25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 9, 2026
in Esai
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

Umbu Landu Paranggi

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti yang sering terlihat dalam foto-foto lama; tenang, sederhana, dan seperti menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Dengan kalimat pendek dan tegas ia berkata, “Kembali ke huma!” Kalimat itu terdengar seperti perintah sekaligus nasihat. Setelah itu, mimpi pun berakhir.

Namun kalimat singkat itu terus terngiang-ngiang di kepala saya sejak bangun pagi. Seperti gema yang tidak selesai. Saya tahu kalimat itu bukan sembarang kalimat, sebab ia segera mengingatkan saya pada sebuah larik sajak karya beliau sendiri: “kembali ke huma berhati.”

Sajak itu berjudul Apa Ada Angin di Jakarta.

Dalam sajak tersebut, Umbu menulis tentang kerinduan pada desa, tentang seseorang yang seperti terlempar jauh dari akarnya, terseret ke dalam hiruk-pikuk kota besar. Ada kesunyian yang terasa di antara kata-katanya, seakan-akan kota bukan tempat pulang, melainkan tempat persinggahan yang sering membuat manusia lupa dari mana ia berasal.

Apa Ada Angin di Jakarta

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

Setelah membaca ulang sajak itu, saya mulai memahami mengapa dalam mimpi Umbu memilih kata “huma”.

Huma bukan sekadar rumah. Huma juga bukan sekadar desa. Dalam banyak kebudayaan Nusantara, huma sering merujuk pada tanah asal, ladang kehidupan, tempat manusia menanam dan merawat dirinya sendiri. Mungkin karena itu pula kata itu terasa begitu dalam.

Saya pertama kali mengenal nama Umbu Landu Paranggi saat masih mahasiswa. Ia dikenal luas sebagai penyair besar Indonesia yang lahir di Sumba pada 1943 dan kemudian menjadi sosok legendaris dalam dunia sastra Yogyakarta. Banyak orang menyebutnya “Presiden Malioboro”, bukan karena jabatan resmi, melainkan karena pengaruhnya yang begitu besar di kalangan penyair muda.

Namun Umbu bukan tipe sastrawan yang suka tampil di panggung. Ia justru dikenal sebagai sosok yang memilih berada di pinggir, membimbing banyak penyair muda tanpa banyak bicara tentang dirinya sendiri.

Banyak penyair Indonesia lahir dari sentuhan tangannya, dari diskusi-diskusi malam di Malioboro, dari percakapan sederhana yang kadang lebih menyerupai perenungan daripada pengajaran. Ia seperti guru yang tidak pernah mengaku sebagai guru.

Karena itu pula, ketika ia muncul dalam mimpi saya dan berkata “kembali ke huma”, kalimat itu terasa seperti datang dari seseorang yang memang terbiasa berbicara dengan bahasa simbol.

Setelah mimpi itu, saya terus memikirkan satu hal, yakni, apakah ini sekadar mimpi, atau sebenarnya sebuah cermin dari kegelisahan saya sendiri?

Telah lama saya hidup di Denpasar. Kota ini bergerak cepat. Segalanya terasa mahal. Harga makanan naik, harga kos naik, harga kebutuhan sehari-hari naik. Tetapi pendapatan tidak selalu naik bersama semua itu.

Ada masa-masa ketika saya merasa kota ini seperti arena bertahan hidup yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap pagi orang berangkat bekerja dengan wajah tergesa-gesa. Setiap malam mereka pulang dengan wajah lelah. Kota seakan menelan waktu manusia tanpa memberi kesempatan cukup untuk bernapas.

Pada saat-saat seperti itulah pikiran tentang pulang sering muncul. Pulang ke Jembrana, ke kampung halaman. Tempat di mana hidup terasa lebih pelan, langit masih bisa dilihat tanpa terhalang gedung. Tempat di mana seseorang tidak perlu berlari terlalu cepat hanya untuk bertahan hidup.

Mungkin karena kegelisahan itulah Umbu muncul dalam mimpi saya. Atau mungkin sebenarnya bukan Umbu yang datang, melainkan suara hati saya sendiri yang mencari bentuknya dalam sosok seorang penyair.

Ketika saya menceritakan mimpi ini kepada seorang sahabat, ia memberikan tafsir yang berbeda. Sahabat itu adalah Leonardo Rimba, seorang spiritualis, guru meditasi, sekaligus pembaca tarot yang cukup dikenal di kalangan tertentu.

Menurutnya, kata “huma” dalam sajak Umbu tidak selalu harus dipahami secara harfiah sebagai desa atau kampung halaman.

“Huma itu simbol,” katanya. Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa sajak, huma bisa berarti ruang batin tempat manusia kembali menyederhanakan hidupnya.

Artinya bukan sekadar pindah dari kota ke desa. Bukan pula meninggalkan modernitas sepenuhnya. “Huma adalah rumah batin,” katanya.

Ia bahkan mengaitkan konsep itu dengan kisah manusia pertama dalam banyak tradisi spiritual. Dalam tafsirnya, manusia selalu memiliki kerinduan untuk kembali pada keadaan paling awal—seperti Adam dan Hawa sebelum keluar dari surga.

Namun sejak manusia keluar dari surga, ia harus membangun huma di dunia. Huma itu bisa berupa rumah, ladang, keluarga, bahkan jalan hidup yang dipilih seseorang. Sejak saat itu, kata Leonardo, setiap manusia membawa huma di dalam dirinya.

Saya terdiam cukup lama setelah mendengar tafsir itu. Karena tiba-tiba saya merasa bahwa kata “kembali” dalam mimpi Umbu mungkin bukan hanya tentang tempat. Ia juga bisa berarti kembali pada diri sendiri.

Dalam kebudayaan Bali sendiri ada sebuah kalimat yang tidak kalah menarik. Kalimat itu berasal dari Ida Pedanda Gede Sidemen, seorang kawi-wiku besar dari Sanur yang hidup antara 1858 hingga 1984.

Kalimatnya berbunyi:

“Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin.”

Artinya kira-kira: jika tidak memiliki lahan sawah, maka lahan diri sendirilah yang harus ditanami.

Kalimat ini seperti memperluas makna huma. Jika manusia tidak memiliki ladang di luar dirinya, ia masih memiliki ladang di dalam dirinya sendiri. Ladang itu adalah pikiran, batin, dan kehidupan yang ia jalani setiap hari. Di ladang itulah manusia sebenarnya menanam masa depannya.

Mungkin itulah yang dimaksud Umbu dengan “kembali ke huma berhati”. Bukan sekadar kembali ke desa. Melainkan kembali pada ladang batin. Kembali pada sesuatu yang lebih sederhana tetapi juga lebih jujur. Sebab sering kali manusia tersesat bukan karena ia terlalu jauh dari rumah, melainkan karena ia terlalu jauh dari dirinya sendiri.

Kota membuat manusia sibuk mengejar banyak hal; uang, status, pekerjaan, popularitas. Tetapi dalam kesibukan itu manusia sering lupa menanam sesuatu di dalam dirinya. Padahal tanpa itu semua, hidup akan terasa kosong. Seperti ladang yang tidak pernah ditanami.

Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya benar-benar akan kembali tinggal di Jembrana. Mungkin iya. Mungkin tidak. Hidup sering berjalan dengan cara yang tidak bisa kita rencanakan sepenuhnya. Namun mimpi tentang Umbu Landu Paranggi itu memberi saya satu kesadaran kecil.

Bahwa pulang tidak selalu berarti berpindah tempat. Kadang pulang berarti berhenti sejenak. Berhenti dari kegaduhan. Berhenti dari ambisi yang terlalu keras. Lalu kembali menanam sesuatu di dalam diri sendiri. Mungkin itulah huma. Tempat di mana manusia akhirnya menemukan dirinya lagi. Dan mungkin karena itu pula, dalam mimpinya yang singkat, Umbu tidak berkata banyak. Ia hanya berkata satu kalimat. “Kembali ke huma.” Kalimat yang pendek. Namun cukup panjang untuk direnungkan seumur hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PuisiSastra IndonesiaUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Next Post

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co