24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mudik Lebaran dan Komunikasi Intrabudaya

Chusmeru by Chusmeru
March 9, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KERIUHAN selalu akan terjadi menjelang Lebaran di Indonesia. Seperti biasa, mereka yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta selalu menunggu datangnya Tunjangan Hari Raya (THR). Bukan hanya untuk membeli pakaian baru atau makanan Lebaran, tetapi juga untuk mudik ke kampung halaman.

Mudik lantas menjadi ritual wajib tahunan bagi masyarakat Indonesia, baik yang beragama Islam maupun agama lain. Karena momentum Lebaran diwarnai dengan libur panjang bagi semua pekerja. Maka, Lebaran menjadi milik rakyat Indonesia, menjadi waktu bagi semua orang yang bekerja di rantau untuk mudik.

Kesiagaan mudik bukan hanya dilakukan masyarakat. Semua instansi pemerintah sibuk mempersiapkan lebaran. Posko Lebaran dibentuk di setiap bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, di sepanjang jalan nasional, dan objek wisata di daerah.

Mudik juga disambut oleh naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Protes ibu-ibu rumah tangga atas kenaikan harga itu menjadi “nyanyian” setiap menjelang Idulfitri; dan Lebaran tetap saja dirayakan. Lebaran diglorifikasi sebagai sesuatu yang sakral.

Mudik bukan semata ruang religiusitas dan tradisional. Mudik juga bagian dari ruang komunikasi intrabudaya. Sejarah panjang mencatat aktivitas mudik sebagai ritual masyarakat Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendifinisikan mudik sebagai aktivitas pergi ke udik atau pedalaman, serta pulang ke kampung halaman.

Secara etimologi, mudik berasal dari kata “udik” dalam bahasa Melayu yang berarti hulu atau ujung sungai. Antropolog UGM Heddy Shri Ahimsa Putra menyebut mudik memiliki konteks pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya
(CNBC Indonesia, 23/12/2025).

Sebagai bagian dari tradisi dan budaya Indonesia, mudik diperkirakan sudah terjadi sejak tahun 1960-1970. Pada saat itu beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan kota besar lain di Indonesia mulai melakukan proyek pembangunan pasca kemerdekaan. Banyak tenaga kerja yang dibutuhkan datang dari berbagai penjuru desa dan daerah di Indonesia.

Kota-kota besar menjadi tumpuan masyarakat dari daerah untuk mencari rizki dengan bekerja di berbagai sektor. Momentum Lebaran menjadi saat yang ditunggu oleh para pekerja untuk mudik, pulang ke kampung halaman. Karena itulah, mudik sejatinya bukan terminologi keagamaan, melainkan tradisi sosial dan komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Ritual Mudik

Mudik Lebaran adalah sebuah energi besar yang mampu menggerakkan ratusan juta rakyat Indonesia untuk pulang kampung. Kementerian Perhubungan mencatat sejumlah 154,6 juta rakyat Indonesia melakukan perjalanan selama Lebaran tahun 2025. Itu artinya lebih dari separuh penduduk Indonesia mudik saat libur Idulfitri. Hanya pandemi Covid-19 yang mampu menghalangi orang untuk mudik. Tahun 2020 saat Covid-19 masih mengganas di Indonesia, jumlah pemudik hanya berada di angka 0,29 juta orang.

Sebagai sebuah ritual besar, mudik Lebaran tak pernah lepas dari dimensi komunikasi intrabudaya. Pulang kampung akan dimaknai sebagai kembali ke akar budaya, mengunjungi Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa. Bila tak mudik, orang dianggap bukan hanya kehilangan akar budaya, tapi juga kehilangan diri sendiri.

Bagi sebagian besar orang, mudik merupakan momen yang sarat dengan aktivitas komunikasi. Simak saja apa yang biasa dilakukan orang ketika mudik ke kampung halaman. Setiba di rumah, orang akan kembali berkomunikasi dengan bahasa dan logat daerahnya; bertanya tentang kabar semua kerabat, tetangga, kabar tentang siapa saja yang telah menikah dan siapa yang sudah meninggal.

Ziarah kubur menjadi ritual Lebaran bagi umat Muslim. Bukan semata mendoakan orang tua maupun sanak saudara yang telah meninggal. Ziarah kubur adalah komunikasi intrabudaya tentang arti penting “menengok” leluhur yang telah tiada. Tanpa ziarah, orang merasa belum mudik, belum pulang kampung, dan belum mengunjungi akar budayanya.

Selepas salat Idulfitri, bersimpuh dan memohon maaf kepada orang tua dan yang dituakan adalah bentuk komunikasi intrabudaya. Orang tua adalah simbol kehadiran seseorang di muka bumi. Wajib hukumnya bagi seorang anak untuk memohon ampunan seraya berharap orang tua mendoakannya agar kehidupan ke depan lebih baik.

Menyambangi sanak famili merupakan bagian dari komunikasi intrabudaya yang tak pernah surut dalam ritual mudik. Bukan sekadar berkabar tentang pekerjaan di rantau. Bertemu sanak famili adalah merenda kohesitas sosial budaya yang selama ini terhalang oleh jarak geografis, lantaran harus bekerja di perantauan.

Modernitas barangkali sudah merambah setiap daerah. Namun tak menyurutkan orang yang mudik untuk tetap berbelanja di pasar tradisional. Bagi para pemudik, pasar tradisional adalah pusat perdagangan yang memiliki akar budaya. Orang masih tetap dapat menjumpai senyum ramah pedagang, tawar-menawar harga meski hanya untuk berkurang seribu rupiah, serta bau keringat orang yang lalu-lalang. Semua adalah kerinduan akar budaya bagi para pemudik.

Tergantikan Komunikasi Digital?

Hingga kapan tradisi dan ritual mudik ini akan masih bertahan, sulit untuk diprediksi. Sepanjang masih ada Lebaran, mudik akan tetap ada. Selama kota besar terus membangun, dan orang sulit mencari kerja di daerah, mudik akan tetap menjadi bagian dari ritual Lebaran para pekerja.

Mereka yang tidak sempat mudik lantaran kendala biaya akan memanfaatkan panggilan telepon atau video untuk menghubungi orang tua dan kerabat di kampung. Cepat, praktis, dan efisien. Namun apakah tradisi mudik Lebaran dapat tergantikan di era komunikasi digital seperti saat ini?

Secara teknologi mungkin bisa tergantikan. Akan tetapi secara manusiawi media digital tak akan mampu menggantikan tradisi mudik Lebaran. Genggaman tangan saat berjabat tak mungkin dirasakan lewat panggilan video. Kecupan di kening dan kepala dari orang tua tak dapat dirasakan tanpa mudik secara fisik.

Teknologi komunikasi mungkin mampu bercerita tentang pembangunan yang mulai bergeliat di kampung halaman. Namun orang akan tetap merindukan menapaki tanah becek selepas hujan di kampung halaman. Media komunikasi dapat dengan cepat mengabarkan kawan-kawan yang telah tumbuh dewasa. Akan tetapi mudik memberi ruang yang lebih luas untuk bercanda dengan teman kecil sambil menyusuri pematang sawah atau bermain di tepian sungai.

Komunikasi intrabudaya telah menjadikan mudik Lebaran sebagai kultur agraris yang sulit terhapus, kultur pulang kampung, dan budaya kangen Ibu Pertiwi-Bapak Angkasa. Teknologi komunikasi hanya mampu menggantikan silaturahmi secara simbolik. Namun tak mampu memaknai secara esensial mudik Lebaran. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Islamkomunikasikomunikasi intrabudayaLebaranmudik lebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Next Post

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co