14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mudik Lebaran dan Komunikasi Intrabudaya

Chusmeru by Chusmeru
March 9, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KERIUHAN selalu akan terjadi menjelang Lebaran di Indonesia. Seperti biasa, mereka yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta selalu menunggu datangnya Tunjangan Hari Raya (THR). Bukan hanya untuk membeli pakaian baru atau makanan Lebaran, tetapi juga untuk mudik ke kampung halaman.

Mudik lantas menjadi ritual wajib tahunan bagi masyarakat Indonesia, baik yang beragama Islam maupun agama lain. Karena momentum Lebaran diwarnai dengan libur panjang bagi semua pekerja. Maka, Lebaran menjadi milik rakyat Indonesia, menjadi waktu bagi semua orang yang bekerja di rantau untuk mudik.

Kesiagaan mudik bukan hanya dilakukan masyarakat. Semua instansi pemerintah sibuk mempersiapkan lebaran. Posko Lebaran dibentuk di setiap bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, di sepanjang jalan nasional, dan objek wisata di daerah.

Mudik juga disambut oleh naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Protes ibu-ibu rumah tangga atas kenaikan harga itu menjadi “nyanyian” setiap menjelang Idulfitri; dan Lebaran tetap saja dirayakan. Lebaran diglorifikasi sebagai sesuatu yang sakral.

Mudik bukan semata ruang religiusitas dan tradisional. Mudik juga bagian dari ruang komunikasi intrabudaya. Sejarah panjang mencatat aktivitas mudik sebagai ritual masyarakat Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendifinisikan mudik sebagai aktivitas pergi ke udik atau pedalaman, serta pulang ke kampung halaman.

Secara etimologi, mudik berasal dari kata “udik” dalam bahasa Melayu yang berarti hulu atau ujung sungai. Antropolog UGM Heddy Shri Ahimsa Putra menyebut mudik memiliki konteks pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya
(CNBC Indonesia, 23/12/2025).

Sebagai bagian dari tradisi dan budaya Indonesia, mudik diperkirakan sudah terjadi sejak tahun 1960-1970. Pada saat itu beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan kota besar lain di Indonesia mulai melakukan proyek pembangunan pasca kemerdekaan. Banyak tenaga kerja yang dibutuhkan datang dari berbagai penjuru desa dan daerah di Indonesia.

Kota-kota besar menjadi tumpuan masyarakat dari daerah untuk mencari rizki dengan bekerja di berbagai sektor. Momentum Lebaran menjadi saat yang ditunggu oleh para pekerja untuk mudik, pulang ke kampung halaman. Karena itulah, mudik sejatinya bukan terminologi keagamaan, melainkan tradisi sosial dan komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Ritual Mudik

Mudik Lebaran adalah sebuah energi besar yang mampu menggerakkan ratusan juta rakyat Indonesia untuk pulang kampung. Kementerian Perhubungan mencatat sejumlah 154,6 juta rakyat Indonesia melakukan perjalanan selama Lebaran tahun 2025. Itu artinya lebih dari separuh penduduk Indonesia mudik saat libur Idulfitri. Hanya pandemi Covid-19 yang mampu menghalangi orang untuk mudik. Tahun 2020 saat Covid-19 masih mengganas di Indonesia, jumlah pemudik hanya berada di angka 0,29 juta orang.

Sebagai sebuah ritual besar, mudik Lebaran tak pernah lepas dari dimensi komunikasi intrabudaya. Pulang kampung akan dimaknai sebagai kembali ke akar budaya, mengunjungi Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa. Bila tak mudik, orang dianggap bukan hanya kehilangan akar budaya, tapi juga kehilangan diri sendiri.

Bagi sebagian besar orang, mudik merupakan momen yang sarat dengan aktivitas komunikasi. Simak saja apa yang biasa dilakukan orang ketika mudik ke kampung halaman. Setiba di rumah, orang akan kembali berkomunikasi dengan bahasa dan logat daerahnya; bertanya tentang kabar semua kerabat, tetangga, kabar tentang siapa saja yang telah menikah dan siapa yang sudah meninggal.

Ziarah kubur menjadi ritual Lebaran bagi umat Muslim. Bukan semata mendoakan orang tua maupun sanak saudara yang telah meninggal. Ziarah kubur adalah komunikasi intrabudaya tentang arti penting “menengok” leluhur yang telah tiada. Tanpa ziarah, orang merasa belum mudik, belum pulang kampung, dan belum mengunjungi akar budayanya.

Selepas salat Idulfitri, bersimpuh dan memohon maaf kepada orang tua dan yang dituakan adalah bentuk komunikasi intrabudaya. Orang tua adalah simbol kehadiran seseorang di muka bumi. Wajib hukumnya bagi seorang anak untuk memohon ampunan seraya berharap orang tua mendoakannya agar kehidupan ke depan lebih baik.

Menyambangi sanak famili merupakan bagian dari komunikasi intrabudaya yang tak pernah surut dalam ritual mudik. Bukan sekadar berkabar tentang pekerjaan di rantau. Bertemu sanak famili adalah merenda kohesitas sosial budaya yang selama ini terhalang oleh jarak geografis, lantaran harus bekerja di perantauan.

Modernitas barangkali sudah merambah setiap daerah. Namun tak menyurutkan orang yang mudik untuk tetap berbelanja di pasar tradisional. Bagi para pemudik, pasar tradisional adalah pusat perdagangan yang memiliki akar budaya. Orang masih tetap dapat menjumpai senyum ramah pedagang, tawar-menawar harga meski hanya untuk berkurang seribu rupiah, serta bau keringat orang yang lalu-lalang. Semua adalah kerinduan akar budaya bagi para pemudik.

Tergantikan Komunikasi Digital?

Hingga kapan tradisi dan ritual mudik ini akan masih bertahan, sulit untuk diprediksi. Sepanjang masih ada Lebaran, mudik akan tetap ada. Selama kota besar terus membangun, dan orang sulit mencari kerja di daerah, mudik akan tetap menjadi bagian dari ritual Lebaran para pekerja.

Mereka yang tidak sempat mudik lantaran kendala biaya akan memanfaatkan panggilan telepon atau video untuk menghubungi orang tua dan kerabat di kampung. Cepat, praktis, dan efisien. Namun apakah tradisi mudik Lebaran dapat tergantikan di era komunikasi digital seperti saat ini?

Secara teknologi mungkin bisa tergantikan. Akan tetapi secara manusiawi media digital tak akan mampu menggantikan tradisi mudik Lebaran. Genggaman tangan saat berjabat tak mungkin dirasakan lewat panggilan video. Kecupan di kening dan kepala dari orang tua tak dapat dirasakan tanpa mudik secara fisik.

Teknologi komunikasi mungkin mampu bercerita tentang pembangunan yang mulai bergeliat di kampung halaman. Namun orang akan tetap merindukan menapaki tanah becek selepas hujan di kampung halaman. Media komunikasi dapat dengan cepat mengabarkan kawan-kawan yang telah tumbuh dewasa. Akan tetapi mudik memberi ruang yang lebih luas untuk bercanda dengan teman kecil sambil menyusuri pematang sawah atau bermain di tepian sungai.

Komunikasi intrabudaya telah menjadikan mudik Lebaran sebagai kultur agraris yang sulit terhapus, kultur pulang kampung, dan budaya kangen Ibu Pertiwi-Bapak Angkasa. Teknologi komunikasi hanya mampu menggantikan silaturahmi secara simbolik. Namun tak mampu memaknai secara esensial mudik Lebaran. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Islamkomunikasikomunikasi intrabudayaLebaranmudik lebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Next Post

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co