4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mudik Lebaran dan Komunikasi Intrabudaya

Chusmeru by Chusmeru
March 9, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KERIUHAN selalu akan terjadi menjelang Lebaran di Indonesia. Seperti biasa, mereka yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta selalu menunggu datangnya Tunjangan Hari Raya (THR). Bukan hanya untuk membeli pakaian baru atau makanan Lebaran, tetapi juga untuk mudik ke kampung halaman.

Mudik lantas menjadi ritual wajib tahunan bagi masyarakat Indonesia, baik yang beragama Islam maupun agama lain. Karena momentum Lebaran diwarnai dengan libur panjang bagi semua pekerja. Maka, Lebaran menjadi milik rakyat Indonesia, menjadi waktu bagi semua orang yang bekerja di rantau untuk mudik.

Kesiagaan mudik bukan hanya dilakukan masyarakat. Semua instansi pemerintah sibuk mempersiapkan lebaran. Posko Lebaran dibentuk di setiap bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, di sepanjang jalan nasional, dan objek wisata di daerah.

Mudik juga disambut oleh naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Protes ibu-ibu rumah tangga atas kenaikan harga itu menjadi “nyanyian” setiap menjelang Idulfitri; dan Lebaran tetap saja dirayakan. Lebaran diglorifikasi sebagai sesuatu yang sakral.

Mudik bukan semata ruang religiusitas dan tradisional. Mudik juga bagian dari ruang komunikasi intrabudaya. Sejarah panjang mencatat aktivitas mudik sebagai ritual masyarakat Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendifinisikan mudik sebagai aktivitas pergi ke udik atau pedalaman, serta pulang ke kampung halaman.

Secara etimologi, mudik berasal dari kata “udik” dalam bahasa Melayu yang berarti hulu atau ujung sungai. Antropolog UGM Heddy Shri Ahimsa Putra menyebut mudik memiliki konteks pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya
(CNBC Indonesia, 23/12/2025).

Sebagai bagian dari tradisi dan budaya Indonesia, mudik diperkirakan sudah terjadi sejak tahun 1960-1970. Pada saat itu beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan kota besar lain di Indonesia mulai melakukan proyek pembangunan pasca kemerdekaan. Banyak tenaga kerja yang dibutuhkan datang dari berbagai penjuru desa dan daerah di Indonesia.

Kota-kota besar menjadi tumpuan masyarakat dari daerah untuk mencari rizki dengan bekerja di berbagai sektor. Momentum Lebaran menjadi saat yang ditunggu oleh para pekerja untuk mudik, pulang ke kampung halaman. Karena itulah, mudik sejatinya bukan terminologi keagamaan, melainkan tradisi sosial dan komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Ritual Mudik

Mudik Lebaran adalah sebuah energi besar yang mampu menggerakkan ratusan juta rakyat Indonesia untuk pulang kampung. Kementerian Perhubungan mencatat sejumlah 154,6 juta rakyat Indonesia melakukan perjalanan selama Lebaran tahun 2025. Itu artinya lebih dari separuh penduduk Indonesia mudik saat libur Idulfitri. Hanya pandemi Covid-19 yang mampu menghalangi orang untuk mudik. Tahun 2020 saat Covid-19 masih mengganas di Indonesia, jumlah pemudik hanya berada di angka 0,29 juta orang.

Sebagai sebuah ritual besar, mudik Lebaran tak pernah lepas dari dimensi komunikasi intrabudaya. Pulang kampung akan dimaknai sebagai kembali ke akar budaya, mengunjungi Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa. Bila tak mudik, orang dianggap bukan hanya kehilangan akar budaya, tapi juga kehilangan diri sendiri.

Bagi sebagian besar orang, mudik merupakan momen yang sarat dengan aktivitas komunikasi. Simak saja apa yang biasa dilakukan orang ketika mudik ke kampung halaman. Setiba di rumah, orang akan kembali berkomunikasi dengan bahasa dan logat daerahnya; bertanya tentang kabar semua kerabat, tetangga, kabar tentang siapa saja yang telah menikah dan siapa yang sudah meninggal.

Ziarah kubur menjadi ritual Lebaran bagi umat Muslim. Bukan semata mendoakan orang tua maupun sanak saudara yang telah meninggal. Ziarah kubur adalah komunikasi intrabudaya tentang arti penting “menengok” leluhur yang telah tiada. Tanpa ziarah, orang merasa belum mudik, belum pulang kampung, dan belum mengunjungi akar budayanya.

Selepas salat Idulfitri, bersimpuh dan memohon maaf kepada orang tua dan yang dituakan adalah bentuk komunikasi intrabudaya. Orang tua adalah simbol kehadiran seseorang di muka bumi. Wajib hukumnya bagi seorang anak untuk memohon ampunan seraya berharap orang tua mendoakannya agar kehidupan ke depan lebih baik.

Menyambangi sanak famili merupakan bagian dari komunikasi intrabudaya yang tak pernah surut dalam ritual mudik. Bukan sekadar berkabar tentang pekerjaan di rantau. Bertemu sanak famili adalah merenda kohesitas sosial budaya yang selama ini terhalang oleh jarak geografis, lantaran harus bekerja di perantauan.

Modernitas barangkali sudah merambah setiap daerah. Namun tak menyurutkan orang yang mudik untuk tetap berbelanja di pasar tradisional. Bagi para pemudik, pasar tradisional adalah pusat perdagangan yang memiliki akar budaya. Orang masih tetap dapat menjumpai senyum ramah pedagang, tawar-menawar harga meski hanya untuk berkurang seribu rupiah, serta bau keringat orang yang lalu-lalang. Semua adalah kerinduan akar budaya bagi para pemudik.

Tergantikan Komunikasi Digital?

Hingga kapan tradisi dan ritual mudik ini akan masih bertahan, sulit untuk diprediksi. Sepanjang masih ada Lebaran, mudik akan tetap ada. Selama kota besar terus membangun, dan orang sulit mencari kerja di daerah, mudik akan tetap menjadi bagian dari ritual Lebaran para pekerja.

Mereka yang tidak sempat mudik lantaran kendala biaya akan memanfaatkan panggilan telepon atau video untuk menghubungi orang tua dan kerabat di kampung. Cepat, praktis, dan efisien. Namun apakah tradisi mudik Lebaran dapat tergantikan di era komunikasi digital seperti saat ini?

Secara teknologi mungkin bisa tergantikan. Akan tetapi secara manusiawi media digital tak akan mampu menggantikan tradisi mudik Lebaran. Genggaman tangan saat berjabat tak mungkin dirasakan lewat panggilan video. Kecupan di kening dan kepala dari orang tua tak dapat dirasakan tanpa mudik secara fisik.

Teknologi komunikasi mungkin mampu bercerita tentang pembangunan yang mulai bergeliat di kampung halaman. Namun orang akan tetap merindukan menapaki tanah becek selepas hujan di kampung halaman. Media komunikasi dapat dengan cepat mengabarkan kawan-kawan yang telah tumbuh dewasa. Akan tetapi mudik memberi ruang yang lebih luas untuk bercanda dengan teman kecil sambil menyusuri pematang sawah atau bermain di tepian sungai.

Komunikasi intrabudaya telah menjadikan mudik Lebaran sebagai kultur agraris yang sulit terhapus, kultur pulang kampung, dan budaya kangen Ibu Pertiwi-Bapak Angkasa. Teknologi komunikasi hanya mampu menggantikan silaturahmi secara simbolik. Namun tak mampu memaknai secara esensial mudik Lebaran. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Islamkomunikasikomunikasi intrabudayaLebaranmudik lebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Next Post

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co