24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imlek di Bali: Dari ‘Galungan Cina’ ke Harmoni Keberagaman

Made Adnyana by Made Adnyana
February 17, 2026
in Esai
Imlek di Bali: Dari ‘Galungan Cina’ ke Harmoni Keberagaman

I Made Adnyana

TAHUN Baru Imlek? Setidaknya hingga menamatkan Pendidikan SMP di kampung, desa Pupuan, Tabanan, saya tidak familiar (bahkan mungkin tidak tahu?) dengan istilah ini. Padahal saya terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa, atau sering disebut Cina Bali. Hingga akhir 80-an, Tahun Baru Imlek tak ada dalam istilah kami. Yang ada justru “Galungan Cina”.

Ya, sebutan “Galungan Cina” tak hanya popular tetapi sudah melekat, untuk menyebut persembahyangan tutup tahun Lunar, yang keesokan harinya diikuti dengan penanggalan baru. Bahkan perayaan Cap Go Meh (Purnama pertama di tahun Baru Imlek) disebut-sebut sebagai “kuningan” nya. Ketika melanjutkan Pendidikan di Denpasar, dari pergaulan dengan teman keturunan Tionghoa lainnya, saya baru mengenal istilah Sin Cia yang bermakna bulan baru, merujuk pada tahun Baru Imlek. Kata Imlek sendiri Imlek (lafal Hokkian, Im-le̍k, lafal Mandarin yin li, yang artinya kalender bulan). Pada akhirnya bermuara pada satu istilah umum, Chinese New Year.

Jika di awal-awal mungkin ada yang mempertanyakan atau bahkan memperdebatkan istilah, saya sendiri lebih memilih untuk netral. Meminjam ungkapan Shakespeare, apalah arti sebuah nama? Dalam hal ini ada beberapa hal menarik lain yang bisa diperbincangkan daripada sekadar mengurus istilah atau nama. Toh pada akhirnya sejak era kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid, Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sebagai tradisi dari daratan Cina, di berbagai belahan negara lain di dunia, Tahun Baru Imlek mungkin adalah selebrasi, perayaan pergantian musim, pergantian kalender lunar. Namun sepengalaman saya, Tahun Baru Imlek di Bali kiranya bukan sekadar penanda pergantian kalender lunar. “Galungan Cina” berkembang menjadi perayaan tentang harmoni, bagaimana dalam hal ini identitas etnis dan tradisi budaya – setelah terkungkung sekian dekade – akhirnya menemukan ruang hidupnya di tengah masyarakat yang plural. Memang, pada masa kepemimpinan Presiden Gus Dur, Imlek juga ditetapkan sebagai hari raya agama Konghucu. Namnun dalam konteks ini, kiranya Imlek tidak perlu dipermasalahkan semata-mata sebagai hari raya agama tertentu, tetapi ia adalah perayaan kultural keturunan Tionghoa, yang uniknya menyimpan makna mendalam bagaimana relasi manusia dengan masa lalu, dengan sesama, dan dengan semesta.

Apabila ditelusuri jejak historisnya, Imlek berakar dari tradisi agraris Tiongkok kuno. Ia menandai siklus musim, harapan atas panen yang baik, serta permohonan keselamatan pada penanggalan atau tahun yang baru. Nah, dalam perkembangannya kemudian perayaan ini menyatu dengan praktik-praktik penghormatan terhadap leluhur, para “dewa”, doa syukur, dan simbol-simbol keberuntungan lainnya.

Nah, itu dari sisi yang sangat jamak terlihat dimana-mana. Namun apabila ditelisik dan dimaknai lebih dalam, Imlek bisa disebut sebagai ritual sosial yang menjaga keseimbangan. Bagaimana dalam hal ini sembahyang leluhur bukan sekadar rutinitas praktik religius, melainkan adalah cara merawat ingatan kolektif. Galibnya pada masyarakat Tionghoa, keluarga bukan hanya struktur biologis, melainkan jaringan moral yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan berdoa kepada (mendoakan) leluhur, secara tidak langsung seseorang mengakui bahwa hidupnya berdiri di atas sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan.

Maka momen kebersamaan pada saat sembahyang tutup tahun (sehari sebelum Imlek) atau makan malam bersama keluarga pada malam pergantian tahun, bisa menjadi ruang rekonsiliasi. Di depan altar persembahyangan, di meja makan, perbedaan generasi melebur. Berbagai cerita masa lalu akan mengalir, pun kemudian yang tua memberi nasihat, yang muda menerima angpao bukan hanya sebagai kertas merah berisi uang, tetapi sebagai simbol harapan dan keberlanjutan rezeki. Di sinilah terjadi penyebaran kesejahteraan secara simbolik, satu praktik solidaritas yang sederhana, namun bermakna.

Beberapa hari sebelum Imlek, membersihkan dan merapikan rumah juga menyimpan pesan filosofis yakni kita membuang yang lama yang sudah tidak digunakan atau tidak berfungsi, untuk kemudian menyambut yang baru. Hal ini bisa dimaknai bukan hanya soal kebersihan fisik, melainkan juga penyucian batin. Dalam “ritual-ritual” semacam inilah harmoni bukan sekadar kata-kata, bukan konsep abstrak, karena ia hadir dalam tindakan sehari-hari.

Resonansi dengan Tri Hita Karana

Tanpa bermaksud menggunakan ilmu cocokologi, bagi saya pribadi, harmoni yang tersurat dari perayaan Imlek bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Bali. Masyarakat Bali mengenal konsep yang disebut Tri Hita Karana, tiga penyebab kebahagiaan—hubungan harmonis dengan Tuhan (Parhyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan). Tentu sudah dipahami pula kalau falsafah ini bukan sekadar ajaran teologis, melainkan fondasi etika sosial yang hidup dalam praktik keseharian.

Maka menjadi hal menarik ketika menyadari bahwa praktik-praktik dalam perayaan Imlek beresonansi dengan nilai-nilai Tri Hita Karana. Sembahyang leluhur dan doa syukur mengingatkan pada Parhyangan —relasi manusia dengan yang transenden. Berkumpul dan makan bersama keluarga dan para kerabat kemudian berbagi angpao, mencerminkan Pawongan —solidaritas dan kasih dalam relasi sosial. Sementara simbol-simbol kemakmuran yang terkait dengan siklus alam dan musim mengingatkan pada Palemahan —kesadaran akan keterikatan manusia dengan lingkungan.

Dalam hal ini saya tidak bermaksud menyamakan kedua tradisi ini secara teologis. Namun, ada titik temu nilai yang memungkinkan keduanya berdialog tanpa konflik. Di Bali, dialog itu tidak selalu diwujudkan dalam wacana akademik, tetapi dalam praktik hidup sehari-hari. Bagaimana kita lihat di sejumlah tempat persembahyangan, lampion menggantung di antara penjor, atau kemudian barongsai bisa menari di ruang yang sama dengan ogoh-ogoh pada waktu yang berbeda. Di sinilah Imlek di Bali menjadi lebih dari sekadar perayaan etnis; ia menjadi simbol bagaimana nilai-nilai universal tentang harmoni dapat menemukan ekspresinya dalam konteks lokal.

Berdasarkan kajian multikulturalisme, masyarakat plural tidak hanya dituntut untuk mengakui keberagaman, tetapi juga menciptakan ruang di mana perbedaan dapat hidup berdampingan secara setara. Multikulturalisme bukan sekadar toleransi pasif, melainkan pengakuan aktif atas hak setiap kelompok untuk mengekspresikan identitasnya. Di Bali, penerimaan ini menemukan bentuknya yang khas. Struktur sosial berbasis adat dan komunitas membuat relasi antar-warga lebih cair. Warga keturunan Tionghoa di Bali tidak hidup dalam ruang tertutup, melainkan menjadi bagian dari dinamika ekonomi, sosial, dan bahkan budaya lokal. Pada beberapa daerah di Bali, ada yang terlibat dalam kegiatan banjar, ada yang berpartisipasi dalam perayaan lokal, ada pula yang menjalin relasi kekerabatan lintas etnis.

Mungkin masih ada kekhawatiran kalau akulturasi akan mengikis identitas asli. Namun pengalaman Bali menunjukkan bahwa identitas bisa lentur tanpa kehilangan akar. Warga keturunan Tionghoa atau sering disebut Cina Bali tetap merayakan Imlek, tetap menghormati leluhur, tetapi juga menyerap nilai-nilai lokal dalam cara hidup mereka. Imlek di Bali menjadi contoh bagaimana identitas Tionghoa tidak larut begitu saja dalam budaya mayoritas, tetapi juga tidak menutup diri dari interaksi.

Pada akhirnya, perayaan Tahun Baru Imlek bukan sekadar pesta. Ia adalah komitmen etis yang diperbarui setiap tahun.Komitmen itu berupa tekad untuk menjaga harmoni keluarga, menghormati leluhur, dan berbagi rezeki. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Bali, komitmen itu meluas menjadi tekad untuk hidup berdampingan secara damai dalam keberagaman. Ketika lampion merah menyala di antara ukiran batu padas, yang dirayakan bukan hanya pergantian tahun, tetapi juga keberlanjutan dialog antar-tradisi. Yang dirawat bukan hanya ingatan tentang tanah leluhur di seberang laut, tetapi juga keterikatan pada tanah tempat berpijak kini—Bali dengan segala kearifannya.

Mungkin, di sinilah makna terdalam Imlek di Bali: ia menjadi cermin bahwa harmoni bukan milik satu agama atau satu etnis. Harmoni adalah nilai universal yang menemukan bentuknya dalam berbagai tradisi. Dan ketika tradisi-tradisi itu saling menyapa tanpa saling meniadakan, masyarakat tidak hanya hidup berdampingan, tetapi benar-benar hidup bersama. Pemandangan sederhana lampion merah yang banyak dipasang di berbagai tempat umum di Bali mengajarkan satu hal, bahwa identitas tidak harus dipertentangkan untuk diakui. Ia cukup dirayakan, dengan kesadaran bahwa dalam keberagaman, kita selalu memiliki kemungkinan untuk menemukan titik temu. [T]

Penulis: I Made Adnyana
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: baliBudhaCinaHari Raya ImlekImlekTionghoaTiongkokUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

Next Post

Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co