HUJAN sempat mengguyur pagi itu. Saya berdiri di sisi panggung halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, memandangi kursi-kursi yang sudah tertata sejak subuh. Beberapa panitia OSIS berlarian mengamankan perlengkapan. Sebagian lainnya berteduh sembari menunggu aba-aba.
Sebagai Pembina Duta Kesehatan Kesbam, saya sudah membayangkan berbagai kemungkinan. Namun tetap saja, pagi itu terasa dramatis. Bukan hanya karena hujan. Di balik panggung, ada finalis yang mulai diliputi demam panggung. Ada panitia yang panik karena perubahan teknis kecil. Dan beberapa mengalami perasaan tegang yang sulit dijelaskan.
Tak lama waktu berselang, hujan mereda. Matahari muncul. Saya menarik napas panjang. Grand Final Pemilihan Duta Kesehatan Kesbam 2026 harus tetap berjalan. “The show must go on!”


Rangkaian kegiatan ini telah dimulai sejak 5 Januari 2026. Sebanyak 49 siswa kelas X dan XI mendaftarkan diri. Dari sana proses seleksi dimulai: technical meeting, tes tulis, wawancara, hingga tersaring 10 pasang besar.
Tahap berikutnya adalah deep interview dan presentasi program kerja. Di sinilah saya benar-benar melihat keseriusan mereka. Ada yang awalnya hanya ingin mencoba, tetapi kemudian tumbuh menjadi percaya diri. Ada pula yang sejak awal menunjukkan mentalitas dan visi kuat.
Tes minat dan bakat serta pembekalan materi melengkapi proses tersebut. Setiap tahapan bukan sekadar menggugurkan peserta, tetapi membentuk mental dan karakter.
Hingga akhirnya, lima pasang terbaik berdiri sebagai finalis grand final hari itu, Jumat, 13 Februari 2026.


Acara resmi dimulai pukul 08.30 WITA. Doa bersama dipanjatkan, disusul Lagu Indonesia Raya dan Mars sekolah yang dinyanyikan dengan khidmat. Dalam laporan saya sebagai pembina, saya menegaskan bahwa Duta Kesehatan bukan sekadar gelar.
“Ini ruang pembelajaran dan pengembangan diri siswa. Kita ingin melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, dan mampu menjadi teladan,” saya sampaikan.
Sambutan Kepala Sekolah, I Komang Rika Adi Putra, M.Pd., kemudian menegaskan hal yang sama: regenerasi adalah keniscayaan.
“Duta Kesehatan adalah wajah sekolah. Mereka harus mampu menjadi role model atau contoh perilaku hidup sehat, disiplin, dan berintegritas, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat,” tegasnya di hadapan para finalis, tamu undangan, dan warga Kesbam lainnya.
Opening dance lima besar membuka suasana dengan semangat. Saya berdiri di sisi panggung, memastikan semua berjalan sesuai urutan. Sempat ada gangguan mikrofon yang membuat jantung saya berdegup lebih cepat, tetapi untungnya tim teknis bergerak sigap.


Sesi speech menjadi titik penting. Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak yang dulu gugup saat wawancara kini mampu berbicara dengan tenang tentang isu kesehatan mental remaja, pola hidup sehat, dan peran siswa sebagai agen perubahan. Meski tak semua bisa berbicara dengan lantang, setidaknya mereka berani melawan dirinya sendiri.
Saat diumumkan tiga besar, ketegangan mereka terasa semakin menjadi-jadi. Setelah tiga besar diumumkan, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini, mereka diuji lebih dalam oleh dewan juri. Saya tahu, di momen itulah kualitas mereka sebagai finalis benar-benar terlihat.
Mereka yang Sejak Awal di Balik Layar
Jika hari itu berjalan dengan baik, itu bukan karena kinerja satu dua orang.
Sejak awal rangkaian, lima pasang Duta Kesehatan Kesbam 2025 adalah motor penggeraknya. Mereka menyusun konsep, mencari sponsor, berlatih tarian, membantu teknis seleksi, mengatur jadwal, berkoordinasi dengan panitia OSIS, hingga memastikan setiap detail berjalan rapi.
Saya menyaksikan bagaimana mereka membagi waktu dengan tugas sekolah dan praktik kerja lapangan (PKL). Ada rapat, diskusi, dan latihan-latihan yang dilakukan di sela kesibukan mereka sebagai siswa kelas akhir.
Namun pada hari-H, peran mereka berbeda.

Sedari subuh, mereka sudah berada di ruang rias, bersiap untuk momen terakhir sebagai Duta Kesehatan 2025. Mereka tidak lagi berlarian mengurus teknis. Mereka adalah generasi yang akan lengser dengan terhormat.
Singkat cerita, menjelang akhir kegiatan, sebelum pengumuman juara, tibalah momen yang paling menguras emosi bagi saya: Last Walk dan Last Speech Duta Kesehatan Kesbam 2025.
Pada momen itu, saya sengaja memilih lagu ‘Bermekaran dan Mewangi’ dari Pendarra yang berkolaborasi dengan Dere sebagai pengiring langkah mereka. Lagu itu bagi saya bukan sekadar latar musik. Ia berbicara tentang ketabahan, harapan, dan kebangkitan diri ─ tentang proses penyembuhan luka dan pertumbuhan pribadi seperti bunga yang tumbuh mekar serta harum setelah melewati masa-masa sulit. Rasanya tepat untuk mengiringi perjalanan lima pasang duta yang telah melewati satu tahun penuh dinamika itu.

Kelima pasang itu berjalan perlahan nan anggun di atas panggung. Sorot mata audiens mengikuti langkah mereka. Wajah-wajah yang selama setahun terakhir identik dengan berbagai kegiatan sekolah kini tampak lebih dalam, lebih reflektif.
Dalam last speech-nya, mereka menyampaikan rasa syukur dan bangga.
Ni Kadek Neiska Oceania Paramitha (siswi kelas 12), atau biasa saya sapa Nia selaku Winner Duta Kesehatan Kesbam 2025, dengan suara yang sempat bergetar, mengatakan bahwa satu tahun menjadi Duta Kesehatan telah mengajarkannya arti tanggung jawab dan pengabdian.
“Kami belajar bahwa menjadi duta bukan hanya tentang selempang dan gelar, tetapi tentang konsistensi dan pengabdian,” ujarnya.

Andika Purnama Putra (siswa kelas 11), yang akrab saya sapa Andika selaku Winner Duta Kesehatan Kesbam 2025 juga menyampaikan bahwa perjalanan mereka penuh tantangan, tetapi baginya, justru di situlah letak pembelajaran terbesar. Ia berharap generasi berikutnya tidak hanya sekadar melanjutkan program, tetapi juga berani menciptakan inovasi baru.
Seusai melakukan last speech. Saya berdiri tidak jauh dari panggung. Saya tahu berapa banyak waktu dan tenaga yang telah mereka habiskan. Hari itu bukan sekadar seremoni, tetapi penutup satu periode yang penuh pengabdian.
Ketika Regenerasi Itu Terpilih
Setelah dewan juri usai menentukan para finalis yang terpilih, seluruh finalis kembali ke panggung. Mengambil posisi, dan bersiap menanti hasil. Sorot mata tertuju pada wajah-wajah tegang yang berusaha tetap tersenyum itu.
Nama demi nama pun mulai diumumkan.
Kadek Pradnyana Adi Putra dan Gusti Ayu Semara Dewi dinobatkan sebagai Runner Up I Duta Kesehatan Kesbam 2026. Disusul Herald Gabe Hasian Lumban Gaol dan Ni Ketut Maliga Aura Renata sebagai Runner Up II. Ahmad Nazrul Mukminin dan Putu Dihari Purnama meraih gelar Duta Kesehatan Berbakat 2026, sementara I Made Bagus Sanjaya dan Ni Luh Putu Aprissa Jayanti Nareswari menjadi Duta Kesehatan Terfavorit 2026.
Suasana semakin riuh ketika gelar tertinggi disebutkan: I Gede Somayasa dan Ni Putu Ninetha Pratiwi Kusuma Putri berhasil menyabet gelar sebagai Winner Duta Kesehatan Kesbam 2026.
Tepuk tangan pecah. Sorakan memenuhi halaman sekolah. Selempang disematkan, hadiah diberikan, buket bunga diserahkan, dan mata berkaca-kaca tak lagi bisa disembunyikan.


Usai acara, Ninetha mengatakan kepada saya bahwa proses ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan. Ia merasa perjalanan sejak seleksi awal hingga grand final membentuk kepercayaan dirinya. “Saya ingin membuktikan bahwa kami bisa menjadi role model dan remaja yang berdampak di lingkungan sekolah,” tuturnya.
Somayasa pun menyampaikan rasa syukur dan tanggung jawab besar yang kini ia emban. Ia berharap Duta Kesehatan tidak hanya dikenal di lingkungan sekolah, tetapi mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat luas. “Ini bukan akhir, tetapi awal pengabdian kami,” katanya mantap.
Mendengar itu, saya merasakan satu hal: tongkat estafet benar-benar telah berpindah.

Bagi saya, hari itu memang dramatis. Dibayangi hujan, demam panggung, dan beberapa masalah teknis kecil. Namun justru di situlah saya melihat makna sesungguhnya dari tema tahun ini, ‘Swasthi Yuva Naya’ ─ pemimpin muda yang sehat dan sejahtera.
Tema itu tidak hanya terpancar pada pemenang. Ia terlihat pada lima pasang duta 2025 yang bekerja sejak awal dan lengser dengan elegan. Ia terlihat pada finalis yang gemetar namun tetap melangkah. Ia terlihat pada panitia OSIS yang tidak menyerah meski pagi dimulai dengan hujan deras.
Sebagai pembina, saya tidak hanya menyaksikan siapa yang menang. Saya menyaksikan proses regenerasi. Saya menyaksikan anak-anak yang belajar memimpin, belajar bertanggung jawab, dan belajar menjalankan kegiatan.
Dan, pagi yang sempat diguyur hujan itu, pada akhirnya benar-benar menghadirkan matahari. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Budarsana



























