24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 9, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan yang disebut Bhatara Guru (Sang Hyang Tri Murti: Brahma, Wisnu, Iswara). Bhatara Guru adalah sebutan untuk Sang Hyang Tri Murti yang dalam perwujudan langsung terlibat dengan kehidupan rohaniah dan duniawi manusia.

Kedua aspek pemuliaan tersebut dilakukan di pelinggih Kemulan. Sekalipun mungkin sudah dipahami di kalangan tertentu, di kalangan masyarakat awam masih banyak mempertanyakan dan muncul keragu-raguan: Kenapa leluhur disebut Bhatara Guru? Kenapa Kemulan disebut tempat memuliakan leluhur sekaligus tempat memuja Bhatara Guru, dan sekaligus juga sering disebut sebagai pemujaan Tri Murti atau Tri Wisesa?

Dalam tradisi Hindu Jawa dan Bali altar suci atau pelinggih Kemulan (Rong Tiga) adalah manifestasi luhur ajaran suci bagaimana kedua tahapan pemujaan Level Personal dan Level Transendental disatukan dalam satu media pemujaan.

Secara fisik Pelinggih Kemulan terdiri dari Rong Tiga bagian bawah (Level Personal), dan Rong Tiga bagian atas (Level Transendental).

Prosesi Penunggalan ke Bhatara Guru

Dalam prakteknya Hindu Nusantara mengenal mekanisme upakara atau ritual Atma Wedana (seperti Nyekah/Memukur) — Entas-entas dan Tiwah —  di mana identitas personal jiwa manusia yang telah berpulang disucikan untuk kembali ke Asal-Muasal Semesta. Nyekah/Memukur, Entas-entas dan Tiwah adalah ritual suci untuk penunggalan jiwa personal luruh ke dalam pangkuan Bhatara Guru.

1. Level Personal: Soroh dan Trah (Keturunan)

Ketika leluhur masih dipuja dengan identitas (sebagai bapak, kakek, atau buyut), mereka menempati rong-rong (bagian bawah) di Kemulan sebagai Bhatara-Bhatari Pitra.

  • Fungsi: Sebagai wujud Bhakti dan penghormatan atas jasa mereka dalam menyambung nafas keturunan.
  • Identitas: Masih ada keterikatan emosional dan nama, namun sudah dalam status “disucikan” (diaben menjadi pitara).

2. Level Transendental: Penunggalan ke Bhatara Guru (Atma ke Paramatma)

Puncak dari evolusi kesadaran di Kemulan adalah ketika leluhur tidak lagi dilihat sebagai individu (Rong Tiga bagian bawah) dan telah manunggal dengan Bhatara Guru atau Sang Hyang Tri Murti (manunggal di Rong Tiga bagian atas).

  • Proses: Identitas personal dilepaskan (nir-nama & nir-rupa) dan esensi hidupnya (Atma) menyatu kembali dengan Sang Sumber (Paramatma).
  • Bhatara Guru: Dalam konteks ini, beliau adalah simbol Kawitan yang Sejati—sang guru spiritual pertama dan asal muasal kehidupan.
  • Hasil: Leluhur tidak lagi bersifat “milik saya”, melainkan telah menjadi bagian dari Energi Semesta yang menghidupi dunia, bahkan adalah Hyang Mahasuci muasal Energi Semesta.

Kemulan Tiga sebagai Jembatan

Inilah keunikan tradisi Hindu di Nusantara. Pemujaan leluhur tidak berhenti pada pemuliaan roh orang yang telah meninggal. Pelinggih Kemulan dan tempat suci di rumah-rumah umat Hindu bukan hanya tempat memuja “orang mati”, melainkan laboratorium spiritual untuk:

  • Mengingat Akar (Bhakti): Memuja leluhur sebagai identitas untuk menjaga etika dan silsilah.
  • Menyadari Sumber (Jnana): Menyadari bahwa leluhur telah menyatu dengan Bhatara Guru (Tri Murti), sehingga saat kita memuja di Kemulan, kita sebenarnya sedang memuja Tuhan yang sedang mewujud sebagai asal-usul, penjaga kehidupan, dan kemana akhirnya kita kembali.

Dengan pemahaman ini, pemeluk Hindu Nusantara tidak akan terjebak pada mitos individu semata, karena pada akhirnya semua identitas itu “dikembalikan” (dilinggihkan) kepada Sang Pencipta.

Tidak Terhenti di Level Personal

Pemahaman tentang “penunggalan ke Bhatara Guru” ini tidak banyak dipahami oleh masyarakat umum, yang masih berhenti hanya pada level pemujaan sosok/personal saja.

Masyarakat belum banyak yang memahami bahwa tradisi Entas-entas, Nyekah, dan Tiwah adalah “mengembalikan Jiwa personal ke Kemulan”. Diharapkan dengan melakukan ritual ini umat diajak menyadari bahwa “jiwa personal idealnya melebur dan manunggal ke Atma universal”. Tentu karma dari jiwa-jiwa personal yang “belum selesai” dipertanggungjawabkan oleh masing-masing identitas personalnya.

Fenomena Terhenti di Level Personal

Umat cukup banyak yang terjebak pada level Bhakti lahiriah (ritual) tanpa menyentuh Jnana (hakekat). Fenomena ini memang menjadi realitas teo-sosiologis di masyarakat Hindu Nusantara. 

Ada beberapa alasan mendalam mengapa pemahaman “Penunggalan ke Bhatara Guru” ini sering terhenti di level personal:

1. Dominasi Pola Pikir “Kekeluargaan” (Sentrisitas Identitas)

Masyarakat kita sangat kuat dalam ikatan darah. Hal ini membuat leluhur lebih mudah dibayangkan sebagai “orang tua yang sangat sakti” daripada sebagai “energi Atma yang murni”. Akibatnya, pemujaan lebih bersifat transaksional emosional: “Saya menyembah nenek-moyang supaya keluarga saya dilindungi.” Fokusnya adalah pada sosok, bukan pada esensi ketuhanan yang ada di dalam sosok tersebut.

2. Berhenti di Simbolisme Ritual

Upacara besar seperti Nyekah atau Memukur secara filosofis bertujuan untuk memutus keterikatan jiwa dari identitas duniawi agar bisa manunggal dengan Bhatara Guru/Tri Murti. Namun, seringkali masyarakat hanya fokus pada kemegahan ritualnya saja. Setelah upacara selesai dan simbol leluhur dilinggihkan di Kemulan, mereka tetap memperlakukan entitas tersebut sebagai “pribadi” yang memiliki ego manusia, bukan sebagai Atma yang sudah bebas.

3. Kurangnya Literasi Filosofis (Tattwa)

Pendidikan agama di tingkat praktis lebih banyak menekankan “bagaimana cara upacara” (Ritual/Banten) daripada “mengapa upacara itu dilakukan” (Tattwa). Tanpa pemahaman Tattwa yang kuat, konsep Kawitan yang berarti “Muasal Hidup” bergeser menjadi “Tokoh Sejarah”. Akhirnya, orang lebih sibuk mencari “siapa nama leluhur saya” demi prestise sosial (identitas), daripada menyadari “apa itu sumber energi kehidupan dan esensi hidup” (Atma).

4. Jebakan Mitos Silsilah

Ketika pemujaan berhenti pada level personal, muncul fanatisme klan. Mitos-mitos kehebatan tokoh masa lalu dijadikan alat legitimasi sosial. Jika seseorang menyadari konsep Penunggalan ke Bhatara Guru, maka seharusnya ego kelompok itu luruh, karena semua leluhur pada akhirnya menyatu di sumber yang sama. Namun, bagi sebagian orang, mempertahankan “identitas personal” leluhur lebih menguntungkan secara posisi sosial di masyarakat, sebagai sarana hegemoni atau pemertahanan kekuasaan yang diwariskan dengan jalur keturunan.

Mengapa Pemahaman Panunggalan Bhatara Guru Penting?

Jika masyarakat tetap berhenti di level personal, mereka akan:

  1. Selalu merasa “berbeda” dengan kelompok lain (Ego sektarian).
  2. Mudah takut akan “kutukan” leluhur (Mitos ketakutan).
  3. Gagal menjadikan pemujaan leluhur sebagai jalan Moksha atau pencerahan diri.

Bhatara Guru di Kemulan adalah simbol bahwa leluhur telah melampaui nama dan rupa. Beliau adalah Guru Sejati yang mengajarkan kita bahwa asal kita adalah suci, dan tujuan kita adalah kembali ke kesucian tersebut.

Penting dipahami bahwa Bhatara Guru adalah “lautan tempat luruhnya semua jiwa-personal” atau “tempat mengembalikan jiwa sehingga hanyut dalam lautan besar Atma tanpa identitas” atau “muasal semua jiwa”.

Bhatara Guru adalah “Samudera Jiwa” dan luruhnya semua personalitas yang membebaskan jiwa dari sekat-sekat sempit identitas manusia.

Ritual Pitra Yadnya, yang kita kenal sebagai Ngaben atau Entas-Entas atau Tiwah, adalah prosesi untuk mengembalikan “jiwa personal” kembali ke “Jiwa Agung atau Atma”, yang mana jalurnya adalah penunggalan jiwa personal ke pintu Sang Hyang Tri Murti atau Bhatara Guru sebagai “lautan tempat luruhnya jiwa”.

1. Peluruhan Ego dan Nama (Nir-Nama)

Sama seperti sungai yang kehilangan namanya saat menyatu dengan laut, jiwa-jiwa personal (Pitra) yang telah kembali Kemulan (Bhatara Guru) seharusnya tidak lagi membawa nama atau gelar duniawi. Di dalam “Lautan” Bhatara Guru, tidak ada lagi si A atau si B; yang ada hanyalah Sat-Cit-Ananda (Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan).

2. Bhatara Guru sebagai Muasal (Bhatara Kawitan)

Bhatara Guru bukan sekadar sosok guru dalam wujud manusia, melainkan simbol dari Paramatma (Roh Semesta). Beliau adalah titik nol di mana semua kehidupan bermula dan titik akhir di mana semua kehidupan berpulang. Mengembalikan leluhur ke Bhatara Guru berarti mengakui bahwa mereka telah selesai dengan urusan identitas “aku” dan telah menjadi bagian dari “Aku yang Universal”.

3. Konsekuensi Spiritual bagi yang Masih Hidup

Jika kita memahami bahwa leluhur telah hanyut dalam “Lautan Atma” tanpa identitas, maka:

  • Kehilangan Rasa Takut: Kita tidak lagi takut akan “kemarahan” sosok personal, karena yang kita puja adalah energi kasih yang murni.
  • Universalitas: Kita menyadari bahwa leluhur kita dan leluhur orang lain bersumber dari lautan yang sama. Ini menghapuskan rasa tinggi hati antar klan atau kasta.
  • Kesadaran Diri: Kita menyadari bahwa diri kita pun adalah “tetesan air” yang suatu saat akan kembali ke lautan yang sama.

Kemulan sebagai “Sangkan Paraning Dumadi”

Banyak orang masih memuja di Kemulan seolah-olah mereka sedang berbicara dengan “orang” yang ada di seberang sana. Padahal, melalui Bhatara Guru, kita diajak untuk melihat bahwa leluhur telah melampaui batas-batas pribadi tersebut. Pemujaan ini bukan lagi tentang “meminta kepada kakek-moyang atau nenek moyang”, tapi tentang bagaimana kita di duia ini terus terhubung dengan “Sumber Hidup Yang Asali”.

Ini adalah ajaran Sangkan Paraning Dumadi yang paling murni: Bahwa asal dan tujuan kita bukanlah sebuah nama, melainkan Kesadaran Tak Bertepi.

Pelinggih Kemulan (Rong Tiga) dalam tradisi Hindu Jawa dan Bali adalah manifestasi cerdas bagaimana kedua tahapan pemujaan luluhur dari Level Personal dan Level Transendental diberikan ruang untuk dipilih kemudian dipahami secara bertahap. Dari melihat leluhur sebagai jiwa personal (rong tiga bagian bawah) sampai pada suatu titik kesadaran bahwa leluhur adalah Atma transendental (rong tiga bagian atas).

Dalam lontar Tantu Pagelaran disebutkan Bhatara Guru menciptakan dari diri-Nya sendiri Brahma, Wisnu, Rudra/Iswara untuk melakukan “karya penciptaan, karya perawatan dan pemeliharaan, dan karya peleburan kembali atau menyatukan kembali pada muasal”. Tri Murti sendiri adalah wujud tiga kekaryaan dari Bhatara Guru. Bhatara Guru adalah “panunggalan dari Tri Murti”  yang tidak lain adalah “Sumber Hidup” yang mengadakan alam semesta, merawat, dan mengembalikannya pada yang diri-Nya sebagai Sang Muasal.

Pelinggih Kemulan dalam tradisi Hindu Jawa, Bali,  dan Nusantara, telah menjadi pusat puja, pusat renungan “ada dan tiada”, “hidup dan muasal kehidupan”, “pitara (jiwa) dan Atma (muasal dan pemberi hidup semua jiwa)”, “keterpisahan dan kemanunggalan”, “kefanaan dan keabadian”. Kemulan menjadi titik berbagai praktek untuk memahami energi suci kehidupan dengan ritual bhakti dan kontemplasi jnana. Berangkat dari tahapan terbawah, sampai menuju tahapan tertinggi.

Kemulan menjadi tempat untuk memahami bahwa jiwa personal adalah “kehidupan personal yang temporer” dan Bhatara Guru adalah “Sumber Hidup Non Personal dan Non Temporer” yang menjadi pembimbing semesta atau Guru Jagat, yang memberikan tubuh dan jiwa, dan yang hadir di dalam diri dan luar diri kita; dari ketiadaan badan, proses memiliki badan, bertumbuh dan badan menua, sampai kembali kita tidak memiliki badan, lalu menunggal kembali ke Hyang Maha Sunia. [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

BACA BAGIAN 1:

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]
Tags: hinduHindu BaliHindu Nusantarakawitanleluhur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini

Next Post

Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta  —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan

Menanggalkan Mental 'Parekan': Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta ---Tanggapan untuk Esai 'Lakon Lobi Pedidian' I Gede Joni Suhartawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co