menangkap sebuah ironi dalam perkembangan zaman. Ia sering tersenyum melihat wayang direkam dan muncul di reels YouTube atau feed Instagram; sebuah fenomena yang ia sebut sebagai “bingkai yang berbingkai”. Wayang yang tadinya adalah realitas spiritual, kini diringkas menjadi konten digital demi mengejar branding dan popularitas. Di sini, kesucian ritual sering kali beradu dengan syahwat digital.

Lebih jauh lagi, Adhi Santika menganalisis bahwa peringai Dalang sejatinya adalah seorang “konten kreator” pada masanya. Para dalang dahulu juga berkontestasi untuk membangun citra diri agar memiliki “subscriber” (penggemar) dan mengejar “jumlah jam tayang” (jadwal panggung). Bahkan, ada sisi pragmatis atau monetisasi dalam tradisi, seperti sebuah ungkapan dalang kuno: “yen kal nyemak wayang sapuh leger, disubane ngewayang pang satus“—sebuah simbol target atau pencapaian tertentu dalam melaksanakan tugas sucinya (wawancara, 14 Maret 2026).

Pesan kritis dari Adhi Santika adalah sebuah pengingat bagi kita semua: hari ini “dalang” sudah menjamur, dan “kelir” digital selalu ada di depan mata kita setiap saat. Namun, baik atau buruknya konten yang kita saksikan dan kita bagikan di media sosial, sangat bergantung pada seberapa dalam kita sebagai “dalang digital” mengisi diri dengan ilmu dan kebijaksanaan. Tanpa ilmu, kita hanya akan memproduksi sampah visual dan polusi informasi.

Sayangnya, apa yang kita lihat saat ini sering kali jauh dari kata introspeksi. Alih-alih melihat ke dalam diri, masyarakat kita lebih sering melihat “keluar”, memantau hidup orang lain melalui lensa kamera yang penuh filter. Yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa banyak dari kita menjadi “dalang” yang kosong. Alih-alih mengisi diri dengan ilmu, kita justru terjebak dalam lingkaran setan flexing atau pamer kemewahan.

Pamer bukan lagi soal prestasi, tapi soal validasi semu yang justru memicu rasa iri hati di kalangan teman sejawat atau sesama warga net. Kita melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman, bukan inspirasi. Pamer bukan lagi soal prestasi, tapi soal validasi semu yang justru memicu rasa iri hati di kalangan teman sejawat atau sesama warga net. Rasa iri ini bukanlah persoalan sepele.

Di balik layar, rasa iri berubah menjadi amunisi untuk saling menjatuhkan. Ketika seseorang memposting keberhasilannya, ada ribuan mata yang menonton dengan rasa tidak nyaman, memicu perbandingan sosial yang merusak mental. Kita kehilangan kemampuan untuk bersyukur atas apa yang kita miliki, karena standar kebahagiaan kita ditentukan oleh algoritma media sosial yang tidak punya nurani.

Hal ini berkaitan dengan apa yang diungkapkan oleh Foster (2022, hlm. 2009) dalam analisisnya mengenai kebenaran sebagai praktik sosial di era digital. Foster berargumen bahwa dalam landscape algoritma saat ini, kebenaran sering kali bersifat performatif. Orang tidak lagi peduli pada apa yang benar, melainkan pada apa yang terlihat “wah” dan mendapatkan banyak engagement. Di Bali, hal ini mewujud pada konten-konten ritual yang kadang mengabaikan kesucian demi sekadar mendapatkan ribuan likes.

Masalah tidak berhenti pada rasa iri dan pamer. “Bayangan” gelap media sosial juga melahirkan monster bernama hoaks. Masyarakat kita, yang secara tradisional sangat kolektif, kini menjadi sangat rentan terhadap informasi yang tidak terkonfirmasi. Berita-berita bohong atau hoaks diterima mentah-mentah tanpa filter, lalu disebarkan dengan kecepatan cahaya melalui grup-grup WhatsApp keluarga atau komunitas.

Bahayanya, hoaks ini sering kali menyentuh isu-isu sensitif seperti perbedaan etnis dan agama. Di Bali yang sangat plural, satu unggahan provokatif yang tidak jelas sumbernya bisa menyulut perdebatan panas lintas etnis. Kita melihat bagaimana masalah kecil di jalan raya atau kesalahpahaman antarpribadi bisa dibesar-besarkan hingga menjadi konflik komunal digital yang memperburuk keadaan dan mengancam kerukunan yang sudah dibangun berabad-abad.

Setiap perdebatan digital ini seolah-olah menjadi pertunjukan wayang di mana dalangnya adalah amarah dan egoisme. Kita tidak lagi menjadi manusia yang berpikir jernih, melainkan menjadi “beburon” yang digerakkan oleh jempol. Masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin melalui musyawarah, justru diperparah dengan saling lapor, saling caci di kolom komentar, hingga menciptakan polarisasi yang tajam di tengah masyarakat. Dampak dari tekanan digital ini mulai menyentuh titik paling tragis: kesehatan mental.

Fenomena depresi akibat perundungan siber (cyber-bullying) atau tekanan sosial dari dunia maya telah menyebabkan beberapa kasus bunuh diri di Bali yang sangat menyayat hati. Kita kehilangan nyawa-nyawa berharga hanya karena mereka merasa tidak sanggup lagi menanggung beban “bayangan” negatif yang diproyeksikan oleh lingkungan sekitarnya di dunia digital.

Kondisi ini menunjukkan betapa minimnya tingkat digital mindfulness dalam kehidupan sehari-hari kita, di mana kesadaran penuh terhadap momen saat ini terkikis oleh desain teknologi yang sengaja memikat perhatian secara kompulsif, sebagaimana ditekankan oleh Bin Zhu dkk. (2016, hlm. 1) bahwa arsitektur digital melalui algoritma notifikasi dan loop dopamin yang tak berkesudahan sering kali mendistraksi kita dari kehadiran autentik, mengubah ritual sakral seperti Tumpek Wayang menjadi sekadar latar belakang estetis di tengah hiruk-pikuk layar smartphone.

Kita terlalu sibuk mengejar statistik pengikut, validasi like, dan lonjakan notifikasi instan hingga lalai untuk hadir sepenuhnya dalam kehidupan nyata—entah itu menyaksikan denting gender wayang wali atau menyusun banten dengan fokus batin—sehingga ketidakhadiran mental ini tidak hanya memutus jeda reflektif yang esensial bagi harmoni kosmik Bali, tetapi juga membuat kita rentan terseret dalam arus emosi negatif yang merusak, seperti kemarahan toksik dari komentar media sosial, kecemasan FOMO (fear of missing out), dan fragmentasi identitas budaya yang menggerus nilai adiluhung wali menjadi korban hegemoni digital kontemporer.

Di sinilah peran ritual Sapuh Leger dalam Tumpek Wayang menemukan relevansi barunya. Secara tradisional, ritual ini adalah sarana penyucian atau ruwatan bagi mereka yang lahir dalam wuku wayang agar terhindar dari gangguan Bhatara Kala (Wicaksana & Wicaksandita, 2023, hlm. 1).

Jika kita tarik ke masa kini, “Bhatara Kala” adalah simbol dari waktu yang habis termakan oleh kecanduan digital dan perilaku buruk di dunia maya. Kita butuh sebuah “Ruwatan Digital”. Sebuah proses pembersihan mental di mana kita secara sadar mengakui bahwa pikiran kita telah terpolusi oleh kebisingan informasi. Pembersihan ini bukan lagi soal memercikkan air suci ke perangkat keras kita, melainkan memercikkan kesadaran ke dalam logika berpikir kita agar mampu membedakan mana yang merupakan tuntunan dan mana yang hanya tontonan sampah.

Gambar 2. Panglukatan Tumpek Wayang
(Sumber: Dok. Penulis, 2026)

Pemerintah Provinsi Bali sebenarnya telah memberikan payung hukum untuk menjaga kearifan ini melalui Instruksi Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Perayaan Rahina Tumpek Wayang. Instruksi ini mengajak kita merayakan Jagat Kerthi sebagai upaya menjaga keharmonisan alam, manusia, dan budaya. Namun, apakah instruksi ini sudah menyentuh aspek “Alam Digital” kita? Kebijakan tersebut menekankan pada kegiatan sakala seperti resik sampah plastik. Ini sangat baik, namun kita juga butuh “resik sampah digital”. Sampah-sampah berupa komentar kebencian, foto-foto pamer yang tidak perlu, dan narasi-narasi provokatif harus dibersihkan dari ruang publik kita jika kita benar-benar ingin mewujudkan harmoni di Bali era baru ini.

Tradisi wayang kulit Bali sendiri sebenarnya sangat adaptif. Sudana (2020, hlm. 14) mencatat bahwa para seniman muda Bali terus melakukan inovasi teknik pakeliran untuk merespons perkembangan zaman. Artinya, seni tradisional kita tidak kaku. Wayang seharusnya bisa menjadi media literasi digital yang kuat, di mana tokoh-tokohnya bisa digunakan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya hoaks dan pentingnya etika berkomunikasi.

Internalisasi nilai-nilai luhur melalui karakter pewayangan, seperti Pandawa, harus kembali digalakkan. Wicaksandita dkk. (2023, hlm. 1) menyebutkan bahwa karakter-karakter ini adalah representasi ideal manusia unggul. Jika generasi muda Bali lebih mengenal karakter Pandawa dan nilai-nilai ksatria mereka daripada sekadar mengikuti tren selebgram yang tidak jelas arahnya, maka fondasi mental kita akan jauh lebih kuat.

Kita harus menyadari bahwa panggung digital adalah panggung bayangan yang penuh tipu daya. Apa yang terlihat indah di layar sering kali hanyalah konstruksi dari rasa tidak aman pemiliknya. Tumpek Wayang mengajarkan kita untuk tidak takut pada bayangan, tetapi untuk memahaminya. Dengan memahami “bayangan” diri kita yang senang dipuji atau mudah marah, kita bisa mulai mengendalikannya.

Gambar 2. Panglukatan Tumpek Wayang
(Sumber: Dok. Penulis, 2026)

Tatanan nilai dalam pagelaran wayang, menurut Dwipayana dkk. (2024, hlm. 116), memiliki tingkatan dari nilai kenikmatan hingga nilai kerohanian. Problem sosial kita di Bali saat ini adalah kita terlalu terpaku pada “nilai kenikmatan” instan di media sosial. Kita mengabaikan nilai kerohanian yang seharusnya menjadi kompas dalam bertindak, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Krisis identitas yang dialami krama Bali di tengah gempuran globalisasi digital hanya bisa diatasi dengan kembali ke akar filosofi. Tumpek Wayang adalah momen untuk “log-out” sejenak dari kebisingan dunia luar dan melakukan “log-in” ke dalam kesadaran terdalam. Seperti kata Rah Ucil, kita harus berani tampek atau dekat dengan diri sendiri agar bisa melihat dengan jernih bayangan apa yang sebenarnya sedang kita proyeksikan ke dunia.

Setiap unggahan kita di media sosial adalah bentuk “Yadnya” digital. Pertanyaannya, apakah Yadnya itu membawa kedamaian atau justru menimbulkan keresahan? Jika Tumpek Wayang dimaknai sebagai upaya memuliakan kesenian, maka cara kita “bermain” di media sosial juga harus artistik dan penuh estetika moral, bukan sekadar membuang sampah emosi yang memperburuk keadaan.

Dalam konteks masa depan Bali di tahun 2026 dan seterusnya, tantangan digital akan semakin berat dengan adanya kecerdasan buatan (AI) yang bisa menciptakan “bayangan” yang lebih nyata dari aslinya. Jika kita tidak memiliki dasar filosofi yang kuat seperti Tumpek Wayang, kita akan semakin mudah tersesat dalam simulasi yang diciptakan oleh orang lain untuk kepentingan mereka sendiri.

Gambar 4. Ruwatan Sapuh Leger oleh Mangku Dalang
(Dok. Putu Ari, 2025)

Kesadaran bahwa kita adalah “dalang” atas hidup kita sendiri adalah kunci. Seorang dalang yang baik tahu kapan harus memulai narasi, kapan harus memberikan humor, dan kapan harus mengakhiri pertunjukan dengan damai. Kita harus menjadi dalang bagi akun media sosial kita sendiri, yang bertanggung jawab atas setiap narasi yang kita bangun dan setiap bayangan yang kita sebarkan.

Melalui ruwatan kesadaran ini, kita berharap Bali tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan ritualnya yang megah, tetapi juga karena kualitas manusianya yang bijak dalam teknologi. Manusia Bali yang sudamala adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi untuk memperluas kasih sayang (Tat Twam Asi), bukan untuk memperlebar jurang kebencian. Pembersihan mental di hari Tumpek Wayang ini harus menjadi kebiasaan baru.

Setiap kali kita merasa iri, ingin pamer, atau ingin marah di media sosial, ingatlah bahwa itu adalah “Kala” yang sedang mencoba memangsa kesadaran kita. Ambillah nafas dalam, letakkan telepon genggam, dan lihatlah ke dalam diri. Itulah esensi dari tampak dan tampek yang sesungguhnya. Maka dari itu, marilah kita jadikan Tumpek Wayang bukan hanya sebagai seremonial administratif atau adat semata. Jadikan ini sebagai momentum revolusi mental pribadi untuk keluar dari jeratan problem sosial digital yang merusak. Mari kita hapus bayangan-bayangan gelap kebencian dan kita ganti dengan cahaya kebijaksanaan yang jernih.

Semoga dengan semangat Tumpek Wayang, krama Bali tetap bisa berdiri tegak di tengah arus digital tanpa kehilangan jati diri. Mari kita rayakan hari ini dengan membersihkan pikiran, menjernihkan hati, dan menjaga kedamaian di pulau dewata tercinta ini. Selamat merayakan ruwat kesadaran, selamat menjadi manusia Bali yang berintegritas dan sudamala.[T]

Sumber Buku & Jurnal:

Dwipayana, A. A. P., Paramita, I. G. A., & Jayakumara, I. G. (2024). Tatanan Nilai Pagelaran Wayang Sapuh Leger dalam Kebudayaan Bali menurut Aksiologi Max Scheler. Vidya Wertta, 7(1), 105-118.

Foster, C. L. E. (2022). Truth as Social Practice in a Digital Era: Iteration as Persuasion. AI & Society, 38, 2009–2023. https://doi.org/10.1007/s00146-021-01306-w

Gubernur Bali. (2022). Instruksi Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Perayaan Rahina Tumpek Wayang dengan Upacara Jagat Kerthi sebagai Pelaksanaan Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru. Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali.

Sudana, I. M. (2020). Melacak Perkembangan Wayang Kulit Bali sebagai Pakeliran Inovatif. Paraguna: Jurnal Ilmu Pengetahuan, Pemikiran, dan Kajian Tentang Seni Karawitan, 7(1), 14-24.

Wicaksana, I. D. K., & Wicaksandita, I. D. K. (2023). Wayang Sapuh Leger: Sarana Upacara Ruwatan di Bali. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 7(1), 1-17.

Wicaksandita, I. D. K., Santika, S. N. G. A., Wicaksana, I. D. K., & Putra, I. G. M. D. (2023). Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali: Studi Kasus Internalisasi Jana Kerthi melalui Karakter Tokoh Pandawa, sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul. Proseding Seminar Nasional Bali Sangga Dwipantara III.

Zhu, B., Hedman, A., & Li, H. (2016). Design Digital Mindfulness for Personal Wellbeing. OzCHI ’16: Proceedings of the 28th Australian Conference on Computer-Human Interaction, 1-5. https://doi.org/10.1145/3010915.3011841

Sumber Wawancara:

Adhi Santika, Sang Nyoman Gede. (2026, 14 Maret). Perspektif akademisi dan praktisi dalang tentang fenomena kekinian. Wawancara Pribadi

Divayana, I Gusti Putu Ngurah Angga (Rah Ucil). (2026, 13 Maret). Perspektif Dalang Muda tentang Filosofi Tumpek Wayang sebagai Momentum Introspeksi. Wawancara Pribadi.

Tags: algoritmaflexingmedia sosialsudamalatumpek wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Next Post

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

I Gede Tilem Pastika

I Gede Tilem Pastika

Dosen UHN IGB Sugriwa Denpasar, seniman, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di UGM Yogyakarta

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co