5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 9, 2026
in Esai
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

Umbu Landu Paranggi

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti yang sering terlihat dalam foto-foto lama; tenang, sederhana, dan seperti menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Dengan kalimat pendek dan tegas ia berkata, “Kembali ke huma!” Kalimat itu terdengar seperti perintah sekaligus nasihat. Setelah itu, mimpi pun berakhir.

Namun kalimat singkat itu terus terngiang-ngiang di kepala saya sejak bangun pagi. Seperti gema yang tidak selesai. Saya tahu kalimat itu bukan sembarang kalimat, sebab ia segera mengingatkan saya pada sebuah larik sajak karya beliau sendiri: “kembali ke huma berhati.”

Sajak itu berjudul Apa Ada Angin di Jakarta.

Dalam sajak tersebut, Umbu menulis tentang kerinduan pada desa, tentang seseorang yang seperti terlempar jauh dari akarnya, terseret ke dalam hiruk-pikuk kota besar. Ada kesunyian yang terasa di antara kata-katanya, seakan-akan kota bukan tempat pulang, melainkan tempat persinggahan yang sering membuat manusia lupa dari mana ia berasal.

Apa Ada Angin di Jakarta

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

Setelah membaca ulang sajak itu, saya mulai memahami mengapa dalam mimpi Umbu memilih kata “huma”.

Huma bukan sekadar rumah. Huma juga bukan sekadar desa. Dalam banyak kebudayaan Nusantara, huma sering merujuk pada tanah asal, ladang kehidupan, tempat manusia menanam dan merawat dirinya sendiri. Mungkin karena itu pula kata itu terasa begitu dalam.

Saya pertama kali mengenal nama Umbu Landu Paranggi saat masih mahasiswa. Ia dikenal luas sebagai penyair besar Indonesia yang lahir di Sumba pada 1943 dan kemudian menjadi sosok legendaris dalam dunia sastra Yogyakarta. Banyak orang menyebutnya “Presiden Malioboro”, bukan karena jabatan resmi, melainkan karena pengaruhnya yang begitu besar di kalangan penyair muda.

Namun Umbu bukan tipe sastrawan yang suka tampil di panggung. Ia justru dikenal sebagai sosok yang memilih berada di pinggir, membimbing banyak penyair muda tanpa banyak bicara tentang dirinya sendiri.

Banyak penyair Indonesia lahir dari sentuhan tangannya, dari diskusi-diskusi malam di Malioboro, dari percakapan sederhana yang kadang lebih menyerupai perenungan daripada pengajaran. Ia seperti guru yang tidak pernah mengaku sebagai guru.

Karena itu pula, ketika ia muncul dalam mimpi saya dan berkata “kembali ke huma”, kalimat itu terasa seperti datang dari seseorang yang memang terbiasa berbicara dengan bahasa simbol.

Setelah mimpi itu, saya terus memikirkan satu hal, yakni, apakah ini sekadar mimpi, atau sebenarnya sebuah cermin dari kegelisahan saya sendiri?

Telah lama saya hidup di Denpasar. Kota ini bergerak cepat. Segalanya terasa mahal. Harga makanan naik, harga kos naik, harga kebutuhan sehari-hari naik. Tetapi pendapatan tidak selalu naik bersama semua itu.

Ada masa-masa ketika saya merasa kota ini seperti arena bertahan hidup yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap pagi orang berangkat bekerja dengan wajah tergesa-gesa. Setiap malam mereka pulang dengan wajah lelah. Kota seakan menelan waktu manusia tanpa memberi kesempatan cukup untuk bernapas.

Pada saat-saat seperti itulah pikiran tentang pulang sering muncul. Pulang ke Jembrana, ke kampung halaman. Tempat di mana hidup terasa lebih pelan, langit masih bisa dilihat tanpa terhalang gedung. Tempat di mana seseorang tidak perlu berlari terlalu cepat hanya untuk bertahan hidup.

Mungkin karena kegelisahan itulah Umbu muncul dalam mimpi saya. Atau mungkin sebenarnya bukan Umbu yang datang, melainkan suara hati saya sendiri yang mencari bentuknya dalam sosok seorang penyair.

Ketika saya menceritakan mimpi ini kepada seorang sahabat, ia memberikan tafsir yang berbeda. Sahabat itu adalah Leonardo Rimba, seorang spiritualis, guru meditasi, sekaligus pembaca tarot yang cukup dikenal di kalangan tertentu.

Menurutnya, kata “huma” dalam sajak Umbu tidak selalu harus dipahami secara harfiah sebagai desa atau kampung halaman.

“Huma itu simbol,” katanya. Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa sajak, huma bisa berarti ruang batin tempat manusia kembali menyederhanakan hidupnya.

Artinya bukan sekadar pindah dari kota ke desa. Bukan pula meninggalkan modernitas sepenuhnya. “Huma adalah rumah batin,” katanya.

Ia bahkan mengaitkan konsep itu dengan kisah manusia pertama dalam banyak tradisi spiritual. Dalam tafsirnya, manusia selalu memiliki kerinduan untuk kembali pada keadaan paling awal—seperti Adam dan Hawa sebelum keluar dari surga.

Namun sejak manusia keluar dari surga, ia harus membangun huma di dunia. Huma itu bisa berupa rumah, ladang, keluarga, bahkan jalan hidup yang dipilih seseorang. Sejak saat itu, kata Leonardo, setiap manusia membawa huma di dalam dirinya.

Saya terdiam cukup lama setelah mendengar tafsir itu. Karena tiba-tiba saya merasa bahwa kata “kembali” dalam mimpi Umbu mungkin bukan hanya tentang tempat. Ia juga bisa berarti kembali pada diri sendiri.

Dalam kebudayaan Bali sendiri ada sebuah kalimat yang tidak kalah menarik. Kalimat itu berasal dari Ida Pedanda Gede Sidemen, seorang kawi-wiku besar dari Sanur yang hidup antara 1858 hingga 1984.

Kalimatnya berbunyi:

“Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin.”

Artinya kira-kira: jika tidak memiliki lahan sawah, maka lahan diri sendirilah yang harus ditanami.

Kalimat ini seperti memperluas makna huma. Jika manusia tidak memiliki ladang di luar dirinya, ia masih memiliki ladang di dalam dirinya sendiri. Ladang itu adalah pikiran, batin, dan kehidupan yang ia jalani setiap hari. Di ladang itulah manusia sebenarnya menanam masa depannya.

Mungkin itulah yang dimaksud Umbu dengan “kembali ke huma berhati”. Bukan sekadar kembali ke desa. Melainkan kembali pada ladang batin. Kembali pada sesuatu yang lebih sederhana tetapi juga lebih jujur. Sebab sering kali manusia tersesat bukan karena ia terlalu jauh dari rumah, melainkan karena ia terlalu jauh dari dirinya sendiri.

Kota membuat manusia sibuk mengejar banyak hal; uang, status, pekerjaan, popularitas. Tetapi dalam kesibukan itu manusia sering lupa menanam sesuatu di dalam dirinya. Padahal tanpa itu semua, hidup akan terasa kosong. Seperti ladang yang tidak pernah ditanami.

Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya benar-benar akan kembali tinggal di Jembrana. Mungkin iya. Mungkin tidak. Hidup sering berjalan dengan cara yang tidak bisa kita rencanakan sepenuhnya. Namun mimpi tentang Umbu Landu Paranggi itu memberi saya satu kesadaran kecil.

Bahwa pulang tidak selalu berarti berpindah tempat. Kadang pulang berarti berhenti sejenak. Berhenti dari kegaduhan. Berhenti dari ambisi yang terlalu keras. Lalu kembali menanam sesuatu di dalam diri sendiri. Mungkin itulah huma. Tempat di mana manusia akhirnya menemukan dirinya lagi. Dan mungkin karena itu pula, dalam mimpinya yang singkat, Umbu tidak berkata banyak. Ia hanya berkata satu kalimat. “Kembali ke huma.” Kalimat yang pendek. Namun cukup panjang untuk direnungkan seumur hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PuisiSastra IndonesiaUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Next Post

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co