5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 9, 2026
in Esai
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

Umbu Landu Paranggi

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti yang sering terlihat dalam foto-foto lama; tenang, sederhana, dan seperti menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Dengan kalimat pendek dan tegas ia berkata, “Kembali ke huma!” Kalimat itu terdengar seperti perintah sekaligus nasihat. Setelah itu, mimpi pun berakhir.

Namun kalimat singkat itu terus terngiang-ngiang di kepala saya sejak bangun pagi. Seperti gema yang tidak selesai. Saya tahu kalimat itu bukan sembarang kalimat, sebab ia segera mengingatkan saya pada sebuah larik sajak karya beliau sendiri: “kembali ke huma berhati.”

Sajak itu berjudul Apa Ada Angin di Jakarta.

Dalam sajak tersebut, Umbu menulis tentang kerinduan pada desa, tentang seseorang yang seperti terlempar jauh dari akarnya, terseret ke dalam hiruk-pikuk kota besar. Ada kesunyian yang terasa di antara kata-katanya, seakan-akan kota bukan tempat pulang, melainkan tempat persinggahan yang sering membuat manusia lupa dari mana ia berasal.

Apa Ada Angin di Jakarta

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

Setelah membaca ulang sajak itu, saya mulai memahami mengapa dalam mimpi Umbu memilih kata “huma”.

Huma bukan sekadar rumah. Huma juga bukan sekadar desa. Dalam banyak kebudayaan Nusantara, huma sering merujuk pada tanah asal, ladang kehidupan, tempat manusia menanam dan merawat dirinya sendiri. Mungkin karena itu pula kata itu terasa begitu dalam.

Saya pertama kali mengenal nama Umbu Landu Paranggi saat masih mahasiswa. Ia dikenal luas sebagai penyair besar Indonesia yang lahir di Sumba pada 1943 dan kemudian menjadi sosok legendaris dalam dunia sastra Yogyakarta. Banyak orang menyebutnya “Presiden Malioboro”, bukan karena jabatan resmi, melainkan karena pengaruhnya yang begitu besar di kalangan penyair muda.

Namun Umbu bukan tipe sastrawan yang suka tampil di panggung. Ia justru dikenal sebagai sosok yang memilih berada di pinggir, membimbing banyak penyair muda tanpa banyak bicara tentang dirinya sendiri.

Banyak penyair Indonesia lahir dari sentuhan tangannya, dari diskusi-diskusi malam di Malioboro, dari percakapan sederhana yang kadang lebih menyerupai perenungan daripada pengajaran. Ia seperti guru yang tidak pernah mengaku sebagai guru.

Karena itu pula, ketika ia muncul dalam mimpi saya dan berkata “kembali ke huma”, kalimat itu terasa seperti datang dari seseorang yang memang terbiasa berbicara dengan bahasa simbol.

Setelah mimpi itu, saya terus memikirkan satu hal, yakni, apakah ini sekadar mimpi, atau sebenarnya sebuah cermin dari kegelisahan saya sendiri?

Telah lama saya hidup di Denpasar. Kota ini bergerak cepat. Segalanya terasa mahal. Harga makanan naik, harga kos naik, harga kebutuhan sehari-hari naik. Tetapi pendapatan tidak selalu naik bersama semua itu.

Ada masa-masa ketika saya merasa kota ini seperti arena bertahan hidup yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap pagi orang berangkat bekerja dengan wajah tergesa-gesa. Setiap malam mereka pulang dengan wajah lelah. Kota seakan menelan waktu manusia tanpa memberi kesempatan cukup untuk bernapas.

Pada saat-saat seperti itulah pikiran tentang pulang sering muncul. Pulang ke Jembrana, ke kampung halaman. Tempat di mana hidup terasa lebih pelan, langit masih bisa dilihat tanpa terhalang gedung. Tempat di mana seseorang tidak perlu berlari terlalu cepat hanya untuk bertahan hidup.

Mungkin karena kegelisahan itulah Umbu muncul dalam mimpi saya. Atau mungkin sebenarnya bukan Umbu yang datang, melainkan suara hati saya sendiri yang mencari bentuknya dalam sosok seorang penyair.

Ketika saya menceritakan mimpi ini kepada seorang sahabat, ia memberikan tafsir yang berbeda. Sahabat itu adalah Leonardo Rimba, seorang spiritualis, guru meditasi, sekaligus pembaca tarot yang cukup dikenal di kalangan tertentu.

Menurutnya, kata “huma” dalam sajak Umbu tidak selalu harus dipahami secara harfiah sebagai desa atau kampung halaman.

“Huma itu simbol,” katanya. Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa sajak, huma bisa berarti ruang batin tempat manusia kembali menyederhanakan hidupnya.

Artinya bukan sekadar pindah dari kota ke desa. Bukan pula meninggalkan modernitas sepenuhnya. “Huma adalah rumah batin,” katanya.

Ia bahkan mengaitkan konsep itu dengan kisah manusia pertama dalam banyak tradisi spiritual. Dalam tafsirnya, manusia selalu memiliki kerinduan untuk kembali pada keadaan paling awal—seperti Adam dan Hawa sebelum keluar dari surga.

Namun sejak manusia keluar dari surga, ia harus membangun huma di dunia. Huma itu bisa berupa rumah, ladang, keluarga, bahkan jalan hidup yang dipilih seseorang. Sejak saat itu, kata Leonardo, setiap manusia membawa huma di dalam dirinya.

Saya terdiam cukup lama setelah mendengar tafsir itu. Karena tiba-tiba saya merasa bahwa kata “kembali” dalam mimpi Umbu mungkin bukan hanya tentang tempat. Ia juga bisa berarti kembali pada diri sendiri.

Dalam kebudayaan Bali sendiri ada sebuah kalimat yang tidak kalah menarik. Kalimat itu berasal dari Ida Pedanda Gede Sidemen, seorang kawi-wiku besar dari Sanur yang hidup antara 1858 hingga 1984.

Kalimatnya berbunyi:

“Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin.”

Artinya kira-kira: jika tidak memiliki lahan sawah, maka lahan diri sendirilah yang harus ditanami.

Kalimat ini seperti memperluas makna huma. Jika manusia tidak memiliki ladang di luar dirinya, ia masih memiliki ladang di dalam dirinya sendiri. Ladang itu adalah pikiran, batin, dan kehidupan yang ia jalani setiap hari. Di ladang itulah manusia sebenarnya menanam masa depannya.

Mungkin itulah yang dimaksud Umbu dengan “kembali ke huma berhati”. Bukan sekadar kembali ke desa. Melainkan kembali pada ladang batin. Kembali pada sesuatu yang lebih sederhana tetapi juga lebih jujur. Sebab sering kali manusia tersesat bukan karena ia terlalu jauh dari rumah, melainkan karena ia terlalu jauh dari dirinya sendiri.

Kota membuat manusia sibuk mengejar banyak hal; uang, status, pekerjaan, popularitas. Tetapi dalam kesibukan itu manusia sering lupa menanam sesuatu di dalam dirinya. Padahal tanpa itu semua, hidup akan terasa kosong. Seperti ladang yang tidak pernah ditanami.

Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya benar-benar akan kembali tinggal di Jembrana. Mungkin iya. Mungkin tidak. Hidup sering berjalan dengan cara yang tidak bisa kita rencanakan sepenuhnya. Namun mimpi tentang Umbu Landu Paranggi itu memberi saya satu kesadaran kecil.

Bahwa pulang tidak selalu berarti berpindah tempat. Kadang pulang berarti berhenti sejenak. Berhenti dari kegaduhan. Berhenti dari ambisi yang terlalu keras. Lalu kembali menanam sesuatu di dalam diri sendiri. Mungkin itulah huma. Tempat di mana manusia akhirnya menemukan dirinya lagi. Dan mungkin karena itu pula, dalam mimpinya yang singkat, Umbu tidak berkata banyak. Ia hanya berkata satu kalimat. “Kembali ke huma.” Kalimat yang pendek. Namun cukup panjang untuk direnungkan seumur hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PuisiSastra IndonesiaUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Next Post

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co