24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mudik Lebaran dan Komunikasi Intrabudaya

Chusmeru by Chusmeru
March 9, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KERIUHAN selalu akan terjadi menjelang Lebaran di Indonesia. Seperti biasa, mereka yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta selalu menunggu datangnya Tunjangan Hari Raya (THR). Bukan hanya untuk membeli pakaian baru atau makanan Lebaran, tetapi juga untuk mudik ke kampung halaman.

Mudik lantas menjadi ritual wajib tahunan bagi masyarakat Indonesia, baik yang beragama Islam maupun agama lain. Karena momentum Lebaran diwarnai dengan libur panjang bagi semua pekerja. Maka, Lebaran menjadi milik rakyat Indonesia, menjadi waktu bagi semua orang yang bekerja di rantau untuk mudik.

Kesiagaan mudik bukan hanya dilakukan masyarakat. Semua instansi pemerintah sibuk mempersiapkan lebaran. Posko Lebaran dibentuk di setiap bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, di sepanjang jalan nasional, dan objek wisata di daerah.

Mudik juga disambut oleh naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Protes ibu-ibu rumah tangga atas kenaikan harga itu menjadi “nyanyian” setiap menjelang Idulfitri; dan Lebaran tetap saja dirayakan. Lebaran diglorifikasi sebagai sesuatu yang sakral.

Mudik bukan semata ruang religiusitas dan tradisional. Mudik juga bagian dari ruang komunikasi intrabudaya. Sejarah panjang mencatat aktivitas mudik sebagai ritual masyarakat Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendifinisikan mudik sebagai aktivitas pergi ke udik atau pedalaman, serta pulang ke kampung halaman.

Secara etimologi, mudik berasal dari kata “udik” dalam bahasa Melayu yang berarti hulu atau ujung sungai. Antropolog UGM Heddy Shri Ahimsa Putra menyebut mudik memiliki konteks pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya
(CNBC Indonesia, 23/12/2025).

Sebagai bagian dari tradisi dan budaya Indonesia, mudik diperkirakan sudah terjadi sejak tahun 1960-1970. Pada saat itu beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan kota besar lain di Indonesia mulai melakukan proyek pembangunan pasca kemerdekaan. Banyak tenaga kerja yang dibutuhkan datang dari berbagai penjuru desa dan daerah di Indonesia.

Kota-kota besar menjadi tumpuan masyarakat dari daerah untuk mencari rizki dengan bekerja di berbagai sektor. Momentum Lebaran menjadi saat yang ditunggu oleh para pekerja untuk mudik, pulang ke kampung halaman. Karena itulah, mudik sejatinya bukan terminologi keagamaan, melainkan tradisi sosial dan komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Ritual Mudik

Mudik Lebaran adalah sebuah energi besar yang mampu menggerakkan ratusan juta rakyat Indonesia untuk pulang kampung. Kementerian Perhubungan mencatat sejumlah 154,6 juta rakyat Indonesia melakukan perjalanan selama Lebaran tahun 2025. Itu artinya lebih dari separuh penduduk Indonesia mudik saat libur Idulfitri. Hanya pandemi Covid-19 yang mampu menghalangi orang untuk mudik. Tahun 2020 saat Covid-19 masih mengganas di Indonesia, jumlah pemudik hanya berada di angka 0,29 juta orang.

Sebagai sebuah ritual besar, mudik Lebaran tak pernah lepas dari dimensi komunikasi intrabudaya. Pulang kampung akan dimaknai sebagai kembali ke akar budaya, mengunjungi Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa. Bila tak mudik, orang dianggap bukan hanya kehilangan akar budaya, tapi juga kehilangan diri sendiri.

Bagi sebagian besar orang, mudik merupakan momen yang sarat dengan aktivitas komunikasi. Simak saja apa yang biasa dilakukan orang ketika mudik ke kampung halaman. Setiba di rumah, orang akan kembali berkomunikasi dengan bahasa dan logat daerahnya; bertanya tentang kabar semua kerabat, tetangga, kabar tentang siapa saja yang telah menikah dan siapa yang sudah meninggal.

Ziarah kubur menjadi ritual Lebaran bagi umat Muslim. Bukan semata mendoakan orang tua maupun sanak saudara yang telah meninggal. Ziarah kubur adalah komunikasi intrabudaya tentang arti penting “menengok” leluhur yang telah tiada. Tanpa ziarah, orang merasa belum mudik, belum pulang kampung, dan belum mengunjungi akar budayanya.

Selepas salat Idulfitri, bersimpuh dan memohon maaf kepada orang tua dan yang dituakan adalah bentuk komunikasi intrabudaya. Orang tua adalah simbol kehadiran seseorang di muka bumi. Wajib hukumnya bagi seorang anak untuk memohon ampunan seraya berharap orang tua mendoakannya agar kehidupan ke depan lebih baik.

Menyambangi sanak famili merupakan bagian dari komunikasi intrabudaya yang tak pernah surut dalam ritual mudik. Bukan sekadar berkabar tentang pekerjaan di rantau. Bertemu sanak famili adalah merenda kohesitas sosial budaya yang selama ini terhalang oleh jarak geografis, lantaran harus bekerja di perantauan.

Modernitas barangkali sudah merambah setiap daerah. Namun tak menyurutkan orang yang mudik untuk tetap berbelanja di pasar tradisional. Bagi para pemudik, pasar tradisional adalah pusat perdagangan yang memiliki akar budaya. Orang masih tetap dapat menjumpai senyum ramah pedagang, tawar-menawar harga meski hanya untuk berkurang seribu rupiah, serta bau keringat orang yang lalu-lalang. Semua adalah kerinduan akar budaya bagi para pemudik.

Tergantikan Komunikasi Digital?

Hingga kapan tradisi dan ritual mudik ini akan masih bertahan, sulit untuk diprediksi. Sepanjang masih ada Lebaran, mudik akan tetap ada. Selama kota besar terus membangun, dan orang sulit mencari kerja di daerah, mudik akan tetap menjadi bagian dari ritual Lebaran para pekerja.

Mereka yang tidak sempat mudik lantaran kendala biaya akan memanfaatkan panggilan telepon atau video untuk menghubungi orang tua dan kerabat di kampung. Cepat, praktis, dan efisien. Namun apakah tradisi mudik Lebaran dapat tergantikan di era komunikasi digital seperti saat ini?

Secara teknologi mungkin bisa tergantikan. Akan tetapi secara manusiawi media digital tak akan mampu menggantikan tradisi mudik Lebaran. Genggaman tangan saat berjabat tak mungkin dirasakan lewat panggilan video. Kecupan di kening dan kepala dari orang tua tak dapat dirasakan tanpa mudik secara fisik.

Teknologi komunikasi mungkin mampu bercerita tentang pembangunan yang mulai bergeliat di kampung halaman. Namun orang akan tetap merindukan menapaki tanah becek selepas hujan di kampung halaman. Media komunikasi dapat dengan cepat mengabarkan kawan-kawan yang telah tumbuh dewasa. Akan tetapi mudik memberi ruang yang lebih luas untuk bercanda dengan teman kecil sambil menyusuri pematang sawah atau bermain di tepian sungai.

Komunikasi intrabudaya telah menjadikan mudik Lebaran sebagai kultur agraris yang sulit terhapus, kultur pulang kampung, dan budaya kangen Ibu Pertiwi-Bapak Angkasa. Teknologi komunikasi hanya mampu menggantikan silaturahmi secara simbolik. Namun tak mampu memaknai secara esensial mudik Lebaran. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Islamkomunikasikomunikasi intrabudayaLebaranmudik lebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Next Post

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails
Next Post
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co