2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Berita duka, kecaman, dan seruan solidaritas sudah membanjiri linimasa. Wajar. Tapi di tengah semua kebisingan itu, ada pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab dengan kepala jernih: di mana seharusnya Indonesia berdiri, dan bagaimana caranya?

Memahami Konflik Ini Secara Jujur

Kita perlu mulai dari fakta, bukan dari perasaan.

Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan “Operation Epic Fury”, sebuah operasi militer besar-besaran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta puluhan pejabat senior lainnya. Lebih dari 200 warga sipil Iran tewas dan 747 lainnya terluka, tersebar di 24 provinsi. Di antara korban itu, setidaknya 51 orang tewas akibat serangan Israel terhadap sebuah sekolah dasar putri di kota Minab.

Tapi untuk memahami konflik ini secara utuh, kita juga perlu tahu apa yang terjadi sebelumnya. Serangan dimulai hanya beberapa hari setelah putaran perundingan nuklir AS-Iran di Swiss berakhir, di mana Iran dilaporkan menyetujui nol penimbunan uranium yang diperkaya, dan mediator Oman menyebut ada “kemajuan signifikan.” Bom dijatuhkan ketika meja diplomasi masih terbuka.

Iran bahkan sempat mengajukan proposal konkret berupa penangguhan pengayaan uranium selama beberapa tahun sebelum diizinkan kembali pada level rendah. Mungkin lebih banyak yang bisa diekstrak dari Iran jika diplomasi diberi lebih dari sekadar dua minggu dan dua sesi perundingan.

Di sisi lain, tepat sehari sebelum serangan, IAEA menemukan Iran menyembunyikan uranium yang sangat diperkaya dalam fasilitas bawah tanah yang tidak tersentuh serangan sebelumnya, dan menyatakan tidak dapat memastikan bahwa program nuklir Iran bersifat damai sepenuhnya.

Inilah yang membuat konflik ini tidak bisa disederhanakan menjadi narasi “Islam melawan Barat.” Ada ambisi nuklir yang nyata, ada diplomasi yang sengaja dipotong di tengah jalan, ada kepentingan geopolitik yang berlapis. Siapapun yang mengabaikan salah satu sisi ini sedang memilih untuk tidak memahami, dan itu berbahaya sebagai dasar pengambilan sikap.

Posisi Indonesia: Sudah ke Mana Kita Melangkah?

Respons resmi pemerintah Indonesia sebenarnya sudah cukup cepat.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa Indonesia sangat menyesalkan kegagalan negosiasi AS-Iran yang berujung pada eskalasi militer, dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri serta mengutamakan dialog dan diplomasi. Prabowo bahkan melangkah lebih jauh: ia menyatakan kesiapan untuk terbang ke Teheran guna menjalankan mediasi, jika disetujui kedua belah pihak.

Niat ini baik. Tapi niat baik perlu diperiksa dengan konteks yang jujur.

Beberapa pekan sebelum konflik ini meletus, Prabowo hadir dalam pertemuan perdana Board of Peace (BoP) yang digagas Trump di Washington. MUI kemudian menilai keberadaan BoP tidak berguna karena terbukti gagal menciptakan perdamaian, dan menyebut Trump sebagai penghancur perdamaian. Lebih dari itu, dalam pidatonya di PBB, Prabowo pernah menyatakan bahwa dunia harus mengakui dan menjamin keamanan Israel, dan mengakhiri pidatonya dengan kata “Shalom,” sebuah gestur yang menuai kontroversi di dalam negeri.

Apakah dalam kondisi seperti ini Iran akan melihat Indonesia sebagai mediator yang benar-benar netral? Menurut Dino Patti Djalal, Mantan Wakil Menteri Indonesia, rencana mediasi Prabowo ke Teheran sebagai tidak realistis. Ini bukan kritik yang tidak adil. Ini pertanyaan tentang kredibilitas yang perlu dijawab sebelum langkah lebih jauh diambil.

Langkah Strategis yang Lebih Tepat

Bukan berarti Indonesia harus diam. Justru sebaliknya.

Pertama, bersuaralah atas nama prinsip, bukan atas nama pihak. Indonesia selama ini membangun reputasi sebagai pembela kedaulatan dan hukum internasional, terutama dalam konteks Palestina. Konsistensi itu harus dijaga. Menteri Luar Negeri Norwegia sudah menyatakan terang-terangan bahwa serangan Israel terhadap Iran tidak sejalan dengan hukum internasional, karena serangan preventif memerlukan ancaman yang segera dan nyata. Indonesia bisa mengambil posisi yang sama: mengecam kekerasan terhadap sipil dan pelanggaran hukum internasional, tanpa harus memihak agenda politik Teheran.

Kedua, bergeraklah melalui ASEAN dan OKI, bukan sendirian. Suara kolektif jauh lebih kuat dan lebih aman secara diplomatik daripada pernyataan unilateral yang mudah disalahartikan. Sekjen PBB António Guterres sudah memperingatkan bahwa aksi militer membawa risiko memicu rangkaian peristiwa yang tidak bisa dikendalikan siapapun di kawasan yang paling mudah terbakar di dunia. Indonesia bisa menjadi inisiator konsensus regional dalam merespons peringatan itu.

Ketiga, jika serius ingin menjadi mediator, bangun dulu kepercayaan kedua pihak. Mediasi bukan soal siapa yang paling cepat menawarkan diri, tapi siapa yang paling dipercaya oleh semua pihak yang bertikai. Selama ada persepsi bahwa Indonesia terlalu dekat dengan salah satu blok, tawaran mediasi hanya akan terdengar kosong. Prabowo perlu menegaskan kembali posisi bebas-aktif Indonesia secara konsisten, lewat tindakan, bukan hanya pernyataan.

Keempat, jangan lupakan dampak ekonomi yang langsung menyentuh rakyat. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik sudah mengganggu pengiriman minyak dan gas global. Di dalam negeri, harga solar diperkirakan naik Rp750 hingga Rp2.000 per liter, dan beberapa penerbangan dari Bali sudah mengalami gangguan. Ini bukan isu abstrak geopolitik. Ini soal daya beli dan mobilitas jutaan orang Indonesia, dan itu sendiri sudah cukup menjadi alasan kuat mengapa Indonesia perlu bekerja keras mendorong de-eskalasi.

Tekanan publik kepada Prabowo untuk bersikap tegas itu sah dan perlu didengar. Tapi tekanan yang sama seharusnya mendorong sikap yang cerdas, bukan hanya yang keras.

Indonesia tidak akan lebih dihormati di panggung internasional karena lantang memihak. Indonesia akan dihormati karena konsisten berprinsip, jernih berpikir, dan berani menjadi suara akal sehat ketika dunia sedang panas.

Konflik ini masih sangat dinamis. Keputusan yang diambil hari-hari ini akan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang dari konflik itu sendiri. Di situlah ujian sesungguhnya, bukan hanya ujian bagi Prabowo, tapi ujian bagi kita sebagai bangsa yang selalu bangga menyebut dirinya cinta damai. [T]

Penulis: Elpeni Fitrah
Editor: Adnyana Ole

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Tags: Amerika SerikatIranperang Iranpolitik internasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Anak Gianyar Tahun 2026: Menolak Normalisasi Perkawinan Anak Hingga Etika Penggunaan ‘Artificial Intellegence’ Pada Anak

Next Post

Suryak Siu

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Suryak Siu

Suryak Siu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co