Enam perupa dari berbagai wilayah di Indonesia menggelar pameran bertajuk “Togetherness” di Artspace, ARTOTEL Sanur Bali. Pameran lukisan dan patung dari berbagai aliran itu tak hanya menyajikan keindahan goresan dan warna, tetapi pesan moral yang begitu kental. Karenanya, Togetherness lebih dari sekedar pameran seni. Pameran ini sebuah pernyataan visual tentang indahnya keberagaman yang terjalin dalam semangat kebersamaan.
Keenam perupa itu, yaitu Anthonius Kho, Ridi Winarno, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Hedi Hariyanto, Josua Tobing, dan Kamto Widjoyo Lindu Prasekti. Semua seniman itu tinggal dan aktif berkarya di Kota Romantis, Yogyakarta. Mereka hadir di Pulau Dewata hanya untuk mengajak masyarakat pecinta seni, termasuk wisatawan asing untuk mengapresiasi karya-karyanya yang memang menawarkan bentuk baru.



Pameran dibuka oleh General Manager ARTOTEL Sanur – Bali, Agus Ade Surya Wirawan bersama-sama dengan keenam perupa tersebut, Kamis 5 Pebruari 2025. Sore itu, areal lobby hotel memang lebih meriah yang diramaikan dengan tokoh dan pecinta seni. Kehadiran mereka tidak hanya menikmati karya seni yang dipajang, tetapi sebagai ajang untuk bertukar pengalaman. Sebanyak 18 karya seni itu akan dipajang selama tiga bulan, hingga 5 Juni 2026.
Keenam perupa menampilkan berbagai karya seni yang berbeda arah, warna, bentuk juga latar budaya. Namun, perbedaan tersebut bukan menjadi jarak atau batas, melainkan justru menjalin harmoni yang kuat. Mereka berbagi satu jalan yang sama dalam pameran ini, yaitu menyuarakan pesan bahwa seni dapat menjadi bahasa universal untuk merangkul perbedaan dan mempererat persaudaraan. Karya-karya mereka seakan mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali makna toleransi, saling menghargai, dan pentingnya berjalan bersama.


Anthonius Kho memajang karya seninya pada dinding loby ke arah kiri, tepatnya di tempat para tamu check in atau check out. Ada 6 karya yang dibuat dengan berbagai tekni, seperti teknik temple atau kolase. Karya lukisnya ada yang timbul, dengan pilihan warna yang menarik. Karya lukis itu, menyajikan berbagai wajah yang mirip robot. “Kali ini, saya menampilkan karya dengan menggunakan tekstil art dan lukis karena latar belakang sekolah saya yang mengambil jurusan tekstil art dan gelas painting,” katanya.
Semua karya Anthonius Kho mengekspresikan robot. Karya robot-robot itu dihadirkan untuk membantu manusia kedepannya. Ini terkait dengan Artificial Intelligence (AI). Lalu, dalan karyanya itu sengaja menyajikan teknik temple, sehingga muncl karya tiga dimensi. “Disetiap negara bisa menmggunakan robot untuk membantu manusia, baik di restoran hingga pabrik. Karya ini menggambarkan manusia dibantu dengan robot,” jelasnya.
Sementara di area lobby lurus menuju arah kamar hotel ada karya Josua Tobing yang memajang beberapa karya lukis. Lalu, seniman Kamto Widjoyo Lindu Prasekti yang memajang satu karya lukis dan dua patung berdiri di depan dinding. Ketiga karya seni itu mengangkat tentang tema kehidupan. Patung di sebelah kanan, berupa Ukulele yang dipelintir berjudul Simpul Nada. Karya patung ini, menggambarkan manusia untuk mencapai sesuatu dengan semangat dan ambisi memerlukan kontemplasi. Simpul nada dalam seni itu, ada sebuah transisi nada satu ke nada lainnya.
Patung di sebelah kiri itu berupa Patung Manusia yang mengangkat tangan menggambarkan preman pasar yang kuat dan baik di daerah tempat tinggalnya. Sedangkan sebuah lukisan yang menggambarkan kehidupan, dengan menyampaikan pesan “menunjukan sesuatu dengan sesuatu”.
Sementara patung dari lempengan seperti berwujud tunas, daun atau mungkin berwujud bunga dengan warna berbeda-beda sangat memikat. Karya patung itu dari seniman Hedi Hariyanto. Ada patung berwarna biru muda, hijau, merah kuning penuh symbol. Ridi Winarno menampilkan tujuh karya tentang wajah-wajah, dan ekspresi wajah yang ditangkap melalui gestrur kecil.


Sedangkan lukisan yang berderet di dinding dekat kamar hotel itu merupakan karya Tjokorda Bagus Wiratmaja. Seniman asli Ubud itu menampilkan tiga karya abstraksi untuk memberikan audien lebih banyak menafsirkan, sehingga ada tafsiran yang berbada beda. Sebut saja dalam penggunaan warna yang indah dan warna simbolis yang akan mengajak audient kepada karya itu. Artinya, karya-karyanya itu akan mengajak penikmati berfantasi melihat sebuah karya.
Misalnya dalam karya berjudul Natural Harmony yang berukuran 50 X 70 Cm, ada yang melihat seperti seeokor kambing, kuda, dan lainnya. “Saya ingin orang yang menikmati karya itu bisa berimajinasi lebih. Tidak berhenti dalam satu bentuk, termasuk warna yang ditampilkan semua memiliki maksud sendiri,” ucapnya.
Sementara dalam karya berjudul Wild Essence, sebuah karya abtraksi yang bentuknya mirip beruang. Di belakangnya ada bayangan warna merah, sehingga menjadi seekor beruang memiliki sifat berani. Karya itu ingin menyampaikan orang itu bahwasannya di karya ini lebih bisa berimasjiansi. Menyaksikan karya ini mengajak orang untuk lebib berpikir imajiner, tidak dalam satu bentuk, tetapi bisa mengembangkan dalam bentuk lainnya.

Karya-karya Tjokorda Bagus Wiratmaja itu masih kuat dengan energy Balinya. Meski tak berupa barong, rangda atau warna poleng, tetapi melihat pemilihan warna yang ada orang tahu itu adalah symbol Bali. Energy Bali itu muncul dari pilihan warna dan tekstur. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























