RIUH kecil bercampur gugup memenuhi aula SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu. Kotak-kotak crayon digenggam erat, meja lipat dibawa dengan hati-hati. Wajah-wajah polos itu datang dengan satu tujuan sederhana, yakni mewarnai selembar gambar. Namun dari kegiatan sederhana itulah, rangkaian Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI 2026 resmi dimulai.
Sebelum memasuki ruang lomba, seluruh peserta terlebih dahulu berkumpul di aula untuk mendengarkan pengarahan dari panitia. Anak-anak TK dan SD duduk berdampingan, sebagian masih memangku tas kecilnya. Panitia menjelaskan tata tertib, durasi pengerjaan, serta teknis penilaian secara runut dan jelas. Orang tua menyimak dengan saksama, memastikan anak-anak memahami instruksi sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Lomba mewarnai ini menjadi pembuka dari rangkaian KAC VI 2026 yang diselenggarakan dalam rangka HUT ke-17 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Dilaksanakan pada Minggu pagi, 8 Februari 2026, dengan pengumuman pemenang dijadwalkan pada acara puncak Jumat, 13 Februari 2026.

Kali ini, lomba diikuti oleh 74 peserta. Sebanyak 60 peserta berasal dari jenjang SD kelas 1 hingga kelas 3 se-Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan). Sementara 14 peserta lainnya merupakan siswa TK A dan TK B se-Kota Denpasar.
Seusai pengarahan, peserta diarahkan menuju ruang kelas yang telah dibagi sesuai kategori. Tidak ada meja yang disiapkan panitia. Setiap anak membawa meja lipatnya sendiri dari rumah. Pemandangan deretan meja kecil dengan warna beragam di dalam kelas menjadi salah satu ciri khas kegiatan hari itu.
Begitu aba-aba dimulai, suasana ruang kelas berubah hening. Anak-anak duduk bersila di lantai dengan meja kecil di hadapan mereka. Kotak krayon terbuka, alat-alat lainnya tersusun di samping kertas gambar. Ada yang langsung percaya diri memilih warna cerah, ada pula yang masih memandangi lembar gambar beberapa saat sebelum mulai menggoreskan warna pertama.

Peserta SD tampak lebih sistematis dalam mengatur komposisi warna. Beberapa terlihat berhati-hati menjaga garis agar tetap rapi, bahkan mencoba membuat gradasi sederhana. Di sisi lain, peserta TK menunjukkan gaya yang lebih spontan dan ekspresif. Mereka berani memadukan warna-warna kontras tanpa ragu.
Di tengah suasana yang relatif tenang, dinamika khas anak-anak tetap hadir. Salah satu peserta TK sempat menangis karena tidak ingin ditinggal orang tuanya. Panitia dan guru pendamping segera menenangkan dengan sabar, memberinya waktu untuk merasa nyaman. Setelah suasana hatinya membaik, ia kembali duduk dan mulai mewarnai.
Koordinator lomba, I Dewa Agung Ayu Arisma Prabayanti, S.Pd., mengungkapkan rasa lega setelah kegiatan usai dilaksanakan.
“Perasaannya lebih ke lega dan senang, apalagi ini pertama kali saya menjadi penanggung jawab lomba. Secara umum acaranya berjalan lumayan lancar. Pokoknya sudah lega, senang, dan tidak kepikiran lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun masih ada beberapa hal yang perlu dievaluasi, secara keseluruhan pelaksanaan lomba berjalan sesuai rencana. Ia juga menilai antusiasme peserta dan dukungan orang tua menjadi faktor penting dalam kelancaran kegiatan.
Menurutnya, pengalaman pertama menjadi penanggung jawab lomba memberikan banyak pembelajaran. Koordinasi antar panitia, pengaturan ruang kelas, hingga pengelolaan peserta usia dini menjadi tantangan tersendiri. Namun justru dari situ ia merasakan kepuasan tersendiri ketika acara dapat berjalan dengan baik.
Setelah waktu pengerjaan berakhir, seluruh hasil karya dikumpulkan untuk dinilai oleh dewan juri. Penilaian dilakukan secara cermat untuk menentukan juara satu hingga harapan tiga pada masing-masing kategori.

“Kegiatan ini lebih dari sekadar kompetisi, lomba mewarnai ini menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk melatih fokus, kesabaran, dan keberanian tampil. Mereka belajar menyelesaikan tugas secara mandiri, berani memilih warna, serta menerima hasil karya mereka sendiri,” ucap Prabayanti.
“Harapannya semoga ke depannya kalau lomba ini dilaksanakan lagi, pesertanya bisa lebih banyak dan kita bisa memperbaiki apa yang masih kurang dari pelaksanaan kali ini,” pungkasnya.
Sebagai lomba pembuka, kegiatan ini memberi fondasi semangat bagi rangkaian KAC VI 2026. Dari goresan warna di atas kertas, lahir keberanian kecil yang berarti. Dan dari tangan-tangan mungil yang sibuk pagi itu, KAC VI 2026 resmi dimulai dengan semangat, keceriaan, dan harapan yang tumbuh bersama warna-warna itu. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Budarsana



























