26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 9, 2026
in Esai
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

Umbu Landu Paranggi

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti yang sering terlihat dalam foto-foto lama; tenang, sederhana, dan seperti menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Dengan kalimat pendek dan tegas ia berkata, “Kembali ke huma!” Kalimat itu terdengar seperti perintah sekaligus nasihat. Setelah itu, mimpi pun berakhir.

Namun kalimat singkat itu terus terngiang-ngiang di kepala saya sejak bangun pagi. Seperti gema yang tidak selesai. Saya tahu kalimat itu bukan sembarang kalimat, sebab ia segera mengingatkan saya pada sebuah larik sajak karya beliau sendiri: “kembali ke huma berhati.”

Sajak itu berjudul Apa Ada Angin di Jakarta.

Dalam sajak tersebut, Umbu menulis tentang kerinduan pada desa, tentang seseorang yang seperti terlempar jauh dari akarnya, terseret ke dalam hiruk-pikuk kota besar. Ada kesunyian yang terasa di antara kata-katanya, seakan-akan kota bukan tempat pulang, melainkan tempat persinggahan yang sering membuat manusia lupa dari mana ia berasal.

Apa Ada Angin di Jakarta

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

Setelah membaca ulang sajak itu, saya mulai memahami mengapa dalam mimpi Umbu memilih kata “huma”.

Huma bukan sekadar rumah. Huma juga bukan sekadar desa. Dalam banyak kebudayaan Nusantara, huma sering merujuk pada tanah asal, ladang kehidupan, tempat manusia menanam dan merawat dirinya sendiri. Mungkin karena itu pula kata itu terasa begitu dalam.

Saya pertama kali mengenal nama Umbu Landu Paranggi saat masih mahasiswa. Ia dikenal luas sebagai penyair besar Indonesia yang lahir di Sumba pada 1943 dan kemudian menjadi sosok legendaris dalam dunia sastra Yogyakarta. Banyak orang menyebutnya “Presiden Malioboro”, bukan karena jabatan resmi, melainkan karena pengaruhnya yang begitu besar di kalangan penyair muda.

Namun Umbu bukan tipe sastrawan yang suka tampil di panggung. Ia justru dikenal sebagai sosok yang memilih berada di pinggir, membimbing banyak penyair muda tanpa banyak bicara tentang dirinya sendiri.

Banyak penyair Indonesia lahir dari sentuhan tangannya, dari diskusi-diskusi malam di Malioboro, dari percakapan sederhana yang kadang lebih menyerupai perenungan daripada pengajaran. Ia seperti guru yang tidak pernah mengaku sebagai guru.

Karena itu pula, ketika ia muncul dalam mimpi saya dan berkata “kembali ke huma”, kalimat itu terasa seperti datang dari seseorang yang memang terbiasa berbicara dengan bahasa simbol.

Setelah mimpi itu, saya terus memikirkan satu hal, yakni, apakah ini sekadar mimpi, atau sebenarnya sebuah cermin dari kegelisahan saya sendiri?

Telah lama saya hidup di Denpasar. Kota ini bergerak cepat. Segalanya terasa mahal. Harga makanan naik, harga kos naik, harga kebutuhan sehari-hari naik. Tetapi pendapatan tidak selalu naik bersama semua itu.

Ada masa-masa ketika saya merasa kota ini seperti arena bertahan hidup yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap pagi orang berangkat bekerja dengan wajah tergesa-gesa. Setiap malam mereka pulang dengan wajah lelah. Kota seakan menelan waktu manusia tanpa memberi kesempatan cukup untuk bernapas.

Pada saat-saat seperti itulah pikiran tentang pulang sering muncul. Pulang ke Jembrana, ke kampung halaman. Tempat di mana hidup terasa lebih pelan, langit masih bisa dilihat tanpa terhalang gedung. Tempat di mana seseorang tidak perlu berlari terlalu cepat hanya untuk bertahan hidup.

Mungkin karena kegelisahan itulah Umbu muncul dalam mimpi saya. Atau mungkin sebenarnya bukan Umbu yang datang, melainkan suara hati saya sendiri yang mencari bentuknya dalam sosok seorang penyair.

Ketika saya menceritakan mimpi ini kepada seorang sahabat, ia memberikan tafsir yang berbeda. Sahabat itu adalah Leonardo Rimba, seorang spiritualis, guru meditasi, sekaligus pembaca tarot yang cukup dikenal di kalangan tertentu.

Menurutnya, kata “huma” dalam sajak Umbu tidak selalu harus dipahami secara harfiah sebagai desa atau kampung halaman.

“Huma itu simbol,” katanya. Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa sajak, huma bisa berarti ruang batin tempat manusia kembali menyederhanakan hidupnya.

Artinya bukan sekadar pindah dari kota ke desa. Bukan pula meninggalkan modernitas sepenuhnya. “Huma adalah rumah batin,” katanya.

Ia bahkan mengaitkan konsep itu dengan kisah manusia pertama dalam banyak tradisi spiritual. Dalam tafsirnya, manusia selalu memiliki kerinduan untuk kembali pada keadaan paling awal—seperti Adam dan Hawa sebelum keluar dari surga.

Namun sejak manusia keluar dari surga, ia harus membangun huma di dunia. Huma itu bisa berupa rumah, ladang, keluarga, bahkan jalan hidup yang dipilih seseorang. Sejak saat itu, kata Leonardo, setiap manusia membawa huma di dalam dirinya.

Saya terdiam cukup lama setelah mendengar tafsir itu. Karena tiba-tiba saya merasa bahwa kata “kembali” dalam mimpi Umbu mungkin bukan hanya tentang tempat. Ia juga bisa berarti kembali pada diri sendiri.

Dalam kebudayaan Bali sendiri ada sebuah kalimat yang tidak kalah menarik. Kalimat itu berasal dari Ida Pedanda Gede Sidemen, seorang kawi-wiku besar dari Sanur yang hidup antara 1858 hingga 1984.

Kalimatnya berbunyi:

“Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin.”

Artinya kira-kira: jika tidak memiliki lahan sawah, maka lahan diri sendirilah yang harus ditanami.

Kalimat ini seperti memperluas makna huma. Jika manusia tidak memiliki ladang di luar dirinya, ia masih memiliki ladang di dalam dirinya sendiri. Ladang itu adalah pikiran, batin, dan kehidupan yang ia jalani setiap hari. Di ladang itulah manusia sebenarnya menanam masa depannya.

Mungkin itulah yang dimaksud Umbu dengan “kembali ke huma berhati”. Bukan sekadar kembali ke desa. Melainkan kembali pada ladang batin. Kembali pada sesuatu yang lebih sederhana tetapi juga lebih jujur. Sebab sering kali manusia tersesat bukan karena ia terlalu jauh dari rumah, melainkan karena ia terlalu jauh dari dirinya sendiri.

Kota membuat manusia sibuk mengejar banyak hal; uang, status, pekerjaan, popularitas. Tetapi dalam kesibukan itu manusia sering lupa menanam sesuatu di dalam dirinya. Padahal tanpa itu semua, hidup akan terasa kosong. Seperti ladang yang tidak pernah ditanami.

Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya benar-benar akan kembali tinggal di Jembrana. Mungkin iya. Mungkin tidak. Hidup sering berjalan dengan cara yang tidak bisa kita rencanakan sepenuhnya. Namun mimpi tentang Umbu Landu Paranggi itu memberi saya satu kesadaran kecil.

Bahwa pulang tidak selalu berarti berpindah tempat. Kadang pulang berarti berhenti sejenak. Berhenti dari kegaduhan. Berhenti dari ambisi yang terlalu keras. Lalu kembali menanam sesuatu di dalam diri sendiri. Mungkin itulah huma. Tempat di mana manusia akhirnya menemukan dirinya lagi. Dan mungkin karena itu pula, dalam mimpinya yang singkat, Umbu tidak berkata banyak. Ia hanya berkata satu kalimat. “Kembali ke huma.” Kalimat yang pendek. Namun cukup panjang untuk direnungkan seumur hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PuisiSastra IndonesiaUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Next Post

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co